TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
SAH



Suasana tegang bercampur haru mewarnai acara sakral pada sore hari ini. Berulang kali Umi Wanda menyeka airmata yang tidak bisa berhenti keluar, saat Mada melantunkan ayat suci Al-Quran sebelum ijab kabul di laksanakan.


Wanda teringat akan almarhum suaminya, ia teringat akan perjalanan hidupnya bersama anak-anaknya.. Terutama Maya yang telah melalui dua kali pernikahan, putrinya itu mengalami kegagalan di pernikahannya yang pertama. Dan ia berharap pernikahan yang kedua, akan berakhir bahagia.. Langgeng duni akhirat bersama Lingga.


Begitupun dengan Rossa.. Rasa bahagia tengah ia rasakan, wanita cantik nan anggun itu juga tak henti mengusap airmatanya denga selembar tissue. Di pernikahan Lingga yang pertama. Rossa sama sekali tak menyaksikan, bahkan tidak di ijinkan hadir di acara pernikahan sang putra karena Lusiana melarangnya dengan alasan Lingga tidak menginginkan bertemu dengannya.


Dan hari ini, akhirnya keinginananya itu terkabul. Ia dapat mendampingi Lingga di acara pernikahannya yang kedua. Rasa syukur selalu ia ucapkan tiada hentinya.


Lingga sudah duduk di lantai beralaskan karpet, berhadapan dengan seorang penghulu yang merangkap sebagai wali hakim untuk Maya. Dengan para saksi yang juga ikut duduk di samping kanan dan kiri sang pengantin.


"Siap, Nak Lingga?" Pak penghulu bertanya setelah beberapa petuah dan nasehat ia sampaikan.


"Siap Pak!" dengan tegas Lingga menjawab.


"Sepertinya pengantin prianya sudah tidak sabar ya.. Kelihatan sekali semangat 45-nya." sang penghulu menggoda Lingga, hingga membuat ketegangan di semua yang hadir sedikit mencair. Mereka tersenyum tertawa pelan bersamaan. Dengan pengantin wanita yang tersenyum malu-malu.


"Kita mulai ya.." sang penghulu menjabat tangan lingga. Ia mengucapkan bacaan ijab yang dibaca wali atau ayah mempelai perempuan.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Sutan Lingga Hanunggara bin Sutan Cjokro dengan anak saya yang bernama Maya Mawanda dengan mas kawin berupa satu buah rumah dan cincin kawin di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinya Maya Mawanda binti Sofian Nugraha dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


"SAH ?


"SAHHH….


Ucapan serempak dari para saksi dan beberapa tetangga yang datang memenuhi seisi ruangan. Ucapan rasa syukur mereka panjatkan. Linangan airmata mewarnai suasana yang ada, dengan di iringi doa akad nikah dari pemuka agama yang di minta hadir.


Setelah di nyatakan sah sebagai suami istri di mata agama islam, Maya dan Lingga di minta untuk menandatangani dokumen pernikahan, salah satunya adalah buku pernikahan. Dengan begitu kedua mempelai sudah di nyatakan sah menikah baik dalam aturan agama maupun dalam negara.


Setelah menyerahkan dokumen berupa surat rumah kepada Maya, Lingga memakaikan cincin kawin di jari manis tangan kiri Maya.. Begitupun sebaliknya, Maya memakaikan cincin kawin di jari manis Lingga dan mencium punggung tangannya dengan takzim, di balas oleh Lingga dengan mengecup kening Maya.


Salah satu alasan Lingga kenapa memberikan mahar berupa rumah, pria itu tidak akan pernah lupa dengan impian Maya yang di ungkapkan melalui istana pasir yang di bangunnya saat berada di bibir pantai pada saat mereka menginap di cotagge. Sebuah resort milik Lingga dimana tempat itu juga sebagai tempat Lingga mengasingkan diri.


Beberapa ucapan nasehat telah di sampaikan oleh penghulu, dan di lanjutkan dengan sungkeman kedua mempelai dengan para orang tua.


Wanda semakin berurai airmata kala Maya mengungkapkan permohonan maaf dan meminta doa untuknya dan untuk rumah tangganya.


"Semoga pernikahan ini akan menjadi yang terakhir, May.. Segala bentuk doa yang terbaik Umi mohonkan kepada Allah swt untukmu, untuk pernikahanmu."


