
Ia butuh ketenangan.. Ia butuh tempat untuk melepaskan beban yang ada.
Tiga bulan kemudian..
ketika senja mulai datang.
Sesosok pria tinggi berpostur tubuh atletis dengan rahang yang di penuhi bulu tipis. Dan rambut yang sudah memanjang di ikatnya. Penampilannya sudah banyak berubah, bukan lagi seperti pria kantoran yang klimis rapih.
Hanya mengenakan kaos oblong bercelana pendek, pria itu tengah menikmati matahari terbenam di bawah langit luas dengan warna terang yang perlahan memudar, berubah warna menjadi kuning keemasan..
Berjalan di bibir pantai, langkahnya terhenti menghadap lautan lepas. Dengan kedua tangan di masukkan ke dalam kantung celana. Kaos yang di kenakannya terus berkibar menghalau angin kencang yang menerjang, matanya terpejam seraya menghirup udara laut yang menentramkan jiwa.
Selama tiga bulan ia memutuskan meninggalkan pekerjaan, menjauh dari keramaian, mengasingkan diri dan menutup akses akan keberadaannya. Selama itu pula pula ia tidak pernah meninggalkan tempat ini. Tempat menenangkan diri. Melepaskan beban yang ada, mengikhlaskan garis hidupnya.
Selama tiga bulan tidak ada yang di kerjakannya selain berolah raga dengan berlari mengitari pantai dan bermain basket di lapangan yang tersedia
Berada di pingiran kota, jauh dari keramaian. Pria itu menjalani harinya. Dia adalah Sutan Lingga Hanunggara.
Ketenangan jiwa telah ia dapatkan.
Bibirnya tersenyum hangat seraya berucap.
"Tunggu Abang Maya.."
Tiga bulan sebelumnya. Lingga hanya menitipkan selembar surat. Yang ia berikan untuk sang ayah.
Berisikan pengajuan cuti panjang dengan menugaskan Roby sebagai penggantinya sampai batas waktu yang tidak bisa di pastikan. Lingga percaya seorang Sutan Cjokro Hanunggara akan berjiwa besar dan menerima akan keputusannya.
°°°°°
Maya tengah bersiap-siap, memasukkan dua stel pakaian dan satu stel baju tidur untuk ia bawa pulang. Besok adalah hari liburnya, selama dua hari ia akan kembali ke desa ke rumah Bibiknya.
Sudah tiga bulan, Maya bekerja di salah satu toko pakain di kota M. Atas rekomendasi Gala. Pria itu mencarikannya info lowongan pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman. Sebuah kamar kost yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja. Berada di tengah-tengah antara toko dan asrama.
Duduk di tepi ranjang Maya mengusap perutnya yang masih terlihat rata dengan lembut. Tangannya meraih buku, mengeluarkan surat yang ia simpan di dalam buku catatannya. Ia membuka selembar kertas yang ia terima dari seseorang yang menemuinya. Yang ia tau sebagai utusan dari Lingga.
Mayaku
Tuhan menuntunku, hingga aku menemukanmu
Jangan lari, tetaplah berada di tempatmu.
Jangan menghukum dirimu.
Ingat ucapan Abang May, dimana malam indah kita lewati bersama. Hanya ada satu wanita yang Abang cinta.
Kamu May, selamanya..
Kita berpisah hanya untuk sementara.
Sampai segalanya selesai.
Percaya kepada Abang. Tunggu Abang May..
Jaga hatimu, agar tidak ada nama lain selain Abang.
Abang akan menjemputmu, sampai waktu yang tepat.
Demi bisa menahan rindu
Sengaja Abang tak menghubungimu lewat ponsel, agar Abang tak mendengar
Suara dan melihat wajahmu.
Abang percaya kepadamu, May..
Linggamu
Maya melipat kembali surat yang akan selalu di bukanya tatkala hatinya tengah sedih dan rindu, seperti saat ini. Hatinya tengah merindukan Lingga, hatinya terasa pilu kala menyadari akan kondisinya yang tengah berbadan dua.
Baru sebulan yang lalu, Maya mengetahui kehamilannya yang saat ini telah menginjak 3 bulan. Ada rasa khawatir di hati, akan bagaimana reaksi Lingga saat mengetahuinya.
Flashback
Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan dari tubuhnya, semua berjaln seperti biasa. Hanya saja, pa***ara-nya terasa lebih kencang terutama pucuknya. Makanpun seperti biasa tidak ada yang berubah.
Hanya saja, setiap pagi Maya selalu merasa pusing dan akan hilang saat ia memakan makanan yang segar seperti buah-buahan. Sampai suatu hari, saat ia sedang mengunci kamar akan berangkat ke toko
Tiba-tiba kepalanya terasa berat, Maya merasakan pusing dengan pandangan yang gelap. Saat terbangun Maya sudah berada di sebuah ruangan dengan dinding bercat putih dan peralatan medis yang ia ketahui klinik bersalin. Dengan Gala yang tengah berdiri di samping dan seorang wanita mengenakan jas putihnya.
