TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MENETTU



Tepat di hari raya pertama, dengan menggunakan transfortasi udara, pesawat yang membawa Lexsus dan Dina telah mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Lexsus membawa Dina pulang ke kampung halaman yang terletak di Kota Makassar yang merupakan Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan.


Kampung Bugis, sebuah perkampungan dimana tempat ia di besarkan. Dan butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk mereka sampai dimana Indo dan Ambo sudah menunggu kedatangannya di rumah, menunggu kepulangan sang putra dari kota Jakarta yang kabarnya akan membawa calon menantu.


Dengan perasaan berdebar Dina berjalan di sisi Lexsus dengan tangan saling bertautan. Perasaan khawatir akan sebuah penolakan tengah Dina rasakan, mengingat statusnya. Walau berulang kali pria manis itu selalu meyakinkan Dina kalau Indo dan Ambo akan menerima Dina dengan baik.


Sebelum pergi menuju Bandara Soekarno Hatta, Dina dan Lexsus menyempatkan menemui Maya dan Lingga. Keduanya ikut mengantar kepulangan Maya dari rumah sakit menuju rumah barunya yang berada di kawasan elit pantai mutiara.


Sebuah kawasan hunian tapak ( landed house ) mewah yang memiliki fasilitas kelas wahid seperti parkir kapal di halaman belakang rumah. Sebuah pantai yang terletak di lokasi srategis dengan akses langsung menuju kawasan komersil dan hiburan di Jakarta Utara.


Seorang pemuda yang juga hitam manis melambaikan tangan kala melihat Lexsus berjalan keluar dari arah kedatangan. Pemuda itu tampak tersenyum gembira menyambut kedatangan sang Kakak yang sudah sangat di rindukan dan di harapkan kedatangannya sejak lama.


Wajah dan tinggi tubuhnya sangat mirip dengan Lexsus, hanya saja badan sang adik belum berisi dan beotot seperti Daeng Lexsus.


"Laoka.." Lexsus memeluk saang adik dengan Dina yang berada di sampingnya.


"Daeng.." Laoka balas memeluk sang kakak dengan penuh kerinduan..


Sesosok Kakak yang menjadi kebanggaan-nya, Kakak yang akhirnya mampu mewujudkan sumpahnya untuk berhasil dan mampu mengangkat drajat orangtua dan juga mampu memberikan pendidikan yang layak untuknya. Mengubah kemiskinan yang sempat di jalani keluarganya menjadi kehidupan yang lebih layak.


Pernah merasakan terhina dan pernah berada di posisi terendah dan di pandang sebelah mata. Keluarga Kamoga saat ini berhasil jaya atas perjuangan Leksus Kamoga.


"Indo dan Ambo tidak ikut?" Daeng bertanya


"Tidak Daeng, Indo dan Ambo menunggu Daeng bawa kakak ipar di rumah." jawab sang adik setelah melepaskan diri.


"Daeng tidak mau mengenalkan kakak ipar?" Laoka tersenyum bertanya, ia melihat sosok wanita yang berdiri disamping kakaknya.


"Kenalkan, wanita ini akan menjadi Bene Daeng, Oka." Lexsus merangkul pinggang Dina mengenalkan kepada sang adik.


"Hai kakak, aku Laoka." pria muda berwajah tampan, hitam manis itu mengulurkan tangannya.


"Dina.." Dina tersenyum hangat balas mengulurkan tangan dengan menyebutkan namanya.


"Kakak Dina cantik.." Laoka memuji Dina.


"Terimaksih Laoka.." ucap Dina


"Sudah-sudah, kamu tidak boleh terlalu mengagumi Kakak iparmu." Lexsus menarik tangan Dina, mengajaknya melangkah menuju tempat parkiran.


"Apa Daeng sangat pencemburu?" Laoka berbisik pelan disamping Dina.


"Sangat.." Dina berkata pelan di samping Laoka, dengan posisi ia berada di tengah antara Laoka dan Leksus.


"Kabar yang sangat bagus kakak.." Laoka berbisik lagi


"Begitukah?" Dina bertanya pelan..


"Ya.. Berarti pria kaku itu sudah benar-benar melupakan.."


"Laoka.." suara Lexsus yang tegas menghentikan ucapan sang adik.


"Jangan dengarkan Laoda Anri.." Lexsus semakin merapatkan tubuh Dina di sisinya.


"Nanti kita bicara lagi." Dina berucap dengan gerakan bibir tanpa suara. Ia sangat penasaran dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh Laoka.


Laoka tersenyum dengan menggaruk kepalanya, sepertnya pria muda itu sudah kelepasan bicara. Tampak keduanya sudah terlihat dekat dan akrab, Dina yang hamble ceria dan Laoka yang tampak senang menerima kehadiran Dina.


