TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
JANGAN LEMAH



Haris yang menonton acara gosip langsung dari departemen-nya ikut terkejut bukan main, pria itu belum pulang sorei ini, karena harus menyelesaikan naskah tulisannya yang harus selesai malam ini. Ia tidak menyangka Anton akan menyerahkan berita ke bagian penyiaran, berita seputar Maya dan Lingga dengan info yang tidak benar.


Sungguh Haris tidak menginginkan cara seperti ini, walaupun di hatinya masih menyimpan rasa kecewa dan cemburu kepada Lingga. Tapi ia tidak akan tega membiarkan Maya terseret di dalam kejamnya dunia maya. Haris segera beranjak dari kursi meninggalkan tulisannya yang belum selesai. Pria itu melangkah turun ke lantai 3 dimana, biasanya Anton dan para rekan sesama jurnalis berkumpul.


Ia harus bicara dengan Anton. Kenapa sampai temannya itu memberikan berita, tidak sesuai fakta. Bukan masalah inisial namanya yang tercatut, tetapi status Maya yang di anggap masih menjadi istrinya di luar dari kenyataan yang sebenarnya.


"Kamu melihat Anton?" Haris bertanya dengan rekan Anton yang di kenalnya.


"Ada di divisi penyiaran." Pria itu menjawab


Haris kembali melangkah menuju sebuah ruangan, dimana temannya tengah menatap layar lebar yang menunjukakan peningkatan grafik untuk program acara yang baru di siarkan.


"Ton, kita harus bicara." tanpa basa-basi Haris bicara.


"Saya ijin dulu, Pak.." Anton memutuskan obrolan dan pantauannya dengan seorang pria yang menjabat sebagai ketua penyiaran.


Haris dan Anton pergi ke ruang kosong di samping ruang penyiaran.


"Apa yang kamu lakukan, Ton? Apa kamu sudah tidak bisa berpikir dengan jernih? Kamu seharunya tau akan resikonya?" Haris bicara serius


"Kenapa berita ini bisa sampai lolos?" Haris tak habis pikir dengan tindakan temannya.


"Kita perlu rating Ris. Dan hanya kabar Lingga dan Maya yang sangat tepat, ini kabar yang sangat luar biasa. Dunia maya menunggu kabar yang berbeda setiap harinya, bukan hanya dari kalangan artis. Tapi seorang Lingga? Kamu bisa bayangkan bagaimana respon dan tanggapan dari masyarakat. Bukankah karena Lingga kamu kehilangan Maya?"


"Jangan naif Ris! Aku membantumu membalaskan sakit hatimu. Dan jangan lupakan, bagaimana dulu Lingga sudah membuatku di keluarkan dari Kabar Grup."


Anton mengingatkan Haris kejadian Lima tahun yang lalu saat ketiganya bekerja bersama di lapangan sebagai sesama wartawan di perusahaan Kabar Grup. Saat itu, Lingga tidak bisa membantu, lebih tepatnya tidak bisa menutupi kesalahan Anton yang melanggar kode etik sebagai jurnalis sehingga perusahaan mengeluarkannya sebagai pelanggaran tugas.


"Jangan bilang ini ada sangkut pautnya dengan masalah pribadimu Ton? Kamu ingin membalas sakit hatimu? Dan kamu memanfaatkan masalahku dengan Lingga?"


"Bukankah kejadian yang dulu memang kesalahanmu? Dan kita tidak tau saat itu, Lingga anak dari Sutan Cjokro pemilik Kabar Grup. Tidak mungkin Lingga mempertaruhkan nama baik perusahaan orangtuanya. Demi menutupi kesalahanmu yang fatal. Dan aku tidak perduli dengan Lingga, aku tidak perduli kamu akan membalas sakit hatimu, itu masalahmu dengan Lingga. Tapi jangan libatkan Maya. wanita itu sangat awam dengan dunia kita." Haris mencoba memberikan pengertian.


"Kenapa kamu masih memikirkan Maya Ris? Bukankah dia tidak setia kepadamu? Apa perdulimu dengannya Ris? Dia sudah membuatmu terpuruk dan kecewa." Anton menggunakan kesalahan Maya supaya Haris tidak meradang.


"Maya memang sudah melakukan kesalahan, berselingkuh dengan Lingga. Tapi akhirnya aku sadar.. Apa yang di perbuat Maya, tidak sepenuhnya kesalahan Maya. Aku ikut andil di dalamnya. Semua karena aku Ton. Aku yang menjadi penyebabnya. Aku tidak menafkahi batinnya selama 3 tahun, di tambah tekanan dari keluargaku. Dan aku sebagai suami tidak mampu membelanya. Bahkan aku lebih mempercayai tuduhan yang orangtuaku sampaikan dari pada Maya, istriku sendiri. Aku mengabaikan perasaan Maya Ton."


