
Dengan terpaksa Alisa menandatangani surat dari pengadilan agama yang di layangkan oleh pihak Lingga. Ia tidak mungkin mempertaruhkan nama baiknya kalau sampai Lingga menyebarkan video skandalnya.
Bisa-bisa hancur karirnya sebagai selebgram dan model salah satu agency. Pria itu sudah tidak bisa di tekan apalagi di ancam. Alisa dapat melihat, merasakan sosok Lingga yang berbeda dari pertama ia mengenalnya.
Dan juga, Alisa lebih memilih kebebasan dari pada bertahan dengan keinginannya untuk mempertahankan Lingga. Ia sudah tidak kuat berada di dalam balai besar. Dan atas bantuan Lingga pula, ia bisa keluar lebih cepat dari vonis yang di tetapkan.
Tidak beda dengan Lusiana, wanita itu pasrah.. Tidak bisa berbuat banyak saat Lingga memiliki bukti. Dengan cara apa Lingga melakukannya, hanya ia, Sanjaya dan orang suruhannya yang tau. Yang pastinya Sanjaya tidak ingin berurusan lagi dengan Lingga. Pria itu baru mengenal, dan menyaksikan sisi lain yang Lingga tunjukkan.
Yang Sanjaya ingat, ia terbangun dari tidurnya dan sudah berada di tengah lautan lepas, selebihnya pria itu tidak ingin mengingatnya. Yang membuat Sanjaya akhiirnya mengakui kalau anak yang di kandung Lusiana adalah anaknya, bukan anak Cjokro yang selama ini di akuinya. Saat itu usaha yang di kelola Sanjaya gulung tikar yang akhirnya membuat Sanjaya dan Lusiana harus berpisah. Tetapi seminggu sebelum Cjokro menikahi Lusiana, mereka berhubungan kembali dan pada akhirnya ia tetap kehilangan Lusiana. Karena wanita itu menikah dengan Cjokro.
Sebagai penghormatan dan balas budi selama 32 tahun hidup bersama, karena telah mengurus, merawat, melimpahkan kasih sayang kepadanya. Lingga tidak membawanya ke jalur hukum dan menutup rapat kesalahan yang telah di perbuat Lusiana dan Sanjaya.
Lingga tetap menghormatinya sebagai Ibu. Ia menawarkan perdamaian, dengan syarat yang harus mereka jalani. Salah satunya dengan merubah akta kelahiran dari nama Lusiana berubah menjadi Rossa sebagai Ibu kandungnya dan tidak akan pernah menganggu ketenangan berupa ancaman dan lainnya.
Sebagai anak Lingga tak mencampuri tindakan apa yang akan Cjokro berikan kepada Lusiana. Ia cukup percaya Papanya akan memutuskan masalahnya dengan bijak. Ia menghormati segala keputusan yang Cjokro lakukan.
Berganti kendaraan. Lingga menggunakan Lange Rover Black miliknya menuju desa dimana Maya berada. Dengan Lexsus yang duduk di balik kemudi. Kuda besi itu dengan kokoh melaju kencang, membelah petang, menembus angin kencang. Mobil itu mulai memasuki tol cikopo palimanan. Waktu yang di perkiraakan sekitar 7 jam 35 menit dengan jarak tempuh 534 km untuk sampai di kota M dan 2 jam untuk sampai di desa.
Selama 3 bulan baru malam ini ia keluar dari tempatnya mengasingkan diri. Ia menghirup udara luar dengan penuh ketenangan. Wajah itu semakin terlihat tampan dengan bulu tipis yang menghiasi rahangnya. Rambut gondrongnya membuat siapapun tidak akan menyangka kalau ia seorang Lingga yang selalu berpenampilan rapih.
"Apa semua sudah di persiapkan Lex?" Lingga bertanya dengan pria yang tengah mengemudi di sampingnya, dengan tangannya yang tengah mencari lagu apa yang akan di putarnya di tape mobil.
"Sudah, Pak.. Tiket pesawat dengan penerbangan pagi. Sesampainya di Bandara Adisutjipto beliau dengan kedua putranya akan di jemput oleh orang kita. Semua berjalan sesuai rencana Pak. Surat-surat juga semua sudah di persiapkan. Jaga-jaga jika di butuhkan."
°°°°°
"Kamu ingin sesuatu May? Gala bertanya saat melewati para penjual makanan. Saat ini mereka dalam perjalanan ke kantor untuk menjemput Daksa.
"Perutmu harus di isi." Gala menepikan mobilnya di sisi jalan. Pria itu menengok menatap Maya menunggu jawaban.
"Emm.. Apa yak Kak? Maya memperhatikan para penjual makanan, ia belum tau apa yang di inginkannya.
