
Menyalakan mesin mobil, Lingga segera melajukan kendaraannya keluar dari parkiran gedung balai besar. Ia mengarahkan mobilnya ke jalan raya menuju Ling’s caffe di kawasan jalan kenangan.
Mengendarai Audinya dengan kecepatan maksimal. Besar harapan, Dina akan memberikan kabar tentang Maya dan mengetahui keberadaan Maya. Saat bicara di telfon wanita itu hanya memintanya untuk bertemu sore ini.
"Abang tidak akan berhenti mencarimu May. Ke ujung dunia sekalipun kamu pergi, Abang pasti akan menemukanmu."
"Setelah bertemu, jangan harap kamu bisa pergi lagi meninggalkan Abang.
Bila perlu, Abang akan membawamu pergi jauh,.. Jauh dari orang-orang yang akan mengusik kebahagiaan kita."
Lingga terus bermonolog dengan mata fokus menatap ke depan jalan, dengan kondisi jalanan yang mulai padat merayap saat sore menjelang petang.
°°°°°
Selesai bicara dengan Lingga di telfon, Dina meminta untuk bertemu sore ini juga. Dina bersiap-siap akan menutup toko.10 menit lagi, waktu akan berada di angka lima, berakhirnya jam kerja. Tidak lupa ia mematikan semua AC.
Menghitung uang dari hasil penjualan hari ini. Dina membawa pulang uang pendapatan hari ini untuk di serahkan kepada Tante Rossa esok hari. Tugas dan tanggung jawab yang biasanya di kerjakan oleh Maya sebagai penanggung jawab keuangan. Sekarang harus ia kerjakan dan tidak boleh ada kesalahan.
Sesuai intruksi yang di perintahkan Lingga, Dina akan bertemu dan menunggu pria itu di Ling’s caffe yang letaknya berada dua blok dari Ros Butiq. Setelah yakin keadaan di dalam ruangan aman, Dina mengunci pintu kaca.
Setelahnya, ia menarik rolling door dan tak lupa menggemboknya. Pekerjaan ini juga biasanya di lakukan oleh Maya. Biasanya, tugas Dina hanya mematikan AC, dan menyapu lantai agar tidak kotor saat di tinggalkan. Karena Tante Rossa sangat menjaga kebersihan.
Tanpa ojek, Dina memilih berjalan ke arah blok F untuk sampai di Ling’s caffe. Tempat dimana ia akan bertemu dengan Lingga.
"Neng Dina mau kemana?" Kang Oleh bertanya heran, saat melihat Dina berjalan berlawanan arah.
"Mau ada urusan dulu, Kang. Ketemu temen."
"Temen apa temen Neng?" patner kerja kang Oleh yang bernama Kang Ncep ikut bicara
"Temen Kang Nceeeppp..."
"Jalan kaki?" Kang Oleh bertanya lagi
"Iya, Kang. Deket, di blok F.."
"Awas di jalan ada yang nyulik Neng." Kang Ncep menggoda
"Kalau penculiknya tampan rupawan Dina mau Kang.. Asli, gak nolak."
"Neng Dina di lawan." Kang Oleh tertawa.
"Dina duluan ya Kang." Dina mengakhiri obrolan
"Hati-hati di jalan Neng."
"Siappp Kang."
Belum sampai satu blok langkah kakinya berjalan. Terdengar suara motor mendekat, berhenti pas di samping Dina.
"Neng Dina mau kemana?" suara pria yang masih menggunakan seragam biru putih itu bertanya dengan mematikan mesin motornya.
Sejenak Dina terpesona, ia tidak menyangka akan bertemu dengan pria berbadan tinggi, kekar, berwajah lumayan yang menjadi incarannya, tiba-tiba datang menyapa dan saat ini ada di hadapannya.
Pucuk di cinta ulampun tiba, seperti itulah gambaran situasi yang ada. Wajah Dina berubah sumringah dengan jantung yang berguncang seakan mau melompat keluar, efek debaran di dada, ibarat gendang yang di tabuh dengan kencang.
Dag Dig Dug tidak karuan.
"Mau ke Ling’s caffe Kang." suaranya begitu merdu saat menjawab pertanyaan pria yang bernama Junaedi. Berbeda saat ia menjawab pertanyaan Kang Oleh, akan benada cempreng gak ketulungan.
"Neng Dina mau ngedate?"
Wajah Kang Jujun tiba-tiba berubah suram, mendengar wanita yang juga di liriknya menyebut Ling’s caffe, tempat tongkrongan anak muda yang banyak mengajak pasangannya.
"Enggak Kang." Dina mengoyangkan dua telapak tangannya di hadapan wajah sang pria.
"Terus ngapain ke caffe?" Kang Jujun mulai menyelidik
"Mau ketemu temen, ada urusan." Dina menjawab meyakinkan
"Ayok, Akang antar?" Kang Jujun menawarkan bantuan, lebih tepatnya mulai melakukan aksi pendekatan.
