TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
CILOK



"Saya mau kamu jadi istri saya."


Entah harus menjawab apa, Dina kaget bukan kepalang. Tiba-tiba kepalanya langsung berdenyut kencang. Bukan tanpa alasan, tetapi karena pria yang belum 24 jam bersamanya itu dengan lantang dan berani melamarnya, bukan lagi sebagai pacar tetapi sebagai istri dan ingin membawanya ke kota kelahirannya untuk di kenalkan kepada ibunya.


Inikah jawaban yang Tuhan berikan kepadanya? Buah dari kesabarannya selama ini.. Jawaban atas segala permohonan dan doanya setiap waktu. Tuhan mengirimkan kepdanya pria gagah, manis rupawan, bertanggung jawab dan berani. Tak banyak mengumbar kata dan rayuan gombal.


Butuh waktu beberapa detik untuk Dina dapat berpikir dengan jernih.


Beberapa pengunjung banyak yang memperhatikannya. Dari kaum ibu-ibu, bapak-bapak, dan para wanita muda yang berada tidak jauh dari meja kursinya Lexsus dan Dina.


"Akang sadar? Dengan ucapan yang baru saja Akang sampaikan?" Dina memastikan lagi ucapan Lexsus


"Dina janda Kang? Dan juga Dina.." ucapannya seketika terputus saat Lexsus memotongnya.


"Aku tidak bertanya statusmu dan bagaimana keadaanmu. Yang aku inginkan mendengar jawaban darimu. Iya apa tidak? Kalau iya, secepatnya aku akan membawamu menemui Indo dan ambo. Kalau tidak, aku akan tetap memaksamu mau menerima Daeng." pria itu bicara tanpa belok kanan kiri.. Terus lurus sesuai yang di inginkannya.


"Kang …emang gak bisa gitu? Ngelamar pake romantis sedikit? Lempeng aja kaya jalan jol." ucap Dina seraya tersenyum malu-malu memandang Lexsus.


"Aku anggap kamu sudah menerima."


Meninggalkan dua lembar kertas berwarna merah sebagai bil makanan, Lexsus langsung mengangkat Dina layaknya karung beras.


"Kaaanggg… Dina belum jawab.." Dina berteriak di atas pundak Lexsus yang membawanya keluar dari dalam restoran menuju parkiran.


Beberapa pengunjung yang tengah menikmati sarapan, bersorak bertepuk tangan.. Melihat adegan bak telenovela di layar kaca. Dimana sang pria melamar sang wanita dengan cara ekstrim luar biasa. Walau terkesan memaksa, tetapi terlihat sangat romantis di mata.


"Terima saja Mbak.."


"Aku sih iyes Mbak.."


"Langsung ke penghulu Mbak.."


Beberapa suara dari pengunjung resto terdengar di telinga.


Dina hanya bisa menutup wajahnya yang memerah. Mimpi apa ia semalam saat tidur di kursi di dalam mobil. Saat pagi hari keadaannya akan seperti ini. Akibat kenekatannya masuk ke dalam mobil orang yang tidak di kenal, berakhir dengan mendapatkan jodoh secara instan. Ternyata bukan hanya makanan yang serba instan dan siap saji. Jodoh datang pun sama tanpa di duga-duga.


°°°°°


Lexsus mengantar Dina kembali ke Ros Butiq. Mobil yang di kendarainya berhenti tepat di depan ruko dimana Kang Oleh tengah berdiri menunggu kedatangan Dina.


"Ponselmu." Lexsus mengulurkan tangan. Pria itu masih menahan Dina di dalam mobilnya.


"Buat apa Kang?" Dina bertanya sambil menyerahkan ponselnya.


Entah apa yang di lakukan di dalam ponsel milik Dina. Lexsus kembali menyerahkan ponsel Dina, setelah ia menyimpan nomornya dan mengirim nomor Dina ke ponsel mliknya.


"Daeng akan menghubungimu.. Jangan sampai tidak di angkat."


Masih dalam keadaan syok dengan status barunya, membuat Dina tak banyak bicara, ia hanya mengangguk-anggukkan kepala menjawab semua ucapan Lexsus. Hingga kecupan yang ia terima di pipinya membutanya lebih terkesiap lagi, seakan mau pingsan, wajahnya pucat pasi menerima perlakuan dari sang pria.


Cup


Lexsus mengecup pipinya, sebelum membiarkan Dina turun, keluar dari dalam mobilnya.


"Neng Dina kenapa?" Kang Oleh bertanya saat melihat Dina dengan wajah pucatnya. Dan arah mata Dina tak lepas dari mobil yang pergi melaju meninggalkannya kembali ke jalan raya.


"Neng! Neng Dina.." Kang Oleh melambai-lambikan tangannnya ke hadapan wajah Dina.


"Aiiihhh… Nih Anak! Kesambet setan mana? Masih pagi sudah bengong!" Kang Oleh menyadarkan temannya.


"Kang cubit tangan Dina?" Dina berharap apa yang baru saja terjadi bukanlah mimpi sesaat.


Dengan senang hati Kang Oleh melakukannya. Pria itu mencubit lengan Dina dengan kuat.


"Aaawwww!! Sakit Kang.."


"Ya emang sakit Neng.. Kan Neng Dina yang minta." Kang Oleh tertawa puas.


