
Menanamkan saham sebesar 50 % sebagai bantuan yang Lingga berikan untuk dapat menormalkan kembali keuangan perusahaan Berita Grup yang sedang mengalami masalah akibat saham yang anjlok. Posisi Lingga saat ini adalah sebagai pemilik saham tertinggi di perusahaan milik Suryo setelah kesepakatan dan tanda tangan yang tertulis jelas di berkas yang Roby bacakan.
Tidak mungkin membiarkan perusahannya gulung tikar, Suryo Wibowo menyepakati perjanjian tersebut
Sebelumnya sudah ada pembahasan bahwa Lingga akan menarik kembali tuntutan dan denda yang ia layangkan kepada perusahaan Berita Grup setelah Suryo Wibowo menyanggupi beberapa syarat yang Lingga ajukan, salah satunya Berita Grup akan mengklarifikasi kelalaiannya dan memberhentikan secara tidak terhormat serta mengeluarkan surat Blacklist atau yang biasa di kenal sebagai daftar hitam kepada Anton dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Seorang jurnalis yang telah memberikan informasi yang tidak benar sehingga merugikan baik secara moril maupun materil. Dan akan sulit bagi Anton untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai jurnalis di semua perusahaan baik di dalam negri maupun luar negri.
"Terimakasih pak Lingga.. Terimakasih.." dengan raut wajah senang Suryo menjabat tangan Lingga.
"Ya.." tak banyak bicara, Lingga tetap menyambut uluran tangan Suryo sebelum ia dan Roby meninggalkan privatroom yang berada di sebuah restoran mahal di tengah kota.
Suryo Wibowo merasa lebih tenang setelah melakukan pembicaraan dan kesepakatan bersama Lingga, Perusahaan yang telah ia bangun selama ini masih dapat di pertahankan atas bantuan dan kucuran dana yang Lingga tawarkan. Hanya karena kesalahan dan kecerobohan yang telah di perbuat bawahannya, perusahaannya harus menanggung kerugian yang teramat besar.
Bukan hanya kerugian secara materil tetapi perusahaannya harus kehilangan banyak investor saat berurusan dengan Sutan Lingga, pewaris dari Kabar Pos, perusahaan media cetak terbesar yang sudah berdiri sejak era presiden pertama yang pada saat itu masih di pimpin oleh Tuan Sutan kakek dari Lingga.
Lingga berjalan melangkah keluar restoran bersisian bersama Roby menuju parkiran.
"Anda akan langsung ke rumah sakit Pak?" Roby bertanya sebelum melajukan kendaraan yang ia kemudikan.
"Iya.. Aku sudah sangat merindukan Mayaku." ucap Lingga
Di tengah rasa cemburunya kepada pria yang menyukai istrinya. Rasa cinta dan sayang terhadap Maya mengalahkan kesalnya. Bukan kesal kepada sang istri tapi lebih tepatnya kepada sosok pria yang menaruh rasa kepada Mayanya.
"Antarkan aku dahulu, nanti suruh OB mengantarkan Audi ke rumah sakit."
"Baik, Pak.."
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Lingga sengaja tidak berlama-lama berbincang dengan Suryo. Hanya poin-poin yang penting yang di bahasnya. Pikirannya sudah berada di rumah sakit.
Setelah rapat siang tadi, Dokter Hansel memberi kabar bahwa besok Maya sudah bisa di ijinkan pulang. Lingga cukup senang, hatinya lega mendengarnya, satu hari menjelang hari raya, Maya sudah bisa pulang ke rumah.
°°°°°
Bibirnya terus melengkung tersenyum kala melangkahkan kaki di sepanjang koridor dengan langkah lebar. Beberapa perawat yang melihat Lingga merasa kagum, banyak dari mereka yang memuja dan merasa iri kepada sosok Maya yang menjadi buah bibir. Mereka menganggap Maya adalah wanita yang sangat beruntung karena memiliki Lingga. Pria tampan, gagah rupawan, pewaris kerajaan bisnis pertelevisian dan surat kabar.
Sedangan di kamar perawatan, Maya sudah tidak sabar menunggu kepulangan Lingga. Wanita itu bahkan tidak mau makan malam sebelum Lingga pulang. Hatinya merasakan cemas, dari terakhir Lingga menelfonnya melalaui videocall, suaminya itu belum lagi menghubunginya. Selain rindu, Maya khawatir Lingga marah kepadanya.
"May, makan dulu ya.. Sudah waktunya minum obat." Umi mengingatkan untuk yang kesekian kalinya.
"Maya belum lapar Mi.." Maya masih tetap menolak.
"Maya minum obatnya saja dulu ya Mi.." tawar Maya
"Mana boleh minum obat kalau belum makan May.."