"Gak ngerepotin?" pura-pura bertanya padahal hati bersorak gembira. Hayalannya untuk bisa berboncengan berdua, naik motor matic dengan sang pujaan akhirnya terlaksana.
"Enggak Neng. Akang sudah selesai jam kerjanya. Dan lagi, apa sih yang enggak buat Neng Dina." beeehh... Kang Jujun mulai mengeluarkan rayuan mautnya.
Di sambut dengan senyuman malu-malu tapi mau dari Dina.
"Hayuk naik, Neng."
"Neng Dina beneran mau ketemu temen?"
Kang jujun masih penasaran. Keduanya bicara dengan Dina berada di balik punggungnya.
"Beneran Kang, Dina mau ketemu sama pacarnya Neng Maya." Dina menjelaskan agar Kang Jujun lebih percaya.
"Kirain janjian mau ngedate?"
Dina tersenyum, berharap Kang Jujun cemburu buta kepadanya.
"Kalau ketemuannya sama pacar namanya ngedate Kang. Kan Dina belum punya pacar." lampu hijau mulai di nyalakan oleh Dina, berharap pria itu peka dengan ucapannya.
"Ooh, syukurlah kalau gitu Neng. Akang lega mendengarnya." harapan ternyata masih ada
Tin.. Tin..
Dengan Membunyikan klakson, Audi yang di kendarai Lingga melintas, melewati dua sejoli yang sedang menikmati perjalanannya. Lingga menyalip moge ala Dina
Dengan terpaksa, Dina meminta Kang Jujun menambah kecepatannya. Seketika motor yang pelan berubah menjadi kencang. Dan sampai juga di depan caffe, bersamaan dengan Lingga yang keluar dari dalam mobilnya.
"Temannya di ajak saja Din, Abang tunggu di dalam ya." Lingga lebih dulu masuk ke dalam.
Sedangkan kang Jujun, lebih memilih menunggu diparkiran dengan alasan tidak mau menganggu urusan Dina.
Dina masuk ke dalam caffe yang tampak ramai oleh para pengunjung. Dina mendekat ke arah Lingga yang sudah menunggunya duduk di sofa.
"Apa kabar Din?"
Lingga bertanya setelah Dina mendudukkan bokongnya di sofa dengan meja bundar berada di tengah.
"Sehat Bang."
"Mau pesan apa?"
Lingga memberi kode agar Nanang membawakan buku menu ke mejanya.
"Dina minum saja Bang."
"Ada kabar apa Din?"
Lingga bertanya setelah Nanang mencatat pesanannya dan pergi melanjutkan tugasnya.
Dina terdiam saat Lingga bertanya. Hatinya yang sempat gembira berubah sedih ketika di ingatkan dengan kabar Maya.
"Kenapa Diam? Ada apa?"
Membuka tas, Dina mengeluarkan amplop putih. Tak sanggup bicara, Dina menyodorkan surat Maya kepada Lingga.
"Durat apa ini Din?"
Masih dengan kebingungannya, Lingga mulai membuka amplop yang sudah robek di ujungnya. Ia bisa melihat kartu gold card miliknya yang ia berikan untuk Maya. Ia juga mulai membuka lipatan kertas dan membaca tulisan yang di tulis dengan rapih. Tulisan tangan Maya.
Dengan Dina yang mulai bercerita, akan kedatangan si Bapak pengantar surat yang datang mencarinya ke butiq. Dina juga menyampaikan kepada Lingga apa yang di sampaikan si bapak kepadanya.
Meletakkan kedua siku di atas meja.
Pria itu menyanggah kepalanya dengan telapak tangan, matanya terpejam tanpa suara. Lingga berusaha meredam rasa yang tak bisa di ungkapakan, yang tengah bergejolak di hatinya.
"Kenapa kamu tidak menggunakan kartu yang Abang berikan May? Kenapa harus menjual ponselmu? Ada apa denganmu May?" Lingga terus bertanya-tanya
Masih dengan kepala tertunduk. Hatinya remuk redam seperti di hantam palu hingga meremukkan tulang. Jika di tela'ah dari ucapan Maya di surat, wanita itu tidak pulang ke kampungnya.
"Jangan pikir Abang tidak akan bisa menemukanmu May? Abang akan membawamu pulang." tanpa sadar, Lingga terus meracau beberapa saat.
Hingga ia tersadar akan adanya Dina di hadapannya. Menarik nafas panjang, Lingga menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Abang akan mencari Maya, secepatnya, Din. Kalau ada kabar apapun, segera hubungi Abang."
"Janji ya Bang. Abang akan temukan Maya." Dina sangat berharap.
"Ya. Abang janji."
****
Bersambung ❤️