TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
AKU SANGAT MENCINTAI KALIAN



Lingga flashback ke belakang. Ia mengingat pertemuannya dengan Maya, ia mengingat perjalanannya cintanya bersama Maya.Tidak memungkiri, tidak juga menutup mata bahwa ia dan Maya sudah melakukan kesalahan dengan melewati batasan yang ada. Keduanya larut akan nafsu dan hasrat yang besar dengan mengatasnamakan cinta dan saling membutuhkan. Keduanya telah melakukan dosa kenikmatan, hingga tumbuh janin di rahim Maya. Jika ia harus kehilangan, mungkin ini salah satu bentuk teguran untuknya dan Maya. Ia harus bebesar hati, ia harus ikhlas walau tidak mudan dan terasa berat.


Waktu yang akan menyembuhkan luka keduanya. Lingga akan membangun kembali segalanya dari awal, ia meyakini jagoannya akan terlahir kembali di saat hubungan kedua orangtuanya sudah mendapat ridho dari sang maha pencipta.


Dengan pelan dan suara bergetar menahan tangis yang seakan mau pecah, Lingga mengucap.. Inalillahi wa inailaihiroziun. Yang ia tujukan untuk calon sang buah hati, ini yang terbaik.. Tuhan teramat sayang kepada putranya. Yang selalu ia sebut jagoan. Tuhan tidak ingin memberikan status kepada sang putra sebagai anak yang tumbuh di luar pernikahan.


Menarik nafas panjang, dengan penuh, keikhlasan, kesabaran, ketenangan, Lingga menandatangi sebuah surat. Ketika Dokter Arum menyatakan janin dalam rahim Maya tidak dapat di selamatkan. Para tim Dokter lebih memperioritaskan keselamatan sang Ibunya dan akan segera melakukan pembedahan dan pembersihan janin dalam rahim Maya. Pria tampan yang sedang di rundung kesedihan itu berusaha tegar demi Mayanya.


Bunda Rossa dan Cjokro juga berusaha kuat, dan harus bisa mengikhlaskan calon cucu penerus keluarga Sutan Cjakala ( ayah dari Sutan Cjokro ) dimana sang ayah dan sang Ibu sudah berpulang 2 tahun yang yang lalu.


Malam itu juga Dokter Hansel dan para Timnya, dengan di dampingi Dokter Arum sebagai Dokter kandungan dan satu bidan bergerak cepat mempersiapkan segala sesuatunya. Meja operasi sudah siap menunggu kepindahan Maya dari ruang IGD.


Lingga menyempatkan menciumi seluruh wajah Maya dan perutnya dengan penuh kasih sayang. "Aku sangat mencintai kalian. Tuhan telah menyiapkan tempat yang terindah untukmu, Nak.." Lingga mengucapkan kata terakhir untuk sang buah hati. Sebelum brankar itu kembali di dorong masuk ke ruang operasi.


Cjokro menyewa I lantai yang berada di lantai 5 dimana kamar untuk perawatan Maya yang sudah di siapkan. Sederet kamar vvip sebagai ruang peawatan dan kamar untuk keluarganya beristirahat selama Maya dalam perawatan. Malam ini Bunda Rossa dan jokro memutuskan untuk tidak pulang, mereka akan menginap di rumah sakit mendampingi Lingga, menunggu jalannya operasi yang sedang berjalan.


Cjokro melarang siapapun yang tidak berkepentingan dan yang tidak di kenal sebagai keluarga dan orang-orang terdekat untuk memasuki lantai 7. Termasuk wartawan. Lexsus sudah menyiapkan 4 anak buahnya sebagai keamanan.


Begitupun Lexsus dan Dina, mereka akan berada di rumah sakit. Lexsus bekerja melalui hubungan telfon dengan para anak buahnya, yang sedang bergerak malam ini. Sedangkan Mak Kom, malam ini ia harus pulang ke apartemen untuk membersihkan pecahan keramik yang berserakan di lantai, ia juga harus mengepel sisa-sisa darah Maya yang bercecer di lantai.


Lendra yang baru tiba, langsung menuju ruang operasi dimana Lingga dan yang lainnya berkumpul. Kakaknya itu tengah duduk terdiam sambil menopang kepalanya yang tertunduk dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Pria itu menunggu jalannya operasi, di depan ruangan dengan bangku besi.


"Bang." Pria muda itu menyentuh pundak Lingga. "Sorry gua terlambat datang.."


Lendra duduk di samping Lingga.


"Tidak masalah, Lend.." mengangkat kepala, Lingga memaksakan tersenyum.


"Mama dan papa sudah terbang dari China, Bang.. Sekitar jam 7 pagi pesawat akan tiba di bandara."


