
Seminggu sudah berlalu.
Umi Wanda dan kedua adik kembarnya Maka dan Mada sudah berada di kampung halaman. Selama seminggu ini pula, Lingga benar-benar di sibukkan dengan menumpuknya pekerjaan. Segala projek acara baru di kejar dan terselesaikan dalam waktu cepat.
Mendapatkan rating tinggi dan respon yang baik dari seluruh masyarakat Indonesia suatu kepuasan untuk seluruh tim dalam naungan Lingga sebagai pemimpin tertinggi. Begitu juga dengan perusahaan Kabar Group yang semakin meroket dan bersinar namanya.
Tetapi sesibuk apapun Lingga berada di luar rumah, pria tampan itu selalu meluangkan waktu untuk Maya. Setiap paginya sebelum berangkat bekerja, Lingga selalu berpesan agar di buatkan bekal untuk makan siang. Lingga akan makan makanan hasil masakan sang Istri dan selalu meminta untuk di temani setiap jam makan siang.
Selama seminggu pula keduanya belum sempat melakukan kewajiban sebagai pasangan suami istri di karenakan Lingga yang selalu pulang larut malam. Tetapi berbeda dengan pagi ini, tepatnya di hari weekand dimana semua para pekerja Kabar Group mendapatkan hari libur.
Ruangan bersuhu dingin pagi ini terasa panas ketika Lingga meminta haknya. Suara lenguhan terdengar seksi mengoda saat hentakan itu semakin kuat menerjangnya. Begitupun dengan Lingga yang tidak berhenti memuja sang wanita.
Setelah sekian lama berusaha menahan hasrat yang di redamnya. Pagi menjelang subuh ini, Pria itu lepas kendali meminta haknya.
Bergerak manja di atas pangkuan. Maya memberikan service yang terbaik kepada sang suami. Melaksanakan kewajiban dan memberikan kepuasan kepada sang suami.
Maya melenguh saat Lingga membenamkan wajah di belahan dada serta meng*mut pucuk berwarna pich yang sedari tadi mencuat. Gunung kembar itu terlihat sangat indah, masih kencang dan teramat ranum. Gerakan itu semakin cepat saat di rasakan titik puncak itu semakin sampai.
Desiran rasa nikmat itu akan tiba. Yang akan membawa keduanya terbang melayang menuju bulan di angkasa luas di atas langit-lang
Lingga mengerang dengan wajah semakin memerah.
Meluncur tinggi, terbang bersama. Kedua anak manusia itu mengapai kenikmatan yang tak mampu di ungkapkan dengan kata. Mengejar rasa nikmat yang seakan tiada habisnya. Menuju bulan dimana kebahagiaan sedang mereka gapai.
Lingga mengeram … mengerang sambil membenamkan wajah di ceruk leher Maya.. Di sambut Maya yang juga ikut merangkul kepala Lingga dengan erat..
Wanita itu terkulai lemas saat pelepasan terbebas Keluar dari dalam tubuhnya. Bermandikan keringat keduanya masih berangkulan. Menikmati sisa-sisa rasa yang ada. Terbayarkan sudah, sebuah hasrat yang lama terpendam.
Tak lupa seuntai doa keduanya sematkan sebelum memulai kewajiban.
"Semoga Tuhan mempercayakan lagi Sutan Magada Hanunggara kepada kita, May." ucap Lingga
"Aamiin... "
°°°°°
Sabtu pagi ini. Kesibukan para pekerja di kediaman Lingga bejalan seperti hari-hari kerja biasanya. Hanya saja ada yang berbeda di pagi hari ini. Kang Oleh sudah terlihat rapih dengan kemeja dan celana jeans hitamnya.
Sebelumnya, setelah melaksanakan ibadah sholat subuh. Asisten Maya itu sudah membersihkan Audi milik Lingga yang akan di pakai pagi ini. Membawa kedua majikannya ke suatu tempat.
Di temani kopi hitam dan sepiring pisang goreng dan bakwan buatan Mak Kom, Edo sang penjaga keamanan tengah asik memutar lagu yang sedang viral di berbagai aplikasi. Pria kekar berkulit hitam itu sesekali mengerakkan badan mengikuti irama dengan mulut yang terus bernyanyi.
Membawa secangkir kopi panas ke pos jaga. Kang Oleh duduk di kursi menyomot bakwan sambil tertawa melihat kelakuan dan gerakan Edo yang tampak luwes di aplikasi Ting Tong-nya.
"Wahh..! Pagi-pagi sudah rapih, sudah wangi.
Mau kemana kau Leh?" berhenti bergerak Edo memperhatikan penampilan Kang Oleh yang sudah rapih Dan wangi.
"Mau mengantar Ibu dan Bapak pergi." Kang Oleh kembali menyeruput kopinya
"Pagi sekali? Mau kemana?" Edo kepo bertanya.
"Bapak belum bilang Do.." ucap Kang Oleh seraya menyomot satu bakwan lagi.