"Saat ini yang aku khawatirkan bagaimana nasib karirmu Ton? Aku bahkan tidak perduli dengan karirku yang baru akan di mulai. Dan ingat Ton, masalah ini akan berpengaruh ke perusahaan Berita Grup. Kita sama-sama tau siapa Lingga. Aku hanya staf dan kamu hanya ketua jurnalis."


°°°°°


Maya teringat pembicaraannya dengan Lingga saat berada di mobil, sepulang dari rumah Bunda Rossa tadi.


"Apapun yang kamu dengar di media, tentang kita. Atau tentang Abang. Kamu harus siap. Kamu harus kuat mental. Jangan pernah takut dengan siapapun. Abang akan melindungimu, May. Kamu harus bisa mengenal dunia Abang yang akan tersorot kamera. Inilah pekerjaan Abang, May."


Maya sebisa mungkin menenangkan pikirannya, walau rasa tidak tenang itu masih memenuhi rongga hatinya. Rencana ingin membeli susu Ibu hamil dan bahan makanan ke lantai dasar ia urungkan. Maya masih menyeka airmatanya yang belum berhenti juga.


Setelah beberapa kali panggilan tidak terjawab oleh Lingga, akhirnya pria yang sangat di harapkannya itu balik menghubunginya. Dengan tangan gemetar, Maya segera mengusap tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Bang.." hanya tangisan yang bisa ia sampaikan.


"Jangan menangis, Honey.. Abang sedang selesaikan.. Kamu percaya Abang kan?" Terdengar suara maskulin yang menenangkan dari seberang telfon.


"Bang, tapi Maya kepikiran Umi, Maya takut Bang.." Maya belum bisa menghentikan tangisnya.


"May, dengarkan Abang.. Jangan takut.. Abang pastikan tidak akan ada masalah dengan Umi, sekarang kamu hidupkan TV. Buka saluran FansTV, 10 menit lagi akan ada berita baru.. Ayokk, istri Abang harus kuat dan berani.. Jangan lemah.. kalau urusan abang sudah selesai, Abang akan segera pulang."


"Pejamkan matamu, May.. Rasakan.. Abang peluk kamu dari sini ya.." Lingga menyalurkan energi positif, dengan memberikan ketenangan dalam pelukan dari jauh untuk Mayanya..


"Abang cepat pulang ya.."


"Iya.. Abang usahakan, Ya.."


Maya menghidupkan LED yang terpampang di dinding dengan sofa besar di ruang tamu. Di temani Mak Kom, pelayan itu membawa teh hangat yang ia buat untuk Maya.


"Sambil di minum, Neng.. Biar lebih tenang." Mak Kom duduk di lantai.


"Mak, jangan duduk di lantai.. Duduk sini." Maya menepuk sofa di sampingnya sambil membuang cairan di hidungnya dengan tissue, efek dari menangis.


Menekan tombol angka 7 untuk saluran FansTV. Dengan hati yang masih was-was, Maya sudah tidak sabar ketika beberapa iklan masih silih berganti mempromosikan produk andalannya.


"Banyak bener dahh, iklannya Neng.." Mak Kom juga ikutan tidak sabar menunggu acara gosip yang sedang di tunggu.


Setelah bersabar menunggu beberapa iklan yang lewat, akhirnya acara yang di nantikan sudah di mulai.


Maya mulai mendengarkan dua host yang sedang membuka acara dengan jantung berdebar, pembawa acara wanita itu langsung membahas gosip yang sedang panas dan menggemparkan jagad maya..


Memasang mata dan telinga, Maya bisa mendengar dengan jelas berita yang berbanding terbalik dengan berita yang tersebar sebelumnya. Hatinya mulai sedikit lebih tenang saat foto-foto pernikahannya mulai tersorot.


"Sangat di sayangkan yaa.. Moment baik dan sangat sakral, harus rusak, dan sang wanita harus menjadi korban dari oknum yang tidak bertanggung jawab."


"Ya benar sekali.." host pria ikut bicara.


"Kami mewakili dari Kabar Grup dan seluruh karyawan, mengucapkan selamat atas pernikahan Bapak Sutan Lingga Hanunggara beserta sang istri tercinta Maya mawanda. Semoga pernikahannya langgeng dan selalu berbahagia."


"Dan pastinya kami akan menunggu undangan untuk acara resepsinya.."


"Kalau butuh pembawa acara, kami siap loh Pak, Lingga.."


kedua host itu mencandai Lingga..


****


Bersambung ❤️


Jangan lupa like dan komennya ya