
"Eehh.. Ada Kang Jujun.. Kirain siapa? Tempat jaganya pindah kesini ya Kang?" Menarik kursi plastik, Dina duduk di hadapan pria yang telah membatalkan janjinya dengan alasan menggantikan tugas temannya yang sedang berhalangan karena tak enak badan.
"Ngopi Jun?" disusul Kang Oleh, yang juga ikut menarik kursi dan duduk di samping Dina. "Bu, kopi 2." Kang Oleh memesan minuman.
"Kopinya manis apa sedang, Neng?" si Ibu pemilik warung bertanya
"Manis Bu, hidup sudah pahit.. Jangan di tambah lagi dengan kopi pahit. Ya, kan Kang?" ucapan yang ia tujukan untuk Junaedi. Tersenyum manis, semanis mungkin dengan menatap wajah Kang Jujun yang masih terkesima alias terkejut akan kedatangan Dina.
Pria itu kaget bukan kepalang, tidak menyangka kebohongan yang telah di rancangnya akan ketahuan juga, apalagi saat ini ia sedang bersama si Lela, wanita yang sudah dua minggu ini mengejarnya. Wanita itu bahkan terang-terangan menyatakan rasa suka kepadanya.
Berbeda dengan Kang Jujun yang kaget dengan wajah pucat plus badan gemetar. Wanita yang bernama Lela, dengan santainya merangkul lengan Junaedi dengan tatapan tidak suka ia tunjukkan kepada Dina.
Seakan tak rela kemesraannya terganggu oleh Dina yang ia ketahui pacarnya Junaedi. Lela dengan berani dan percaya diri kalau Junaedi akan memilihnya.
Dan itu tak lepas dari pantauan Dina. Kalau tidak menjaga harga diri dan rasa malu karena banyak orang, ingin sekali Dina mencakar habis wajahnya yang berkilau dengan make-up. Riasan yang cetar membahana mengalahkan biduan yang akan manggung di acara hajatan.
"Neng, Akang bisa jelasin.. Ini tidak seperti yang Neng bayangin? Akang akan jawab pertanyaan Neng. Tapi.."
"Akang ngomong apa sih!" si Lela tidak terima, wanita itu memotong ucapan Junaedi.
"Lepas dulu La!" Junaedi berusaha melepaskan tangan Lela yang melingkar di lengannya. Pria itu mulai merasa tidak nyaman, ia merasa bersalah dengan Dina.
"Terimakaih Bu." sebelum bicara dengan santainya, Dina berinteraksi kepada si Ibu penjual yang meletakkan dua gelas kopi di meja. "Bonnya di Kang Junaedi ya Bu."
"Ya, Neng.." si Ibu tersenyum mengerti.
Kang Oleh menuangakan kopi dari gelas ke wadah tatakan agar uap panasnya berkurang. Salah satu cara minum kopi ternikmat ala Kang Oleh.
"Emang Neng bayangin apaan Kang?" Dina mulai bicara. "Kaya ujian aja pake jawaban." Dina bicara setelah menyeruput kopinya.
"Bukan begitu Neng, maksud Akang Neng jangan berpikir yang macam-macam dulu." Junaedi berupaya meyakinkan Dina, dan ingin meraih tangan wanita yang sudah di kecewakannya, tetapi mendapat tolakan. Dina menepis tangannya.
"Enggak macam-macam Kang.. Cuma satu macam. Akang mau tau apa itu? Satu macam itu adalah? Akang sudah berbohong dan Dina tidak suka. Mulai detik ini, hari ini, malam ini juga, kita bercerai sebelum nikah alias putus!!"
"Dan buat kamu Mbak Lela yang cantiknya belum bisa ngalahin Dina." tetep harus memuji diri sendiri. "Ambil noh si Junaedi! Gak perlu sembunyi-sembunyi! Laki model ginimah di pasar loak juga banyak stoknya!"
"Neng jangan ngmong gitu. Akang tidak mau putus Neng. Akan cinta, sama Neng Dina." dengan tampang menghiba Junaedi mencoba meraih tangan Dina. Tapi selalu di tepis.
"Biarin Kang.." dengan suara manja, si Lela menarik tangan Junaedi agar menjauh dari Dina. "Kan ada Lela, cewek tipis gitu kog Akang suka? Apa enaknya coba." si Lela membandingkan tubuhnya dengan tubuh Dina dengan cibiran sinis dari bibir bak lampu merah.
"Diem La! Kamu jangan bikin urusan tambah ruet!" Junaedi menepis tangan Lela agar lepas dari lengannya.
"Neng, denger Akang. Sumpah Neng! Akang cinta sama Neng Dina.. Maaf Neng, Akang cuma main-main sama si Lela. Akang seriusnya sama Neng Dina."
Mendengar ucapan Junaedi, Lela menghentakkan kakinya dengan wajah yang berubah kesal tapi tetep tidak mau jauh dari Junaedi.