Makanan yang di jajakan tidak satupun yang membuatnya berselera. Dari pagi hingga sore menjelang, entah kenapa hatinya resah, berdebar tanpa alasan. Membuat pikirannya tidak tenang.
"May.. Kamu kenapa?" Gala bertanya saat melihat Maya termenung sesaat.
"Tidak apa-apa Kak." Maya tersenyum kepada Gala.
"Apa kamu memikirkan ucapan Kakak tadi?"
"Tidak Kak, Maya tidak memikirkannya. Maya hanya merindukan Umi, Maka dan Mada." jawab Maya
"Juga Abang." yang bisa ia ucapkan dalam hatinya.
"Kamu yakin?" Gala memastikan
"Iya Kak.. jangan khawatir." Maya tersenyum. "
Senyum yang membuat Gala semakin tidak bisa untuk tidak jatuh cinta. Ia sangat menginginkan Maya menerima lamarannya. Tetapi ia juga tidak bisa memaksakan hati Maya untuk di berikan kepadanya. Yang bisa ia lakukan hanya menunggu. Menunggu sampai dimana wanita itu akan bertahan.
Dan ia harus menyiapkan diri, bersiap dengan kenyataan yang akan di tanggungnya jika sewaktu-waktu ia harus berpisah dengan Maya. Disaat pria yang di tunggunya akan datang menjemputnya.
Tidak ada yang bisa di salahkan, bukan Maya atau dirinya. Bukan juga keadaan. Cinta datang tanpa di minta, cinta datang dengan sendirinya. Ia jatuh cinta dengan wanita yang di kenalnya dalam perjalanan di salah satu bus malam. Wajah cantik, senyum menawan dengan jalan hidup yang membuatnya menjadi wanita tegar.
Apa yang terjadi di diri Maya membuat ia semakin menyukainya. Gala mengetahui segalanya. Tetapi sayang cinta tidak bisa di paksakan. Cinta yang di milikinya tidak bisa merampas hati Maya.
"Belikan Maya buah jeruk saja kak, untuk ngemil di perjalanan."
"Hanya itu?" Gala tersenyum sebelum ia turun dari mobil dinasnya.
"Iyaaaa Kakak Galaaaa…" Maya tertawa mencairkan suasana.
"Baiklah adik Kakak yang terrrr… Sayang."
Keduanya tertawa bersamaan. Mau bagaimana pun Maya tetap menghargai niat baik seorang Gala. Tidak menutup mata, pria itu telah banyak membantunya selain Daksa Kakak sepupunya.
Melanjutkan perjalanan dengan Daksa yang sudah ada di dalam mobil, dengan Maya yang memilih duduk di belakang.
"Apa benar yang Kakak dengar May?"
Daksa bertanya akan kehamilannya.
Sebulan ini Daksa di sibukkan dengan tugas yang tidak bisa di tinggalkan, hingga membuatnya tidak bisa menemui Maya. Hanya Gala yang bisa keluar untuk menengok Maya.
"Maaf Kak.." Maya tertunduk, ia khawatir kehamilannya akan membuat Daksa, Bibik dan Pamannya kecewa. Terutama Uminya.
"Apa perlu Kakak mencari pria itu May? Dia harus tau kehamilanmu."
Daksa dan Maya bicara di dalam perjalanan dengan Gala yang fokus dengan kemudinya. Sesekali Gala menatap Maya melalui kaca spion.
"Jangan kak, berikan Maya waktu. Abang pasti akan datang."
"Baiklah, tapi tidak akan lama. Jika pria itu masih belum juga menemuimu. Jangan larang Kakak untuk mencarinya ke Jakarta. Terkecuali kamu menerima lamaran Gala."
°°°°°
Lande Rover itu berbelok ke rest area KM 270 A yang menyediakan restoran, coffe shop, minimarket, dan tempat ibadah .
Memasuki coffe shop, Lingga dan Lexsus akan beristirahat sejenak dengan mencari kopi hitam. Tidak terasa sudah separuh perjalanan yang mereka tempuh.
Beberapa menit lagi mereka akan keluar tol palimanan Kanci untuk sampai di kota Cirebon. Terbiasa melakukan perjalanan jauh ke luar kota lintas provinsi dan lintas pulau, atau istilah yang lebih sering kita dengar dengan sebuatan touring.
Lingga sangat menikmati dan merasa lebih nyaman menggunakan mobil saat ia harus ke luar kota. Terkecuali jika di hadapkan dengan urusan pekerjaan yang mendesak. Ia baru akan memilih pesawat sebagai tranportasi.
****
Bersambung ❤️
Sama seperti akuhhh yang sedang dalam perjalanan ke tuban.. Jadi 2 bab dulu yakkkk