TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MOMENT SPESIAL



Setelah di ijinkan pulang dengan tetap melakukan kontrol rutin dan berbagai macam larangan yang harus di jalani Maya. Lingga langsung membawa, memboyong sang istri untuk menempati rumah baru mereka di kawasan pantai mutiara. Rumah yang Lingga berikan sebagai mas kawin dengan atas nama Maya Mawanda sebagai pemiliknya.


Seluruh keluarga baik Bunda Rossa, Tuan Cjokro, Umi Wanda beserta kedua adiknya sudah menunggu dan menyambut kepulangan Maya dan Lingga di rumah baru mereka.


Tak ketinggalan Om Hadid dan Tante Lena yang juga memilih merayakan hari raya di Indonesia. Adik dan ipar dari Tuan Cjokro itu ikut menyambut kepulangan keponakan tersayang. Seluruh keluarga sudah berdiri di depan pintu, mereka tampak antusias menyambut kepulangan Maya yang selama satu bulan berada di rumah sakit.


Selain rasa haru yang membaur dengan rasa kebahagiaan yang meluap menjadi satu. Maya tampak menitikkan airmata sebagai bentuk luapan rasa syukur, rasa bahagia yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Selain keluarga yang begitu teramat menyayanginya, sejenak Maya memandang rumah mewah yang berdiri kokoh di hadapan matanya. Sebuah rumah impian yang selama ini menjadi hayalannya, sebuah rumah yang tidak pernah terbayangkan akan ia miliki. Serasa seperti mimpi, seperti itulah gambaran yang tengah Maya rasakan saat ini.


"Terimakasih Bang.. Terimakasih." Maya berulangkali berucap yang ia tujukan kepada Lingga, pria yang setia mendampinginya.. Pria yang selalu menebarkan kasih sayang setiap harinya.


"Ini istanamu, May.. Ini milikmu.. Abang sudah menepati janji Abang yang pertama." Lingga mengecup kening Maya di tengah-tengah keluarga yang juga ikut terharu menitikkan airmata bahagia. Pelukan hangat serta ciuman mereka berikan kepada Maya.


Melangkahkan kaki di undakan tangga menuju lantai atas bersama Lingga yang tidak lepas merangkul pinggangnya disisi kanan, keduanya melangkah masuk ke dalam kamar utama, kamar yang sudah selesai di renovasi dalam waktu singkat, kamar yang terlihat lebih luas dan mewah


Setelah melakukan sungkeman dan saling bermaafan, Lexsus dan Dina segera berpamitan. Dua orang yang menjadi sahabat setianya itu harus segera berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta dengan tujuan Kota Makassar.


Lexsus meminta restu kepada Tuan Cjokro dan Bunda Rossa untuk membawa Dina pulang kampung, yang akan ia pertemukan kepada kedua orangtuanya.


Setelah mengitari seluruh ruang kamar, melihat semua barang-barang miliknya dari apartemen sudah tergantung dan tertata rapih di lemari pakaian dan meja rias. Maya melangkah ke arah luar, ia berdiri di balkon kamar sambil memandang lautan lepas, laut biru yang tampak memanjakan mata. Semilir angin laut menerpa wajah Maya yang sudah terlihat lebih cerah, sungguh keindahan yang tiada terkira.


"Kamu suka May?" Lingga bertanya seraya memeluk tubuh Maya dari belakang.


"He'em.." Maya mengangguk dengan mata terpejam.


"Sangat indah Bang.. Maya suka.. Terimakasih Bang.." ucap Maya dengan lirih


"Kenapa harus berterimakasih lagi May.." Lingga semakin mengeratkan pelukannya seraya berkata


"Ini rumah impian kita, Honney… ini istana kita.. Kita akan memulai segalanya dari sini. Cinta kita akan semakin kuat, terus tumbuh dan bertambah setiap detiknya, tidak akan ada Lingga jika tidak ada Maya, dan anak-anak akan segera hadir bersama kita. Mereka akan berteriak, berlarian setiap harinya, sehingga kuping kita akan bising mendengar tangisan, canda dan tawa mereka."


"I love you May.. I always miss you." ( aku selalu merindukanmu ) Lingga mengecup tengkuk Maya yang tampak mulus menggoda. Tersisa setengah rambut, Lingga menggulungnya sampai ke atas. Sudah tidak tertutup perban, bekas jahitan di belakang kepala itu masih terlihat jelas


Lingga membalikkan tubuh Maya agar menghadapnya, meraup wajah polos nan teduh menenangkan, wajah yang semakin terbuka aura kecantikannya yang terlihat alami.


"Me too.." balas Maya seraya tersenyum menatap sorot mata Lingga dengan wajah yang masih berada dalam raupan telapak tangan Lingga.


"Peluk Abang, May.." Lingga menginginkan Maya agar melingkarkan tangan di pinggangnya.


