
Membaca Al-fatihah melantunkan doa, Maya dan Lingga duduk bersimpuh di samping gundukan tanah kering tertutup rumput hijau, payung hitam itu masih tertancam dengan tegak melindungi pusara dari panasnya matahari dan derasnya air saat turun hujan
Mengajak bicara, Maya mengusap pelan batu nisan bertuliskan nama, Sutan Magada Hanunggara Bin Sutan Lingga Hanunggara. Ikhlas melepaskan kepulangan sang putra membuat wanita muda itu tersenyum tegar.
"Assalamuallaikum, sayang… maaf, Mimi baru bisa menjengukmu." Maya mencabut beberapa rumput liar di sisi tempat peristirahatan sang putra.
"Gada tahu? Mimi merindukanmu … sangat … sangat merindukanmu. Tetapi Mimi percaya, Gada sudah bahagia di sana, bermain bersama kakek dan para bidadari."
"Honney." Lingga mengusap sayang pundak Maya, pria itu berusaha memberikan kekuatan dan ketegaran kepada sang istri agar tidak bersedih dan menangis.
"Doakan sayang, agar di dalam rahim Mimi segera hadir adik-adikmu yang tampan seperti Pipi dan cantik seperti Mimi." Lingga ikut bicara seraya ikut mengusap batu nisan itu.
"Lihatlah, bukankah Mimi terlihat cantik hari ini? Dan Mimi tidak bersedih, Mimi begitu sangat gembira dan bahagia. Pipi dan Mimi sudah mengikhlaskanmu. Kami bahagia untukmu Nak. Kamu akan selalu ada di dalam kehidupan kami dan menemani hari-hari kami, kami kuat karenamu."
"Untaian doa, terus Maya dan Lingga lafazkan lagi sebelum kedunya meninggalkan pusara. Taburan bunga dan guyuran air dari dalam kendi mereka tabur dan siramkan sebagai bentuk kasih sayang dan kenyamanan bagi sang putra tercinta.
Sepasang suami istri itu telah mengikhlaskan banyak hal. Keduanya sudah melewati fase dimana kehilangan, kesedihan, tangisan, perpisahan, serta lika-liku perjalanan cinta yang menguras airmata, hingga sampai titik dimana keduanya berakhir bertemu untuk bersatu, meraih cinta yang sempat terlepas.
Mengikat sebentuk ikatan yang kuat, menyatu di dalam sebuah pernikahan. Hingga harus merasakan lagi arti kehilangan.
Dan kini, sepasang kekasih, sepasang suami istri itu sudah mampu berdiri dengan kuat. Dengan senyuman lepas yang menambah warna kebahagiaan meraih masa depan.
Dua insan yang selalu di mabuk cinta, sorot mata yang saling mendamba dan ungkapan kasih penuh puja dan jatuh cinta. Dari dua orang anak manusia yang pada akhirnya menemukan cinta yang sesungguhnya, yang takkan bisa terpisahkan hingga ajal menjelang.
"Mimi pulang, sayang… jangan sedih, jangan takut. Mimi percaya tempat tidurmu hangat, sehangat pelukan kami. Berbahagialah di sana seperti kami yang juga bahagia. Kemanapun langkah kami, keberadaanmu akan selalu ada di tengah-tengah kami."
Meninggalkan area makam menjelang matahari semakin terang benderang. Lingga dan Maya melangkahkan kaki dengan ringan dan dengan perasaan yang lebih tenang dan penuh kedamaian.
Keduanya berjalan saling menautkan jemari dalam genggaman. Senyum cantik dan tawa renyah dari pria tampan itu bak sebuah gambaran cuaca pagi hari yang semakin cerah, berhiaskan pelangi melengkung indah di atas cakrawala.
Cinta sejati tak pernah mati. Warna pelangi itu menggambarkan perasaan kedua insan yang mencintai dengan tulus dari hati terdalam. Cinta sejati penuh dengan kesabaran, saling respek dan menghargai. Menerima segala kekurangan pasangan, tidak menuntut agar sempurna, rela berkorban untuk kebahagiaan pasangan. Saling rendah hati dan setia.
Itulah gambaran sebuah cinta anak manusia
Cinta Maya dan Lingga.
Cinta Lexsus dan Dina
Cinta Lendra dan Hena
Cinta Cjokro dan Rossa
Cinta Burhan dan Rindia
Mereka telah menemukan cinta sejatinya.