"Iya.. Tapi jangan pake tenaga juga kali." Dina bersungut-sungut


Dan di jawab godaan dan kekehan dari Kang Oleh. "Duh.. Duhh.. Hilang satu tumbuh satu.. Cepet bener dapet gantinya. Mangkal dimana Neng?" Kang Oleh terus mengodanya.


"Mangkal? Emangnya Dina pangkalan Ojek!" Dina memukul lengan Kang Oleh.


"Tolong bukain Kang." Dina menyerahkan kunci gembok Rollingdoor.


°°°°°


Maya dan Lingga menghabiskan waktu honeymoon-nya dengan menikmati beberapa tempat eksotik nan indah selama di Lombok. Beragam macam pantai dari mulai Gili Trawangan sampai ke Gili Nanggu dengan pasir putih birunya lautan dan tebing-tebing tinggi menjulang.


Lingga dan Maya melakukan penyebrangan dari pulau Lombok menggunakan kapal motor saat sore menjelang, mereka akan menikmati cantiknya pemandangan matahari terbenam. Dan bukit sembalun di kawasan Lombok Timur, yang menjadi tujuan selanjutnya, sebuah bukit yang terletak di sebuah perkampungan di kaki Gunung Rinjani. Sebuah tempat yang selalu berhasil memanjakan mata.


Udara segar, suasana asri dan pemandangan hijau dimana tersedia objek wisata kebun Stoberi yang bisa langsung di petik dan di makan langsung. Bukit sembalun menjadi tempat romantis untuk pasangan yang berbulan madu.


Masih di Lombok timur yang terdapat Pantai Pink. ( Tangsi )


Pantai dengan hamparan pasir berwarna merah muda. Pantai Tangsi atau yang lebih populer dengan sebutan Pantai Pink di Lombok Timur.


Lingga mendapatkan tempat penginapan yang cukup nyaman untuk malam ini.. Mereka akan kembali ke resort Pantai Senggigi esok hari.


"Kamu suka?" Lingga bertanya dengan mengecup pelipis Maya. Menjelang matahari terbenam, keduanya tengah berada di atas bukit, duduk di bangku, menikmati kudapan dan minuman sambil menghadap matahari terbenam..


"Suka Bang… Sangat indah.." Maya merebahkan kepalanya ke dada bidang Lingga.


"Seumur hidup Maya, Maya tidak pernah membayangkan akan berada disisni." ungkap Maya


"Abang akan membawamu ke tempat-tempat indah May.. Kita selalu akan berbulan madu." Lingga mengetahui dan dapat merasakan perjalanan hidup Maya sebelumnya.


"Bang.." Maya bicara dengan tangan memainkan kancing kemeja Lingga


"Hemm…" Lingga membalas dengan mengusap lengan Maya yang tengah bermain di dadanya


"Maya pingin makan sesuatu."


"Makan apa? Abang akan pesankan."


"Tidak ada disini Bang."


"Maksudnya?" Lingga bertanya dengan meraup wajah Maya.


"Maya pingin makan Cilok.."


"Cilok?" Lingga memastikan


"He'em.. Cilok yang deket Ruko Butiq Bunda." Maya sudah membayangkan jajanan yang biasa ia beli bersama Dina. Makanan sederhana berbahan tepung terigu dan tepung tapioka dan di bentuk bulatan dengan di taburi bumbu kacang dan sambal itu membuat Maya sangat menginginkannya.


"Besok Abang akan meminta chef restoran di Resort membuatkannya untukmu. Sabar ya." Lingga mengelus perut Maya. Sungguh istrinya itu tak pernah meminta yang macam-macam.


"Tapi beda Bang.. Maya pingin yang di dekat Ruko." Maya mulai merengek


"Apa harus sekarang? Abang akan meminta Lexsus mengirim kesini."


"Tetap tidak enak Bang, Maya pingin meracik sendiri bumbunya, makan langsung dari pelastik, di bolongin ujungnya.. Yummy.. Enak banget Bang." Maya sudah teramat ngiler di buatnya.


"Jagoan Abang yang ingin? Apa Miminya yang pingin?"


"Dua-duanya." Maya tersenyum dengan melingkarkan tangan di pundak dan leher Lingga dari samping.


"Sepulangnya dari Lombok, Abang akan mengantarmu ke Butiq.. Untuk sekarang kamu makan Abang dulu ya." Lingga tersenyum simpul mengoda Maya.


"Ishh.. Abang cari-cari kesempatan."


"Harus, May.. Kesempatan itu harus di cari." Lingga mengurai belitan tangan Maya, membawa tubuh itu ke dalam pelukannya.


"Abang tinggalkan Maya di Butiq juga tidak apa-apa Bang.. Maya ingin seharian bersama bersama Dina. Boleh ya??"


"Sebenarnya mau makan cilok atau bertemu Dina?"


"Dua-duanya juga, Bang.." Maya menatap Lingga.. "Yah, boleh yaa.."


Maya merayu agar di ijinkan.


"Lalu Abangnya bagaimana?"


Pria itu enggan jauh dari Maya.


"Abang nanti nanti malam Maya makan deh ." rayuan jitu yang membuat keduanya tertawa bersama.


****


Bersambung ❤️