
Dinaungi langit yang muram, perempuan itu datang. Berjalan pelan ke arah angin yang membawanya. Badannya di bungkus mafela kelabu. Hujan baru saja lesap bersama matahari di barat, rembulan dan bintang sebentar lagi datang. Senja termangu sendiri di tepi cakrawala singasanannya sang nirmala.
Sang wanita berontak dengan memandang sendu sang cakrawala.
Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten di berikan semesta, dan demi ragam nama-nama Tuhan yang baik yang akrab maupun asing di telinga kita, sesungguhnya, manusia, adalah makhluk yang merugi. Kecuali, ia yang mau belajar pada masa silam berbuat yang terbaik di masa sekarang, dan menyiapkan segala sesuatu di masa depan, dengan keyakinan paling yakin pada terwujudnya sebuah impian.
Manusia hidup di bumi tuk di uji, di tujukan agar jadi yang sejati. Demi mendapat derajat yang tinggi, jadi makhluk yang di berkati.
Beberapa kali aku menemukan mimpiku sendiri terjerembab di depan pintu. Kuyup oleh hujan. Seperti pakaian kotor berulangkali kucuci dan kujemur di halaman luas. Pada saat saat seperti itu aku selalu ingat wajah dan matamu saat menatapku, selalu teduh dan meneguhkan.
Maka aku yakin pada akhirnya jarak hanya memisahkan raga. Tapi ia tak pernah sanggup menjauhkan mimpi, imaji dan kenangan yang kita semat bersama dalam rindu yang paling diam.
Oh, Linggaku.. Akulah Mayamu.
Sesosok pria senja tengah berdiri tak jauh dari hadapan Maya dengan mengandeng anak lelaki kecil yang memiliki wajah tampan berdiri disisinya.. wajah wajah itu tersenyum kepadanya… wajah-wajah penuh kedamaian… wajah-wajah tanpa dosa dan beban.
"Pulanglah, Nak.. Belum waktunya ananda berada disini. Jangan risaukan pangeranmu. Putramu telah berada di tempat yang indah bersama ayah. Kami selalu ada bersamamu, setiap waktu, setiap masa, disetiap sedih dan tawamu. Kembalilah, Nak. Kembalilah.. Carilah jalanmu. Dengarkan hatimu, ikuti kemana asa itu mengajakmu melangkah pergi, pintu itu akan selalu terbuka lebar menunggumu pulang. Jangan biarkan orang-orang yang mengasihimu, menangis. Mereka sedang menunggumu. Memintamu kembali. Ikhlaskan apa yang sudah seharusnya terlepas. Tidak ada yang salah dengan kehidupan ini. Jangan pula menyalahkan siapa siapa. Sejatinya Tuhan akan selalu bersama kita.."
Wajah Pria tua itu tampak tenang, dengan cahaya terang yang menyinari wajahnya. Dengan jubah putih yang membalut tubuhnya. Sofian Nugraha tersenyum kepada Maya.
"Mimi.." bocah kecil itu tersenyum melambaikan tangan. "Jangan menangis, Mimi.. Jangan bersedih… tersenyumlah Mimiku, Sayang.. Kasihan Pipi, Pipi menunggu Mimi.. Gada bahagia disini. Gada punya banyak teman dan mainan disini. Tempat bermain disini indah Mimi.."
Kedua kaki Maya tak sanggup di gerakkan saat ia akan mengejar sang ayah dan sang putra.
Mulutnya seakan terbungkam tak mampu berucap, walau hanya sekedar meminta untuk menunggunya.
Maya ingin memeluk keduanya. Dua lelaki yang di cintainya. Cinta pertamanya dan cinta sejatinya..
Kedua lelaki beda usia berjalan menjauh. Menjauh… Semakin menjauh dari Maya dengan lambaian tangan dan senyuman hangat, sehangat mentari pagi. Yang tidak pernah lelah membangunkan setiap manusia dari sang mimpi panjangnya.
"Ayah.. Ayahhh…"
"Gada.. Gadaaaa…"
Dengan berusaha dan semampunya, Maya berteriak memanggila keduanya.
°°°°°
Dokter spesialis bedah, Dokter jaga, dan para perawat berlarian ke ruang pemulihan dimana Maya terbaring tak sadarkan diri, dengan berbagai peralatan medis melalui selang dan kabel yang menyambung ke mesin monitor yang akan menampilkan grafis kinerja fungsi tubuh dan Ventilator yang membantu Maya bernafas sebagai penopang kehidupan. Alat yang di hubungkan melalui hidung, mulut dan tenggorokan.
