
"Selamat datang Ling.." ucap Cjokro,
Pria itu turun ke lantai dasar dengan di dampingi oleh Burhan asistennya.
Merentangkan kedua tangannya, Sutan Cjokro menyambut gembira kedatangan putranya di kantor. Cjokro memeluk serta menepuk pundak Lingga. Perlahan, sang putra sudah bisa melepas kesedihan dan bangkit kembali.
Kabar Grup dan FansTV sangat-sangat membutuhkan sentuhan tangan kreatif dan berbagai macam ide cemerlang dari seorang Lingga Hanunggara. Para kepala bagian departemen dan para stafnya pun turut senang, ikut menyambut kedatangan, kembalinya sosok pemimpinnya.
Sambutan dan ucapan selamat datang, dan selamat atas pernikahannya pun di sampaikan oleh seluruh karyawan Kabar Grup melalui ucapan langsung dan juga dari kalimat yang di tulis di pintu masuk dengan rangkaian bunga yang di tata indah.
Sayangnya Maya, tidak meyaksikan langsung, hingga Lingga meminta Roby untuk merekam ucapan selamat pernikahan dari seluruh karyawan, yang akan ia kirimkan kepada Maya sebagai bentuk penyemangat, agar Maya tidak berpikir bahwa pernikahannya sesuatu hal yang menyedihkan. Tetapi sangat membahagiakan dan di sambut baik oleh semua orang
"Saya pribadi dan segenap karyawan mengucapkan Selamat atas pernikahannya Pak Lingga." salah satu kepala pimpinan dari bagian departemen mengulurkan tangan.. "Dan semoga Ibu Maya cepat sehat kembali, Pak."
Selain keluarga, tidak ada yang tahu mengenai kabar kehamilan Maya yang berujung dengan keguguran. Sutan Cjokro menutup rapat, orang luar dan para karyawan hanya mengetahui tentang pernikahan dan Maya yang saat ini dalam kondisi sedang sakit. Karena saat Lingga menggelar buka puasa bersama di taman rumah sakit, Sutan Cjokro memberikan ijin untuk para jurnalis mengambil moment dan gambar kebersamaan Lingga dan Maya.
"Terimakasih.." satu persatu, Lingga menyambut uluran tangan para pimpinan setiap divisi dan para karyawan yang lainnya. Kehadirannya di kantor pun tetap di liput sebagai kabar bahagia untuk keluarga besar Kabar Grup dan FansTV.
Selesai beramah tamah sebagai penyambutan sederhana yang di siapkan segenap karyawan. Siang ini juga Lingga memerintahkan Roby untuk menginformasikan kepada semua kapala pimpinan departemen untuk hadir di rapat yang akan di pimpinnya sekitar jam 10.
Selain menerima dan membaca laporan dari Roby selama ia meninggalkan kantor, iapun akan mendengarkan langsung laporan dan pelaksanaan kerja dari setiap divisi dan untuk semua program yang ada di stasiun TV-nya.
Sutan Cjokro tersenyum, meresponnya dengan baik segala keputusan Lingga. Pria tua itu, bernapas lega. Putranya telah kembali dan sebagai pimpinan tertinggi, ia akan segera melimpahkan tanggung jawab kepemilikan dan kekuasaan, tanggung jawab penuh kepada putranya, karena sudah waktunya ia pensiun, mengistirahatkan diri.
"Siapkan surat-suratnya Han." Cjokro memerintahkan asistennya untuk menyiapkan berkas pengalihan perusahaan.
"Baik, Tuan.." asisten setia Tuan Cjokro itu mengangguk patuh dan segera akan melangkah keluar.
"Han.." Cjokro memanggilnya kembali.
"Ya, Tuan.." Burhan berbalik menatap Cjokro
"Aku akan pensiun, 35 tahun kita bersama, kamu bukan saja sebagai asistenku, tetapi kita sudah bersahabat sejak kita remaja, dan kamu sudah ku anggap sebagai saudaraku. Waktu dan pikiranmu, banyak kamu habiskan bersamaku, mendampingiku. Saat ini, aku ingin kamu mengejar kembali wanita itu, jangan habiskan waktumu dengan kesendirian. Aku ingin kamu bersamanya, di masa tua kita, aku yakin kamupun membutuhkan sesosok pendamping. Sudah terlalu lama kamu mengurusku, saat ini waktunya kamu mengurus dirimu."
Burhan terdiam mendengar ucapan Cjokro.. "Akan saya pikirkan Tuan."
"Apa kamu tidak ingin menyelidiki siapa gadis itu?" tanya Cjokro
Saat acara makan bersama di gelar di taman rumah sakit. Burhan melihat seorang gadis muda yang tidak sengaja menabrak Lendra, seorang perawat yang di tugaskan mengurus Maya. Wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang selama 25 tahun tidak bertemu. Dari kejauhan, Burhan memperhatikan setiap gerak geriknya. Melihat wajahnya, entah kenapa hatinya merasa kalau gadis itu ada hubungannya dengan wanita masa lalunya. Wanita yang membuat ia memutuskan untuk tidak mengenal gadis lain selamanya.