°°°°°
Kebahagiaan cinta yang membuncah itupun tengah di rasakan kedua pasangan yang baru saja mendarat tiba di Jakarta pagi ini. Lexsus Kamoga dan Dina Rahmata.
Daeng Lexsus membawa sang istri ke rumah yang telah di persiapakannya. Sebuah kawasan elit di tengah kota jakarta. Satu buah rumah bertingkat tiga sebagai tempat tinggal.
Rumah impian yang Lexsus persiapakan untuk keluarga kecilnya beserta orangtua saat berkunjung ke jakarta.
Membuka perlahan handle pintu kamar utama, satu kamar yang berada di lantai dua. Kamar yang di persiapkan sebagai kamar pribadi miliknya.
"Waawww…" mulutnya ternganga, mengucap ungkapan yang mewakili perasaannya, kekagumannya akan semua barang-barang mewah yang sudah tersedia.
"Anri suka?" Lexsus memeluknya dari belakang.
Pria manis berwajah dingin itu berharap sang wanitanya menyukai rumah dan barang-barang yang telah ia persiapkan.
"Suka Daeng.. Anri sangat menyukainya."
"Sejak kapan Daeng mempersiapkan semua ini?" tanya Dina.
"Sejak Daeng bertemu denganmu, mengenalmu dalam waktu semalam, menembakmu di rumah makan, dan sejak itu Daeng menetapkan bahwa wanita inilah yang akan menjadi istri Daeng." Lexsus mengecup kepala Dina.
"Wanita inilah yang akan menjadi ibu dari anak-anak Lexsus Kamoga. Dan disinilah anak-anak kita akan tumbuh besar. Indo dan Ambo akan berkumpul bersama kita ketika kedua orangtua itu menjenguk anak dan cucu-cucunya. Rumah ini Daeng persiapkan untuk istri, anak-anak, dan juga untuk orang-orang yang kita sayangi."
Mengurai belitan tangan Lexsus di pinggang, Dina berbalik menghadap pria manis itu dengan wajah haru berselimut bahagia.
"Terimakasih Daeng, terimakasih suamiku.." meraup wajah pria di hadapannya
"Daeng tahu? Daeng telah menghadiahkan kado special yang sangat berarti, sangat berharga melebihi perhiasan dunia, melebihi apapun yang ada di jagat raya ini."
"Keluarga.. Sebuah keluarga."
"Indo, Ambo, Laoka, dan yang specialnya adalah. Tuhan menghadirkan sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan setia. Laki-laki yang selalu menaburkan, mencurahkan banyak cinta serta kasih sayang yang tulus tak terhingga kepada seorang wanita biasa yang tidak memiliki harta dunia. Wanita sebatang kara, keponakan yang terbuang, yang sudah tidak memiliki Ayah dan Ibu."
"Tetapi Dina sangat bahagia. Wanita yatim piatu ini, telah Tuhan pertemukan dengan Laki-laki sempurna."
"Jangan pernah bilang Anri tidak memiliki apa-apa. Bukan harta dunia yang Daeng cari… tetapi sebongkah hati yang tulus, hati yang di penuhi cinta dan kesetiaan. Hati yang bersih, yang tidak terkotori oleh kebohongan juga kemunafikan."
"Sebuah hati yang murni, jaga selalu hati ini untuk Daeng. Lahirkan anak-anak yang sehat dan pintar sebagai penerus Kamoga."
"Wanita tangguh ini yang akan setia mendampingi seorang Lexsus Kamoga mengarungi bahtera rumah tangga. Bersama menerjang ombak, menghalau badai yang akan menjadi ujian kesucian cinta kita."
"Selamanya.."
"Jangan berubah Anri.. tetaplah menjadi Dina Rahmata."
"Wanita ceria, penuh tawa.."
"Tetaplah juga menjadi Lexsus Kamoga. Pria dingin yang hanya menabur cinta kepada Dina sang wanita yang cantik jelita." ucap Dina mengeluarkan kenarsisannya seraya berjinjit agar dapat menyentuh bibir kecoklatan yang sudah menjadi candunya.
Di balik jendela balkon kamar, sepasang insan itu saling mencurahkan rasa melalu saliva. Suara decap dan pelukan hangat itu membuat sang pelangi bersemangat mengeluarkan cahaya jingga yang semakin terpancar menyinari dunia. Memberikan aura bahagia bagi siapa saja anak manusia yang memiliki rasa cinta membara.
Menggelora tiada habisnya.
Sebagai saksi cerita anak manusia yang berjanji hidup bersama sehidup semati selamanya.
****
TAMAT