TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MASALALU MAYA



Di dampingi Kang Oleh sebagai pengawal yang siap siga menjaganya, Maya berjalan keluar dari rumah makan menuju dimana mobilnya terparkir. Bersamaan satu buah mobil sejuta umat yang baru saja tiba dan mematikan mesin mobilnya di sisi BMW miliknya.


Tidak memperhatikan siapa pemilik mobil itu, Maya focus melangkah ke sisi pintu sampai terdengar suara seseorang memanggilnya saat Kang Oleh membukakan pintu untuknya.


"May.." sorot mata penuh kagum serta kerinduan yang lama terpendam, pria itu tunjukkan kepada Maya. Kepada wanita yang di harap-harap dapat bertemu dan berbincang.


"Mas Haris.." Maya terkejut saat mengetahui siapa yang baru saja Keluar dari dalam mobil dan memanggilnya. Pria yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Tidak di sangka, siang ini ia akan bertemu dengan Haris sekaligus dengan dua orangtua, lebih tepatnya kedua mantan mertuanya.


"Bu Maya, silahkan masuk." Kang Oleh segera meminta Maya untuk masuk ke dalam mobil.


"May, sebentar.." Haris mencoba mendekat tetapi langsung terhalang oleh Kang Oleh yang menghalanginya.


Sedangkan Mama Hani dan sang suami Azhar Maulana terpaku melihat sosok wanita yang pernah menjadi menantunya. Wanita yang masih terlihat muda dan cantik. Wanita itu bertransformasi menjadi sosok wanita yang berbeda dari Maya yang pernah di kenalnya sebagai istri Haris sang putra pertama.


"May, bisa kita bicara sebentar?" Haris masih berusaha menahan Maya agar tidak masuk ke dalam mobil.


"Maaf Mas, Maya harus segera pulang. Tidak baik juga kita bicara… kita harus menjaga dan menghormati perasaan pasangan kita masing-masing agar terhindar dari fitnah sekitar kita. Dan Maya rasa tidak ada yang harus kita bicarakan lagi." Maya memberikan senyum hangat kepada ketiga orang yang di kenalnya sebelum masuk.


Haris tak mampu menahan, saat Maya masuk ke dalam mobil dan sang supir selaku pengawalnya segera menutup pintu. Pandangannya kosong menatap kepergian mobil yang melaju menjauh meninggalkan area parkir rumah makan.


Sungguh sulit untuk mengajaknya bicara apalagi sampai menyentuh wanita yang sungguh-sungguh di rindukannya. Tidak ada lagi Maya yang dulu, tidak ada lagi kesempatan walapun hanya sekedar berbicara.


"Neng Maya tidak apa-apa?" Kang Oleh bertanya setelah sudah berada di jalan raya. Ia harus memastikan Maya dalam keadaan baik.


"Tidak apa-apa Kang, jangan khawatir." Maya tersenyum memastikan kalau ia baik-baik saja.


"Neng yakin?" Kang Oleh bertanya dengan melihat Maya dari kaca spion depan


"Semuanya sudah berlalu Kang.."


"Mas Haris adalah sosok masalalu Maya, baik dan buruknya perjalanan kami, sudah Maya kubur dalam-dalam. Maya tidak ingin bicara bukan berarti Maya membencinya, tetapi karena memang tidak ada lagi yang harus kami bicarakan."


"Kami sudah menjadi dua orang asing yang sudah memiliki kehidupan masing-masing. Masa depan Maya saat ini hanya bersama Abang Lingga."


Sedangkan Haris. Masih berdiri terpaku sampai mobil yang membawa Maya benar-benar meghilang. Maya sudah banyak berubah, Maya dengan tegas menolaknya. Seingatnya dulu, Maya akan menunduk dan tidak bisa menolak saat siapapun mengajaknya bicara.


Tepukan di pundak membuyarkan pikirannya.


"Sudah Ris.. Ikhlaskan, Maya sudah sangat jauh untuk bisa kamu raih lagi. Maya sudah menjadi istri Lingga. Lanjutkan hidupmu.." Azhar Maulana dengan bijak memberikan nasihat kepada sang putra.


Berbeda dengan Mama Hani yang sedari tadi lebih fokus memperhatikan BMW yang membawa mantan menantunya itu. Wanita tua itu tidak dapat membayangkan berapa banyak kekayaan yang di miliki oleh Sutan Lingga. Hingga sosok wanita yang terbiasa berjalan kaki itu kini mampu naik mobil mewah dengan harga milyaran.


"Ma.. Kenapa diam?" Azhar berbalik menegur sang istri ketika Hani tak juga melangkah mengikutinya. "Katanya lapar?" ucap Azhar.


"O.. Ooh i iya Pa.." Mama Hani gelagapan dan segera menyusul langkah sang suami bersama Haris yang menuju rumah makan.


