
Selama satu jam anak dan Ayah itu saling melepaskan kerinduan yang begitu mendalam. Melepas rindu dengan saling bicara, saling bercerita tentang banyak hal. Tangisan yang terdengar bukan lagi tangisan pilu kesedihan, akan tetapi tangisan haru penuh kebahagiaan di selingi suara tawa keduanya.
Keputusannya untuk kembali lagi ke kota besar setelah enam tahun lamanya menetap di kota kecil di luar kota Jakarta. Ternyata tidak sia-sia, ia di pertemukan dengan dua orang pria yang di rindukannya.
Mendapatkan panggilan kerja di salah satu rumah sakit besar di kota Jakarta, Hena memutuskan kembali. Kembali ke kota yang telah lama di tinggalkannya setelah lulus sekolah. Pada akhirnya Hena memboyong serta sang Ibu yang sedang dalam keadaan sakit. Ginjal yang di deritanya selama setahun terakhir ini membuat tubuhnya drop kesehatannya menurun.
Selama tinggal di kota kecil, Hena bekerja di salah satu puskesmas sebagai pekerja honorer yang belum memiliki pendapatan yang cukup. Sehingga belum mampu memberikan perawatan yang terbaik untuk sang Ibu. Salah satunya cuci darah.
Menolak cinta dari pria kaya yang telah membantu memberinya tempat tinggal, Ibunya lebih memilih bekerja sebagai pembantu di rumah itu hingga lahirlah Hena. Dan pria itu masih mau membantu kebutuhan Hena kecil sampai akhirnya pria kaya itu menikah dengan wanita yang telah memiliki putri seumuran dengannya. Hingga saat kelulusan, sang Ibu memutuskan untuk hengkang dari rumah yang menaunginya selama belasan tahun karena tidak ingin membiarkan Hena hidup dalam tekanan.
Sedangan uang yang di kumpulkan dari hasil selama bekerja sang Ibu menjadi pembantu. Rindia gunakan untuk membiayai sekolah kesehatan Hena dan mengontrak sebuah rumah sederhana.
"Belasan tahun, kita sama-sama melanjutkan hidup dan berada di kota yang sama. Kenapa kita tidak pernah berjumpa Ayah?" Hena bertanya dengan duduk bersama, menyandarkan kepala bersandar di pundak sang Ayah.
"Karena Tuhan akan mempertemukan kita dalam keadaan dan waktu yang sangat tepat. Yakinlah bahwa rencana Sang Maha Pencipta sangatlah indah. Terlepas itu semua, Ayah meminta maaf kepadamu Aya. Ayah terlambat menemukan kalian. Seharusnya sudah Ayah lakukan sejak lama. Ayah terlalu pengecut, Ayah larut dengan kehidupan Ayah, Ayah menyibukkan diri agar rasa sakit dan rindu yang terikat erat tidak dapat Ayah rasakan. Maafkan Ayah Aya … maaf.."
"Sekarang kita jemput Ibumu Aya.. Belahan jiwa Ayah harus segera mendapatkan perawatan yang terbaik. Ayah sudah memesan kamar untuk Ibumu di rumah sakit ini.."
Menarik kepala dari pundak sang Ayah, Hena tersenyum menatap Burhan kala mendengar pria berumur itu menyematkan kata belahan jiwa untuk sang Ibu. "Aya tidak menyangka Ayah sangat sekeren dan seromantis ini kepada Ibu. Pantas saja Ibu tidak mampu melupakan Ayah."
"Tidak ada pria yang setampan dan seromantis Ayahmu ini. Ayah memang keren.." Burhan menyombongkan diri sambil membusungkan dada seraya menepuknya.
"Huhh.. Tampan dan romantis saja percuma, kalau belasan tahun hidup sendiri.." cibir Hena
Ayah dan anak yang belum lama berjumpa itu saling tertawa bersamaan dengan setitik airmata menetes dari sudut mata. Rona bahagia tak lepas dari keduanya. Banyak kesamaan dan juga kemiripan Rindia dan Jalanaya
Berjalan bersisian, keduanya keluar dari lobi rumah sakit, Burhan dan Hena langsung menuju parkiran tempat ia memarkirkan mobilnya.
°°°°°
Mengenakan jaket dan helm fullfacenya kembali, Lendra mengikuti kemana arah mobil itu melaju, meninggalkan parkiran rumah sakit. Tidak terlalu kencang, Lendra duduk mencengkram stang motor sportnya. Ia terus memperhatikan dan mengikuti dari belakang.
Melaju di jalanan yang tampak ramai dengan lalu lalang kendaraan menjelang petang, mobil yang di ikutinya menyalakan lampu sen kiri.
"Aya.."
"Ya yah.."
"Kamu sedang dekat laki-laki?"
"Emm.." Hena memalingkan wajah menatap sang Ayah yang tengah mengemudi. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saja, ia berharap akan sosok pria yang selama seminggu ini di nantikannya datang menemuinya.
