
Melewati hari ini dengan setumpuk pekerjaan dan pertemuan dengan para tim produksi yang yang tidak lama lagi akan segera launching program baru di acara televisi, FansTV miliknya.
Di tengah masalah pribadi yang tengah menderanya, Lingga berusaha fokus, mampu menyelesaikan tanggung jawab sebagai pemimpin umum di Kabar Grup.
Setelah bicara empat mata mengenai Alisa dengan Roby sebagai sekertaris merangkap asistennya. Lingga meninggalkan gedung Kabar Pos sesuai berakhirnya jam kerja.
Dan di sinilah ia saat ini berada. Di sebuah kawasan perumahan menengah ke atas. Lingga memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat berada di depan pintu gerbang, pagar besi bercat hitam.
Sebuah rumah tingkat dua yang telah banyak berubah. Lima tahun yang lalu sebelum Cjokro mengirimnya ke Jerman. Ia pernah sesekali berkunjung ke rumah itu bersama Haris. Dan saat itu Haris belum menikah dengan Maya.
Tidak memiliki penjaga, Lingga mendorong pagar yang tidak terkunci dari dalam. Dengan tekat yang kuat, kakinya melangkah masuk menuju sebuah pintu yang tertutup rapat, rumah yang terlihat sepi seperti tak berpenghuni.
Menarik nafas dalam. Lingga mengangkat tangan, mengetuk pintu dengan di iringi ucapan salam. Beberapa ketukan masih belum mendapatkan jawaban. Sampai di ketukan berikutnya terdengar suara kunci terbuka dari dalam.
Klek..
Seorang wanita berdaster yang Lingga tebak sebagai pembantu rumah tangga, membuka pintu dan bertanya kepadanya.
"Mas cari siapa?"
"Saya ingin bertemu dengan Haris?"
"Mas Haris?" pembantu itu mengulangi pertanyaan.
"Ya, Haris Maulana. Apa ada di rumah?" dengan posisi Lingga yang masih berada di depan pintu.
Memperhatikan Lingga dari kepala hingga kaki. Sedikit ragu, pembantu itu akhirnya mempersilahkan Lingga untuk masuk ke dalam menunggu di ruang tamu.
"Tunggu ya Mas, saya panggilkan dulu."
"Iya.." Lingga dapat melihat wanita itu berjalan menuju lantai dua.
Lingga mengitari setiap sudut ruangan, yang sudah banyak yang beruabah. Bukan hanya dari bangunan, tetapi foto-foto yang di pajang di dinding ruangan. Beberapa foto pernikahan Rendi dan Reksa adik kembar Haris. Ia juga bisa melihat jelas sosok pria yang di temuinya di dalam toilet restoran siap saji saat bersama Maya.
Pria yang berdebat dengan Maya, pria yang telah merendahkan Maya. Pria yang mendapatkan pukulan darinya. Tengah bersanding memakai gaun pengantin bersama wanita yang ia kenal bernama Tika adik kedua Haris. Wanita yang selalu menitip salam untuknya melalui Haris.
Tetapi ia tidak melihat satupun foto pernikahan Haris dan Maya yang terpajang di dinding ruangan. Begitu banyak foto menantu yang lainnya di figura yang di letakakan di atas lemari bufet. Tetap saja tidak ada foto Maya satupun di antara figura yang terpajang.
"Apa kamu mencari foto Maya?"
Suara pria yang di kenalnya mengalihkan pandangannya dari jejeran foto yang tengah di lihatnya.
"Haris." Lingga berucap pelan.
Ia melihat sosok pria yang menjadi temannya sesama wartawan lima tahun yang lalu, sudah berdiri di ruangan dengan wajah yang tidak bersahabat.
Keduanya saling bertatapan dengan tajam untuk beberapa saat.
"Apa seorang Sutan Lingga Hanunggara sudah tidak memiliki rasa malu! Sampai harus mendatangi rumah ini hanya untuk mencari seorang wanita?"
"Asal kamu tau! Tidak ada satupun foto Maya di rumah ini." Haris bicara dengan tertawa mengejek. "Keluarga ini sudah tidak sudi memajang foto wanita yang sudah berselingkuh, seorang istri yang telah menghianati suaminya."
Dada Lingga sudah bergemuruh tetapi ia masih berusaha menahannya. Emosinya seakan terpancing saat Maya di perlakukan tidak adil dan di sudutkan.
"Dan, apa kamu sudah tidak mampu lagi membayar wanita lain untuk menjadi teman tidurmu? Sehingga kamu memilih meniduri istri temanmu sendiri? Dimana harga diri yang Tuan Cjokro tanamkan selama ini kepadamu? Bukankah seorang Sutan Cjokro sangat menjunjung tinggi harga diri dan nama baiknya?"
