TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
TUNGGU



Berdiri dua orang pria dengan dengan tatapan mata yang sama tajamnya.


"Anri.. Ikut Daeng.." suara tegas tidak bisa di bantah menggema terdengar. Pria manis itu memilih langsung membawa Dina pergi dari Café. Sebelumnya, Lexsus secepatnya menghubungi Lingga ketika tidak melihat keberadaan pria itu bersama Maya istrinya.


"Tapi mi.. num.. annya.." berkata pelan terputus. Dina menunjuk pelayan yang baru datang membawakan pesanannya.


"Nanti pesan di kamar.." Lexsus langsung mencekal lengan Dina untuk segera berdiri.


"Neng.. Dina tinggal dulu ya.." tak bisa menolak, Dina mematuhi ucapan suaminya.


"Hemm.." Maya hanya mengangguk menjawab ucapan Dina.


Maya melanjutkan menikmati Ice Tarro Latte dan kentang goreng yang di pesannya. Wanita itu menunduk tak mau melihat Lingga yang menarik kursi ikut duduk di sampingya tanpa memperdulikan pria yang masih berdiri di sisi meja.


"Bapak Lingga.." Pria itu menyapa ketika mengenali siapa pria yang baru datang.


"Anda mengenal saya?" Lingga memastikan siapa pria yang menyapanya.


"Saya Radit Pak.." Pria itu mengulurkan tangannya.


"Saya sekertaris Pak Bayu.." Pria itu mengingatkan


"Oh.." Lingga baru ingat dan menjabat uluran tangan Radit. "Maaf saya tidak ingat." ucap Lingga.


"Tidak apa Pak.. Maaf saya tidak tau kalau Mbak ini… Maksud saya Ibu ini istri Bapak.." Radit tersenyum sungkan.


Menggunakan WIG membuat Maya tidak di kenali sebagai istri dari Sutan Lingga rajanya pertelevisian..


"Tidak apa-apa.. Silahkan duduk.." Lingga bersikap ramah dengan menawari dua kursi kosong di hadapannya. Linga baru sadar kalau hotel tempatnya menginap salah satu hotel bintang lima milik Wijaya Grup.


"Tidak Pak, terimakasih.. Saya akan kembali." tolak Radit.. Ia menyadari sepasang suami istri itu sedang dalam kondisi kurang nyaman.


"Anda sedang bekerja?" Lingga membuka obrolan.


"Hanya mengontrol bulanan Pak.. Kebetulan Pak Bayu sedang tidak bisa hadir.. Jadi saya yang mewakilinya.


"Semoga berjalan dengan baik Dit.. Maaf saya juga harus kembali ke kamar."


"Oh.. Silhkan Pak.. Kalau membutuhkan sesuatu, bapak bisa hubungi kepala Meneger disini."


"Ya.. Terimakasih Radit.. Sampaikan salam saya kepada Tuan Dirga dan Pak Bayu.."


"Baik Pak.." Radit sedikit membungkukkan punggung dan kepalanya. Sebelum pergi meninggalkan Lingga dan Maya.


"Radit.." Lingga memanggi sebelum pria itu melangkah jauh,


"Ya pak.." Radit berhenti ketika Lingga menghampirinya.


"Sepertinya saya membutuhkan bantuan anda."


Lingga membisikkan sesuatu di telinga Radit dan di balas anggukan seraya tersenyum.


"Baik Pak.. 15 menit lagi, Bapak bisa kembali ke kamar.."


"Terimakasih.." Lingga menepuk pundak pria yang hampir saja di cemburuinya.


"Honney.… Kembali ke kamar ya.." Lingga bicara lembut seraya membelai kepala Maya.


"Sebentar lagi Bang.."


Maya masih enggan untuk kembali ke kamar, rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang.


°°°°°


Daeng menautkan jemarinya berjalan di sisi wanitanya.. Pria itu membawa Dina ke lantai 21 dimana suitte room yang sudah di pesan sejam sebelumnya.. Tak banyak bertanya, Dina mengikuti langkan Lexsus.. Walau di dalam hatinya bertanya-tanya. Kemana sang suami akan membawanya. Sesampainya di depan pintu kamar.. Salah seorang roomboy yang mendampingi membantu membukakan pintu dan membawa koper mini milik Dina.


"Selamat menikmati fasilitas bulan madunya Tuan.. Semoga puas dengan pelayanan kami." Roomboy itu segera pamit setelah tugas mengantarnya selesai dan mendapatkan tip dari sang tamu.


"Waaawww..." Dina ternganga menatap takjub seisi kamar.. Inikah kejutan yang Lexsus berikan untuknya. Bukan hanya terpukau, Dina juga mengagumi setiap sudut ruangan yang terlihat mewah. Sebuah ruangan berfasilitas LUX berukuran luas dengan tempat tidur bertabur bunga mawar merah dengan tulisan ‘ LOVE YOU ANRI ‘ rasa haru seketika mengukir hatinya. Dina mengigit bibir menahan tangis bahagia.


Sungguh ini adalah pengalaman pertama baginya. Selama hidupnya, tidak pernah ia menginjakkan kaki ke tempat-tempat mewah. Apa lagi sekelas hotel bintang lima. Bermimpi pun tidak pernah.. Dina merasa seperti mimpi..


