
"Ma.. Maasss…"
Dengan suara terbata, Rindia terbelalak tak percaya saat melihat kehadiran seseorang. Sesosok pria yang sangat di kenalnya. Dua puluh lima tahun sudah terlewati, bukan waktu yang sebentar untuknya bisa lupa akan pria yang masih terlihat gagah dan setampan saat pertama kali ia berjumpa. Sorot mata dengan warna yang sama, yang menurun dan di miliki oleh sang putri.
Begitupun dengan Burhan, pria itu menatap Rindia dengan penuh kerinduan. Ia tak kuasa menahan diri untuk tidak segera melangkah masuk ke dalam kamar. Ia tidak bisa berlama-lama berada di luar hanya cukup mendengarkan.
"Rindia.." Burhan menatap sedih wanita yang terlihat kurus, lemah tidak berdaya. Duduk di atas spring bad lantai dengan selimut yang menutupi setengah badannya. Kemana hilangnya tubuh berisi itu, kemana hilangnya wajah segar itu, dan kemana hilangnya bibir merekah yang selalu tersenyum cerah.
"Aku sudah menemukan kamu Rindia … jadi aku minta, tolong jangan pergi lagi. 25 tahun, aku rasa cukup untuk kita saling menyakiti diri. Cukup Rin, jangan lagi kita saling menyiksa batin kita." Burhan meraih telapak tangan yang tampak ringkih dengan gurat urat yang terlihat dan tulang yang menonjol. Pria itu menangis tersiksa melihat belahan jiwanya rapuh terkulai.
"Mas.. Kamu?" Rindia beralih menatap Hena. Memastikan keduanya sudah saling mengenal.
"Aku sudah bicara dengan Aya Rin. Aku seseorang yang datang menemuinya di rumah sakit tempatnya bekerja." Burhan mengerti akan tatapan Rindia kepada Jalanaya.
"Kami sudah banyak bercerita. Mas rasa tidak perlu di jelaskan lagi. Mas yang harus meminta maaf, Maafkan Mas Rindia." Burhan membawa tangan ringkih itu kesisi pipi kanannya. Ia ingin merasakan lagi usapan dan belaian hangat tangan lembut itu.
"Kita akan bersama, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita Rindia. Mas akan membawamu pergi. Mas akan membawamu pulang bersama Aya ke rumah kita. Tapi sebelumnya kamu harus sehat dulu, kamu harus mendapatkan perawatan dan pengobatan yang terbaik. Mas sudah mendapatkan pendonor. Besok akan segera di mulai prosesnya dan mudah-mudahan cocok."
"Seandainya golongan darah kita sama, Mas pastikan, Mas yang akan memberikan satu ginjal untukmu.."
"Mas.."
Rindia menangis, wanita itu tidak tahu harus bicara apa. Pria yang bersimpuh duduk di sampingnya saat ini, kenapa tidak pernah berubah. Pria itu masih sangatlah baik, selalu memperlakukannya dengan sabar dan lembut.
"Kenapa Mas baik sekali? Kenapa hati Mas tidak berubah? Bukankah aku sudah mengecewakanmu Mas? Aku sudah pergi meninggalkanmu? Tidak adakah sedikitpun di hatimu rasa benci, rasa marah kepada wanita bodoh ini?" Rindia memandang Burhan dengan bertanya
"Tidak … tidak akan pernah ada kebencian Rindia. Jangan ucapkan kata-kata seperti itu. Aku tahu Sonya dan Sarah menekanmu, bahkan mengancammu. Ya... Aku sempat kecewa, kenapa kamu memilih pergi dan tidak mau memberitahuku? Tapi rasa cintaku mengalahkan rasa kecewaku dan sayangku lebih besar dari besarnya amarahku. Masih ada waktu untuk kita bersama-sama saling memperbaikinya.."
"Lihatlah Aya.. Putri cantik kita sangat membutuhkan orangtuanya. Aya butuh kita Rindia, sebuah keluarga yang utuh dan saling menguatkan. Sudah cukup kita membuatnya bersedih. Saat ini, saatnya kita membuatnya selalu tertawa bahagia."
"Kamu harus semangat. Kamu harus sehat. Kamu harus berjuang melawan sakitmu demi aku dan Aya.. Demi dirimu sendiri."
"Kemarilah Aya.." mengulurkan tangan, Burhan meminta Hena untuk bergabung. Sedari tadi, sang putri berdiri terdiam menyaksikan kedua orangtuanya dengan penuh keharuan.
"Terimakasih Tuhan.. Terimakasih. Engkau telah kembalikan kedua belahan jiwaku." ucap Burhan.
Ketiganya saling berangkulan bersamaan dengan tangis tawa yang berujung bahagia. Saling menempelkan kepala, kedua tangan Burhan melingkar, memeluk kedua wanita yang teramat di sayanginya.
"Aya.. Siapkan pakaian dan kebutuhan seperlunya saja. Malam ini juga kita akan membawa Ibu ke rumah sakit.."
°°°°°
"Cape, May.?"Lingga ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memeluk Maya.
Mereka baru tiba sekitar 30 menit di kediamannya setelah sebelumnya mengantar Sutan Cjokro dan Bunda Rossa terlebih dahulu.
"Sedikit Bang.." Maya bicara dengan mata terpejam.
