TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
SANTAPAN BESAR



Daeng Lexsus menggenggam tangan Dina agar menjauh dari Kang Oleh, menyuruhnya agar segera masuk ke dalam mobil, bergabung dengan Bunda Rossa yang akan kembali ke rumah untuk mempersiapkan acara nanti malam, begitupun dengan yang lain.


Dari bandara Soekarno Hatta, Papa Hadid dan Mama Lena yang di jemput oleh Lendra langsung meluncur ke pemakaman. Mereka tiba saat yang lain sudah selesai, tetapi Hadid dan Lena menyempatkan mengirim doa untuk cucunya, untuk putra Lingga.


"Tunggu Daeng di rumah Bunda. Jangan kemana-mana." Lexsus bicara dengan tegas dengan sikap dingin tanpa bisa di bantah.. Pria itu tampak datar tak beriak.


"Daeng mau kemana?" Dina bertanya, ia menyadari ada yang berbeda dari sikap sang pujaan hatinya.


"Daeng ada urusan dengan Pak, Lingga. Tidak akan lama.."


Dina menahan tangan Lexsus saat pria itu akan berbalik meninggalkannya.


"Daeng kenapa?" Dina bertanya dengan menatap sorot mata Lexsus yang terlihat tajam menusuk.


"Daeng pergi dulu." Pria itu tak menjawab pertanyan Dina.. Dan, Dina masih tetap menahan genggaman tangannya saat pria itu akan melangkah pergi.


"Katankan dulu, Daeng kenapa?" Dina bersikeras bertanya dengan ucapan yang lembut.


"Pikirkan? Apa yang Anri sudah lakukan? Daeng tinggal dulu, Pak Lingga sudah menunggu." Pria itu pergi, tetapi tetap meyempatkan mengecup kening Dina dengan sayang. Lexsus berjalan ke arah mobilnya yang di dalamnya sudah ada Lingga yang menungunya.


Dina hanya dapat memandang kepergian pria itu dari balik punggungnya dengan hati bertanya-tanya, ada apa gerangan? Apa yang sudah di lakukannya. Sepertinya pria manis itu marah kepadanya. Walaupun tetap bersikap lembut.


"Tau ah.." merasa bingung, Dina segera masuk kedalam mobil saat Bunda Rossa memanggilnya.


"Bagaimana?" Lingga bertanya saat Lexsus masuk kedalam mobil duduk di belakang stir kemudi.


"Target sudah sampai." Lexsus menjawab pertanyaan Lingga.


"Kita langsung ke lokasi." Lingga bicara dengan nada dingin tanpa ekspresi.


10 menit sebelumnya saat Dina sedang mengobrol, bersenda gurau dengan kedua lelaki yang salah satu di cemburuinya. Lexsus mendapatkan telfon dari anak buahnya yang melaporkan bahwa pekerjaannya berjalan sesuai rencana dan siap menunggu perintah selanjutnya.


Menghidupkan mesin mobil, Lexsus melajukan kendaraan itu ke arah yang berbeda dari yang lainnya. Mobil yang di kemudikannya melaju kencang ke pelabuhan besar. Lingga akan melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Ia akan meminta sesuatu, balasan atas apa yang terjadi kepada Mayanya.


Sekitar 30 menit, Lingga dan Lexsus sampai ke dermaga kecil di ujung pelabuhan. Dua anak buah Lingga sudah menunggu di atas speedboat. Mereka sudah siap saat mengabari Lexsus.


"Selamat datang Bos." salah satu anak buahnya menyapa hormat.


Lingga dan Lexsus segera naik ke speedboat setelah memarkirkan mobilnya di sisi dermaga. Menuju ke tengah lautan dimana terdapat kapal tanker yang bersandar di tengah lautan lepas.


Sebuah kapal besar miliknya, sebuah kapal yang tidak pernah pulang ke dermaga. Kapal itu akan terus bersandar kokoh nan gagah di lautan lepas, ia akan berlayar mengikuti kemana arah dan tujuan sang Tuan pemiliknya.


24 jam kapal itu beroperasi. Selain tempat untuk menangkap dan menampung ikan yang akan di kirim ke luar negri. Di lantai dasar di bawah laut, terdapat sebuah kolam yang memiliki krangkeng yang mana di dalamnya di huni oleh Baron. Sebuah nama untuk Hiu kesayangannya.


Selain memiliki bisnis Bodyguard, sebagai penyedia jasa pengamanan yang sudah sangat terlatih, baik untuk perorangan dan perusahaan besar. Clientnya adalah dari kalangan elit baik dari selebritis maupun pengusaha. Bisnis empuk miliknya tak main-main, pelatih personel mereka tidak sembarangan. Lexsus mendatangkan pelatih khusus dari kesatuan. Bukan hanya jasa keamanan, Ia juga memiliki orang-orang pilihan yang bekerja sebagai IT yang tidak akan bisa terendus.


