
Hallo..
Gadis kecil itu menyapa… senyuman manis tersungging di bibir imutnya, dengan rambut di kepang dua dan poni yang menutupi keningnya.
Berjalan di belakang Anin, Stella dan para pengasuh yang mendorong stroller Babby Boy dan Baby Biru. Dua pengasuh yang bertugas menjaga dua bayi yang sedang aktif-aktifnya.
Memerlukan perjuangan, rayuan maut nan dahsyat untuk Anin agar di ijinkan menengok Maya tanpa suaminya itu. Pria posesif itu akhirnya mengijinkan dengan banyak syarat dan aturan selama tidak berada disisinya. Tentunya dengan servis malam terlebih dahulu sebelum tidur.
Selain penjagaan yang ketatdari parai bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga keluarganya. Dirga juga mengharuskan Anin membawa serta pengasuh dan Agus yang di tugaskan mengikuti kemanapun Anin melangkah. Lagipula Alea selalu meminta Agus sebagai supir kesayangannya untuk mengantar kemanapun gadis kecil itu pergi.
Maya berdiri menyambut kedatangan Anin, wanita cantik nan anggun yang ia ketahui istri dari Tuan Dirgantara Damar Wijaya, patner bisnis sang suami. Tetapi untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Stella, wanita yang juga cantik, blasteran melayu dan Eropa, yang berjalan di samping Anin.
"Jangan bangun May.." Anin segera mendekat ke arah Maya
"Tidak apa-apa, Nona.. Maya sudah cukup kuat."
keduanya saling berjabat tangan, saling memeluk dan menempelkan pipi
"Semoga cepat sehat kembali, May.. Kamu harus kuat.." Anin memberikan semangat, wanita itu menyerahkan bucket bunga Lily putih sebagai lambang kemurnian, kesucian dan persahabatan.
"Terimaksih Nona.." Maya tersenyum menerima bunga yang sangat indah dan wangi, juga satu parcel berukuran besar berisikan buah-buahan yang di bawa agus dan di letakkan di meja.
"Kenalkan May, ini Stella. Istri Pak Bayu Lesmana."
"Hai, aku Stella.." wanita blasteran itu mengulurkan tangan.
"Salam kenal Nona Stella.." Maya balas mengulurkan tangan dan saling memeluk.
"Suatu kehormatan bisa di kunjungi wanita-wanita hebat seperti Nona Anin dan Nona Stella.." ucap Maya
"Kamu juga wanita hebat, May.. Semoga cepat sehat." ucap Stella
"Terimaksih, Nona Stella.."
"Kenalkan, Nona… ini Umi.." Maya memperkenalkan sang Umi kepada kedua wanita cantik yang luar biasa itu.
"Umi.." Anin meraih tangan dan mencium punggung tangan Umi Wanda dengan takzim, di ikuti oleh Stella setelahnya.
Memiliki suami tajir dan berpengaruh tidak membuat Anin dan Stella lupa diri. Mereka tetap menghormati dan memperlakukan para orangtua dengan hormat.
"Ea gak di calamin Tante?" Gadis kecil itu tampak protes saat para orang dewasa saling berjabat tangan dan berpelukan. Sedangkan dia dibiarkan menunggu.
"Oh, ya ampun cantik.. Tante Lupa.." Maya sedikit berjongkok agar bisa menjangkau tubuh Alea
"Siapa namanya sayang?" Maya bertanya setelah mencium pipi chuby itu.
"Ea… nama panjang aku, Alea Damal Wijaya." Gadis mungil itu memperkenalkan diri dengan tersenyum centilnya ala anak-anak.
"Nama yang indah.. Sangat indah, secantik orangnya." puji Maya
"Ya, Ea adalah plincessnya Papi.."
"Oh, ya.." Maya serasa ingin mengigit gemas wajah lucu dengan pipi yang berisi.
"Kenalkan, Ini Kakak Maka dan Mada.." Maya mengenalkan kedua adiknya setelah mengenalkan sang Umi yang dia panggil Oma.
"Halo Om.." Alea tersenyum manis mengulurkan tangannya kepada Maka.
"Halo cantik." Maka tersenyum menyambut uluran tangan mungil Alea.
Berbeda saat Alea berganti mengulurkan tangannya dengan Mada. Remaja itu tampak datar tidak tersenyum dan biasa saja.
"Halo Om.." Alea semakin menunjukkan senyum manisnya
"Halo.." ucap Mada, biasa.
"Om saliawan yahh?" Alea bertanya ketika Mada tak banyak bersuara.
Mada mengelengkan kepalanya. Remaja itu asik membaca kembali buku yang sedang di pegangnya.
"Kenapa ndak bicala? Diam telus?" Gadis kecil itu semakin ceriwis bertanya, ia mendudukkan bokongnya di sofa tak jauh dari mada dan maka.
