
Tiga hari sudah Dina berada di Kota Makassar, menjelang sore hari ini Lexsus membawa Dina untuk berjalan-jalan menikmati Kota yang terlihat lenggang dan berakhir mampir ke pantai Losari yang berada tidak jauh dari rumah.
Selama tiga hari juga Indo Senna banyak mengenalkan Dina sebagai calon menantunya ke semua kerabat, dari keluarga besar Kamoga dan juga para tetangganya di kampung Bugis saat berkunjung berlebaran ke rumahnya.
Bahkan Ambo Werang meminta agar keduanya segera melakukan pernikahan sebelum kembali pulang ke Jakarta. Tetapi Dina belum memberikan jawaban, tiba-tiba saja wanita itu merasa resah. Seperti ada yang mengganjal dalam hatinya.
Satu hari setelah pembicaraan Lexsus dengan wanita yang bernama Ape. Wanita itu datang lagi, dia meminta kepada Daeng agar di ijinkan bicara berdua dengannya. Dan, masih jelas di ingatannya, tentang apa yang di sampaikan Ape kepadanya.
Wanita itu sangat memohon dan memaksa kepadanya untuk mau berbagi suami. Ape memohon kepada Dina agar mau mengijinkan Lexsus menikahinya. Ape juga mengungkapkan isi hatinya yang sangat mencintai Lexsus, dia bahkan rela meninggalkan suaminya karena tidak bisa melupakan Lexsus yang menjadi cinta pertamanya.
Sebagai sesama perempuan ia bisa mengerti apa yang kesedihan yang di rasakan Ape. Tetapi sebagai kekasih, Dina tidak bisa menerima disaat Ape memintanya untuk berbagi suami dan mengijinkan Lexsus untuk menikahi Ape. Ada kecewa dan kemarahan yang di pendamnya. Dan ia berusaha bersabar dan memahami psikis Ape saat ini.
Hinga ia harus mengucapkan sebuah kalimat yang mungkin telah menyakiti wanita lain..
Flashback
"Maaf, Ape.. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu.. Aku belum bisa menjadi wanita yang memiliki kesabaran yang luas, aku juga belum bisa menjadi wanita yang memiliki ilmu keikhlasan yang sangat mumpuni. Mungkin aku tidak secantik dan seberani kamu Ape, tetapi akan aku kenalkan siapa aku yang sebenarnya."
"Aku Dina Rahmata! Aku akan menjaga dan mempertahankan apa yang telah menjadi milikku. Kamu wanita pintar yang sangat cantik Ape, kamu berasal dari keluarga terpandang. Kamu wanita berpendidikan, jangan rendahkan martabatmu hanya karena nafsu dan keinginanmu."
"Aku tegaskan sekali lagi!! Sampai kapanpun aku tidak bisa dan tidak akan berbagi suami. Aku tidak akan mengijinkan Lexsus Kamoga menikahimu dengan keinginannya sendiri atau tanpa keinginannya."
"Jangan sampai hilang rasa kagum dan hormatku sebagai sesama perempuan karena sikapmu yang keras kepala dan memaksakan kehendakmu." dengan tegas Dina bicara
"Aku yakin Lexsus masih mencintai dan mau menerimaku kembali jika tidak ada kamu Dina." ucap Ape
"Kamu yakin seperti itu?" Dina memastikan.
"Ya.. Daeng pernah memohon untuk tidak di tinggalkan.. Karena Daeng sangat mencintaiku." dengan yakin Ape menjawab
"Bagaimana kalau namamu sudah terbuang dan hilang? Bahkan wajahmu-pun sudah tak di ingat lagi oleh kekasihku." dengan santai Dina melawan ucapan Ape.
"Kamu tau Ape? Daeng akan mencariku, sedetik saja dia tidak mendengar suaraku.. Daeng akan mendekapku jika aku jauh dari pandangannya. Jiwanya akan hilang jika tidak ada aku di sisinya. Tidak butuh waktu yang lama, aku bahkan sudah mampu menguasai hatinya hanya dalam waktu tidak sampai 24 jam." Dina teringat pertemuan pertama kalinya dengan Lexsus sampai pria itu menyatakan cintanya.
Dina sengaja membuat Ape cemburu, dan menyadari kalau sampai kapanpun ia tidak akan berpisah dan melepaskan Lexsus.
Dengan perasaan kesal dan wajah memerah, Ape pergi meninggalkan Dina di teras depan rumah tanpa ucapan salam yang biasa Ape lakukan.
°°°°°
Menarik nafas panjang, Dina berjalan di bibir pantai tanpa alas kaki. Angin pantai terasa semakin kencang menerpa wajah menjelang matahari terbenam, mengibarkan rambut yang terbang ke segala arah. Dina terus berjalan meninggalkan Lexsus yang sedang menerima telfon. Dina semakin mendekat ke air laut, membasahi kaki, tertutup pasir, lalu tersapu ombak.
Pikirannya sedang melayang tidak berada di tempatnya, ada rasa kesal yang tidak bisa ia ungkapkan. Disaat seperti ini, Dina teringat Maya. Kang Oleh, Kang Ncup yang akan menjadi lawan bicaranya hingga mampu membuatnya tertawa sehingga beban yang di rasakan akan hilang dengan seketika.