Sebuah gedung yang di dalamnya terdapat peralatan komputer dan mesin canggih lainnya untuk melakukan pekerjaan sebagai pengaman maupun penghancur data yang berhubungan dengan perusahaan-perusahaan besar. Dengan kucuran dana yang tidak sedikit yang Lingga berikan sebagai pendana.


Beberapa tahun sebelumnya.


Menggunakan kapal laut, meninggalkan Bugis tanah kelahirannya. Lexsus merantau ke jakarta, hanya dengan membawa bekal keberanian dan kejujuran. Lexsus sempat merasakan dan menjalani kerasnya kehidupan di Kota besar sebagai anak jalanan. Hingga ia bisa bekerja sebagai Bodyguard pribadi yang terlatih.


Dan, karena Linggalah ia bisa bangkit kembali. Hingga namanya terkenal dan di takuti oleh kalangan tertentu. Tetapi di kalangan masyarakat Lexsus terkenal sebagai pengusaha ikan, pria itu memiliki tempat pelelangan ikan yang cukup besar. Perusahaannya mengekspor jenis ikan tuna ke Negara Jepang.


°°°°°


Hanya membutuhkan waktu 20 menit mereka sampai ke sebuah kapal dengan bendera nelayan berkibar. Mereka sudah di sambut dengan beberapa orang yang tinggal dan menetap di kapal itu. Pria-pria berbadan kekar, tinggi dan besar. tampang-tampang yang sangat meyeramkan. Orang-orang yang sudah sangat terlatih. Diatas kapal itu banyak juga para nelayan yang sedang bekerja mengumpulkan ikan dan di masukkan ke dalam drum-drum besar untuk di bawa ke pengolahan di tepi daratan.


Dengan di dampingi para anak buahnya, Lingga dan Leksus turun ke lantai paling dasar dengan menggunakan Lift khusus untuk sampai ke dalam dasar lautan terdalam. Tempat yang hampir mirip, menyerupai sebuah bangunan bawah tanah, hanya saja bangunan yang di pijak saat ini memiliki dinding kaca yang dilapisi air laut. Terdengar teriakan serta umpatan suara seorang wanita yang meminta di lepaskan sambil memukul teralis besi yang mengurungnya.


"Bukaaa… Buka pintunya bedebah! Kamu belum tau siapa saya? Saya keluarga Sutan, Saya menantunya. Akan saya laporkan kalian karena sudah menculik saya!!" wanita yang sedang bicara sambil berteriak itu adalah Alisa.


Sesuai perintah Lingga, Alisa di ambil dari rumahnya saat pagi hari. Agar wanita itu menikmati dulu kabar berita tentang dirinya yang menghebohkan dunia.


Dengan mudah dan terlatih. Para utusan Lexsus menggunakan cara aman untuk bisa masuk kedalam rumah. Sehingga satu orangpun tidak ada yang tau saat penculikan terjadi.


.


"Keluarkan." Lingga memerintahkan anak buahnya. Lingga berdiri tak jauh dari pintu kurungan dengan Lexsus yang tengah berjongkok mengelus-elus kepala Baron.


Piarannya itu akan mendapatkan santapan besar.


Satu pria berbadan besar menekan tombol pembuka, sehingga pintu jeruji besi itu terbuka.


"Lingga.." Alisa berlari ke arah Lingga dengan tersenyum, karena menganggap sang mantan akan menolongnya. Tapi langkahnya tertahan oleh sang pengawal sebelum Alisa mendekat.


"Ga.. Ada apa ini? Kenapa aku di bawa ke tempat seperti ini? Tempat apa ini?" Alisa terus bertanya dengan tangan yang di cekal.


"Heh.. lepas gak!!" Alisa mendelik tidak suka. Sang pengawal melepaskan saat Lingga memberi kode agar membiarkan wanita itu mendekat ke arahnya.


"Ga.. Kamu akan membawaku pergi dari sinikan? Kamu akan mengembalikan aku pulang Kan? Disini sangat meyeramkan Ga.. Mama pasti bingung mencariku?"


Alisa bicara tanpa bisa menyentuh Lingga, karena pria itu menaruh tangannya di belakang pinggang.


"Soal, Maya. A.. Aku tidak sengaja Ga.. Sumpah Ga, itu hanya kecelakaan.


A.. Aku khilaf.. Da.. Dan.. Ak.. Akuu.. reflek Ga.." Alisa bicara dengan terbata dan gugup ketakutan.


"Maya memancing emosiku. Aku datang ke apartemen hanya ingin berkenalan dengannya. Tetapi wanita itu malah mengusirku. Aku hanya rindu tempat tinggalku dan Kamu Lingga. Kamu percaya aku kan Ga?"


"Kita kenal sudah sangat lama, bukan setahun atau dua tahun. Kita mengenal sejak SMP.. Aku tidak mungkin menyerang Maya. Tolong percaya aku Ga?"


"Aku memang sudah mengecewakanmu. Tapi aku tidak mungkin mencelakai Maya dengan sengaja."


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungannya teman-teman.. Cukuplah like sebagai bentuk perhatian.. Akuh sudah sangat terrrr.. terimakasih