TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
REMBULAN MALAM



Duduk saling berhadapan, sepasang pengantin itu tengah menikmati makan malam di atas tempat tidur dengan meja lipat sebagai tempat meletakkan makanan. Baru beberapa suapan rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk di teruskan. Keduanya tak sanggup menghabiskan steak yang tengah di santapnya bersama.


Lexsus bukan hanya menyuapi potongan demi potongan daging ke mulut Dina. Akan tetapi pria itu menghapus sisa saus di sudut bibir Dina dengan lidahnya … Dan dengan rakus Lexsus mensesap bibir yang terasa manis..Hingga mampu membangkitkan nafsu keduanya.


"Lepaskan jubahnya Anri.. Handuk mandi itu menutupi keindahan yang sesungguhnya.." bisik Lexsus dengan tangan menarik simpul tali di bagian depan hingga terlepas, dan mendorong tubuh Dina terjerembap terlentang..


Memindahkan meja kecil ke atas nakas. Pria itu sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk menyentuh sang istri kala di suguhkan pemandangan yang mampu membangkitkan hasratnya.. Tubuh molek Dina semakin terlihat seksi menggunakan lingerie berjaring merah yang memperlihatkan dua gundukan ranum yang seakan menantangnya. Memanaskan singkong bakar yang seketika menegang..


Dina pasrah kala kedua kakinya di tarik ke sisi tempat tidur. Entah kenapa, ia menyukai permainan suaminya yang sedikit kasar. Terduduk dengan posisi condong kebelakang dengan kedua tangan sebagai penyangga. Tubuh Dina terasa ikut terbakar memanas saat satu telapak kakinya yang ia angkat menjejak, mengusap pelan perut … lalu turun ke resleting celana.


Pria itu tersenyum menerima kenakalan Dina. Lexsus membuka satu persatu kancing kemejanya dengan menatap lapar wanita yang tengah meliukkan tubuh menggodanya..


Celana panjang dan kemeja itu sudah terlepas dari tubuh kekar yang banyak di penuhi bulu halus di bagian dada hingga ke bawah pusat.. Dina sampai menelan ludah dan terkesima saat di suguhkan singkong bakar dari balik celana … tampak menggelembung dan menonjol. Dina mengigit bibir menahan ******* saat satu kakinya mulai terangkat di letakkan di pundak kokoh itu…


Lexsus menyentuhnya… merabanya, di usap pelan dengan kecupan yang mendarat menjilat, mulai dari ujung jari … turun ke betis..


"Ngghhh…" Dina menenggadahkan kepalanya ke atas. Ia mulai melenguh, tidak bisa menahan suara ketika bibir Lexsus semakin turun melewati lutut… mengecupi paha mulus hingga ke pangkal..


"Daeeeng..." lenguhan itu terdengar manja …indah di dengar. Menambah hasrat yang ada semakin memuncak di rasakan keduanya.


Kepala Daeng semakin menurun berada di antara kedua paha dengan kaki tertekuk yang di renggangkan. Lexsus menjilat perlahan milik Dina dari balik kain segitiga transparan.. Menambah sensasi yang luar biasa. Giginya menarik tali pengikat segitiga yang berada di sisi pinggul.. Dina menggeser perlahan bokongnya ke belakang, memberikan ruang saat Lexsus menaikkan lututnya ke atas temat tidur..


"Aahhh.. Daeng.." Dina men**sah … merasakan gelenyar geli bercampur nikmat.. Lidah Lexsus terus bermain-main, menggelitik setiap sisi miliknya. Sesekali pria itu mensesapnya … membuat Dina kembali men**sah untuk kesekian kalinya. Saat lidah itu menerobos masuk mengobrak abrik area miliknya.


Membuat tubuhnya jatuh terlentang menggeliat.. Pria itu tak berhenti saat Dina mendorong kepalanya meminta agar berhenti.. Kedutan yang semakin kuat menyerangnya… Membuatnya seakan mau pipis yang tak bisa di tahannya..


"Akhhhh.... Da.. eeng….., su …dahhh.."


Lexsus mencengkram kedua tangan Dina di sisi dengan posisi kepala masih berada di area terlarang. "Mmmhhhh…" tubuh Dina semakin memanas.. Ia pasrah tak mampu berontak, menghentikan aksi suaminya..


Pria itu semakin membuatnya lupa … seakan tengah berada di dunia lain yang teramat indah dan menyenangkan … walau bukan yang pertama untuk Dina. Tapi rasa puas dan nikmat yang ia dapat bersama Lexsus sungguh sangat berbeda..


Sebongkah rasa cinta dan sayang yang besar membalut rasa saat melakukannya.


"Daeeenggg… Akkkhhhh…" Dina mendapatkan puncaknya, melepaskan pelepasan yang pertama.. Wanita itu terkulai lemas dengan tubuh bergetar berkeringat.. Lexsus menelan habis cairan hangat yang mengalir keluar.


Daeng tersenyum puas… menatap sorot mata sayu Dina yang menunjukkan kepuasan..


"Bagaimana? Anri suka?"


Tersenyum malu.. Dina hanya menganggukkan kepalanya dengan mengusap bibir coklat itu dari sisa-sisa cairan miliknya..


"Daeng jorok.." ucap Dina pelan..


