TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
BANGUN HONEY



Selesai dengan urusannya, Speedboat yang membawanya kembali ke dermaga bersama anak buah yang menjemputnya. Pria itu teringat akan wanita yang di tinggalkannya. Berdiri menghalau angin laut. Bibirnya sedikit membentuk garis tipis kala mengeingat cerewetnya wanita yang menyebut dirinya Dina.


Walaupun tatapannya fokus kedepan, saat mengemudi, sebenarnya ia dapat memperhatikan dari ekor matanya. Wanita itu terdiam setelah banyak bicara, terlihat jelas dari wajahnya kalau wanita itu ketakutan tetapi berusaha di tutupinya.


Melihat Dina, ia teringat akan wanita yang telah menjadi istri Bosnya, Lingga. Sama-sama polos, tampil apa adanya. Bedanya wanita yang bernama Dina lebih berisik dari Maya.


Pria itu adalah Lexsus, pesawat yang membawanya tiba sore hari di Bandara Soekarno Hatta. Sutan Cjokro bersama sang Istri di jemput oleh Burhan. Sedangkan ia langsung meluncur ke jalan kenangan untuk menemui Lendra di Ling’s Caffe. Saat kembali, Lexsus harus menepikan mobilnya karena harus membalas pesan penting dari clientnya.


Hingga membuatnya harus berurusan dengan wanita yang bernama Dina. sebenarnya bisa saja ia memberhentikan mobilnya dan menurunkan Dina saat keluar dari kawasan jalan kenangan, tetapi entah mengapa hati kecilnya membiarkan dan membawa Dina


Menurut kacamatanya, wanita itu terlihat lucu dan polos apa adanya. Drama tangisannya cukup membuat hatinya melemah dan harus menahan tawa.


"Siapa kamu?" Lexsus bertanya pada dirinya sendiri. Pikirannya tentang Dina berhenti saat Speedboat sudah sampai di dermaga.


"Tunggu sampai besok, kalau dia masih juga bungkam keluarkan Baron." ( Baron salah satu nama hiu koleksinya ) Lexsus berpesan sebelum ia turun dari Speedboat. Lexsus berjalan ke arah dimana ia memarkirkan mobilnya.


Selama 30 menit ia meninggalkan wanita itu. Ia sedikit khawatir, jangan sampai wanita itu pingsan di dalam mobilnya.


Masih berjarak 10 meter, Lexsus sudah menekan remot kunci mobilnya. Jalan dengan langkah panjang. Setibanya, ia langsung menarik handle pintu. Ia melihat Dina yang terkulai, terlentang dengan posisi kursi di rebahkan. Tidak ada pergerakan, tubuh itu terdiam dengan mata terpejam.


"Apa wanita ini pingsan?" Lexsus ragu saat akan menyentuh bahunya. Ia hanya bisa memperhatikan, memandangi wajah Dina di balik kemudinya. Hatinya menjadi was-was. Ia merasa bersalah, sudah meninggalkannya sendirian. Di tatapnya wajah polos itu. Terlihat tenang dan menyejukkan. Berbeda saat ia terbangun, mulut tidak akan berhenti berkicau bak burung camar yang sedang belajar bicara.


Bibir dengan garis tipis itu seketika berubah sedikir melebar, Lexsus tersenyum kala ia melihat pergerakan tubuh Dina yang berubah meringkuk karena kedinginan, dan berbalik ke arahnya. Hatinya pun ikut tenang, rasa khawatir kalau wanita itu pingsan terbantahkan.


Kerasnya kehidupan dan dunia malam yang di jalaninya, membuat ia tidak dekat dengan wanita manapun. Bukan tidak ada wanita yang mengejarnya, hanya saja ia terlalu cuek dan mengabaikannya. Saat ia pergi ke bar atau club malam, banyak wanita-wanita cantik yang akan mengelilinginya dengan menawarkan kenikmatan sesaat. Tetapi Lexsus sangat pemilih, tidak di pungkiri sebagai laki-laki normal, ia akan melakukannya di saat kebutuhan itu datang menyerangnya.


Tetapi, ia tak pernah memakai hati.


Ia terlalu fokus dengan pekerjaannya. Hingga ia mampu berada di puncak. Ia pernah berada di jalanan, tertindas dan di remehkan. Harus menggunakan otot untuk bisa bertahan hidup di tengah kejamnya persaingan. Siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Ia pernah sekarat dan terkapar di jalanan karena tusukan dari lawannya yang bermain curang, dan Lingga lah yang menemukan dan menolongnya. Memberinya jalan sampai menuju kesuksesan. Dan masa itu semua telah di lewatinya.


Lexsus ikut merebahkan kursinya. Membaringakan tubuhnya, dengan kedua tangan yang ia lipat kebelakang kepala, menatap dinding atap mobil dengan sesekali menengok kesamping. Memandang wajah Dina yang masih terlelap. Udara angin laut masuk ke sela-sela kaca mobilnya. Membuat Dina semakin meringkuk kedinginan.


