
Sesampainya di parkiran rumah sakit kedua pria yang berjalan bersisian itu menuju kendaraannya masing-masing. Tak ada suara yang keluar dari mulut Lingga.
Di sepanjang koridor rumah sakit, pria itu diam tak berucap kata, dengan segala beban dan pikirannya. Sebelum berpisah, Roby mendekat ke arah mobil Lingga yang berada tidak jauh dari mobilnya terparkir.
"Perlu saya temani Pak?" Roby menawarkan diri, ia dapat melihat dengan jelas bagaimana kacaunya Lingga saat ini. Tidak ada senyum sama sekali di wajah pria tampan yang menghiasi wajahnya.
"Tidak Rob.. Saya sedang ingin sendiri. Terimakasih, kamu sudah mengurus semuanya." ucap Lingga sebelum ia masuk ke dalam Audinya.
"Jangan berterimakasih Pak, ini sudah menjadi tugas saya." Roby bicara dari luar di samping jendela.
"Kamu pantau terus perkembangan Alisa, jangan sampai ada yang terlewat." Lingga mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Baik, Pak.. Hati-hati berkendara."
Roby menatap kepergian mobil yang di kendarai Lingga meninggalkan halaman rumah sakit sampai benar-benar hilang dari pandangan sebelum ia berbalik kembali ke mobilnya.
°°°°°
Menembus petang di cuaca yang sudah mulai gelap meninggalkan terang. Mobil itu terus melaju tanpa arah dan tujuan di padatnya keramaian jalan. Roda empat itu terus berputar mengitari jalanan.
Ia teringat akan Maya. Ingin sekali ia merebahkan kepalanya dalam pangkuan Maya. Seperti yang ia lakukan saat berada di cotagge sehari sebelum ia berpisah dengannya.
"Abang merindukanmu, May.." ucapnya lirih, dengan hati yang remuk redam saat ia mengingat kembali ucapan Haris. Pria itu meminta Maya pergi menjauh dengan dalih sebagai bentuk keadailan. Keadilan semacam apa yang ia minta kepada Maya.
Dan saat ini, ia belum bisa fokus mencari keberadaan Maya dengan tindakan Alisa yang seakan menjegal langkahnya.
Secara mendadak
Lingga membelokkan Audinya ke jalan merdeka dimana kawasan tempat tinggal Tante Rossa.. Entah kenapa hatinya seakan mengajaknya untuk datang menemui wanita yang selama ini ia hindari. Wanita yang telah menoreh luka dan kecewa dari mulai ia mengetahui pernikahannya dengan Cjokro. Wanita kedua, yang membuat Lusiana terabaikan.
Tetapi ia tidak bisa membencinya. Dan petang ini, hatinya tak sejalan dengan pikirannya. Disaat pikirannya tengah memberentok dengan segala ucapan yang di dengarnya dari Lusiana dan Cjokro. Hatinya seakan membenarkan hingga, tanpa sadar tangannya memutar stir mobil, membawanya sampai di sisi jalan, berhenti tidak jauh dari kediaman Tante Rossa.
Ia memperhatikan rumah dua lantai itu dari dalam mobil dengan mesin yang telah di matikan dan punggung yang ia rebahkan di sandaran kursi. Ada perasaan berbeda saat ia menatap rumah itu dari kejauhan. Seakan ada rindu yang tidak bisa ia artikan.
Sekitar 15 menit terdiam dengan keraguan dan kebimbangannya untuk turun atau tidak menemui wanita itu, pandangannya belum lepas dari halaman rumah sampai naik ke lantai dua dengan lampu yang masih terang menyala.
Lingga terkejut hingga menegakkan badanya dari sandaran kursi, saat melihat motor sport yang di kendarai Lendra keluar dari pintu gerbang meninggalkan halaman.
"Lendra.." ucapnya.. Ia tidak menyangka adiknya itu muncul dari dalam rumah minimalis yang cukup luas itu. Yang artinya, pria muda itu sudah sering datang ke kediaman itu bahkan mungkin sangat dekat dengan Tante Rossa. Timbul banyak pertanyaan keluar dari dalam hatinya hingga ia memutuskan untuk menemui wanita itu.
Menyalakan mesin ia menuju pintu gerbang yang sudah tertutup dengan Membunyikan klakson. Seorang penjaga rumah membuka pagar kokoh yang menjulang tinggi. Dengan meminta Lingga menurunkan kaca mobilnya.
Saat mengetahui siapa pria di balik kemudi, penjaga itu membiarkan kendaraan mewah itu masuk ke halaman melintasinya. Penjaga itu sangat mengenal sosok Lingga, walaupun Lingga tidak mengenalnya.