Umi tersenyum saat melihat siapa yang datang… Lingga berjalan pelan di belakang Maya. Pria itu menempelkan telunjuk di bibirnya.
"Kenapa tidak lapar?" Umi sengaja memancing.
"Tidak tau Mi, Maya hanya belum lapar saja." Maya menjawab pelan.
"Apa mau menunggu sampai Abang pulang? Atau maunya di suapin sama Abang?" Umi bertanya lagi.
"Abangnya sedang kerja Mi, tidak ada kabar." Maya menarik napas lesu. Memiringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ya sudah, kalau begitu Umi mau menyusul adik-adikmu dulu di kantin. Dari tadi Maka dan Mada belum kembali." Umi menyerahkan piring berisikan nasi dan lauk kepada Lingga
"Makan ya, Abang suapin.." duduk di pinggir tempat tidur Lingga bersuara
Lingga langsung sigap membantu, saat Maya beranjak bangun. Wanita itu langsung menubruk tubuh Lingga, memeluk pinggang Lingga dengan erat, Maya membenamkan wajahnya ke dada bidang pria yang sudah di tunggunya dari sore.
Lingga tertawa melihat tingkah Maya. "Pelan-pelan May.." Lingga balas memeluk dengan satu tangan, karena tangan kanannya masih memegang piring.
"Abang marah ya?" Maya bertanya masih dalam posisi belum mau melepaskan belitan tangannya. Wajahnya masih bersembunyi di dada Lingga
"Abang tidak bisa marah kepadamu May.. Tapi Abang cemburu." Lingga berkata jujur.
"Kenapa cemburu?" Maya bertanya pelan. "Apa Abang tidak percaya dengan Maya?
"Abang percaya kepadamu May.. Tapi Abang tidak bisa percaya kepada laki-laki yang menyukaimu."
"Abang tau?" Maya menenggadahkan wajahnya menatap Lingga. "Abang tau dari siapa?" Maya mengulang lagi pertanyannya.
Lingga tersenyum balas menatap wajah Maya. Ia tidak mungkin menceritakan kepada Maya bahwa selama Maya berada di kota Magelang, ia menugaskan orangnya untuk mengawasi dan melaporkan keseharian Maya.
"Makan dulu ya, kamu harus minum obat kalau besok mau pulang." Lingga mengalihkan pertanyaan
"Pulang?" Maya bertanya memastikan. "Apa Dokter Hansel sudah mengijinkan pulang?"
"Iya, Honey… siang tadi Abang mendapakan kabar, maka dari itu kamu harus menghabiskan makan malammu." Lingga mengusap rambut Maya seraya mengecup kening Maya dengan sayang.
"Aa..." Maya membuka mulutnya, wanita itu tampak antusias kala mendengar akan kepulangannya. Maya tampak tersenyum senang. Sudah seperti anak kecil, Maya menurut ketika suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya. Dengan telaten, Lingga menyuapi Maya sampai nasi di atas piring habis tak tersisa.
"Pintar.." ucap Lingga di suapan terakhir.
Lingga meletakkan piring kosong ke atas nakas dan menyodorkan gelas berisikan air puih dan beberapa butir obat yang sudah di sediakan.
"Bang, besok Dina akan menemui kita, sebelum pulang ke Sulawesi, barusan Dina memberi kabar."
"Iya.. Lexsus akan membawa temanmu pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan kedua orangtua-nya" Lingga menjelaskan
"Tetapi mereka belum lama saling mengenal Bang."
Sebagai teman, Maya mengkhawatirkan Dina. Ia tidak ingin sahabatnya itu merasakan kecewa untuk yang kesekian kalinya.
"Abang sangat mengenal Lexsus Kamoga May. Lagipula lama atau tidaknya seseorang saling mengenal tidak bisa menjadi jaminan. Contohnya seperti kita, Abang langsung jatuh cinta kepadamu May, dari pertama kita berjumpa, pertemuan yang tidak di sengaja. Abang langsung jatuh cinta saat pandangan pertama."
"Abang bahkan sangat-sangat mencintaimu, May."
"Lexsus dan Dina sudah sama-sama dewasa, percayakan kepada mereka… kalaupun akan ada rintangan dan cobaan yang datang menghampiri di tengah-tengah perjalanan hubungan mereka, anggap saja itu suatu bentuk ujian cinta mereka."
"Abang paham akan kekhawatiranmu, May."
"Tetapi cinta akan dapat di lihat dengan jelas saat ujian itu datang.."
"Cinta akan semakin kuat, seperti cinta Abang untukmu..."
Mayaku....
****
Bersambung ❤
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H bagi yang merayakan.. Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