"Jangan tidur dulu, May … mandi dulu, Abang akan siapkan air hangat untuk kita mandi bersama."
Cup..
Lingga mengecup kepala Maya yang semakin meringkukkan tubuhnya
"Sebentar Bang.. five minutes, Ok."
"Maya merindukan tempat tidur kita Bang." dengan malas malasan Maya menyapu tangannya ke atas ke bawah sambil mengusap-usap kasur empuk beralaskan sprei berwarna merah muda.
"Abang cemburu." Lingga menelusupkan wajahnya di ceruk leher Maya dari belakang.
"Cemburu ?" Maya terheran, membuatnya membuka mata
"Aiihh.. Abang! … ada-ada saja."
"Tempat tidur kenapa di cemburui Baangg?" Maya berbalik menghadap Lingga.
"Bagaimana tidak Abang cemburui. Dari tadi Mayaku terus membelai, mengusap tempat tidur ini. Tapi Abang kamu abaikan.." pria itu merajuk tidak mau tersaingi.
"Oohh.. Abangku, Sayaaaanggg.." Maya tertawa seraya mencubit pelan pipi Lingga. "Sini, Maya sayang Abangnya." Maya melebarkan tangannya agar pria dengan sejuta pesona itu merebahkan kepala di dadanya. Di sambut senyum kemenangan, Lingga menelusupkan kepalanya di dada Maya. Pria itu tidak ingin melewatkan sedetikpun moment kebersamaan berdua.
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan Abang. Tempat tidur atau pria tampan lainnya, sekalipun pria itu membawakan Maya berjuta-juta cinta. Karena cinta dan sayang Maya sudah Abang curi sepenuhnya.."
"Abang itu penjahat cinta." ucap Maya dengan telapak tangan tak henti membelai kepala Lingga.
"Kenapa Abang di bilang penjahat, May?" Lingga bertanya masih dengan posisi terbaring tengkurap dengan kepala ia rebahkan di belahan dada Maya.
"Terus apa yang lebih pantas untuk sebutan seorang Lingga, ketika dia telah merampok habis hati Maya.?" dengan wajah memerah menahan malu, Maya memberanikan diri merayu suaminya.
Lingga terkekeh pelan mendengar ucapan Maya. Mengurai pelukan dengan memiringkan badannya, Lingga memandang Maya dengan satu siku sebagai penyanggah dan satu tangannya membelai pipi dan sudut bibir Maya dengan ibu jempolnya.
"Belajar dari mana May? Kenapa sekarang Mayaku pintar menggombal?" terukir senyum tipis di sudut bibir Lingga.
"Belajar dari Abang." Maya menjawab, mengulum senyuman. Tangannya balas mengusap rahang Lingga.
"Abang akan menjadi pencuri ulung, perampok kelas kakap yang tidak bisa tertangkap jika sudah berurusan dengan seorang wanita yang bernama Maya. Bahkan hatinya sudah Abang satukan di dalam sini." Lingga membawa turun tangan Maya dari wajahnya untuk menyentuh hatinya.
"Hati Maya tidak akan terlepas dan hilang, sampai bumi ini tak berbentuk bulat lagi.."
"Abang gombal akut … parah iihh.. !!" Maya menarik tangannya seraya menepuk pelan dada Lingga, wanita itu tak bisa menyembunyikan rona malu di wajahnya. Pria itu setiap harinya selalu membuatnya melayang. Baik dari ucapan maupun perbuatan Lingga yang tidak pernah berubah. Setiap harinya, yang ada kadar keromantisannya semakin bertambah.
"Abang ingin Mayaku selalu tersenyum bahagia seperti saat ini dan hari-hari berikutnya."
Saling menatap mesra, Lingga meraih dagu Maya. Mendekatkan wajah menempelkan benda kenyal, menyentuh bibir tebal Maya. Di sambut belitan tangan Maya yang melingkar di leher Lingga. Keduanya saling bergulat dengan suara cecapan yang mulai terdengar merdu. Lingga mengulum bibir Maya, membelit lincah penuh dengan kelembutan sampai akhirnya, dengan terpaksa Lingga harus menghentikan aksinya sebelum ia lupa dan tidak bisa menahan diri.
"Abang akan menghubungi Dokter Hansel, May." Lingga mengusap sisa saliva di bibir Maya.
"Abang akan meminta waktu kontrol di majukan secepatnya."
Maya tersenyum mengangguk. Ia akan belajar memahami dan belajar menerima untuk bisa mengerti akan ketakutan Lingga terhadap dirinya.
"Mandi dulu, Honney …sebelum panggilan makan malam meneriaki kita." beranjak bangun, seperti biasa, Lingga akan memberikan punggungnya untuk di naiki Maya.
"Bang, kapan hadiah Maya datang?"
Maya bertanya dari atas punggung sambil mengeratkan rangkulan tangannya di pundak Lingga. Keduanya berjalan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Besok May.. Besok pagi akan ada supir. Pria itu akan menemui kita dengan menyerahkan hadiahmu."
"Supir…??
"Pria.. Siapa... ??"
****
Bersambung ❤
Terimakasih untuk segala bentuk masukan dan sarannya teman... Tapi aku pastikan lg yaa...
Untuk cerita Lexsus Dina, Lendra Hena hanya selingan kog.. Cerita ini akan tetap fokus sama Lingga Maya..
Likenya dulu yaaa....