TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
U PUJI KI ANDRI



Buk .. Buk .. Buk


Berulang-ulang, Lusiana memukuli pundak Alisa karena, kesal. Ia kesal karena putrinya itu gegabah, sangat ceroboh dan telah melakukan perbuatan yang sangat fatal. Belum selesai masalah hutang piutang yang menjerat Sanjaya hingga di kejar-kejar penagih yang mengerikan sebagai utusan sang lintah darat. Sekarang sudah di tambah dengan ulah Lisa. Baru saja Lusiana berhasil merayu Lingga dan membuat janji bertemu dan akan meminta bantuan agar membantu masalahnya, tetapi harus gagal karena kebodohan yang telah di perbuat putrinya.


"Hentikan, Ma.. Sakit! Lisa menahan tas mahalnya yang di jadikan alat untuk memukul dirinya.


"Apa kamu bilang! Sakit? Kamu bahkan akan merasakan kesakitan lebih dari ini Lisa! Lebih baik kamu merasakan sakit pukulan Mama dari pada kamu harus mendekam kembali dalam sel tahanan."


Lusiana tampak marah dan kesal. Wanita itu tampak prustasi. Lusiana ikut shok saat mengetahui apa yang sudah di lakukan Alisa kepada Maya. Istri barunya Lingga


"Kenapa kamu bodoh sekali Alisa! Kenapa kamu sangat bodoh!! Tidak bisakah bersabar sebentar saja? Tidak bisakah kamu bermain cantik? Bukan cara seperti ini yang Mama harapkan?" Lusiana bicara dengan berteriak karena kesal.


"Belum 24 jam kamu keluar dari balai besar! Dan sekarang kamu sudah membuat masalah yang sangat fatal. Kamu merusak rencana yang sudah Mama siapkan!" Lusiana terus bicara dengan wajah tegang sambil berteriak


"Sudah Ma!! Jangan berteriak kepada Lisa. Rencana Mama memang selalu gagal bukan!? Berhenti menyalahkan Lisa! Ini semua juga karena Mama! Lisa seperti ini karena Mama!!" Lisa balas bicara dengan berteriak di depan wajah Lusiana.


"Apa Mama lupa? Puluhan tahun Mama hidup nyaman di rumah ini dengan meninggalkan Lisa dan Papa. Mama lebih memlih mengurus Lingga dari pada Lisa! Mama tidak pernah memperdulikan Lisa! Mama tidak pernah bertanya apa yang Lisa inginkan!"


"Semua yang Mama lakukan buat kamu Lisa! Buat masa depan kamu! Mama meninggalkanmu karena Mama ingin menyiapkan yang terbaik buat kamu! Dan Mama sudah berhasil membuat Lingga menikahimu! Mama sudah berhasil membawamu masuk ke dalam keluarga Sutan. Tapi kamu malah berhubungan di luar batas bersama Steven."


"Seandainya kamu menjadi istri yang baik dan lebih mementingkan suamimu dari pada karir dan pekerjaanmu! Lingga tidak akan meceraikanmu Lisa!"


"Apa Mama tidak salah bicara? Bukankah Mama juga sebagai istri telah berprilaku tidak baik?" Alisa tidak terima dengan ucapan Lusiana. "Perbuatan Mama tidak jauh beda, sama saja seperti Lisa. Bahkan sampai memiliki seorang anak! Apa Mama lupa? Mama kembali berhubungan dengan Papa di saat Mama sudah terikat pernikahan dengan Papa Cjokro. Jadi jangan pernah merasa Mama sudah menjadi wanita yang baik dan Ibu yang sempurna untuk Lisa.!"


"Kamu!!" Lusiana sudah mengangkat tangannya hendak menampar pipi Lisa tapi tertahan.


"Lakukan Ma! Tampar Lisa! Agar Mama puas! Hanya itukan yang bisa Mama lakukan sekarang!"


Lusiana terduduk di sofa dengan menutup wajahnya, ia menahan amarahnya kepada sang putri dan berusaha berpikir jernih, ia harus berpikir, mencari solusi dan jalan keluar, apa tindakan yang harus segera ia lakukan. Sebesar apapun kesalahan Lisa, semarah apapun ia kepada Lisa, Lisa adalah putrinya, darah dagingnya. Ia harus mencari tau bagaimana keadaan Maya. Bila perlu, ia akan bersujud memohon pengampunan kepada Lingga. Lusiana percaya, Lingga akan mempertimbangkan maafnya mengingat ia sudah mengurus Lingga sampai pria itu dewasa.


Begitupun Alisa, wanita itu ikut terduduk di sofa. Ia bingung harus berbuat apa? Ia tidak bisa menutupi rasa takutnya. Pikirannya buntu, Alisa tidak tau harus melakukan apa.


"Ma, apa yang harus Lisa lakukan Ma? bagaimana dengan karir Lisa? Lisa tidak mau masuk penjara Ma." Lisa akhirnya melemah.. Saat ini, hanya Lusiana yang dapat membantunya.


"Mama sedang pikirkan Sa, untuk sementara kamu sembunyi dulu.. Jangan keluar dari rumah. Jangan menghubungi siapapun. Matikan ponselmu. Seandainya Mama bisa mengirimmu pergi ke luar negri, pasti sudah Mama lakukan."