Menutup pintu gerbang kembali, penjaga itu mendekat dan menyapa pria yang baru turun dari mobilnya. "Aden mau ketemu dengan Ibu?" penjaga itu tersenyum ramah menatap wajah Lingga.
"Iya.." Lingga merasa heran dengan tatapan pria itu yang memandangnya dengan pandangan tak biasa.
"Mar, bilangin sama Ibu, ada tamu menunggu di bawah."
"Siapa Mang? Kog Mar tidak tau? Kapan masuknya?"
"Masuknya sama Mamang tadi.. Sudah sana sampaikan ke Ibu."
Pria itu tampak senang dengan kedatangan sosok pria, yang pada saat masih Bayi, ia gendong untuk di bawa pulang ke rumah dari rumah bersalin. Hingga kejadian yang memilukan terjadi di depan matanya. Lingga Bayi, harus di bawa pergi oleh wanita yang ia ketahui sebagai istri pertama Tuan Cjokro.
Dan kejadian itu sudah 32 tahun lamanya. Waktu yang cukup lama untuknya mengunci mulut dan berdiam diri.
"Si Aden sudah dewasa dan tampan. Mirip juragan Harun." ( ayah dari Rossa )
Pria yang biasa di panggil Mang Ujang itu mengagumi Lingga dari balik dinding ruang dapur yang berada di bagian depan. Pria itu mengintip memperhatikan Lingga yang tengah duduk di sofa.
Dalam keadaan kurang sehat, Rossa memaksakan untuk turun ke bawah, saat Bik Mar memberitahukan, kalau ada tamu yang menunggunya di ruang tamu.
Dengan langkah pelan, kakinya menuruni anak tangga satu persatu berjalan menuju ruang tamu. Rossa bertanya-tanya siapa gerangan yang berkunjung ke rumahnya. Baru saja Lendra berpamitan pulang setelah menjenguknya. Sudah ada tamu lagi yang datang untuk bertemu dengannya.
Ibarat melukis namanya di saat senja. Memanggil namanya ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu bagi Rossa. Saat ia merindukan suara tangis Bayi yang baru dalam hitungan jam berada dalam pelukan, terenggut dalam belaian.
Tiada yang menjawabnya. Selain hatinya yang berteriak, setiap waktu, setiap detik, ia yang selalu merindukan sosok pria yang saat ini hadir di hadapannya.
Seperti mimpi. Seperti mendapat pelangi di gelapnya malam. Rossa terpaku, tak sanggup melanjutkan langkah untuk lebih mendekat ke arah Lingga. Ia tidak punya keberanian, ia tidak berdaya, ia tidak sanggup akan sebuah penolakan yang akan di terimanya.
Biarkan aku menatapnya untuk sesaat Tuhan, sebelum ia berteriak, pergi menjauh, mengacuhkanku lagi. Biarkan aku meluapkan rasa rinduku, saat tanganku tak dapat memeluknya. Saat ini Beri aku waktu dan jangan biarkan cepat berlalu.
Maafkan kesalahanku Tuhan. Hingga bayi merah tak berdosa itu harus menjadi korban keegoisan tiga hati. Sudahi hukuman untukku Tuhan. Sudahi.. Sungguh aku tidak sanggup lagi.
Dengan Lingga yang juga balas menatap Rossa saat pria itu tersadar akan kehadiran wanita yang berdiri di sudut ruangan. Wanita yang berpuluh-puluh tahun lamanya ia hindari.
Ada getar di dada yang tak biasa. Ada rasa sesak kala menatapnya. Ada rasa damai seakan ingin memeluknya.
Oh, Ibu... Seperti inikah arti sosok Ibu yang sebenarnya. Adalah rasa yang tak pernah Lingga bayangkan. Benih rindu dan cinta itu menelusuk raganya.
Sampai ia tak tau bagaimana cara menghilangkan wanita itu dalam hatinya. Dan ia baru menyadarinya kala ia menatap dalam mata teduhnya. Mata yang di miliki sosok Ibu sejati di seluruh dunia
Bak mentari, penyemangat hidup. Penyemangat di hening kalbu, karena sejatinyanya hanya sosok Ibulah yang mampu menguatkan. Yang mampu menuntun anak-anaknya menjalani hidup yang penuh lika-liku.
Ia menyerah, ia kalah, ia mengakui, ia terpaku diri menahan rindu...
****
Bersambung ❤️
Aku up lagi zaayang.. Tunggu yaa.. Masih menggunakan hp soalnya.