TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
WILL YOU MARRY ME



Pria itu semakin dalam menyesap


Dan, tiba-tiba Maya kembali membuka matanya kala teringat akan kehamilannya.


Dirasa ada yang berbeda dengan Maya, Lingga melepaskan lum*tannya dengan menatapnya wajahnya.


"Ada apa, May?" Lingga bertanya, jempolnya mengusap bibir yang masih basah tampak memerah akibat perbuatannya.


Ada rasa takut menyerang hatinya. Maya khawatir, Lingga tidak akan mau menerima kehamilannya. Ia tidak akan siap kalau kebahagiaan yang baru saja di rasakannya, hilang bersama kabar yang di sampaikannya. Tetapi sampai kapan, ia akan menutup rapat kalau dirinya tengah mengandung. sedangkan Gala dan Daksa telah mengetahuinya lebih dahulu.


"Ada apa, May?" Lingga bertanya lagi dengan menatap wajah Maya yang terlihat berbeda.


"Tidak ada apa-apa, Bang." berucap pelan, Maya mengigit bibirnya dengan menurunkan pandangannya. Ia tidak sanggup melihat wajah Lingga.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan? Katakan May, Abang ingin mendengarnya langsung dari mulutmu."


Seakan mengetahui yang terjadi kepada Maya, Lingga memaksa wanita itu untuk bicara, menyampaikannya sesuatu yang ingin di dengarnya.


"Maya… Emm…" suara Maya tercekat, berhenti di tenggorokan. Seakan tak mampu untuk lolos keluar


"Aku…"


"Ya, aku.. ? Kenapa?"


Tubuhnya mengendur lemas, Maya rasanya ingin menangis, saat akan menyampaikan kalau ia hamil. Hamil anak pria yang tengah memangkunya saat ini. Wajahnya berubah pias, tidak bisa menutupi rasa takutnya. Takut jika Lingga tidak mempercayainya.


Tak kuat, bahkan tak tega melihat wajah Maya yang terlihat pucat dengan tangan yang terasa dingin. Lingga tersenyum hangat dengan mendekatkan wajah, membuat jarak hidungnya dengan hidung Maya tak berjarak dan kening yang menempel rapat.


"Kenapa masih belum mau bilang, May? Bukankah itu kabar yang sangat menggembirakan? Kenapa tidak ingin berbagi dengan Abang?" Lingga bicara pelan dengan bibir yang sesekali bergesekan. Suara Lingga mampu menggetarkan hati Maya, kulitnya terasa meremang, mendapatkan sensasi yang berbeda di tengah rasa takutnya.


Maya dapat merasakan tangan Lingga menelusup masuk ke dalam sweaternya. Mengusap, mengelus halus perutnya yang masih terlihat rata. Membuktikan bahwa keterikatan batin itu sangat kuat antara calon sang bayi dengan sang ayah.


Membuat perutnya terasa nyaman, pusingnya seakan hilang saat mendapatkan sentuhan. Maya terpejam hanyut akan belaian, dengan posisi yang masih bersentuhan kening dengan kedua tangan Maya membelit leher Lingga. Perasaannya mendadak pecah kala mendengar ucapan yang tidak di sangka-sangkanya.


"Apa dia baik-baik saja di dalam sini selama 3 bulan jauh dariku?" tangan Lingga terus bergerak, mengusap di area bawah perut Maya. Menggunakan training membuat tangan Lingga leluasa bergerak.


"Jagoan kita akan menjadi anak yang kuat. Dia hadir di tengah masalah kedua orangtuanya. Tetapi yang perlu di ingat, tidak boleh di lupakan. Dia ada karena cinta.. Cinta yang sesungguhnya, dia datang sebagai pelengkap hubungan kita, penghias perjalanan kita, dan penyempurna cinta kita May.."


Maya, tergugu menangis. Dengan suara terbata.. Ketakutannya menguap, hilang bersamaan ucapan Lingga.


"A… Ab, ang.., tau?" ia tidak menyangka Lingga sudah mengetahuinya


"Ya, Abang mengetahuinya. Abang selalu bersamamu, May. Selalu bersamamu,.. Walau raga Abang tak berada di dekatmu. Kalau bukan karena niat baik, menolong dengan membawamu ke klinik. Abang pastikan, Abang tidak akan rela pria itu menyentuh tubuhmu, May.."


"Sudah, jangan menangis Mayaku.. Perhiasanku…" Lingga mengusap airmata di pelupuk mata dengan mengecupnya.


"Abang akan membawamu ke Dokter kandungan terbaik di jakarta. Abang ingin melihat pertumbuhannya."


"Abang tidak Marah? Abang percaya? Abang tidak meragukan Mayakan? Maya masih belum mempercayainya.


Lingga terkekeh mendengar ucapan Maya. "Kalau abang meragukanmu, Abang tidak akan mengejarmu May, Abang tau, sangat tau bagaimana keseharianmu saat jauh dari Abang."


"Tapi Abang tegaskan sekali lagi, Abang tidak akan membiarkanmu dekat dengan pria lain lagi. Dan, kalau sampai itu terjadi.. Abang akan merantaimu May."


"Ishhh.. Emangnya Maya tawanan.." dengan bibir cemberut Maya memprotes.