"Tidak ada kata jorok dalam bercinta Anri.. Apa lagi kita pasangan yang sah.. Daeng sangat menikmatinya.. Dan Anri pun harus mau melakukan yang seperti Daeng lakukan.. Akan ada saatnya Anri yang memimpin permainan.."


Merangkak naik di atas tubuh Dina, pria itu berbisik pelan. "Mau lagi? Rasanya akan berbeda, berkali-kali nikmat Anri.. Malam ini milikmu.."


°°°°°


Lingga berhasil membujuk Maya agar mau kembali ke dalam kamar.. Berjalan mesra bersisian, tangan Lingga tak lepas merangkul pinggang sang istri.. Keduanya melangkah masuk lift menuju lantai yang sama dengan suitte room pengantin baru..


"May... Mana senyumnya? Jangan kasih Abang yang kecut-kecut.. Abang membutuhkan yang manis-manis.." Lingga menjawil dagu Maya saat wanita itu masih menunjukkan wajah cemberut.


"Gula lagi mahal Abang.. Stop dulu yang manis-manis, nanti diabetes.." sungut Maya dan di balas tawa renyah oleh Lingga..


"May … kamu tahu? Mayaku semakin terlihat cantik mengalahkan bidadari saat sedang marah. Apa lagi kalau cemberut.. Membuat Abang tidak kuat.." Lingga terus menggoda Maya.


"Gombal..." ucap Maya dengan tersenyum tipis. Ia tidak bisa berlama-lama mendiamkan pria yang membuatnya selalu jatuh cinta. Cinta yang terus bertambah setiap detik, setiap waktu, dan selama nafasnya berhembus.


"Abang kenapa mata Maya di tutup? Maya memegang tangan Lingga.


"Surprise Honney..."


Melangkah perlahan masuk ke dalam kamar.. Lingga membimbing langkah Maya ke arah balkon kamar dengan penerangan malam dan lingkaran lilin yang berbentuk hati dengan kotak kecil berada di tengah-tengahnya. Di sampingnya tersedia meja makan bundar bertaplak meja dengan renda yang menjuntai kebawah … hiasan bunga mawar putih semakin mempercantik dan menambah suasana romantis..Tertata rapih dua piring berisikan makanan lezat yang tersaji.


"Kamu siap May?" Lingga merangkulnya dari belakang seraya berbisik lembut.. Sesekali Lingga mengecup kepala Maya dengan sayang..


"He'em.." Maya mengangguk..


Dengan perlahan kain penutup mata itu terlepas.. Dina terdiam terpaku.. Melihat yang tersuguh indah di depan matanya. Ia tidak menyangka Lingga akan menyiapkan Dinner romantis malam ini.. Rasa haru dan rasa bersalah menyinggapi hatinya.


Ia yang marah hanya karena keinginannya tidak terpenuhi… di balas Lingga dengan kesabaran, senyuman, bahkan kejutan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.. Kedua kelopak matanya menggenang airmata.. Maya merasa bersalah kepada suaminya.


"Abang yang menyiapkan ini?" Maya bertanya dengan memalingkan wajahnya menatap Lingga.


"Hei.. Kenapa menangis May?" Lingga mengusap airmata yang menetes di sudut mata.


"Berikan Abang senyum terindahmu, Honney.."


Maya memeluk Lingga dengan erat


"Maafin Maya Bang.. Maafin sikap Maya yang menjengkelkan.." Maya masih memeluk Lingga.


"Abang yang salah May.. Abang belum maksimal membahagiakanmu.. Dari awal kita menikah, Abang belum pernah menyenagkanmu. Ini makan malam romantis kita yang pertama setelah menikah.. Merajuklah May… asal jangan pergi dan meninggalkan Abang.. Abang takut kehilanganmu May.. Maafkan Abang… Abang hanya ingin memastikan Mayaku sudah benar-benar sehat."


"Percayalah.. Rumah kita akan segera ramai dengan tangis anak-anak…"


"I love you Mayaku.." Lingga semakin memeluk erat Maya seraya mengecupi seluruh wajah wanita yang sudah membalikkan dunianya.


"Ambil hadiahmu May.." mengurai pelukan, Lingga menunjuk dengan dagu sebuah kotak berbentuk hati yang di letakkan di tengah lingkaran lilin.


Maya membuka kotak itu dengan mulut ternganga.. Sebuah kunci mobil beserta surat-surat lengkap..


Saat kita kembali ke Jakarta.. Mobil itu akan di kirim beserta supirnya..


Lingga tersenyum bahagia saat melihat wajah Maya yang tersenyum ceria.. Karena harta yang sesungguhnya adalah kebahagiaan Maya..


"Terimakasih Abang.." Maya kembali memeluk Lingga seraya berkata.. "Gulanya sudah turun harga Bang... Maya akan kasih yang manis-manis sampai Abang tidak bisa merasakan yang pahit.


Sinar terang cahaya bulan di Kota Makassar menyinari sepasang anak manusia yang tengah melabuhkan sebuah rasa melalui dekapan hangat … ciuman manis … sebelum menikmati makan malam dan rembulan malam...


Sebagai saksi...


****


Bersambung ❤


Jangan bilang aku gak UP dari kemarin.


Sudah aku usahakan sayangnya di tolak.. MP Dina Daeng tidak bisa full... Harus aku selingi dengan Maya dan Lingga.. Bab ini hasil revisi.. Judulpun harus di ganti...


Next yaa...


.