Dokter Hansel segera menggunakan Defibrilator sebuah alat kejut jantung. Dokter itu tengah berusaha memulihkan detak jantung Maya yang berhenti tiba-tiba. Bersama timnya, ia mengirimkan, menempelkan kejutan listrik ke jantung agar bisa bekerja dan berfungsi lagi.
"Tambahkan tekanan 1 volume lagi Dok." Dokter Hansel mengintruksikan.
Ia kembali menempelkan alat kejut itu lagi ke dada Maya. "Ayo, Bu Maya… bertahanlah. Anda pasti bisa. Ayo kembalilah, anda pasti kuat." Dokter Hansel terus memberikan sugesti kepada Maya yang terbaring tak bergerak agar dapat melewati masa kritisnya.
Depp!!.... Depp!!
Dokter Hansel, tidak meyerah. Dokter bedah yang menangani Maya itu terus berusaha memulihkan, mengembalikan detak jantung Maya agar kembali berfungsi dan memompa.
Lingga tampak prustasi. Pria itu menyandarkan kepalanya di balik kaca. Jantungnya seakan ikut terhenti saat mendapati kondisi Maya. Ia tidak akan sanggup, ia tidak akan bisa menerima kalau wanita itu pergi meninggalkannya. Ia tidak siap jika harus kehilangan, Maya. Sama saja Tuhan menyabut nyawanya. Kakinya seakan tak mampu berpijak. Raganya seakan terlepas dari badannya.
"Ya, Tuhan jangan ambil Mayaku.." Lngga berkata lirih sambil meninju pelan dinding kaca. "Sudah ku ikhlaskan kau mengambil kembali putraku, tapi tolong.. Aku mohon, jangan Mayaku.. Jangan Mayaku Tuhan. Engkau tau aku tidak akan sanggup."
"Disepertiga malamku, bukankah sudah aku katakan… jika engkau mengambil Mayaku, ambil juga nyawaku.. Bawa aku Tuhan.. Bawa aku.."
Umi Wanda sudah tidak bisa menahan tangisnya sambil merangkul Maka dan Mada yang juga terisak. Belum lama dari Maka dan Mada keluar dari ruang ICU pemulihan.. Monitor itu bedenging dengan grafis yang menurun. Lingga yang sedang berada di ruangan Dokter Hansel untuk membahas perkembangan Maya, ikut berlari ke ruangan pemulihan saat mendengar alarm panggilan darurat.
Lingga sempat memaksa masuk, tetapi tidak di ijinkan. Dan ia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Maya.. Ia tidak tau harus melakukan apa? Jika ada yang bisa ia perbuat, sudah pasti akan ia lakukan. ia tidak akan berdiam diri dan menunggu.
Dengan tangan saling mengengam, Lexsus dan Dina berlari sepanjang koridor saat mendapati kabar dari Lingga. Sepasang kekasih itu tidak jadi melanjutkan obrolannya ketika ponsel Lexsus berbunyi dan mendengarkan apa yang di sampaikan Lingga. Lexsus segera menghubungi Tuan Cjokro, dan Dina segera memberi kabar Bunda Rossa, setelah itu keduanya segera masuk ke dalam gedung rumah sakit dimana tempat ruangan Maya berada.
"Umi.." Dina memeluk Umi yang tampak shok.. Wanita itu tengah menangis bersama Maka dan Mada..
"Din … Maya Din, putri Umi.." Wanda bicara di iringi tangisan.
Dina memeluk, mengusap pundak Umi, mencoba menguatkan walau hatinya pun rapuh. Ia belum sempat bicara kepada Maya. Ia belum sempat mengajak temannya itu bergosip ria.
Menyampaikan banyak hal. Bercerita tentang pekerjaan, tentang Kang Oleh, tentang Kang Ncup, tentang Mak Kom yang selalu dibuatnya kesal yang ternyata memiliki hubungan persaudaraan dengan pria yang bernama Solehudin. Ia juga belum bercerita tentang hubungannya bersama Lexsus, tentang lamarannya, tentang Indo dan Ambo.
Banyak sekali kata-kata yang sudah ia rangkai, yang akan ia sampaikan kepada Maya..
Ia belum mengungkapkan isi hatinya..
Jangan pergi Maya
****
Bersambung ♥
likenya dan komennya yaa....