
Ritual mandi bersama sudah menjadi kegiatan rutin yang seringkali di lakukan Maya dan Lingga setiap kali ada kesempatan. Baik di pagi hari maupun malam hari. Berlaku kapan saja dan dimanapun mereka menginap.
Seperti pagi ini, keduanya sedang menghabiskan waktu berendam bersama saling bersenda gurau dengan menceritakan banyak hal. Walaupun tersiksa harus menahan hasrat dan keinginannya untuk tidak memesrai sang istri. Dengan senang hati Lingga tetap melakukan tugasnya menggosok lembut punggung Maya dengan spons mandi.
Menenggelamkan separuh tubuh kedalam bathup bersama Maya. Bak mandi berukuran besar itu seakan setia menjadi saksi dua anak manusia yang selalu memadu kasih. Maya duduk di antara kedua paha Lingga dengan punggung yang di sandarkan manja di dada sang suami.
"Abang hari ini akan pulang malam, May." tangannya terus mengosok pelan punggung mulus Maya
"Jam berapa sampai rumah?" Maya bertanya sambil meniupkan gelembung busa.
"Belum bisa Abang pastikan May… tapi akan Abang kabari. Sesuai jadwal yang Roby kirimkan melalui Email. Abang harus menemui salah satu client Abang di salah satu restoran jepang saat makan malam."
"Client? Di restoran?" Maya berbalik menghadap Lingga.
"Wanita apa Pria?" Maya menelisik menyipitkan matanya.
"Wanita.."
Lingga terkekeh melihat mimik wajah Maya yang berubah cemberut tak suka.
"Isshhh… bisa tidak clientnya pria saja." Maya mengerucutkan bibirnya.
"Tidak bisa May, Owner dari Ladies Fashion itu wanita. Tidak mungkin kan ? Abang memintanya agar berubah menjadi laki-laki.."
"Terserah Abang ahh.." berdiri bangun, Maya keluar dari dalam bathup.
"Abang belum selesai May.." Lingga ikut bangun. Langkahnya mengikuti Maya yang mengguyur tubuh polosnya di bawah kucuran shower.
"Abang senang Mayaku cemburu… tapi jangan cemburui Abang May.." Lingga memeluk Maya. "Rindukan Abang saja, karena hari ini Abang pasti sangat merindukanmu."
Mencium bibir basah Maya, keduanya sejenak larut dalam ciuman yang perlahan berubah memanas. Rudal spesial itu sudah berdiri tegak siap meluncur meluluh lantahkan ladang yang gersang.."
"Akkhh..!! May.." melepaskan ciuman, Lingga mengerang saat miliknya menempel di bokong Maya. "Makan siang nanti, Abang sempatkan untuk ke rumah sakit, Honney.."
"Bukankah Abang sibuk?" melepaskan diri, Maya meraih jubah handuk di gantungan.
"Abang sempatkan saat makan siang… sekalian kita makan siang di luar."
"Baikalah.." ucap Maya
"Keluarlah lebih dulu May, Abang harus menjinakkannya dulu." Lingga mengganti air hangat menjadi air dingin.
"Apa perlu bantuan?" Maya mengedipkan mata seraya tertawa melihat sang suami tampak frustasi meredam rudal yang sudah menegang yang siap tempur. di medan terjal.
"Maayyy…."
°°°°°
"Mak !! Mak Kom !!… dimana dirimu?" dengan suara dan logat yang menjadi ciri khasnya. Salah satu keamanan berseragam dengan tag nama Edo di bagian saku dada kirinya itu datang tergopoh-gopoh masuk ke dapur mencari keberadan Mak Kom. Pria NTT berkulit manis berbadan kekar itu adalah salah satu keamanan yang mendapatkan tugas dari Lexsus untuk menjaga rumah Lingga.
Sedangkan asisten rumah tangga yang sedang di cari keberadaanya itu sedang sibuk menyiapkan dan menata menu sarapan hasil masakan Umi Wanda. Sesuai reques Maya, putrinya itu pagi ini meminta di buatkan nasi uduk kesukaannya, sebelum sore nanti Umi dan kedua remaja kembar itu akan kembali ke pangandaran
"Ada apa Edo?" mematikan kompor, Umi Wanda bertanya dengan suara lembut.
"Eh.. Ada Umi rupanya. Edo kira hanya ada Mak Kom." Pria timur dari pulau Sumba itu tampak sungkan mengangguk hormat kepada wanita yang di ketahui sebagai Ibu mertua dari Lingga.
"Iya, ada apa Edo?" Umi mengulang pertanyaannya lagi.
"Itu Umi.. Ada mobil di pitakan datang. Alahh.." Edo menepuk kepalanya. "Maksudnya ada pria mengaku supirnya Ibu Maya, dia datang membawa mobil dengan hiasan pita dan ingin bertemu Bapak Lingga sama Ibu Maya." Edo mencoba menjelaskan.
"Kita sudah hubungi Bapak melalui intercom yang terhubung langsung ke ponselnya, tetapi tidak di angatnya dari tadi."
"Supir? Pita mobil?" Umi Wanda masih belum mengerti dengan apa yang di sampaikan Edo
"Ngomong yang benar Edoooo. Satu-satu ngomongnya." Mak Kom berjalan mendekat ke arah Edo berdiri.
