
"Jangan melamun Din?" Bunda Rossa menepuk pundak Dina yang sedang membantu memetik sayuran.
"Eh, Bun.." Dina tersadar. "Enggak melamun kog Bun." jawab Dina
"Enggak melamun kog, salah masukin sayuran?" Umi Wanda menimpali.
"Daun bayamnya di masukkan ke wadah, Neng… Bukan ke tempat sampah." Umi Wanda menyadarkan. Di barengi gelak tawa dar Mak Kom, dan Bik Mar yang juga ikut memperhatikan Dina.
Seharian ini, wanita yang super ceria itu berubah banyak diam. Ya, selama tinggal bersama, Dina sudah dekat dan akrab dengan semua penghuni rumah. Apa lagi dengan Mak Kom dan Bik Mar.
"Maaf, Bun.. Umi.." Dina tersenyum dengan rona wajah malu saat menyadari kesalahannya.
"Neng Dina lagi kangen si ganteng manise, Umi.." Mak Kom mencandai.
"Iya Umi, kan sudah 3 hari tidak bertemu." Bik Mar ikut bicara.
"Bukan kangen, Mak, Bik, cumaaa… Sedang rindu berat.." Umi Wanda ikut menggoda.
"Ishh.. Umi itu, tau aja.." Dina bicara pelan dengan wajah malu-malu.
Sore ini para wanita sedang berkumpul di dapur bersama-sama menyiapkan menu buka puasa bersama. Berbagai macam lauk, sayur, sambal, goreng kerupuk, tengah di siapkan sebagai hidangan yang akan di santap bersama. Kalau untuk kudapan dan kotakan untuk acara kirim doa, Bunda Rossa sudah memesannya dari toko kue yang menyiapkan segala jenis kue-kue tradisional. Dari mulai yang manis sampai yang gurih.. Dan juga dari catering langganannya.
Sejenak terdiam, Umi teringat akan Maya.. Putrinya itu akan selalu minta di buatkan gorengan sebagai cemilan buka puasa. Kudapan sederhana yang sangat di sukainya. Selama 7 hari, Umi dan Mak Kom tinggal di rumah Bunda Rossa sebelum kembali ke apartemen Lingga.
Begitupun dengan Maka dan Mada.
"Jangan di lamunin, Din.. Nanti sore juga akan ketemu dengan Daeng." Bunda sudah memintanya untuk pulang bersama Linggga. Kita akan buka puasa bersama." Bunda Rossa menyampaikan.
Begitupun dengan Hadid dan Lena, orangtua Lendra itu juga akan bergabung berbuka, makan bersama termasuk yang lainnya. Mereka saat ini masih berada di apartemen putranya.
"Ya, Bun.." ucap Dina, seraya tertunduk malu karena mendapat godaan dari kedua pembantu itu.
Sudah tiga hari, dari terakhir bertemu di pemakaman, Dina belum bertemu lagi dengan sang pujaan hati. Selama tiga hari pula Dina merenungi ucapan Lexsus yang memintanya untuk berpikir. Dina merentet kejadian demi kejadian yang sudah di lewatinya dari mulai di pemakaman.
Apa ada yang salah dengan sikap dan perbuatannya sehingga membuat Daeng marah.
Deggg
Dina mulai ingat, setelah obrolannya dengan Kang Oleh dan Kang Ncup.. Daeng Lexsus berubah menjadi lebih dingin dari aslinya.
"Apa Daeng marah karenaaa? Melihat Dina mengobrol dengan Kang Oleh ya? Tapi, kenapa harus marah? Kenapa harus sama Kang Oleh? Apa Daeng cemburu?" Dina bertanya-tanya di dalam hatinya dan mulai menyadari kesalahannya.
"Ya, Ampun Mak.!!" reflek, Dina mengeplak lengan Mak Kom yang sedang serius menuangkan terigu di dalam baskom. Dina baru menyadari dengan jelas kenapa Daeng berubah sikap kepadanya.
"Astaghfhirallahalazim Neeeng..!! saat menarik plastik terigu yang akan di bukanya, terigu itu menyiprat ke tangan dan wajahnya.. "Ngagetin aja nih anak! Lama-lama jantungan Emak." sangking gemesnya Mak Kom mengusap pipi Dina dengan terigu.
Bik Mar, yang berada di sampingnya cekikikan melihat ulah keduanya.
"Maaf, Mak.. Dina lupa kalau cuma Kang Oleh yang punya stok onderdil jantung." Dina ikut tertawa.
"Jangankan onderdil.. Si Oleh mah punya banyak nyawa Neng.." Mak Kom bicara sambil merapihkan terigu yang berantakan. Buka puasa hari ini Mak Kom akan membuat bakwan terenak andalannya.
"Ada apa Neng?" Mak Kom bertanya kembali sambil melanjutkan mengaduk bahan-bahan yang sudah di persiapkan.