"Tapi bagaiman dengan pekerjaan Lisa Ma?" saat keluar dari balai besar, Lisa sudah menghubungi timnya untuk kembali membuat konten untuk beberapa akun sosial medianya.


"Dalam keadaan genting seperti ini kamu masih sempat-sempatnya memikirkan pekerjaan!" Lusiana nampak geram.


"Hentikan menggunakan barang tidak berguna itu Lisa! Otakmu tidak bisa berpikir dengan baik! Sekarang masuk kamar! Jangan pernah keluar tanpa seijin Mama. Besok Mama harus menemui seseorang."


"Abang harus kuat demi Maya." Bunda Rossa bicara pelan penuh kesabaran. Wanita itu memberikan semangat agar Lingga kuat dan tegar dalam menerima kenyataan buruk yang akan di terimanya, menerima apapun hasilnya. Dokter hanya dapat mengupayakan, tetapi takdir dan ketentuan hanya Tuhan yang kuasa.


"Maya tidak akan bisa bertahan kalau Abang seperti ini. Maya membutuhkan Abang untuk bisa melewati masa kritisnya." Bunda Rossa bicara dengan menahan tangis. "Hanya Abang sebagai tempat, sandaran Maya." Bunda Rossa meraup, mengengam kedua tangan Lingga yang duduk di sampingnya, Lingga tertunduk tanpa kata dengan mata memerah. Dengan berat hati Lingga harus keluar dari ruang IGD meninggalkan Maya. Hanya tim Dokter yang 15 menit sekali akan masuk mengecek kondisi istrinya.


"Fokuslah dengan perkembangan kesehatan Maya, Bang.." Cjokro ikut bicara. "Urusan pemberitaan dan tuntutan kepada Berita Grup dan salah satu jurnalisnya. Sudah Papa serahkan kepada Burhan dan Roby. Sebelum bertugas Lendra akan membantu mengendalikan perusahaan. Dan untuk masalah Alisa biarkan Lexsus yang menanganinya."


Kedua orangtua itu berusaha memberikan dukungan kepada putranya. Semuanya berkumpul duduk bersama di luar ruangan menunggu 3 jam ke depan dengan segala doa dan pengharapan.


Dina ikut menangis sesegukan mengetahui keadaan Maya yang sebenarnya. Ia ikut terpukul, ia sangat tidak menyangka kejadian buruk menimpa sahabatnya. Baru saja Maya mereguk indahnya berumah tangga, cobaan kembali menerpanya.


Sedangkan Lexsus, pria itu sedang menghubungi anak buahnya yang bertugas di lapangan. Ia menjauh dari area IGD agar pembicaraannya tidak terdengar oleh siapapun, terutama Dina.


Pria dingin itu sedang memerintahkan anak buahnya untuk menjemput Umi dan dan kedua adik Maya di pangandaran malam ini juga. Dan memberikan tugas kepada beberapa orang pilihannya yang bekerja di belakang layar, agar secepatnya mulai bergerak. Melakukan sesuatu hal yang besar dan mengerikan.


Selesai pembicaraannya do telfon, Lexsus kembali menghampiri Dina yang masih menangis belum berhenti.


"Ri.. Jangan menangis terus." Lexsus mengusap punggung Dina. "Banyaklah berdoa, kalau Anri terus menangis bagaimana Maya akan kuat melaluinya."


Lexsus membawa kepala Dina agar bersandar di sisi dadanya dengan tangan kiri melingkar, merangkul pundak Dina sambil mengengam telapak tangan Dina dengan tangan kanannya.


"Kami selalu bersama Daeng. Dalam tawa.., dalam tangis.., dalam susah dan senang. Kami selalu bercerita bersama, bermimpi bersama, berdebat bersama, bahkan kami terkadang makan sebungkus berdua. Kami memiliki latar belakang yang sama. kami sama-sama dari keluarga biasa, sangat biasa.. Kami sama-sama gagal dalam pernikahan."


"Kebahagiaan datang ketika Maya mengenal Abang Lingga, dan mulai mencintainya. Wajah Maya yang biasanya selalu di liputi kesedihan berubah menjadi binar terang penuh cinta. Maya seakan mendapatkan harta yang mampu mengalahkan emas permata." Dina bicara Lirih dengan suara memilukan


"Bukan hanya Lingga yang akan membahagiakan Maya.. Tetapi Daeng juga akan mencintaimu segenap jiwa dan raga Daeng. Daeng akan membahagiakanmu. Bisakah kamu mencintai daeng sama seperti Maya mencintai Lingga? Walau dengan cara yang berbeda.."


Dina semakin menangis mendengar ucapan Lexsus, wanita itu hanya mampu menganggukkan kepala dengan berkata pelan.


"Maaf Daeng, saat ini Dina baru menyadari, kalau Dina takut kehilangan Daeng." Dina melingkarkan tangan di pinggang Lexsus.


"Dina baru mengerti kalau di hati Dina hanya ada nama Daeng.." Dina berkata dengan jujur.


U puji’ki an’dri … ( aku cinta kamu )


****


Bersambung ❤️


Di Bab yang berjudul Mayaku terluka bunda.. Semuanya aku kasih stempel ya.. Sebagai bentuk terimakasih untuk respon dan komennya 🙏''