Umi Wanda yang melihat interaksi keduanya hanya tersenyum gemas melihat Alea.
"Ooooh gitu ya Oma.. kenapa malu Oma?"
"Kenapa ya?" Umi Wanda pura-pura berpikir.
"Mungkiiinn, karena Alea terlalu cantk dan imut." ucap Umi.
"Kata Papi juga, Ea paling cantik selain Mami."
Maya, Anin, dan Stella hanya tertawa melihat tingkah Alea.
"Alea sudah kelas brp?" Umi bertanya lagi
"Sebental lagi Kelas B.." Alea menunjukkan lima jarinya kepada Umi Wanda.
"Wahh gadis pintar, calon menantu Oma yang sholehah.." Umi Wanda tiba-tiba menggoda gadis kecil itu dengan mencubit pelan pipinya dengan gemas.
Anin hanya tersenyum seraya berucap..
"Aamiin Oma… semoga Alea kelak menjadi anak dan menantu yang sholehah.." karena segala doa yang baik wajib kita aminkan
"Menantu itu apa Oma?" Alea bertanya.
"Menantu itu akan seperti Mami Anin, yang selalu bersama dengan Papi… seperti Mama dan Papa Biru, Seperti Tante Maya dan Om Lingga." Umi wanda menjelaskan.
"Ooouhh…" bibir gadis kecil itu membulat lucu, dengan kepala di angguk-anggukkan seolah-olah mengerti.
"Telus suami Ea nanti siapa donk Mih?" Alea bertanya kepada Anin.
"Ya, Mami belum tau.. Kan Allah yang kasih.. Tuganya Alea hanya meminta." sebisa mungkin Anin menjelaskannya dengan ucapan yang ringan
"Om.." Alea memanggil Mada.
"Kakak, Sayang… jangan Om.." Anin mengingatkan.
"Hihihi…" Alea terkikik.. "Iya deh… Kakak Mada nanti jadi suami Alea yaa?" dengan tersenyum manis dan dengan polosnya Alea meminta Mada agar menjadi suaminya kelak. Membuat semua yang ada di dalam ruangan itu tertawa.
"Kalau Kakak Mada gak mau.. Sama Kakak Maka mau gak?" Maka menimpali.
"Eeemmm…" Alea tampak berpikir dengan satu tangan bersedekap dan satu tangannya memegang dagu.
"Ea, mauna sama Kakak Mada aja dehh. Kata Papi, Ea kalau sudah besal halus jadi wanita yang setia."
"Kenapa tidak mau sama Kak Maka? Kak Maka kan lebih ganteng, lebih keren dari kak Mada." Maka menggoda Alea.
"No.. Yang ganteng itu cuma Papi.. Yakan, Mih?"
"Iya, sayang.." Anin mengangguk mengiyakan, kalau sampai tidak di iyakan dan sampai ke telinga pria dewasa itu, akan berbahaya baginya. Bisa-bisa ia kan lembur karena mendapat hukuman. Saat ia jauh dari sang suami, tembok dan udara akan menjadi mata dan telinga Dirga. Apapun yang di lakukan di luar, suaminya itu pasti akan tau.
"Oh, tampannya.." Maya membelai wajah Baby Boy dan Baby Biru bergantian.. Ia mencuimi pipi dua balita yang sedang memainkan kaki dan mengemutnya. Dengan sang pengasuh yang setia mejaganya. Maya teringat akan Gada, sang putra yang bertemu dengannya di alam lain, ketika ia sedang koma. Putranya pun sangat tampan, wajahnya bersinar, dengan senyum yang menawan.
Tiba-tiba Maya mengusap perutnya.. Ada kesedihan yang terselip di hatinya. Dan itu tak lepas dari pantauan Anin dan Stella, begitupun dengan Umi.. Umi bisa merasakan kesedihan Maya, sang putri.
"Jangan bersedih." ucap Anin seraya tersenyum, mengusap lengan Maya. "Kamu akan segera memilikinya. Masih banyak waktu dan kesempatan."
"Iya, terimaksih Nona." Maya balas tersenyum walau dengan wajah sendu.
"Aamiin.." bersamaan semuanya berucap.
Mereka berbincang banyak hal.. Anin dan Stella mengajak Maya untuk ikut bergabung di yayasan yang di dirikan Anin. Sebuah Yayasan yang di dirikan untuk membantu anak-anak yang memiliki nasib kurang beruntung soal kesehatan, untuk anak-anak yang memiliki keluarga yang memiliki keterbatasan soal biaya dan ekonomi, anak-anak yang tidak mampu untuk melakukan pengobatan dengan layak. Sebuah Yayasan yang akan menampung, bukan hanya pengobatan tetapi sebuah tempat tinggal untuk para keluarga yang mendampingi.
Yayasan yang Anin beri nama,
Yayasan Jantung sehat.
****
Bersambung ❤
Mohon tinggalkan like ya sayang 🙏