Sama halnya denga Rossa dan Cjokro.. Rossa menangis, tak mampu di tahannya kala Lingga memohon maaf. Pria itupun ikut menitikkan airmata, saat mengingat akan sikapnya selama ini kepada wanita yang di anggap telah merusak pernikahan Lusiana.


"Semoga limpahan kebahagiaan selalu mengiringi kehidupanmu Ling.. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Bunda. Jadilah pria penyayang keluarga, jadilah pria yang bertanggung jawab untuk keluargamu." Rossa mengusap kepala Lingga.


"Selamat Neng.., selamat menjalani kehidupan baru." Bik Hima memeluk Maya..


"Terimakasih Bik, sudah mengijinkan Maya tinggal disini. Kalau tidak ada Bibik Maya tidak tau harus kemana?"


"Jangan ngomong seperti itu, Neng. Gubuk ini juga rumahmu.. Kamu juga anak Bibik May.. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu."


Lingga yang tengah berbincang dengan Pak kepala desa dan petugas KUA merasa tidak konsentrasi. Ia sangat tidak rela Maya di peluk pria lain. Termasuk Daksa yang notabene Kakak sepupunya.


"Jangan di lepaskan dulu May. Biarkan Kakak memelukmu sebentar." Pria itu tersenyum penuh arti, dengan membawa tubuh Maya kedalam pelukannya. Daksa mengetahui lirikan Lingga, wajah dan bahasa tubuhnya terlihat resah saat Maya berada di pelukannya. Dan ia sengaja menggodanya.


Benar saja, belum lama Maya berada di pelukan Daksa, Lingga datang mendekat.


"May, ayo ikut Abang." Pria itu membawa sang istri menjauh dari Daksa.. "Ambilkan Abang makan, May.. Abang lapar.." Lingga beralasan, walau kenyataannya memang benar. Dari pagi perutnya belum terisi nasi.


Para tamu yang datang pun sudah di persilahkan untuk menikmati hidangan sederhana berupa nasi dan lauk pauk, yang telah di siapkan. Bik Hima menyempatkan ke kota Magelang untuk membeli beberapa macam kudapan yang enak. Yang akan di suguhkan di acara pernikahan. Dengan di bantu beberapa tetangga kanan dan kiri, dengan waktu yang singkat ia dapat menyuguhkan nasi berserta lauk pauk yang di olahnya.


Pernikahan dadakan yang tidak di sangka dan di lupakannya seumur hidup.


Bik Hima hanya berkomentar.. Abang Lingga sungguh luar biasa.


Menuangkan nasi ke atas piring dengan lauk dan sayur. Wanita itu tengah menjalankan tugas pertamanya sebagai istri Lingga. Masih mengenakan baju pengantin, Maya mulai menyuapi sang suami yang tidak mau makan sendiri. Tak perduli mendapatkan godaan dari para tetangga dan adik-adiknya.. Sepasang pengantin baru itu asik menikmati nasi sepiring berdua, satu sendok bersama.


"Pakai pepes tahu May.." Lingga meminta Maya menambahkan lauknya.


"Abang suka? Maya tidak menyangka sekelas Lingga sangat menikmati makanan sederhana yang di buat oleh Uminya..


"Ini enak, May.. Abang baru merasakan pepes tahu seenak ini."


"Umi yang membuatnya." Maya menyampaikan


"Kapan-kapan Maya akan buatkan.."


"Tapi abang ingin kamu fokus dengan kehamilanmu dan fokus mengurus Abang.. Abang tidak ingin menuntutmu harus memasak."


"Tapi Maya ingin masak untuk suami Maya.." Maya bicara sambil mengarahkan tangannya ke mulut Lingga.


"Baiklah, jangan salahkan Abang kalau akan ketagihan, Abang akan memintamu selalu membawakan bekal makan siang."


"Siappp.. Abang, dan jangan lupa bayarannya." Maya nyengir mencandai Lingga.


"Jangankan bayaran May, kamu minta apapun akan Abang kabulkan.. Uang Abang akan menjadi milikmu May.. Abang hanya menuntut kamu menjadi Ibu rumah tangga, dan memenuhi kebutuhan Abang tiap malam." Lingga tersenyum penuh arti..


Membuat wajah Maya, bersemu merah..


"Abang jangan kuat-kuat bicaranya, nanti kedengeran." Maya berbicara pelan.


"Biarkan saja, May.. Sekarang saja Abang sudah tidak tahan."


Lingga berbisik di telinga Maya


****


Bersambung ❤️