TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
SAYA BUKAN PELAKOR



"Alhamdulillah, Neng.."


Ucap Mak Kom penuh rasa syukur dan gembira. Pekerja itu berucap syukur sambil menenggadahkan telapak tangan seraya mengusap wajah.


Ketegangan di wajah kedua wanita itu berubah mengendur. Selama menonton acara yang masih berlangsung di layar kaca, rona pucat di wajah Maya pun sedikit membias terang. Mata basah akan airmata itu sudah mulai surut. Hanya sisa-sisa sembab dan bengkak di kelopak mata saja yang masih nampak jelas. Maya mulai bisa bernafas dengan lega dan tenang.


"Apa kata Emak juga Neng.. Bapak pasti akan secepatnya menyelesaikan masalah. Bapak tidak mungkin membiarkan masalah Neng Maya berlarut-larut."


"Iya, Mak. Alhamdulillah... Tapi Maya belum berani keluar Mak, untuk beli bahan masakan." Maya teringat, lemari pendinginnya tidak ada stok makanan.


"Emak saja yang turun ya, Neng.." Mak Kom menawarkan diri. Tidak mungkin Mak Kom membiarkan Maya turun dalam keadaan wajah yang sembab.


"Iya, Mak.." Maya menyerahkan 2 lembar kertas merah hanya untuk membeli ayam potong dan sayuran hijau..


"Mak, Maya beliin ice cream satu ya.. yang rasa coklat.."


"Iya, Neng.. Cuma ice cream Neng?" Mak Kom memastikan sebelum keluar meninggalkan Maya.


"Iya, Mak.."


°°°°°


Setelah membasuh wajah di wastafel dapur. Maya kembali ke ruang tamu melanjutkan menonton TV sambil menunggu azan maqrib berkumandang. Wajah cantik nan teduh itu sudah mulai terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Rasa takut yang sempat menyerangnya sedikit-sedikit berangsur menghilang.


Sehabis menjalankan kewajibannya ia berniat akan menghubungi sang Umi di kampung. Tetapi Maya sudah tetap tidak sabar menunggu suaminya pulang, kehadiran Lingga saat ini sangat-sangat di butuhkannya.


Belum lama dari kepergian Mak Kom ke lantai dasar. Suara bel pintu nyaring terdengar tidak berhenti di pendengaran. Dengan wajah bahagia dan bibir yang tersenyum lebar, Maya mengira Lingga yang datang. Dengan langkah cepat, ia segera menuju pintu dan membukanya.


"Ba.. ng…." bibir dengan senyum lebar itu berubah kembali tertarik dan terkatup rapat. Senyuman di wajahnya menghilang, Panggilannya terputus saat melihat bukan sosok Lingga yang berdiri di luar pintu melainkan sesosok wanita cantik dengan penampilannya yang berkelas.


Heels tinggi dengan dres kemben di atas lutut, di lapisi blazer bulu yang melekat di lekukan tubuhnya. Wanita itu menenteng tas mahal, berdiri bak model dengan wajah tak bersahabat.


Maya dapat mengingat dengan jelas, wanita yang ia ketahui sebagai selebgram itu wanita yang pernah ia lihat di pigura fota sebagai pengantin wanita yang bersanding dengan Lingga. Wanita yang Maya ketahui sebagai mantan istri suaminya.


Belum sempat Maya bertanya akan kedatangannya, Alisa sudah meyerobot masuk ke dalam dengan menyenggol bahu Maya. Hingga membuat tubuh Maya selangkah terhuyung ke belakang karena posisi Maya yang tidak siap.


Dengan wajah sinis dan kedua tangan bersedekap, Alisa langsung bicara dengan kata-kata yang merendahkan.


"Bagaimana rasanya tinggal di apartemen mewah?" Alisa tertawa sinis.


"Kamu senang? Kamu sudah puas? Dari wanita berkasta rendah berubah menjadi wanita berkelas. Tapi tetap saja terlihat kampungan." Alisa bertanya, lebih tepatnya mengejek Maya.


"Apa maksud Mbak Lisa? Kenapa bicara seperti itu?" Maya balik bertanya, ia masih menahan emosinya dengan berkata sopan dengan nada rendah.


"Jangan berpura-pura menjadi wanita polos dan tidak mengerti ucapan saya! Tidak ada wanita yang mendekati Lingga kalau bukan karena mengincar hartanya." Nada bicara Alisa terdengar ketus di telinga. "Kamu tau siapa Saya?"


"Ya, kamu mantan istri Lingga. Istri yang sudah di ceraikannya." Maya dengan cepat menjawab, sepertinya rasa sabarnya hilang seketika.


"Saya tidak akan pernah menjadi mantannya kalau kamu tidak merebutnya." ucap Alisa. "Dasar pelakor! Karena kamu Lingga meninggalkan saya!" Alisa selangkah mendekat ke arah Maya.


"Dan saya tidak pernah merebut Lingga dari Mbak Lisa. Bukan saya penyebabnya, tetapi Mbak Lisa sendiri lah yang membuat Lingga pergi meninggalkan kamu." Maya membalas ucapan Alisa.


