TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
BIDADARI ABANG



Dua minggu sudah Maya dalam perawatan, kondisinya pun sudah lebih baik. Penyangga leher sudah bisa di lepas, jahitan di belakang kepala sudah mengering tapi masih tertutup perban. Maya baru saja selesai membersihkan tubuhnya dengan di temani Lingga.


24 jam, pria itu tidak meninggalkan Maya sama sekali walaupun ada perawat yang bisa membantunya. Menyisir rambut hitam berkilau, Maya mempehatikan melalui cermin bulat yang di pegangnya, ia meraba bagian kepala belakang yang terdapat luka jahitan. Sebagian rambutnya harus di cukur oleh Dokter


"Bang, rambut Maya botak." Maya bicara masih dengan memperhatikan rambutnya melalui cermin.


"Biarkan, May.. Nanti akan tumbuh lagi.." Lingga mengambil sisir dan cermin dari tangan Maya.


"Biarkan Abang yang menyisir. Ini tugas Abang." naik ke atas tempat tidur rumah sakit. Lingga duduk di belakang Maya, dengan Posisi Maya yang duduk di antara kedua paha Lingga. dengan pelan dan penuh kehati-hatian Lingga menyisir, merapihkan rambut yang sudah semakin panjang tergerai.


"Maya sudah tidak cantik lagi ya, Bang?" Maya merasa minder dengan kondisinya saat ini


"Bagi Abang kecantikanmu tidak akan pernah ada habisnya, May… bukan dari fisik atau wajah. Tapi hati yang kamu miliki.. Bagaimanapun kondisimu, kamu akan tetap menjadi bidadari Abang."


"Tapi rambut Maya rusak, Bang.."


"Nanti kita akan ke spesialis kecantikan, Mimi bisa treatment penumbuh rambut. Sementara, akan Abang pesankan Wig asli… tidak perlu risau."


"Setelah kamu di ijinkan pulang. Abang akan menemani perawatan seharian. Kita akan belanja banyak barang.. Kita akan breakfast, have lunch, sampi Diner di restoran yang terenak dan terkenal akan kelezatan nya. Abang akan turuti.. Abang akan temani kemanapun kamu mau, yang terpenting sekarang Mayaku harus sehat dulu, jangan berpikir macam-macam yang akan menganggu kesehatan. Abang tidak mau itu terjadi."


"Bang, apa pesanan Maya sudah disampaikan?"


"Sudah, Honey.. Nanti siang Dina dan Lexsus akan mengantar kemari.. Kamu bebas meraciknya sendiri."


"Bener, Bang?" tampak raut wajah Maya tersenyum senang.


Senyum yang membuat Lingga merasa tenang dan nyaman.. Ia akan melakukan, mengabulkan apapun keinginan Maya..


Sesuai janjinya saat Maya koma, ia akan memberikan pekerjaan kepada Kang Oleh..


"Abang serius kan?" Maya bertanya lagi, sungguh ia akan sangat senang kalau itu sampai terjadi.


"Iya, May… tapi Kang Olehmu itu harus menjalani pelatihan dulu, Lexsus akan merekrutnya dan mulai besok akan di mulai. Dia harus bisa melindungimu dari hal apapun."


"Pelatihan?" Maya masih belum mengerti.


"Ya, Solehudin ( oleh ) dan Yusup ( Ncup ) harus belajar ilmu bela diri dan cara menggunakan senjata."


"Serem ah, Bang.. kaya mau mengawal orang penting saja."


"Kamu memang orang penting, May.. kamu sangat-sangat penting dan berharga untuk Abang."


"Selain supir, dia akan merangkap menjadi pengawalmu. Setelah Abang kembali ke rutinitas di kantor dan pekerjaan, dia yang akan mengantarmu kemanapun kamu pergi. Disaat Abang sedang bekerja."


"Bang.." Maya memanggil.


"Hemmm.." Lingga masih membelai rambut Maya dari belakang.


"Apa Alisaa?" Maya ingin mengetahui kabar Alisa setelah terakhir ia bertemu dan berdebat.


"Jangan pikirkan perempuan itu, May… itu sudah menjadi urusan Abang. Abang pastikan dia tidak akan bisa mengganggumu lagi. Sekarang kamu hanya harus fokus dengan kesehatanmu. Dan, sekarang kamu harus sarapan dulu, Abang lupa, Honey.. Susumu nanti dingin." Lingga turun dari tempat tidur seteluah menciumi kepala Maya. pria itu mengambil nampan di atas meja sofa yang berisikan sarapan khusus untuk Maya.