Melepaskan jaket, yang di kenakannya. Ia gunakan untuk menyelimuti Tubuh bagian atas Dina. Ia tidak tega membangunkannya, ia juga bingung harus membawa Dia kemana. Seakan terjebak oleh situasi, ia lebih memilih menunggu sampai wanita itu bangun dan kembali merebahkan tubuhnya.


°°°°°


Di Lombok.


Jam sudah berada lurus di angka 9.


Maya kembali masuk kedalam selimut setelah mensucikan diri dan melakukan kewajiban sebagai muslim. Ia meninggalkan Lingga yang akan bersiap-siap melakukan olah raga lari pagi dengan mengelilingi resort yang berada di pantai senggigi. Pria itu sudah mengganti baju kokonya dengan celana joger dan kaos oblong yang mencetak tubuhnya.


Lingga membiarkan sang istri untuk beristirahat setelah semalam habis di lahapnya. Tepat pukul jam 2 malam, Lingga baru berhenti setelah 3 kali mengulang dengan durasi yang cukup lama. "Abang lari dulu ya.." Ia berpamitan, menyempatkan mengecup kening Maya sebelum meninggalkannya sendiri dalam kamar.


"Hmmm.." hanya suara itu yang terdengar sebagai jawaban dari Maya.


Di lihatnya di ruang makan. Sudah tertata rapih bermacam menu sarapan yang sudah Lingga pesan sebelumnya. Jangan sampai, Maya bangun belum ada makanan dan membuat sang istri kelaparan. Tetapi hidangan itu belum tersentuh sama sekali. Lingga masuk ke dalam kamar, di lihatnya wanita hamil itu masih terlelap nyaman. Ia benar-benar telah membuat Maya kelelahan.


"Honey.." Lingga mengusap pipi Maya..


Wanita itu mengeliat. "Capeee… Bang... Maya masih ngantuk.." Maya menarik selimut menutupi kepalanya.


"Bangun Honey… Minum dulu susu hamilnya. Sudah Abang pesankan selagi hangat, ayo.." Lingga menurunkan selimut dari wajah Maya.


"Lima belas menit lagi bang." Maya menawar


"Baiklah, kalau begitu masih ada waktu untuk Abang meminta jatah lagi pagi ini." Lingga sengaja bicara seperti itu agar Maya bangun dan meminum susunya.


Dengan cepat, Maya menyingkirkan selimut yang membelit tubuhnya. "Maya bangun Bang." ia masih cukup lelah kalau harus melayani keinginan Lingga.


"Pinter.." Lingga merapihkan rambut Maya yang berantakan. Wanita itu duduk di sisi tempat tidur dengan memeluk pinggang Lingga. Pria itu masih berkeringat dengan kostum olah raganya.


"Sebentar, Bang.. Maya cium bau keringat Abang dulu." semakin hari sikap Maya semakin aneh, mungkin efek kehamilan. Entah kenapa, pagi ini ia ingin bermanja-manja dan menghirup aroma tubuh Lingga yang membuat pusing di kepalanya hilang. Dan Lingga sudah sangat paham akan hal itu.


Membuat pria itu sangat senang saat menyadarinya. Karena iapun sama, semenit saja tidak menghirup aroma tubuh Maya.. membuatnya tidak bersemangat.


"Sudah hilang pusingnya?" dengan posisi masih berdiri dalam rangkulan Maya, Lingga bertanya.. Tanganya membelai rambut sang istri yang sudah di rapihkannya.


"Hemmm…" Maya mengangukkan kepalanya.


Menenggadahkan kepala menatap Lingga, Maya bertanya.. "Abang lari lama banget? Dari jam Lima loh? Kemana saja?"


"Tidak kemana-mana May.. Abang hanya memutari resort, kebetulan Abang bertemu dengan teman Abang sesama wartawan dulu dan kami mengobrol sebentar."


"Cuma teman?" Maya memicingkan Matanya..


"Iya, Honey… Abang masih normal." Lingga terkekeh tertawa. "Apa perlu abang buktikan lagi pagi ini?"


"Apa hubungannya denga Abang yang masih normal?" Maya bingung dengan ucapan suaminya.


"Teman Abang itu laki-laki. Tapi kamu mencurigai Abang? Apa kamu cemburu?"


Dengan jujurnya, Maya menganggukkan kepalanya. Wanita itu tidak bisa berbohong menyembunyikan isi hatinya.


"Abang senang May, di cemburui. Terimakasih kamu sudah sangat mencintai Abang." Lingga membungkuk mengcup kening Maya.


"Tetapi Abang yakinkan, kalau dunia Abang cuma kalian berdua. Kamu dengan jagoan Abang." ucap Lingga setelah kecupan itu terlepas.


"Ayo sarapan dulu.. Abang sudah sangat lapar.."


Melagkah keluar kamar dengan merangkul pundak Maya. wanita hamil itu tampak cantik, terlihat seksi dengan gaun tidur tipis pemberian sang mertua.


Tante Rossa.


****


Bersambung ❤️