"Kalau Akang cinta, Akang tidak akan berbohong dan jalan dengan perempuan lain! Akang batalin kanji, mau jalan bareng sama Dina ternyata hanya ingin ngedate sama si Lela? Perempun model ginimah Kang, banyak noh di jalan.. Sepuluh ribu tiga malahan.. Heran!? Senengnya kog barang obralan!"
Merasa tidak terima mendengar ucapan Dina. Si Lela ingin menjambak rambut Dina tetapi Kang Oleh dengan sigap menghalaunya. "Tenang Neng, urusan si Lela biar Kang Oleh yang tangannin."
Malas berlama-lama meladeni pria yang sudah membuatnya kecewa, Dina segera pergi sedikit berlari keluar dari kawasan pasar malam.
"Bukannya membawa Juned! Tapi mengantar." dengan santainya Kang Oleh menjawab ucapan Junaedi.
"Sama saja!" menepis lagi tangan Lela yang ingin merangkul tangannya, pria itu segera mengejar Dina yang sudah pergi meninggalkannya.
Memang belum lama Dina dan junaedi berpacaran. Tetapi tetap membekas dan menyakitkan, cinta yang tumbuh karena lirikan saat Junaedi melintas di depan Butiq. Membuat benih-benih cinta itu tumbuh, seiring jalan, Junaedi yang selalu mengirim salam melalui Kang Oleh. Dan bertemu tidak sengaja di jalan saat Dina akan menemui Lingga di Ling’s Caffe.
Tidak memperdulikan di sekitanya, Dina terus melangkah menuju jalan kembar. Sambil mengerutu dan memaki tiada henti, ia melupakan Kang Oleh yang di tinggalkannya. Hatinya kesal, sedih , kecewa, rasa itu menjadi satu. Sangking kesalnya Dina melampiaskannya dengan menendang kaleng bekas minuman sekencang mungkin.
Blettttakk..
Kaleng itu mengenai badan mobil yang sedang terpakir di sisi jalan. Mengetahui mobilnya terkena lemparan kaleng, seorang pria keluar dari dalam mobil.
"Hei.!" dengan suara baritonnya, sang pria bersuara dengan tangan menunjuk Dina.
"Akang bicara dengan saya?" telunjuknya mengarah ke dada. Dina menengok kekanan kekiri, memastikan tidak orang lain selain dirinya. Dina belum menyadari kesalahannya.
"Ya, kamu.!" sang pria itu bicara lagi bersamaan dengan panggilan suara dari arah belakang, suara pria lain, yang Dina kenal suara dari Junaedi.
Dengan reflek, Dina cepat-cepat mendekat ke arah mobil dimana sang pria tengah berdiri. Tanpa permisi Dina membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, membuat sang pria terkejut di buatnya.
"Heii !! kamu ! keluar dari mobilku." sang pria membuka pintu.
"Sssttt…" Dina menempelkan telunjuknya di bibir agar sang Pria terdiam.
"Keluar!" sang pria menundukkan punggung, kepalanya masuk ke dalam mobil dan meraih tangan Dina hendak menariknya keluar dari mobilnya.
"Diem atuh, Kang.. Berisik! Nanti Kang Jujun melihat Dina." melepaskan tangannya dari cekalan sang pria, Dina menunjuk Kang Jujun dari dalam mobil yang sedang celingukan mencari kemana arahnya Dina berlari.
"Saya tidak perduli. Keluar!!" dengan tegas sang pria meminta Dina untuk keluar dari dalam mobilnya dan berusaha menariknya kembali.
"Dihhh.. Si Akang mah tega, Dinakan lagi bersembunyi ! Masa di suruh turun. Terus kalau Dina kenapa-kenapa gimana? Kalau Dina di culik gimana? Kalau di culik sama Akang sih Dina mau. Tapi kalau Akang yang ituh Dina ogah.. Udah gedek! Akang gak kasihan apa? Sama wanita yang sedang teraniyaya?" memasang wajah menyedihkan, semenyedihkan mungkin, Dina menangis kencang. Membuat sang pria kalang kabut kebingungan.
"Ok ! Ok… Stop! Hentikan tangisanmu. kamu terbebas dari masalah! Gantian saya yang kena musibah!"
"Diem gak?" sang pria meminta Dina untuk menghentikan tangisannya.
Bukannya berhenti, Dina malah semakin kejer tangisannya.
Dengan wajah dinginnya, sang pria membekap mulut Dina, dengan posisi menunduk. Setengah badannya berada di dalam, setenganya lagi di luar. Dengan sorot mata tajam menatap mata Dina, yang di balas dengan tatapan sendu oleh mata Dina yang basah air mata.
D I A M..
Sang pria memerintah dengan menggerakkan bibirnya.
Dina menurut sambil mengangguk.
****
Bersambung ❤️