Tugas yang yang tak pernah terlewati, menyuapi Maya sarapan setelah membantu memandikannya.


°°°°°


Pagi ini Dina, menyempatkan datang ke Ros Butiq setelah lama toko itu tidak beroperasi. Selain untuk memastikan Kang Pentol, dia juga akan menempel lowongan kerja di kaca depan Butiq. Sebelum siang nanti, ia akan pergi ke rumah sakit membawakan pesanan Maya.


Setelah berembuk dengan sang suami. Bunda Rossa memutuskan akan mencari karyawan lagi untuk membantu Dina di butiq sebelum Butiq itu akan ia limpahkan kepada Maya. Bunda Rossa menginginkan agar Maya dan Dina mengelola butiq itu bersama-sama. Sebagai perancang, ia akan memantau dan bekerja di belakang layar. Wanita itu akan merancang dan mendesain berbagai macam kebaya dan gaun pengantin dari ruang kerjanya di rumah.


Dengan senyum cerah, Dina sudah sangat merindukan teman-temannya sesama pekerja. Di Grup Chating pun para teman-teman warung makan banyak mengucapkan doa kesembuhan dan salam untuk Maya… beberapa langkah lagi ia akan sampai, pandangannya mengitari area parkiran depan ruko. Dina mencari keberadaan temannya Kang Oleh dan Kang Ncup yang tidak terlihat.


"Kemana ya?" Dina bertanya sendiri. Dina hanya melihat tukang parkir yang baru dilihatnya.


"Kang." Dina memanggil tukang parkir baru.


"Ya, Neng." Pria itu mendekat ke arah Dina.


"Kang Oleh sama Kang Ncup kemana?" Dina bertanya dengan mata yang masih memperhatikan area sekitar


"Wahh! Barusan saja Kang Oleh sama Kang Ncup di jemput sama mobil Neng. Behhh.. serem Neng, orang-orang yang menjemputnya, badannya gede-gede.." penjaga parkiran itu bercerita kepada Dina dengan mimik wajah serius dan tegang.


"Di jemput? Kemana, Kang?" Dina masih belum paham dengan cerita yang baru saja di dengar.


"Kurang tau Neng."


Dina jadi bertanya tanya, kemana dua orang temannya itu pergi? Dan siapa orang-orang yang menjemputnya.


"Neng, Kang Oleh sama Kang Ncup bukan buronan kan yakk?" Pria itu bertanya


"Buronan? Yah, bukan atuh Kang… selama menjadi penjaga parkiran disini kang Oleh sama Kan Ncup itu pria baik-baik, tidak pernah tersandung kejahatan atau kriminal apalagi masalah." Dina menjelaskan.


"Ya, sudah Kang.. Dina mau buka ruko dulu."


"Iya, Neng." Pria itu berbalik


"Eh, Kang.." Dina memanggil lagi sebelum pria itu pergi menjauh.


"Akang namanya siapa?" Dina bertanya kepada pria yang sepertinya seumuran dengan Kang Ncup.


"Saya Jaki, Neng.. Sudah seminggu disini."


"Ooh.." Dina mengangguk-nganggukkan kepalanya.


Membuka gembok rollingdoor, Dina mendorong pintu besi dan pintu kaca. Sekitar 2 minggu toko ini tutup tidak beroperasi. Baru saja, kakinya melangkah masuk kedalam, ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk kedalam aplikasi hijau miliknya.


Dina pikir Daeng Lexsus, pria manis sang pujaan yang mengiriminya pesan, ternyata bukan. Nama Kang Jujun yang belum sempat Dina hapus dari kontaknya tertera di layar noifikasi. Penasaran dengan isinya Dina langsung membuka aplikasi pesan dan membacanya.


[ Apa kabar Neng? Lama enggak ketemu.


Dina menutup kembali aplikasinya, Ia mengabaikan pesan yang baru saja di bacanya. Bahkan ia menghapus pesan itu langsung. Tapi sayangnya, pesan dari Kang Jujun terkirim lagi.


[ Neng, Masih marah ya sama Akang? Maafin Akang ya.. Kita jalan bareng lagi kaya dulu ya


"Ishhh.." Dina menghapus lagi pesan yang kedua kalinya.


Tak lama, masuk lagi pesanyang ketiga kalinya ke dalam aplikasi pesannya.


[ Neng, kenapa tidak mau balas pesan Akang? Neng Dina apa tidak rindu sama Akang?


Dengan kesal dan rasa tidak suka, Dina membalas pesan pria yang pernah di sukai sekaligus membuat hatinya itu kecewa.


[ Dina Rindunya sama Akang Lexsus.


****


Bersambung ❤