°°°°°


Dina sedang mengepak pakaian miliknya dan juga milik Daeng ke dalam koper besar. Siapapun pasti sudah mengalami dan menjadi tradisi, saat pulang kembali ke Ibu Kota. Apa yang kita bawa akan berkali-kali lipat bertambah dari saat kedatangan.


Sedari pagi, wajah sang adik iparnya itu di tekuk sudah mirip jemuran kusut. Bukan hanya bibirnya yang maju lima centi, tetapi rambut ikalnya yang selalu terbentuk rapih berubah awut-awutan efek dari kegalauannya. Belum lagi sampai menjelang sore, remaja manis itu belum tersentuh air alias belum mandi. Laoka merebahkan tubuhnya di sofa seraya mulutnya tidak berhenti merayu sang kakak ipar agar di ijinkan ikut ke Jakarta,


"Kakak Dina,... rayulah Daeng Lexsus.." remaja itu terus merengek seperti bayi.


Baru saja Dina akan membuka suara, suara nyaring Indo lebih dulu terdengar memenuhi ruangan Dan memekak telinga.


"Asatagaaaaa Laoka.... Disini kau rupanya.!! Belum menyerah juga kau merayu Kakakmu? Indo kan sudah bilang, fokus dulu dengan sekolahmu di sini. Hanya beberapa bulan lagi. Baru indo ijinkan kau berangkat ke Jakarta." omel Indo sambil berkacak pinggang. "Kau..! Bukannya membantu Kakakmu mengemas barang-barang, malah kau asik rebahan. Lihat tampang kau Laoka? Sudah seperti ikan kering yang tidak di bumbui. Tidak ada sedap-sedapnya." ejek Indo Senna


"Biar saja.! Indo paling senang mengolok-olok putra tertampannya ini." cebik Laoka.


Indo tidak tahu apa? Kalau Oka sedang bersedih?" remaja itu menunjukkan wajah sedihnya.


"Apa yang kau sedihkan?" tanya Indo


"Besok pagi Laoka akan di tinggalkan Kakak Dina, rumah ini akan terasa sepi Indo. Tidak akan seramai saat ada Kakak Dina."


Indo terdiam mendengar ucapan putra keduanya. Tidak bisa membohongi hati yang sebenarnya, sebagai orangtua iapun merasa berat untuk melepas kepergian sang putra pertama dan sang menantu. Selama tiga tahun berpisah dengan Lexsus, membuat rindu itu semakin bertambah.


Apa lagi kehadiran Dina di tengah keluarga kecilnya, menambah rasa hangat dan keceriaan.


Hanya saja ia berpura-pura cuek dan baik-baik saja di hadapan Dina Dan Lexsus.


Dina dapat melihat perubahan di wajah sang Ibu mertua, Dina paham apa yang sedang di pikirkan Indo saat ini. Meletakan pakaian, Dina berdiri mendekat kearah sang Ibu mertua.


"Indo jangan sedih ya.. Kita akan terus komunikasi.. Dina janji, di sela-sela waktu Daeng yang longgar. Kami akan selalu menyempatkan untuk pulang. Indo jangan khawatir, Daeng tidak akan meninggalkan Indo lagi seperti tahun-tahun kemarin. Lihatlah, putra Indo sudah berhasil."


"Daeng sudah memenuhi janjinya. Jakarta Makassar hanya beberapa jam. Nanti saat Laoka lulus sekolah Indo dan Ambo kami jemput untuk ikut, berangkat ke jakarta."


"Jarak tidak akan membuat keluarga kita terpisah Indo. Dina sangat sayang dengan Indo, Ambo dan Laoka." Dina merangkul lengan wanita tua itu seraya merebahkan kepala di lengan sang Ibu.


Mendengar ucapan sang menantu, Indo tidak bisa menahan rasa harunya. Menitikkan airmata, ia sangat bersyukur, Tuhan menganugrahi sosok menantu yang memiliki hati yang baik, tulus menyayangi dirinya maupun sang putra. Sosok wanita yang telah banyak memberi warna di keluarga kecilnya. Sosok pendamping ceria yang setia mendampingi sang putra yang memiliki sifat dan karakter pendiam tak banyak bicara.


Beberapa hari keberadaan Dina di Makassar membuat hubungan menantu dan mertua itu sudah seperti anak perempuan kepada Ibu kandungnya. Tidak ada jarak dan saling terbuka.


Mendengar dan memperhatikan interaksi Indo dan sang Kakak Ipar, membuat remaja itu mendekat. Niat hati ingin bergabung berpelukan tetapi sayang. Teriakan dari sang Ibu dan sang Kakak ipar menghentikan langkahnya.


"Stoppp Laokaaa..!!"


"Mandi dulu baru mendekat."


Dina dan Senna bersamaan berucap.


Sedangkan Lexsus yang baru tiba hanya tersenyum tipis mendengarkan ucapan kedua wanita yang sangat di sayanginya dari balik pintu.


****


Bersambung ❤