"Beritahu saja Pak Lingga deh Mak. Ada tamu ingin bertemu Bapak, sampaikan seperti itu eh."
"Mak, coba lihat ke depan, siapa yanga datang? Siapa tahu orang dari kantor." perintah Umi.
"Umi saja yang ke atas memberitahu Lingga."
"Ya Umi.." menyampirkan serbet di atas pundak Mak Kom mengajak pria Sumba itu kembali ke depan.
"Siappp Mak.." tanpa sadar, Edo menarik tangan Mak Kom.
"Lepas.!!" Mak Kom mengeplak tangan Edo karena menariknya terlalu kencang.
"Aduh Mak.! Kenapa kau pukul tanganku." Pria itu mengusap tangannya.
"Asal gandeng aja luh.!" Mak Kom berkacak pinggang menghentikan langkahnya.
"Sekali-kali tidaklah apa Mak. Truck saja gandengan masa kita tidak boleh gandengan." ucap Edo. "Anggaplah aku ini anaknya Emak.. dan sudah ku anggap Emak itu seperti mamakku."
"Gandengan itu sama pacar Edoooo!! Bukan sama Emak."
"Ah !! Kau itu sedang curhat apa sedang baca buku cerita?" menirukan logat Edo, Mak Kom ngeloyor pergi lebih dulu melalui pintu samping untuk menemui pria yang katanya membawa mobil berpita.
°°°°°
Tok.. Tok.. Tok..
"May.. Maya.." Umi Wanda mengetuk pintu seraya memanggil sang putri. Saat ini, jam sudah menunjukkan tepat pukul 7 pas. Tetapi sepasang suami istri itu belum juga turun untuk sarapan.
"May.." Umi mencoba memanggil lagi.
"Ya, Mi.." terdengar sahutan dari dalam.
"Sebentar Mi.."
Tak lama,
Klekk..
Pintu kamar itu terbuka, muncul Maya dari balik pintu masih dengan menggunakan jubah mandinya.
"Anak perempuan Umi jam segini baru selesai mandi? Hemmm…" Umi mengelengkan kepala sambil tersenyum.
"Maaf, Umi.." Maya balas tersenyum mengembungkan pipinya.
"Katakan sama Abang, ada yang datang mencarinya."
"Siapa Umi?"
"Umi belum lihat… cepat ganti baju, Abangnya Neng nanti kesiangan ke kantor.. Jangan di kekepin terus.." Umi Wanda mengingatkan dengan nada menggoda.
"Iyaaaa… Umiku tersayang." Maya mencium pipi kiri Wanda sebelum wanita itu pergi berbalik.
"Sarapan sudah siap Neng… uduknya sudah Umi buatkan." Wanda bicara sambil melangkah menuju ruang gym dimana kedua anak laki-lakinya sedang berolahraga.
"Siapa May?" keluar dari dalam kamar mandi, Lingga bertanya sambil mengusak rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Umi, Bang… katanya ada yang mau bertemu sama Abang."
"Siapa?"
"Umi belum lihat."
Masuk ke dalam walk-in closet, Maya segera menyiapkan pakaian yang akan di kenakan oleh Lingga hari ini. Memadu padankan warna kemeja dengan dasi. Tak lupa sepatu dan jam tangan mahal sebagai pelengkap penampilan sang suami.
Lingga tersenyum simpul kala melihat cctv yang tersambung di ponselnya, ia dapat melihat dengan jelas siapa yang datang dengan membawa hadiah yang di belinya untuk Maya.
"Bang …pakai warna ini ya?" Maya menunjukkan kemeja dan dasi pilihannya.
"Apapun pilihan istri Abang. Abang akan memakainya. Asalkan jangan warna terang May, Abang tidak suka terkecuali dasi."
"Koleksi pakaian abang itu semuanya gelap. Mana mungkin Maya memberikan warna terang." Maya terus bicara sambil membantu mengancingkan kancing kemeja yang sedang di kenakan.
"Abang sangat tampan jika menggunakan kemeja." Rayu Maya seraya mengusap dada Lingga.
"Berarti selama ini Abang jelek karena selalu menggunakan kaos santai?"
"Aiihh… bukan seperti itu Bang maksudnya."
"Seperti apa?" Lingga terkekeh melingkarkan tangan di pinggang Maya.
"Abang itu selalu tampan menggunakan pakaian apapun. Tapi kadar ketampanan Abang akan bertambah berkali-kali lipat kalau Abang mengenakan kemeja beserta dasi lengkap dengan jasnya. Dan sangat-sagat tampan lagi kalau Abang…" Maya tak melanjutkan ucapannya.
"Kalau apa?" Lingga menunggu kata-kata yang akan di ucapkan Maya.
"Kalau abang tidak mengenakan baju.." bergelayut manja di leher, Maya berbisik di telinga Lingga.
"May, jangan memancing. Abang sudah sangat tersiksa."
"Ingat, May !! Rafelan harus di bayar lunas selama Abang berpuasa." Lingga balas berbisik bahkan mengigit telinga Maya. Membuat wajah itu merona merah.
"Sekarang pakai pakaianmu, May.. Kita akan menemui sesorang yang datang dengan membawa hadiahmu."
"Siapa?"
"Kejutan, May....
****
Bersambung ❤
Biarpun cm satu bab. Tapi sampai 1250 kata yaa..
Like dulu yukkk..