"Fokuslah ke jalanan Laoka, jangan selalu melihat Kakak iparmu." Lexsus bicara di samping Dina di kursi belakang. Ketiganya sudah berada di dalam mobil, dengan Laoka yang duduk di belakang kemudi.


"Daeng itu tidak boleh pelit.. Kakak Dina itu juga kakakku, berarti Oka bebas bicara dengannya." Laoka protes


"Ya, asal jangan kau ajak kakakmu ini bergosip yang tidak penting." ucap Lexsus


Jika Lexsus sangat pendiam, tidak dengan Laoka. Pria muda itu lebih banyak bicara. Sehingga dengan sangat mudah sang adik langsung dekat dengan Dina yang juga banyak bicara. Sosok wanita yang baru di kenalnya.


°°°°°


Tak lama.. Mobil yang di kendarai Laoka sampai di sebuah perkampungan bugis tidak jauh dari pantai Losari. Sebuah perkampungan yang tampak indah dan nyaman. Sepanjang perjalanan Dina sangat mengagumi setiap jengkal panoramanya. Hingga mobil yang di kendarai Laoka tidak terasa sudah berhenti tepat di halaman depan rumah yang cukup besar. Rumah kayu yang terlihat unik dan berseni.


Tampak seorang Ibu dan pria tua sudah berdiri di teras, menanti kedatangan sang putra yang sangat mereka rindukannya. Tampak raut wajah yang terlihat bahagia, yang sudah tidak sabar ingin memeluk sang putra. Lexsus dan Dina segera turun dari mobil dengan berjalan bersisian dengan tangan saling menggenggam.


Keduanya melangkah ke arah dimana kedua orangtuanya berdiri dengan senyum hangat dan raut wajah penuh kerinduan berbalut kesedihan.


"Oh, anakku.." wanita tua itu merentangkan tangannya, ia ingin sang putra masuk kedalam pelukannya.


"Indo.." Lexsus balas menyambut pelukan sang Ibu dengan penuh kehangatan.


"Putramu pulang Indo.." Lexsus bicara masih dengan memeluk sang Ibu.


"Indo rindu.. Indo sangat merindukanmu." wanita tua itu meneteskan airmata. Ia akan selalu teringat perjuangan Lexsus saat akan pergi ke Jakarta.


"Apa dia calon manettu Indo?" wanita yang bernama Sanna itu bertanya setelah mengurai pelukannya.


"Ya, wanita ini yang akan menjadi Bene-ku indo." Lexsus memperkenalkan Dina kepada Ibunya.


"Oh, cantiknya manettu ( menantu ) Indo." Sanna beralih memeluk Dina. Tampak raut wajah senang dan penerimaan yang Sanna tunjukkan.


"Dina Indo.." Dina membalas pelukan wanita tua yang tampak sederhana dan bersahaja itu dengan meraih tangannya lalu meniumnya dengan takzim. Ada rasa bahagia bercampur haru yang Dina rasakan, ia tidak menyangka akan mendapat sambutan baik. Dan juga sudah lama sekali ia tak merasakan pelukan seorang ibu.


"Cepatlah berikan Indomu ini Appo." ucap Senna. "Indo dan Ambo sudah cukup tua."


"Appo?" Dina belum mengerti apa yang di maksud Indo sampai Lexsus berbisik di telinganya.


"Cucu.. Indo mengingankan Cucu."


Dina tampak tersenyum malu saat menyadarinya.


"Apa kau tidak ingin memeluk Ambo-mu ini." pria tua yang berdiri di samping Senna tampak protes saat melihat sang istri menguasai putra dan wanita yang akan menjadi menantunya.


"Maaf, Ambo." Lexsus beralih memeluk sang ayah.


"Pintar sekali kau mencari Bene?" ucap sang ayah yang bernama Werang Kamoga dengan meninju pelan pundak Putranya.


"Ambo ingin kau mengenalkannya kepada Ape agar dia tidak lagi berharap dan menunggumu." Werang bicara pelan tampak serius.


Lexsus mengangguk mengiyakan dengan tegas.


"Ayo, masuklah." Senna mengajak semuanya untuk masuk kedalam rumah.


"Indo sudah masakkan Konro kesukaanmu."


Lexsus sangat menyukai konro buatan Indo, yang merupakan hidangan sup iga sapi khas kota Makassar yang berkuah dengan bumbu rempah khusus sehingga membuat rasanya nikmat luar biasa.


"Anakmu yang satu ini jangan di lupakan Indo." Laoka menyusul ke ruang makan dengan meja pendek bergaya lesehan, setelah Oka menaruh dua koper ke dalam kamar.


Lexsus mengacak rambut sang adik dengan sayang. Tiga tahun tidak bertemu, Laoka tumbuh menjadi pria tampan dan tinggi.


Selain untuk membahagiakan dengan mengangat drajat orangtua. Lexsus tidak ingin Laoka merasakan kesulitan hidup yang pernah ia jalani selama ini.


****


Bersambung ❤


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya yaa....