"Kenapa Ayah bertanya seperti itu?" Hena kembali memalingkan wajah menatap lurus ke depan.
"Tidak apa-apa.. Ayah hanya bertanya?"
Sesekali Burhan melirik ke arah kaca spion samping kanan dan kiri.. Ia menyadari kalau sedang di ikuti oleh pria muda berjaket kulit hitam, mengendarai motor sport yang sedari parkir an rumah sakit membuntutinya.
"Aya yakin?" Burhan memastikan seraya tersenyum tipis.
"Iya Ayaahhh.."
Tak butuh waktu lama sekitar 300 meter, Lendra ikut menghentikan laju motornya saat mobil yang di ikutinya berhenti di sebuah gang pinggir jalan. Karena jalanan yang sempit tidak memungkinkan mobil itu masuk sampai di depan rumah kontrakan petak yang di tempati Hena bersama Ibunya.
Hena bertanya sebelum turun dari mobil.
"Ya, jantung ayah berdetak lebih kencang." Pria itu mengakui yang tengah di rasakannya. "Ayah teramat rindu dengan belahan jiwa Ayah. Ayah sangat merindukan Rindia, Ibumu Aya … semoga Ibumu mau memaafkan Ayah.."
"Ayah siap.." Hena tersenyum menatap Burhan mencoba memberikan kekuatan.
"Ya Aya.."
Langkah Lendra terhenti ketika akan mengikuti langkah Hena dan Burhan saat berjalan masuk ke dalam gang yang hanya cukup untuk kendaraan ber-roda dua. Sang pimpinan sebuah Lembaga pemerintahan dimana tempatnya bertugas memintanya untuk segera menghadap. Dengan berat hati, Lendra harus membiarkan Hena bersama pria yang di kenalnya. Sebagai pekerja hukum, ia harus bisa mengkesampingkan urusan pribadinya dengan memprioritaskan tugas negara di atas segala galanya.
"Assalamuallaikum.."
Hena mengucapkan salam seraya mengetuk pintu.
Klek..
Hena membuka pintu yang tidak terkunci. Melangkahkan kaki masuk ke dalam, di ikuti Burhan di belakangnya. Sejenak Burhan mengitari seluruh sudut ruangan yang hanya memiliki satu ruang tamu, satu kamar dan dapur kecil yang bersebelahan dengan kamar mandi. Tidak banyak memiliki barang, ruang tamu itu terlihat kosong tanpa sofa. Hanya karpet pelastik sebagai tempat duduk. Di samping itu, Hena dan sang Ibu juga belum lama menempati kontrakan itu, baru sekitar satu bulan selama Hena bekerja di rumah sakit.
Burhan merasa terenyuh. Hatinya sakit menyadari bagaimana keadaan istri dan anaknya. Berbeda jauh dengan dirinya yang menempati sebuah rumah besar di perumahan elit dengan fasilitas lengkap. Sekuat tenaga, Burhan menarik nafas mecoba menguatkan diri.
Membuka gorden sebagai penutup pintu ruangan yang di jadikan kamar. Hena menyapa sang Ibu yang tengah terbaring lemah di atas spring bad lantai.
"Bu.. Aya pulang."
"Aya.. Kenapa pulangnya terlambat Nak? Tidak biasanya?" Rindia bertanya dengan suara lemahnya.
"Maaf, Bu … membuat Ibu khawatir. Aya janji tidak mengulanginya lagi." Hena meraih tangan sang Ibu lalu menciumnya. "Aya lupa mengabari Ibu." Hena bicara seraya duduk di samping snag Ibu.
"Apa teman shifmu terlambat datang seperti biasanya?" Rindia tersenyum bertanya.
"Tidak Bu.. Hanya saja, tadi Aya harus menemui seseorang dulu."
"Seseorang?" Rindia bangun dari tidurnya. Wanita dengan wajah pucat itu masih terlihat cantik keibuan.
"Siapa Aya?" Rindia duduk dengan bersandar di dinding.
"Seseorang yang mencari Ibu.. Mencari Kita Bu.." Hena mengenggam tangan rapuh itu. Tangan wanita yang selama belasan tahun di gunakannya untuk bekerja keras. Memasak, mencuci, membersikan setiap sudut ruangan di rumah besar tempat mereka tinggal dan bertahan hidup.
"Mencari Ibu?"
Rindia mengerutkan dahinya. Wanita itu masih belum mengerti apa yang sedang di sampaikan putrinya.
Sedangkan burhan berdiri terpaku di balik dinding, di ambang pintu, yang hanya tertutup oleh gorden berwarna abu-abu. Ingin sekali rasanya ia berlari masuk ke dalam seraya memeluk Rndia belahan jiwanya. Memeluk wanita yang selama 25 tahun menghilang akan tetapi tidak sekalipun lepas dan hilang dari ingatannya. Wanita itu selalu ada di dalam hati dan pikirannya.
Wanita yang memilih pergi karena keegoisan dan keserakahan ibu dan adiknya.
****
Bersambung ❤
Masih part Hena dulu yaa...