Setelah melewati banyak prosuder. Maya di nyatakan hamil dengan usia kandungan 2 bulan.
"Di jaga kesehatan Istrinya ya Pak, jangan terlalu banyak pikiran dan jangan sampai kelelahan."
"Ya, Dok.. Terimakasih." Gala menjawab dengan tersenyum sebelum meninggalkan ruangan.
"Aku akan menikahimu kalau pria itu tak datang untuk bertanggung jawab, May.." Gala bicara setelah keduanya berada di dalam mobil. Dengan Maya yang masih terdiam tak bersuara, wanita itu masih syok dengan kabar yang baru saja di terimanya. Di tengah rasa khawatirnya, Ada rasa bahagia saat ia menyadari benih Lingga tumbuh di dalam rahimnya.
"Kenapa melamun?"
Maya terkejut, mendapati Gala sudah berdiri di pintu yang sengaja di buka.
"Kak Gala.. kapan datang?"
'Dari mulai kamu membuka suratmu. Kamu terlalu serius membacanya, sampai tak menyadari kehadiran Kakak May.." Gala melangkah masuk duduk di samping Maya.
"Maaf, Kak.. Maya tidak tau."
"Apa Kak Daksa juga ikut pulang?"
"Ya, kita akan pulang bersama. Kita akan menyusul Daksa, sekitar 2 jam lagi tugasnya selesai."
"Kak Gala juga libur?"
"Tidak.. Aku cuti."
"Kenapa?" Maya bertanya
"Karena aku ingin menemanimu pulang."
"Jangan merepotkan diri dengan mengantar Maya pulang Kak. Maya bisa naik bus mini. Kan hanya 2 jam perjalanan, tidak akan lama."
"Tapi aku merasa, tidak merepotkan diri atau di repotkan May.. Aku senang dan tulus melakukannya untukmu."
"Tapi Kak, Maya.."
"Ya.. Kakak tau, kamu belum bisa membuka hati kamu untuk Kakak. Pria itu sepertinya sudah menguasai hatimu May.." keduanya terdiam.
"Maafkan Maya Kak.. Maya tidak bisa menjanjikan apapun."
"Kakak mengerti May.. Tapi kamu tidak bisa melarang Kakak untuk tidak menunggumu, Kakak akan melepasmu sampai pria itu datang. Bayimu membutuhkan ayah May.. Sampai kapan kamu akan menunggunya?"
Maya menunduk mendengar ucapan Gala. Pria yang terang-terangan mengungkapkan isi hatinya. Pria yang bersedia menikahinya. Tetapi Maya tidak bisa, ruang hati dan pikiran sepenuhnya sudah terikat dengan Lingga
"Dia akan datang Kak.. Abang sudah berjanji dan Maya akan menunggunya."
"Bagaimana kalau tidak?" Gala menatap Maya. "Lihat Kakak May.. Bagaimana kalau pria itu tidak menemuimu?"
Tidak ada jawaban dari Maya
"Lupakan ucapan Kakak May.. Ayo kita berangkat, Daksa mungkin sudah menunggu kita." tak ingin membuat Maya tertekan. Gala memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.
°°°°°
"Mobil sudah saya siapkan, pak.."
Lingga berbalik, melihat kedatangan sosok pria yang di percayanya, pria yang setia bekerja dengannya. Pria itu rutin memberikan laporan kegiatan Maya selama tiga bulan ini. Termasuk Gala yang mendekati Maya.
"Ya, kita akan berangkat satu jam lagi."
"Apa Bapak tidak ingin menggunakan alat transportasi lain?"
"Tidak Lex. Saya sangat menikmati perjalanan menggunakan mobil, begitupun Mayaku."
Pria kekar berkulit hitam itu mengangguk dengan menyerahkan berkas.
"Semua sudah selesai Pak, Bu Alisa sudah menandatanganinya. Bapak Johan hanya berpesan rekaman yang berada di tangannya sudah di hilangkan sesuai perjanjian dengan Nyonya Lusiana."
"Hanya Bapak yang memilikinya." Lexus tersenyum penuh arti.
"Terimakasih, Lex."
"Apa Bapak tidak membutuhkan ponsel?"
"Tidak. Kamu simpan saja."
"Yang aku butuhkan bukan ponsel tapi Maya."
Pria bernama Lexsus itu tersenyum dan bicara lagi.
"Apa Bapak tidak membutuhkan hairstylist untuk di panggil kemari?"
"Tidak."
"Aku akan tetap tampan di mata Mayaku."
"Sekali lagi bertanya ku robek mulutmu Lex."
Pria yang baru akan membuka mulutnya itu kembali menutup rapat bibirnya.
****
Bersambung ❤️
Part ini terulang lagi. Review dari semalam blm berhasil.. Ini aku coba kirim lagi jam 6 pagi. Yang tanya soal revisi aku jelasin di GC ya teman-teman