"Ya." Lingga menganggukkan kepala.


Dilihatnya jam di pergelangan tangan sudah menunjuk pukul 10 malam. Ia masih harus bersabar menunggu karena baru sekitar 30 menit Maya berada di dalam ruangan dengan pintu yang tepasang lampu darurat.


°°°°°


Umi wanda sudah mendapat kabar dari Bunda Rossa tentang keadaan Maya yang cidera di kepala dan sedang berada di rumah sakit. Belum ada penjelasan yang lebih detail dari wanita yang menjadi besannya. Wanita itu segera mengepak beberapa pakaian ganti yang ia masukkan ke dalam tas jinjing besar. Begitu juga Maka dan Mada, kedua pria remaja kembar itu juga memasukkan baju dan celana ke dalam tas yang menjadi satu dengan sang Umi.


"Mudah-mudahan tidak Da, berdoa saja Teteh Maya hanya cidera ringan." Umi Wanda mencoba menguatkan hatinya dan berpikir positif. Walau sebenarnya, sebagai seorang Ibu, ia dapat merasakan bahwa Maya sedang tidak dalam kondisi baik.


"Apa Abang Lingga mengirim supirnya untuk menjemput kita Mi?" Maka bertanya sambil memasukkan handuk dan peralatan mandi.


"Umi tidak tau, Ka.. Hanya saja Bunda Rossa tadi memberi kabar, kita harus bersiap-siap, akan ada yang menjemput. Kita akan langsung berangkat ke Jakarta malam ini juga sesampainya mobil tiba."


"Kenapa Abang tidak bisa menjaga Teh Maya, Mi?" Mada kembali bertanya.


"Bukankah Abang sudah berjanji kepada Umi, akan selalu melindungi dan menjaga Teh Maya?" remaja itu belum bisa merelakan, Mada bersedih dan belum bisa menerima. Mada dan Maka sangat menyangi sang Kakak perempuannya.


"Jangan bicara seperti itu Da, tidak baik.. Abang pasti lebih terpukul dan bersedih dari kita. Abang tidak akan pernah menginginkan kejadian buruk menimpa Teteh kalian, kalian juga pasti tau bagaimana sayangnya Abang Lingga sama Teh Maya. Jodoh …rejeki …maut, sudah menjadi ketetapan Allah swt yang telah menggariskan dan menentukan."


"Kita sebagai umatnya, hanya menjalani kehidupan ini dengan penuh keimanan. Sebagai manusia, kita di wajibkan agar selalu mengingat Tuhan, di antaranya dengan memohon pengampunan, memohon perlindungan. Di balik musibah yang menimpa Teteh kalian pasti akan ada hikmahnya. Jangan menyalahkan siapa-siapa."


"Tapi kenapa mantan istrinya Abang tega berbuat seperti itu sama Teh Maya Umi? Sedangkan Teh Maya tidak pernah berbuat jahat kepada siapapun.."


"Itulah salah satu contoh jika kita tidak bisa mengendalikan diri di saat amarah menguasi pikiran kita. Akibatnya, bukan hanya melukai diri sendiri tapi akan melukai orang lain. Serahkan kepada Allah swt. Biarkan dia mendapatkan hukuman dengan cara dan jalan yang sudah menjadi takdirnya.


"Jadikan kejadian yang menimpa Teteh kalian sebagai pembelajaran. Jangan mengotori hati dan pikiran kalian dengan ucapan dan tindakan yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain."


"Kalian laki-laki, calon kepala keluarga. Kalian harus kuat, harus bertanggung jawab, mampu berpikir luas, mampu melindungi, mampu menjadi tempat dan sandaran istri-istri kalian nanti.."


"Itu yang Abang Lingga tengah jalani, Abang kalian sudah berusaha sebaik mungkin menjaga Teh Maya. Sudah menjadi suami yang baik, Abang lah yang menjadi tempat dan sandaran Teteh kalian. Kalian bisa melihat dari sorot Mata Teh Maya, Teteh kalian sangat mencintai Abang kalian."


Umi wanda berusaha memberi pengertian kepada kedua putranya yang tengah merasakan kecewa karena sang Kakak yang cidera. Umi wanda tidak ingin Maka dan Mada yang masih labil menyalahkan Lingga atas apa yang telah terjadi terhadap Maya.


"Tugas kita saat ini hanya berdoa memohon kepada Allah swt.. Semoga Teh Maya bisa pulih dan kembali sehat."


Aamiin.. Mada dan Maka berucap


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like, komen, hadiah dan votenya yaa.. Apa saja.. Paling tidak like