"Lapar sekali sepertinya kau Leh?"
"Aku lapar karena melihatmu bergerak tak karuan. Bersyukurlah aku tidak sampai mual." dengan cuek Kang Oleh menjawab ucapan Edo.
"Ah kau itu..!! Tidak tau apa? Kalau temanmu ini terkenal di dunia aplikasi." dengan bangga Edo memamerkan akun Ting-Tong-nya. "Banyak cewek-cewek cantik dan seksi untuk di ajak kenalan. Yaahhh sekedar hiburan Oleh. Biar kita tidak stres dan menambah semangat bekerja."
"Hati-hati.. Banyak wajah palsu."
"Tenang saja Oleehh.. Sebelum beraksi pastinya sudah ku raba, ku terawang keasliannya.
"Kamu pikir uang kertas.." kang Oleh mengelengkan kepala sambil melangkah pergi ke Audi yang sudah dia keluarkan dari dalam garasi dan sudah terlihat bersih mengkilat.
"Manasin Mobil.."
°°°°°
Sesuai janjinya..
Weekand ini, Lingga aka membawa Maya ke makam sang putra tercinta.
Mandi bersama, membuat Maya tak bisa menolak saat Lingga memintanya lagi. Melakukan kegiatan olah raga pagi yang cukup menguras tenaga di dalam kamar mandi.
Dengan penuh kasih sayang, Lingga mengangkat tubuh Maya yang terbalut jubah handuk dan mendudukkannya di bangku meja rias. Dengan telaten, Lingga membantu mengeringkan rambut Maya dengan handuk kecil dan di lanjut dengan menggunakan hairdryer.
"Sudah Bang, jangan terlalu kering." Maya beranjak akan berdiri.
"Duduk May.." Lingga menahan pundak Maya.
"Biarkan Abang yang menyiapkan pakaian untuk bidadari Abang yang sudah kelelahan."
"Abang iihh.." Maya mencubit pelan lengan Lingga karena malu.
Mendapatkan perlakuan manis dari suaminya, membuat dirinya merasa menjadi wanita yang sesungguhnya.
"Tunggu, Honney.. Abang yang akan pilihkan gaun apa yang akan kita kenakan hari ini."
Memulai dengan menggunakan sunscreen, Maya mulai merias wajahnya dengan riasan natural dan sederhana. Di tutup dengan memoles bibirnya dengan lipstick berwarna pink agar terlihat lebih cerah dan segar. Mengeluarkan kotak perhiasan, Maya memperhatikan perhiasan apa yang akan di pakainya hari ini.
"Pakailah kalung ini May… kamu tidak pernah memakainya." Lingga memilihkan satu perhiasan untuk di pakai oleh Maya
"Apa tidak berlebihan Bang?" Maya memperhatikan kalung dengan liontin berlian sebagai hadiah dari Lingga.
"Tidak, May… tidak perlu memakai anting-anting lagi bukan. Pakailah gaun ini.."
Lingga menyerahkan dress hitam dengan kerah V yang tampak elegan. Serasi dengan kemeja yang juga Lingga kenakan. Kemeja kerah shanghai berwarna hitam dan celana denim sehingga membuat pria itu semakin terlihat tampan dan lebih muda.
"Cepat, May… kamu sudah melewatkan jam sarapanmu." tersenyum mengedipkan mata, Lingga bicara sambil mengulung lengan kemeja.
"Semua gara-gara Abang.. Coba kalau hanya sekali, dari tadi kita sudah turun ke bawah." gerutu Maya.
"Heyy.. jangan cemberut.. Bukankan Mayaku juga menginginkannya, bahkan dari mulai kita berada di kota Makassar. Mayaku sampai merajuk karena meminta haknya." menarik pinggang Maya agar menghadapnya, Lingga tersenyum mengoda seraya melingkarkan tangan memeluk Maya.
"Isshh Abang… jangan di ingatkan. Mayakan jadi malu.." dengan rona pipi memerah, Maya teringat kelakuannya saat berada di hotel bintang lima di kota Makassar. Dirinya sampai turun ke lobi karena keinginnnya yang tidak terpenuhi.
"Tapi Abang suka May, berarti Mayaku benar-benar mencintai Abang.."
"Terimakasih, Honney… semoga Tuhan mengabulkan dengan segera permohonan kita."
"Tetaplah bersama Abang.."
"Bahagialah selalu May.. Jadilah sosok Ibu yang kuat untuk anak-anak kita."
"Maya Bahagia Bang.. Sangat bahagia.."
"Let’s go… Sutan Magada Hanunggara sudah menunggu kita."
****
Bersambung ❤
Tiga kali revisi gaezzz.. Jujur gambaran Maya Dan Lingga saya pribadi kurang puas.. Tapi apa daya di tolak.. Semoga tidak mengecewakan para pembaca yaa
Jangan lupa like koment vote hadiah dan votenya ya teman teman... Terimakasih