"Anri suka?" Lexsus bertanya seraya memeluknya dari belakang. Pria itu mengendus tengkuk dan mengecup kepala Dina.


"Anri.. Ada apa? Apa Anri tidak suka dengan kamarnya? Daeng akan meminta pindah kalau Anri merasa kurang nyaman.." Lexsus membalikan tubuh Dina agar menghadapnya.


"Anri suka Daeng.. Ini sangat indah.." Dina memeluk tubuh Lexsus.. "Terimakasih Daeng.."


"Berterimakasih dengan cara yang lain Anri.." ucap Lexsus masih dalam posisi memeluk Dina.


Sebagai istri, Dina faham apa yang di inginkan suaminya.. Dan ia harus siap mempersembahkan sesuatu malam ini sebagai kewajibannya. Mengurai pelukan.. Dina menenggadahkan wajahnya menatap Lexsus seraya tersenyum nakal. Mendorong tubuh tegap Lexsus hingga terjerembab di atas tempat tidur.. Dengan posisi menindih.. Tubuhnya berada di atas tubuh Lexsus.. "Tunggu.." berbisik sensual di telinga dengan mengigit pelan daun telinga di tambah kecupan di bibir.. Dina mengedipkan matanya..


"Anri.. Oh sayang…" Lexsus mengeram saat Dina beranjak bangun dari atas tubuhnya dan masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil sesuatu dalam kopernya.


Tersungging senyuman tipis dari bibir Lexsus.. Merasa senang menerima perlakuan nakal sang istri yang berani menggodanya.


Menggunakan pakaian horor dari Maya.. Dina memilih warna merah cerah.. Bukan hanya soal kewajiban, tetapi malam pertama ini, Dina ingin memberikan yang terbaik untuk laki-laki hitam manis bertampang dingin yang sangat di cintainya. Servis yang akan ia berikan malam ini tidak sebanding dengan apa yang sudah Lexsus lakukan untuk hidupnya. Dina harus membuang rasa malu, demi malam pertama yang indah.. Yang akan ia persembahkan untuk pria yang sudah sah menjadi suaminya..


Menatap tubuhnya di depan cermin.. Dina memutar badan memperhatikan dengan detail gaun yang melekat membungkus lekuk tubuhnya. Menyemprotkan parfum mahal ke titik-titik tertentu di bagian tubuhnya. Satu botol parfum yang juga Maya selipkan dalam paperbag..


"Neng Maya.. Kamu memang Bestie yang terbaik." Dina terkikik menutup mulutnya.. Seketika singkong bakar yang Maya ucapkan terngiang lagi di kepalanya, membuat otak kotornya langsung beraksi.


"Ampun.. Ampun.." Dina mengelengkan kepala membuang pikiran mesumnya.


Memoles lisptik merah di bibir mungilnya.. Membuat bibirnya tampak seksi menggoda.


"Duhhh Dina.." Ia menepuk jidadnya.. Menghapus kembali lipstik yang baru saja di poles.


"Malah aneh Neng.. Mirip perempuan.." Dina bermonolog di depan cermin. "Tapi gak apa-apa Neng demi memuaskan suami tersayang.." Dina terus bicara sendiri..


Ia kembali memoles tipis lipstik di bibirnya..


"Anri.." Lexsus mengetuk pintu saat Dina tak kunjung keluar..


"Anri.." Lexsus terus memanggil.. "Sedang apa di dalam?"


"Ya, Daeng.. Sebentar.." Dina berteriak dari dalam..


"Buka pintunya Anri.. Kenapa harus di kunci?"


Lexsus berdiri menunggu di balik pintu kamar mandi.


Dina memakai jubah handuk yang di sediakan di gantungan sebagai fasilitas dari hotel untuk menutupi tubuhnya.


Klek..


Pintu terbuka dari dalam.. Nampak Dina tersenyum malu-malu..


"Anri tidak apa-apa? Apa ada masalah?" Daeng mencemaskan Dina.


"Tidak.." Dina mengeleng pelan berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


"Anri sudah mandi?" Lexsus menatap memperhatikan jubah yang di kenakan Dina.


"Belum.." Dina mengeleng lagi.


"Kemari.." Lexsus meraih tangan Dina agar mengikuti langkahnya ke arah tempat tidur.. Bibirnya terangkat tipis.. pria itu tau apa yang di kenakan sang istri di balik jubah mandinya.


Hidangan makan malam sudah tersaji di atas sprei putih bertaburkan bunga.. Beralaskan nampan kayu ukiran..


Tergeletak setangkai bunga mawar merah dan lilin kecil sebagai penghias dua piring keramik berisikan tenderloin steak yang begitu mengugah selera. Menambah kesan romantis dengan penerangan lampu yang remang..


"Anri makan dulu.. Malam ini akan menjadi malam panjang untuk kita.."


Lexsus membalas dengan berbisisk pelan.. Mengigit daun telinga Dina hingga membuat tubuh sang istri meremang merasakan rasa yang sulit di ungkapkan..


"Daeng..


****


Bersambung ❤


MP itu pasti...


Gak pake ngegas yaa... Sabaarrr....