
Sinar matahari pagi, menembus masuk ke celah jendela kaca mobil yang masih terparkir di pinggir dermaga.
Membangunkan seorang wanita yang tertidur dengan pulas sedari semalam. Hangat udara pagi yang menyorot, menguar menyilaukan matanya. Dina perlahan membuka mata, mengumpulkan kesadarannya.
Ia menggerakkan tubuhnya dengan malas untuk bangun, menyingkirkan jaket yang menutupi badannya. Meregangkan kedua tangan ke atas, merasakan badannya yang terasa pegal semalaman tidur di atas kursi mobil.
Di lihatnya di kursi sebelah, sudah ada sesosok pria yang pergi meninggalkannya semalam hingga ia ketiduran. Sejenak Dina memperhatikan pakaian yang di kenakannya, memastikan pria yang berada di sampingnya itu tidak berbuat macam-macam.
Setelah yakin tidak terjadi apa-apa, pandangannya beralih memperhatikan wajah damai yang tengah memejamkan matanya dengan tangan bersedekap.
Dina memperhatiikan dari mulai rambut, kening, mata, hidung, bibir, sampai ke dagu.
"Si Akang ganteng juga kalau lagi tidur." Ucap Dina pelan. Apa lagi kulitnya yang coklat kehitaman sesuai dengan kriteria dan seleranya.
"Tapi kalau bangun.. Behhh... Menyeramkan. Kaya macan." Dina terkikik pelan sambil menutup mulutnya. Tetapi tawanya terhenti saat pria yang belum di ketahui namanya itu bersuara dan membuatnya kaget.
"Kamu bukan hanya cerewet. Tapi suka ngomongin orang." Lexsus bicara, pria itu membuka matanya dan masih di posisi yang sama, merebahkan tubuhnya.
"Aihh… Si Akang! Sukanya ngagetin.. Akang sudah bangun ternyata?" Dina meringis malu.
"Akang denger omongan Dina ya? Jangan geer dulu Kang, itumah hanya pujian biasa, tapiii... Beneran, Akang mah ganteng kalau matanya terpejam. Lagian yahh, si Akang mah curang, sudah bangun pura-pura tidur." Dina kembali ke habitatnya, mulutnya mulai berkicau tidak berhenti, dengan tangannya yang meraih handle kursi, ia ingin menaikan tempat duduk agar tegak kembali tetapi sulit ia lakukan. Bisa menurunkan tidak bisa menaikan.
Apa yang di lakukan Dina tidak lepas dari pantauan Lexsus. Pria itu bangun merubah posisi, menaikan kursinya. Ia lalu mendekat ke arah Dina.
"Eeh… Si Akang mau ngapain?" Dina memundurkan wajahnya, saat tubuh dan tangan Lexsus mendekat. Melingkar ke samping.
Krekk..
Lexsus berhasil menaikan handle kursi agar kursi kembali tegak.
"Berisik.." Lexsus berbisik di telinga Dina dan menarik kembali badannya.
Dina tersenyum dengan pipi memerah, menyadari akan pikirannya.
"Saya bukannya pura-pura tidur, tapi nunggu kamu bangun. Saya malah gak bisa tidur karena dengkuran kamu."
Lexsus bicara dengan ketus. "Bahkan saat tidurpun kamu berisik. Ngiler lagi." Lexsus merapatkan bibirnya menahan senyuman. Ia masih menunjukkan wajah dingin kepada Dina.
"Ahh.. Si Akang mah bohong." Dina mengusap sudut bibirnya yang di rasa kering tidak ada tanda-tanda ia ngiler seperti yang di tuduhkan pria itu. "Tapi, emang iya Kang Dina ngorok semalam? Perasaan enggak deh." Dina penasaran
"Jangan pake perasaan! Tapi kenyataan! Tuhh lihat kontainer pada ambruk gara-gara suara kamu yang kencang." Lexsus mengarahkan dagunya ke arah tumpukan kontainer yang memang sudah di turunkan dalam posisi miring.
Dina melongo di buatnya, mulutnya terbuka memperhatikan tumpukan kotak besi yang memang tidak tersusun rapih.
"Yang bener kang? Gak mungkin Kang." dengan reflek Dina mengeplak lengan Lexsus, efek kebiasaannya saat bicara dengan Kang Oleh dan Maya.
"Emangnya suara Dina seperti sunami? Sampai bisa merobohkan kotak besi itu?" Dina bersungut-sungut saat menyadari pria itu membodohinya.
Tak bisa menahan tawa melihat wajah Dina yang kesal akibat di kerjainya, Lexsus melepas tawanya. Entah kenapa bersama wanita yang baru di kenalnya itu membuat hatinya tenang, wanita itu mampu membuatnya tertawa lepas dengan tingkah polosnya.
"Ruko?" Lexsus bertanya karena ia belum mengetahui kalau Dina bekerja sebagai pelayan di Butiq Tante Rossa. Sejenak Lexsus menatap Dina saat wanita itu terlihat serius menatap layar ponselnya.