"Maya ingin cepat punya Baby Bang.." Maya bicara dalam dekapan Lingga, sebelumnya pria itu tak berhenti menciumi seluruh wajah Maya.


"Ya, May.. Kita akan segera punya banyak anak. Tapi kamu harus benar-benar sehat dulu, Abang akan sabar menunggu. Setelah itu Abang akan kejar setoran." Lingga tersenyum simpul


Membuat Maya mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Lingga.


Cup...


Lingga kembali mengecup bibir Maya.


"Abang mau lima." ucap Lingga setelah berhenti mengecup wajah Maya dan berhenti dengan mencium bibir indah yang membuatnya selalu tidak bisa menahan diri. Dan Lingga tertawa pelan ketika Maya memukul dadanya.


"Kebanyakan Bang! Dua saja." ucap Maya setelah terbebas dari ciuman suaminya.


"Empat.." tawar Lingga


"No.." Maya mengeleng.


"Tiga! Deal.."


"No.. Dua saja Bang."


"Tiga.. Tidak ada tawar menawar lagi. Abang ingin anak-anak kita tidak merasa kesepian seperti Abang May.."


"Empat dengan Kakak Magada.." jawab Lingga.


"Gada akan punya adik tiga." Lingga bicara sambil memainkan hidungnya di hidung Maya dengan bibir sesekali bersentuhan.


"Maya sudah tidak sabar.."


"Abang juga, May.. Anak-anak kita tidak akan kalah tampan dan lucunya seperti Boy dan Biru. Putra Dirga dan Bayu.."


"He'em.." Maya menganguk mengiyakan.


"Mereka membuat Maya gemas Bang… apalagi Alea.. Gadis kecil itu sangat cantik dan mengemaskan.


"Ya, kita akan punya anak perempuan juga.. Tapi berjanji sama Abang.. Jangan sakit, May… kamu harus sehat, Abang akan selalu menjagamu."


Cup..


Untuk kesekian kalinya Lingga kembali mengecup bibir Maya.


"Bagaimana dengan apartemen Bang?" Maya teringat tempat tinggal yang baru beberapa jam di tempatinya.


"Akan Abang jual. Nanti akan Abang belikan apartemen yang baru, yang lebih baik untukmu May.."


"Tidak perlu Bang.. Rumah ini sudah cukup untuk tempat tinggal kita."


"Tidak, May… kita harus punya apartemen. Untuk berjaga-jaga.' Lingga tersenyum penuh arti.


"Berjaga jaga?" Maya tidak mengerti.


"Nanti kamu akan tau manfaatnya untuk apa, May.. Sudah jangan di pikirkan. Ayok masuk! Angin laut sementara ini tidak baik untuk kesehatanmu." ucap Lingga bersamaan dengan suara ketokan pintu yang terdengar keras dari luar.


Tok.. Tok.. Tok..


"Pak, Bu.." suara Mak Kom terdengar jelas memanggil.


"Ya Mak.." Maya menyahuti panggilan dari dalam


"Di tunggu di bawah untuk makan, Bu.." Mak Kom menyampaikan.


"Ya. Kami akan turun, Mak." Lingga bicara setelah pintu terbuka, bersama Maya yang berada di sampingnya.


Hari Raya Idul Fitri tahun ini terasa sangat berbeda, dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya di rasakan oleh Lingga dan Maya yang akhirnya bersama dalam ikatan sebagai suami istri dan saling memiliki. Tetapi di rasakan juga oleh seluruh keluarga. Khususnya kepada Tuan Cjokro dan Bunda Rossa.


Setelah banyak melewati berbagai macam masalah, cobaan dan musibah yang harus mereka terima, terselip rasa syukur yang teramat dalam. Serta kebahagiaan yang tak terhingga rasanya.


Tahun ini, menjadi tahun yang tidak akan pernah terlupakan dan akan menjadi tahun yang luar biasa indahnya. Dimana tahun ini, Tuhan telah menetapkan dan memberikan jalan untuk menyatunya sepasang suami istri yang terpisah tempat dikarenakan suatu keadaan dan bertemunya seorang ibu dan anak kandungnya yang puluhan tahun terpisah.


Tahun ini, berkumpulnya keluarga besar Sutan dengan penuh kedamaian. Banyak hikmah dan pembelajaran yang mereka dapatkan dari kejadian sebelumnya.


Di hari pertama hari raya ini, mereka semua dapat berkumpul, duduk dalam satu meja menikmati hidangan bersama. Tertawa bersama dengan suami, dengan istri, dengan besan, dengan ipar, dengan anak dan menantu. Tidak ada kebahagiaan yang dapat di gantikan dengan apapun selain moment hari ini.


Moment yang spesial..


Berwarna.. Penuh keceriaan, penuh cinta dan sayang...


****


Bersambung ❤


Apa kabar? Semoga para pembaca semua dari berbagai kota selalu sehat yaa.. Maaf, Maya baru kembali..


Jangan lupa like nya yaa... Terimakasih