"Apa kamu sudah tidak sanggup mendapatkan wanita lain? Hingga kamu merebut wanita itu dariku?"
Lingga tidak menjawab. Ia masih berdiri mendengarkan semua ucapan Haris sampai selesai.
"Kamu memang penghianat Lingga."
Buggg...
Satu pukulan ia daratkan ke wajah Lingga. Membuat pria itu bergerak mundur hanya satu langkah ke belakang. Bukan tak mampu, tetapi Lingga memilih untuk tidak membalasnya.
Hingga akhirnya ia bersuara.
"Sudah puas? Atau masih kurang? Lingga bicara mendekat
Buggg...
Haris memukulnya kembali. Seakan tak puas hanya dengan satu pukulan.
Lingga terkekeh, dengan mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Ia masih belum membalasnya.
"Pertama, aku datang kemari bukan untuk mencari Maya. Tapi untuk menemuimu. Kedua, aku tidak pernah membayar Maya, karena wanita itu bukan wanita bayaran. Sebegitu piciknya pikiranmu Haris terhadap Maya? Hingga kamu menyamakannya dengan wanita pangilan. Berapa lama kamu hidup berdampingan dengannya? Hingga kamu tega berpikir serendah itu?"
"Aku meniduri wanita yang aku cintai. Kami sama-sama sadar melakukannya. Dan aku tidak pernah merebutnya darimu. Aku tidak pernah memisahkannya darimu. Saat Maya datang ke dalam pelukanku, hatinya sudah kosong.. Sudah tidak ada namamu lagi. Dan itu semua karena perlakuanmu!! Apa kamu lupa? Apa perlu aku ingatkan bagaimana wanita itu menjalani perannya selama ini sebagai istrimu? Apa Yang sudah kamu berikan kepadanya? Keadilan semacam apa yang sudah wanita itu dapatkan darimu?"
"Aku tidak akan pernah kehilangannya, Haris. Karena aku telah mengenggam hatinya. Dimanapun kamu menyembunyikan-nya aku pastikan akan mendapatkannya. Sejauh apapun dia pergi, aku pastikan akan menemukannya."
"Kami saling mencintai. Aku tidak perduli dengan harga diri disaat aku harus memperjuangkan cintaku."
"Kamu benar Haris. Aku tidak bisa mendapatkan wanita lain. Karena yang aku inginkan hanya Maya. Wanita yang telah kamu sia-siakan, wanita yang telah kamu abaikan. Aku hanya mengambilnya, setelah kamu lempar dia dari genggamanmu. Kamu ingat? Kalau kamu telah meninggalkannya di tengah jalan."
"Kesalahanku hanya satu. Aku mencintai Maya disaat ikatan kalian belum terlepas. Dan aku mengakuinya."
"Lalu bagaimana dengan Alisa? Kamu pikir aku tidak mengetahuinya? Apa kamu tidak takut skandal istrimu tercium media?" Haris menggunakan Alisa di saat ia merasa mulai terpojok dengan ucapan Lingga.
"Oh, ternyata jiwa jurnalismu masih berkobar Haris! Kamu selangkah lebih cepat dari perkiraanku? Kamu bertindak secepatnya, dengan mencari kelemahanku? Apa kasus Alisa yang kamu gunakan untuk menekan Maya?"
Lingga dapat berpikir dengan cepat saat Haris membahas tentang Alisa dan mengancamnya.
"Anggap saja sebuah hukuman untukmu dan juga Maya. Aku meminta keadilan kepada wanita itu."
"Apa maksudmu?" Lingga dapat menangkap sesuatu dari ucapan Haris.
"Aku memintanya menjauh darimu. Bahkan untuk selamanya, wanita itu tidakku ijinkan untuk menampakkan wajahnya di hadapanmu sebagai bentuk hukuman atas penghianatannya. Jika tidak ia lakukan, aku akan bicara kepada media tentang skandal Alisa."
"Apa hanya Maya yang ada di kepalamu Ling? Apa tidak kamu pikirkan bagaimana reaksi Tuan Cjokro saat nama baiknya tercoreng? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perusahaanmu? Dan satu lagi. Aku mengenal siapa wanita yang bernama Rossa."
"Brengsek.." Lingga mencengkram kerah baju Haris. "Aku pikir kamu hanyalah laki-laki yang tengah putus asa yang butuh di kasihani. Ternyata kamu hanyalah laki-laki lemah! Picik! kamu laki-laki pengecut! Yang hanya bisa mengancam lawan dengan menggunakan orang lain."
Tut... Tut... Tut..
Suara ponsel Lingha berbunyi di barengi suara teriakan dari wanita
"Ada apa ini!??"
****
Bersambung ❤️
Demi Maya aku paksain nulis pake hp walaupun lama.. Semoga bisa up lagi ya