"Iya, Kang.. Dina harus bekerja. Di kawasan jalan kenangan Kang." Dina bicara sambil mengecek beberapa pesan yang masuk. Selain Kang Oleh yang menanyakan keberadaannya. Sederet pesan dari pria yang di beri nama Kang Jujun itupun mengirim pesan. Pria itu meminta untuk bertemu, meminta maaf, dan masih banyak lagi yang di sampaikannya. Dina menutup kembali ponselnya, saat Pria itu menyalakan mesin mobilnya.
Mobil yang membawanya keluar dari pelabuhan. Pandangan Dina tak lepas dari pemandangan sekitarnya. Ia juga membaca plang yang bertuliskan sebuah pelabuhan terbesar di jakarta.
Beberapa keamanan dengan pakaian hitam, menunduk hormat, saat Lexsus menurunkan kaca mobilnya. Mereka seperti sangat mengenal, dengan bahasa dan sapaan yang tidak di pahami Dina.
Dina hanya mengira-ngira dan menebak pria yang tengah mengemudi di sampingnya adalah kepala keamanan.
"Akang kerja di pelabuhan ya?" Dina mengajak Lexsus bicara saat sudah meninggalkan area dan berada di jalan raya. Rasa ingin taunya tiba-tiba mengusiknya.
"Hmm.." jawaban Lexsus.
"Sudah lama, Akang kerja sebagai security?" Dina bertanya dengan kepala menengok kesamping menatap pria yang sedang fokus dengan stir mobilnya.
"Hmm.." jawaban kedua
"Akang asli Jakarta?" mulut Dina seakan tidak bisa berhenti untuk bertanya.
"Hmm.." jawaban ketiga
"Akang sudah berkeluarga?" Dina serius menanti jawaban, kali ini ia berharap pria itu menjawabnya dengan ucapan. Tapi sayang, pria itu bukannya menjawab tetapi berubah diam. Tangan kiri pria itu malah membuka ponsel dan menghubungi seseorang.
Yang membuat Dina akhirnya memilih diam. Jiwa keponya berhenti saat pria itu tak meresponnya. Entah kenapa hatinya kesal. Ia memalingkan wajahnya kesamping kiri, memperhatikan jalan raya yang sudah mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan pribadi dan angkutan umum yang sudah di penuhi Para pekerja.
Hati Dina mulai berkelana saat memperhatikan gedung bertingkat pencakar langit di tengah kota. Saat masih duduk di bangku SMP.. Ia pernah bercita-cita melanjutkan kuliah dan bekerja sebagai karyawan kantoran. Tetapi impiannya harus terkubur karena keadaan. Sedari kecil sudah menjadi yatim piatu, sang Uwa, Kakak dari dari sang Ibu yang mengurusnya sedari SD.
Tak mampu membiayai sekolah sampai jenjang SMA, apa lagi sampai kuliah. Padahal sawah peninggalan almarhum kedua orangtuanya di serahkan kepada sang Uwa dan suaminya. Sampai akhirnya harus terjual dan habis untuk melunasi hutang. Saat itu, Dina hanyalah anak ke yang tak bisa memberontak.
Lulus SMP Dina sudah bekerja di warung makan hingga akhirnya ia harus menikah muda. Saat umurnya genap 18 tahun, ia di jodohkan oleh sang Uwa laki-laki dengan salah satu pemuda di kampungnya. Sayangnya pernikahan itu hanya bertahan selama 3 tahun. Di umurnya yang ke 21 tahun, Dina sudah menyandang status janda. Ia tidak kuat harus mendampingi suami yang suka berbuat kasar dan memiliki hobi mengadu ayam.
Pergi ke kota besar hanya mengandalkan ijasah seadanya dan nasip membawanya dengan bekerja di Ros Butiq dan ia merasa sangat beruntung. Sudah 4 tahun ia bekerja bersama Tante Rossa. Saat ini Dina sudah berumur 25 tahun. Setahun lebih muda dari Maya. dan setahun lebih lama bekerja dari Maya.
Selama menjanda ia baru kembali dekat dengan laki-laki bernama Junaedi dan berakhir di hianati. Sebagai wanita ia tak muluk-muluk dan tak berharap banyak dari sebuah ikatan. Ia hanya ingin bertemu denga pria yang bertanggung jawab dan mencintainya dengan segala kekurangannya. Tidak terasa, Mobil yang membawanya telah berhenti, tepat di depan ruko Ros Butiq.
"Terimaksih Kang.." tanpa menatap sang pria, Dina segera membuka pintu.
Mengingat perjalanan hidupnya membuat mood Dina berubah buruk dan merasa Insecure. Ditambah pria yang berada di samping mengacuhkannya.
Seorang Dina yang selalu ceria tiba-tiba berubah murung dan tidak percaya diri.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya.. Terimakasih 🙏