"Kang Oleh lagi apa yaa?" mulutnya bersuara tanpa sadar, dan Dina tersentak saat tubuh tinggi dengan lengan kokoh merangkulnya pundaknya dari belakang.
"Jangan menyebut nama pria lain Anri." Lexsus bicara di samping wajah Dina.
"Daeng! Bikin kaget.." tanpa sadar Dina mengeplak lengan Lexsus.
"Maaf Daeng.." Dina nyengir seraya mengusap-usap lengan yang di pukulnya.
"Apa yang Anri pikirkan?" Lexsus semakin merengkuh tubuh Dina.
"Tidak ada.." Dina berkata pelan..
"Jangan pikirkan ucapan Ape, Anri…
Tanpa adanya Anri atau tidak adanya Anri.. Daeng tidak akan pernah bersama lagi dengan Ape.. Hubungan itu sudah lama berakhir Anri.. Besok pagi akan Daeng buktikan keseriusanku.. Agar Anri tidak risau lagi."
"Besok pagi?" Dina tidak mengerti apa yang di maksud besok pagi. "Ada apa dengan besok pagi Daeng?" Dina sangat penasaran
Bukannya menjawab pertanyaan Dina. Lexsus mengeluarkan kalung emas dari dalam saku celananya. Sebuah kalung dengan liontin berlian dengan warna khasnya yang memiliki ukiran sangat indah. Lexsus melingkarkan tangannya untuk memasangkan di leher Dina. Hingga mau tidak mau, Dina mengangkat rambutnya ke atas.
"Kamu suka Anri?" Lexsus bertanya setelah kalung itu terpasang cantik di leher Dina
"Iya.. Anri suka.." Dina menjawab dengan mata yang masih mengagumi liontin yang berkilau
"Menikahlah denganku Anri.."
Dina berbalik menatap ke hadapan Lexsus saat mendengar ajakan nikah yang keluar dari mulut pria manis itu.
"Apa Daeng sedang melamar Anri?" Dina tersenyum manis menatap Daeng
"Bukan melamar. Tapi kita sudah akan menikah dalam hitungan jam."
"Isshh.. Daeng tidak romantis.." Dina memukul pelan lengan Lexsus. Kebiasan yang sulit ia hilangkan dalam hal pukul memukul.
"Tidak perlu romantis yang penting bukti Anri.. Jangan berharap Daeng akan melakukan seperti apa yang ada di pikiranmu." Leksus mendorong pelan jidad Dina dengan telunjuknya.
"Tapikan akan menjadi moment yang indah Daeng Lexsus Kamoga." sungut Dina.
Padahal Dina sudah membayangkan Lexsus akan memintanya menjadi istri dengan mejatuhkan lutut seraya mengulurkan tangan menyambutnya dengan ungakapan kata-kata cinta.
"Apa harus Anri jawab?" Dina masih mengajak kekasihnya untuk beromantis ria
"Tidak.. Daeng anggap kamu sudah menjawabnya."
"Kenapa bisa seperti itu Daeng?" Dina cemberut, kelakuan pria dingin itu sama saja seperti saat pertama kali menembaknya di restoran soto betawi. Tanpa bertanya, tanpa menunggu, ia akan melakukan kehendak dengan sesuka hatinya dan memutuskannya sendiri.
"Kita pulang Anri.. Malam ini kamu harus banyak istirahat untuk persiapan besok." Lexsus mengangkat tubuh Dina bak karung beras yang ia letakkan di pundaknya. Kejadian yang sama untuk yang kedua kalinya.
"Daeeengg.." Dina memukul pundak Lexsus.
Dina berteriak saat tubuhnya melayang ke udara dengan membungkuk. Sungguh pria yang langka, disaat yang lain mengangkat sang pujaan hatinya ala brydal. Tidak untuk Lexsus. Dengan ringannya ia mengangkat tubuh Dina yang kecil di pundaknya.
"Daeng. Jelaskan dulu? Apa maksudnya kita akan menikah dalam hitungan jam?" Dina bertanya dengan posisi di pundak Lexsus dengan rambut menjuntai kebawah.
"Anri akan tau nanti.. Indo dan Ambo sudah mempersiapkan segalanya."
"Mempersiapkan apa?" Dina terus bertanya di sepanjang jalan pantai Losari, menuju dimana Lexsus memarkirkan mobilnya.
"Mempersiapkan seuatu."
"Sesuatu apa?" Dina belum puas dengan jawaban pria kaku yang terkesan dingin, akan tetapi sebenarnya sangatlah hangat dan romantis.
"Sesuatu yang akan membuat kita akan bersama selamanya."
"Ahhh...." dengan kesal merasa tidak puas akan jawaban yang Lexsus berikan. Dina pasrah, melemaskan badannya dengan menjuntaikan tangannya kebawah.
"Calon suamiku memang langka..."
Sangat langka...
****
Bersambung ❤
Tinggalkan jejak like dan komennya yaa..
Dina.. Persiapan besok pagi