"Akan saya cari tau, Tuan.."
Burhan kembali ke ruang kerjanya dengan pikiran mengembara. Ia teringat lagi akan masa lalunya dengan seorang wanita, yang dengan terpaksa harus berpisah, sesosok wanita yang pada akhirnya telah mematahkan hatinya sekaligus telah mengambil penuh hati dan jiwanya.
°°°°°
Siang hari di rumah sakit.
"Assalamuallaikum.." suara Umi Wanda terdengar dari arah pintu, Umi menyusul kedua putranya yang terlebih dahulu datang pagi hari ke rumah sakit untuk menemani Maya.
"Waallaikumsalam." Maya yang tengah bercanda, bercengkrama dengan kedua adik kembarnya menjawab menengok ke arah pintu.
"Umi.." Maya tersenyum saat melihat siapa yang datang
Wanita itu menjinjing kotak rantang berisikan sayur dan lauk pauk untuk makan siang. Biarpun dari pihak rumah sakit menyediakan menu yang terbaik dan bergizi, tetapi Maya menginginkan masakan dari rumah, karena terasa sangat berbeda di lidahnya
"Umi bawa apa?" Maya bertanya, saat Umi sudah mendudukkan bokongnya di sofa
"Umi bawa sayur sop, ayam goreng , dan pepes tahu buat Abang." Umi membuka satu kotak hingga menguar, tercium aroma bumbu pepes yang sangat menggiurkan.
"Kok buat abang? Yang minta di buatkan itu Maya, Umi." Maya protes dan berpura-pura merajuk
Umi Wanda teringat saat di acara pernikahan, menantunya itu sangat menyukai pepes tahu buatannya sampai menambah nasi.
"Mi.. Anaknya Umi itu Maya loh.." Maya cemburu
"Iya.., kamu anaknya Umi.. Tapi Abang kan menantu kesayangan Umi." dengan cueknya Umi bicara sambil mengoda Maya.
"Issshhh… Umi curang.." Maya semakin mengerucutkan bibirnya.
Maka dan Mada yang mendengarkan ikut bicara
"Teteh harus hati-hati sama Abang." ucap Maka
"Kenapa?" Maya bertanya
"Abang itu sudah mencuri hati Umi.." Mada menjelaskan.
"Bisa-bisa Teteh tersingkirkan." Maka mengompori
"Tapi Abang hanya milik Teteh." Maya mencebikkan bibirnya.
"Iya, Iya.. Abang hanya milik putri Umi.. Umi itu hanya penggemar, karena Abang Lingga itu menantu Umi yang paling ganteng sedunia."
"Ya, yaa.. Abang terus yang di sanjung." Maya merajuk dengan bergelayut manja di lengan sang Umi.
"Kamu juga putri, Umi yang paling cantik May.."
"Maka dan Mada juga donk Umi.." kedua remaja itu ikut merapat ke sisi Maya dan Umi Wanda. Berempat berangkulan bersama
"Oh, pasti Mada.. Kalian berdua itu putra Umi yang paling tampan, yang paling sholeh, yang paling Umi sayang, yang paling Umi banggakan. Semoga kelak kalian akan menjadi anak-anak yang sukses." Umi menciumi ketiga anaknya bergantian.
"Kalian itu hidupnya Umi, kekuatan Umi… dan kebahagiaan Umi. Umi doakan kalian akan mendapatkan jodoh yang berhati baik, yang berparas cantik, yang akan mencintai kalian tanpa syarat."
"Kira-kira, siapa ya Umi jodohnya Maka?"
"Huhh..." Mada menoyor kepala Maka sang adik.
"Kejauhan mikirnya! Ingat pesan Abang, sekolah dulu yang pintar jangan mikirin cewek. Nanti kalau sudah sukses, cewek yang akan mengejar kita."
"Kan cuma berkhayal Kak… siapa tahu ada anak konglomerat yang siap menjadi istri Maka, atau istri Kak Mada." remaja itu tertawa lepas, karena ucapannya. "Semua itu berawal dari mimpi, dan akan menjadi kenyataan. Yakan, Umi?"
"Sudah-sudah, jangan mikirin jodoh.." Umi Wanda melerai. "Nanti akan ada masa dan waktunya jodoh kalian akan Datang.. Jodoh itu tidak bisa di tebak, tidak bisa di paksakan, dan yang pastinya sudah di gariskan. Jodoh akan datang kapan saja." Umi memberikan pencerahan kepada putranya.
"Biarkan Jodoh Mada dulu yang datang Umi." Maka menggoda sang Kakak yang terkenal dingin dan pendiam.
"Aamiin.." Umi tersenyum menganguk.
"Selamat siang.." suara halus terdengar, tiba-tiba pintu terbuka, terdorong dari luar. Sesosok wanita cantik nan anggun membawa bucket bunga lily serta menggandeng gadis kecil yang sangat cantik menggemaskan.
"Nona Anindirra…" ucap Maya
Hallooo...
****
Bersambung ❤
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya
Happy weekend