"Harusnya Mbak Lisa intropeksi diri, bukan malah menyalahkan saya sebagai penyebabnya, dan jangan pernah menyamakan saya dengan Mbak Lisa kalau itu menyangkut harta."


"Maksud kamu!?" Alisa merasa ucapannya berbalik kepadanya.


"Ya, maksud saya... Mbak Lisa benar. Saya senang! Saya puas tinggal di partemen ini! Karena apartemen ini milik suami saya. Saya rasa sebagai istri, saya berhak menikmatinya, menikmati kekayaan suami saya. Apa Mbak Lisa puas dengan jawaban saya? Dan kalau memang tidak ada hal yang lebih penting yang harus di bicarakan, silahkan keluar dari apartemen ini. Sekarang sudah maqrib saya mau bersiap-siap Sholat."


Ucapan Maya sangat menyulut emosi Alisa, wanita itu tidak terima, Lisa tidak menyangka kalau Maya yang ia ketahui hanya wanita biasa yang tak sebanding dengannya, dengan berani membalas semua ucapannya bahkan mengusirnya dari apartemen yang pernah di tempatinya. Dengan gelap mata dan sekuat tenaga, Alisa meraih guci keramik di atas bufet sebagai pajangan dan menghantamkan ke belakang kepala Maya saat wanita itu hendak berbalik meninggalkannya.


Prakkkk !!! Terdengar kencang saat membentur kepala, dan


Pranggg !!! Saat pecahan guci itu jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuh Maya yang terhempas ke lantai.


Maya sempat menyentuh belakang kepala yang mengeluarkan darah, Maya sempat berbalik menatap Alisa dengan pandangan yang mulai kabur dengan mulut yang memanggil. "Abang...."


"Neeeegg…!!!" Mak Kom yang baru saja tiba, berteriak histeris ketika melihat Maya tersungkur ke lantai dengan darah yang mengucur dari kepala. Kantung kresek yang dipegangnya seketika terlepas dari gengaman. Mak Kom langsung berlari menghampiri dan mengangkat kepala Maya ke pangkuannya. Tubuh Mak Kom gemetar, ia terkesiap, ia terkejut, ia bingung apa yang harus di lakukannya.


Sedangkan Alisa, wanita itu ikut shok dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tubuhnya gemetar, karena terpancing emosi, dengan reflek ia memukul kepala Maya.. kejadiannya begitu cepat, amarah dan cemburu mengelapkan mata dan pikirannya. Datang kemari dengan niat hanya ingin menekan, mengintimidasi Maya agar wanita itu pergi meninggalkan Lingga, malah berakhir dengan kekacauan. Rasa takut dan panik mulai menyerangnya.


"Tidak !! Tidak mungkin.." Alisa mengelengkan kepalanya dengan wajah pucat ketakutan.


"Ini tidak mungkin! Ini tidak akan terjadi. Aku tidak membunuhnya. Aku tidak melakukan apa-apa. Ini semua salah wanita itu! Salah Maya! Wanita itu sudah membuatku marah. Wanita itu telah mengambil Lingga dariku. Aku tidak salah! Aku tidak salah!" Alisa terus meracau sambil memperhatikan kedua telapak tangannya yang terkena darah Maya. Menyambar tas mahalnya yang terjatuh ke lantai, Alisa segera berlari, keluar pergi meninggalkan Maya yang sudah tidak sadarkan diri.


Saat pintu terbanting dengan keras, Mak Kom tersadar dari kebingungannya. Ia baru bisa berpikir apa yang harus di lakukannnya. Meletakkan kembali kepala Maya di lantai dengan perlahan. Mak Kom berlari ke dapur mengangkat interkom yang menempel di dinding dapur.


Menghubungi orang terdekat dahulu agar dengan cepat dapat menolong, membantunya membawa Maya ke rumah sakit.


Tiga orang security berlarian keluar dari lif lantai dasar menuju unit no 199 di lantai 20 milik Lingga. Ketiga pria berseragam keamanan itu sangat mengenal Lingga. Mereka juga sudah mendapatkan informasi dan laporan kalau Lingga membawa seorang wanita yang telah menjadi istrinya. Dengan nafas terengah-engah ketiganya masuk kedalam setelah Mak Kom membuka pintu dengan lebar.


"Mak ada apa Ini?" ketiganya terkejut dan salah satu dari ketiga pria itu bertanya.


"Nanti bertanya-nya Mas.. Sekarang bawa Bu Maya dulu ke rumah sakit terdekat."


"Iya, Mak."


Ketiganya membopong tubuh Maya keluar turun ke Basemant dimana kendaraan darurat yang di siapkan oleh pihak pengelola apartemen selalu siap siaga. Untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang membahayakan.


"Mas, hati-hati.. Bu Maya sedang hamil."


Mak Kom mengingatkan ketiga pria itu.


****


Bersambung ❤️


Satu dulu ya.. Bocil lagi demam 🙏