"Gak ada apa-apa, Mak.." dengan santai Dina menjawabnya.
"Bener-bener yahh Nih anak. Udah ngagetin! Kirain mau ngomong serius?"
"Reflek Mak.. Reflek.." Dina hanya nyengir tanpa dosa.
°°°°°
Selesai membasuh dengan air hangat, Lingga mengeringkannya dengan handuk lembut yang di bawa Oleh Mak Kom dari rumah. Setelah selesai, Lingga akan menggantikan baju Maya dengan piyama baru yang ia borong dari Butiq ternama.
Sudah berganti pakaian, Maya sudah terlihat segar dan cantik. Lingga menyisir merapihkan rambut Maya yang tergerai panjang.
"Kamu terlihat semakin cantik, Honey.." Lingga mengusap pipi Maya.
"Abang tinggal sebentar ya, May.." Lingga mencium kening Maya.
"Abang janji tidak akan lama. Selesai berkirim doa, Abang akan segera kembali. Bunda dan Umi meminta Abang untuk pulang, berbuka puasa bersama di rumah."
Tiiitt…….. Tiiiittt……….
Suara grafik detak jantung Maya sedikit lebih keras berbunyi dari biasanya. Bersamaan dengan gerakan satu jari Maya yang terangkat. Maya merespon ucapan Lingga
"May.. Kamu dengar Abang May?" wajah pengharapan dan secercah harapan terbias di wajah Lingga. Pria itu langsung menekan tombol darurat memanggil para tim Dokter agar segera datang.
Selang waktu lima menit, Dokter Hansel dengan di dampingi dokter umum dan dua orang perawat, dengan langkah cepat datang ke ruang pemulihan.
"Jemarinya bergerak Dok. Jari manisnya terangkat." Lingga menyampaikan apa yang baru saja di lihatnya kepada Dokter Hansel. Jari yang di lingkari cincin pernikahan itu memberi tanda.
Dokter Hansel sebagai Dokter bedah yang bertanggung jawab akan penyembuhan Maya, segera mengecek seluruh bagian tubuh Maya. Dari mulai membuka kelopak mata, menyinari Hidung, telinga, mengecek denyut nadi yang memang berdenyut lebih cepat. Atas seijin Lingga sebagai suami, Dokter Hansel menyentuh perut Maya, menelusupkan tangannya ke dalam baju piyama yang di kenakan. Perut itu terasa hangat dari biasanya.
"Bagaimana Dok?" Lingga bertanya dengan penuh harap.
"Peningkatan yang lebih baik, Pak. Perkembangannya terus menanjak, menunjukkan perubahan. Sejauh ini tidak ada gangguan fungsi di tubuh Bu Maya. Semoga tidak terjadi efek samping yang mengganggu kinerja otak."
"Teruslah berdoa.. Jangan putus harapan. Jangan lelah untuk mengajaknya bicara. Sejauh ini, di bagian indra pendengar, perasa, penglihatan, dalam kondisi baik dan normal."
"Yakinlah, di dalam alam bawah sadar, Bu Maya mendengarkan segala ucapan yang kita sampaikan. Saya ijinkan orang-orang terdekatnya untuk masuk, agar bisa mengajak bicara Bu Maya.."
"Mukzizat Tuhan itu nyata."
°°°°°
"Abang akan menunggu, May.. Abang tidak akan lelah menjagamu, mengajakmu bicara, mengelap badanmu setiap pagi dan sore. Memandikanmu dan mengganti pakaianmu adalah pekerjaan yang Abang sukai." Lingga kembali bicara setelah Dokter Hansel dan timnya keluar meninggalkan ruangan.
"Abang akan membawa, Maka dan Mada.
Apa kamu juga ingin bicara dengan Dina? Abang lupa, May.. Dina sempat meminta ijin untuk masuk mengajakmu bicara dan bergosip ria.."
"Kalian berdua memang nakal, paling suka membuat Abang dan Lexsus cemburu. Kalian berdua kenapa sangat mengidolakan tukang parkir itu? Apa kelebihannya? Padahal Abang lebih tampan dari pria itu May. Kamu dan Dina akan lupa daratan kalau sudah mengobrol dengannya."
"Siapa namanya? Abang lupa May.." Lingga terus bicara tanpa henti..
"Tapi Abang percaya, cintamu hanya untuk Abang.. Abang akan ijinkan kamu berteman dengannya asalkan pria itu tidak menyentuhmu. Kalian boleh bicara dari jarak jauh."
"Abang janji kepadamu, May.. Kalau Kamu bangun, temanmu itu akan Abang berikan pekerjaan yang lebih baik sesuai kemampuannya. Supaya wajah mu selalu ceria, dan bibirmu selalau tertawa.."
****
Bersambung ❤️
Neng Dina