"Iya, kamu tawanan cinta Abang."


Maya menyurukkan kepalanya di dada Lingga, saat tangan kokoh itu merengkuh tubuhnya lebih dalam masuk dalam pelukan. Sambil mencium pucuk kepala tiada hentinya. Keduanya mencari kehangatan di dalam pelukan, meresapi udara dingin gunung merbabu di pagi hari dengan suhu rendah yang masuk ke cela jendela yang terbuka sedikit. Maya meresapi, usapan lembut tangan Lingga yang kembali masuk menelusup mengusap perutnya, yang mampu menghilangkan rasa tak nyaman setiap pagi menjelang."


"Pernikahan?" Maya menarik kepala dari sandaran dada berganti menatap Lingga, memastikan pendengarannya tidak salah.


"Untuk menjadi pria yang sempurna, Abang butuh kamu untuk mewujudkan-nya, May.. Abang juga bukan pria pertama untukmu, tapi Abang menginginkan, hanya Abang yang akan menjadi pria yang terakhir mengisi hatimu dan mendampingimu. Dan kamu, selalu akan menjadi yang pertama selamanya. Karena hanya kamu cinta yang sebenarnya di antara cinta dan wanita yang Abang pernah kenal. Bohong rasanya kalau Abang tidak pernah dekat dengan wanita lain semasa remaja."


"Tetapi hanya kamu, May.. Yang mampu menerjang masuk, hingga merobohkan dinding kokoh yang Abang bangun di disini." Lingga membawa tangan Maya agar menyentuh dada sebelah kirinya.


"Detak jantung ini, setiap detiknya akan memompa dengan menyebut namamu seiring nafas yang Abang keluarkan. Namamu sudah terukir indah di hati Abang, May.."


"Malam ini juga, Abang akan menikahimu, mengikatmu.. Maukah kamu menerima Abang sebagai pendampingmu, May?"


"Will you marry me.."


Lingga merogoh kantung celananya, mengambil kotak beludru berwarna biru. Membukanya perlahan, memperlihatkan sebuah cincin dengan berlian sebagai penyempurna pahatannya. Cincin dengan harga yang terbilang cukup fantastis yang ia persembahkan untuk Maya.


"Ya, Maya mau.." Maya berbisik di telingga Lingga. Memberanikan diri, Maya mengecup kening Lingga dengan sepenuh hatinya. "Terimakasih Abang." ucap maya setelah kecupannya terlepas.


"Kenapa hanya kening, May?"


"Kalau mau nambah, Abang sematkan dulu cincin indah itu ke jari Maya." Maya bicara dengan tersenyum lebar, memperlihatkan giginya.


"Pintar kamu yaa.." Lingga menjapit dagu Maya dengan gemas.


Meraih tangan Maya, dengan perlahan Lingga memakaikan cincin dengan batu berkilau indah itu ke jari manis Maya.


"Kamu tau May? Mengapa cincin nikah, cincin lamaran selalu di kenakan di jari manis?" Lingga memberikan pertanyaan kepada Maya di sambut gelengan kepala dari Maya sebagai jawaban.


"Ini karena menurut keyakinan kuno, di jari manis terdapat nadi yang mengalir langsung ke jantung. Selain itu, vena jari manis disebut dengan vena amoris atau vena cinta. Dan cinta kita akan abadi."


"Berarti Abang juga harus memakai cincin, bukan hanya sebagai simbol pernikahan tetapi dengan cincin akan menambah ikatan cinta kita."


"Ya, May.. Nanti saat Abang sudah mengikatmu dengan sebuah janji suci pernikahan kita akan memakai cincin yang sama. Abang sudah persiapkan."


"Lalu cincin ini?" Maya bertanya dengan mengusap cincin yang sudah melingkar di jari manisnya.


"Ini cincin lamaran Abang, May... Akan berbeda dengan cincin pernikahan. Abang akan menghias tubuhmu dengan perhiasan yang sangat indah dan memiliki nilai tinggi. Karena kamu terlalu berharga buat Abang. Kamu perhiasan Abang May.."


"Terimakasih Bang." cup …cup, Maya bergerak mengecup kedua pipi lingga


"May jangan terus bergerak, kamu semakin membangunkannya." Efek gembira Maya tidak bisa diam berada di pangkuan Lingga.


Maya nyengir saat menyadarinya.


"Maaf Bang.. sengaja.." Maya menggoda Lingga


"Nakal kamu, May.. Membangunkannya berarti kamu harus tanggung jawab."


Tanpa dosa Maya hanya tertawa melihat wajah Lingga yang berubah menegang, segera Lingga menenggadahkan kepala ke atas seraya membuang nafas.


"Oh, May.. Sepertinya pernikahan kita harus di percepat."


****


Bersambung ❤️


Terimakasih untuk semua komentarnya teman-teman.. Semoga saya tetap bisa memberikan bacaan yang menarik walaupun banyak typo.. Suka kepeleset dan kurang hurupnya... Tengkiyuuu untuk semua macam-macam Lopeee sekebon nya.. Kapan panennya yakkkk...


Untuk yang di Magelang.. Blitar.. Tuban.. Malang.. Dan kota lainnya salam sayang yaa... Terimakasih untuk mau bersabar membaca novelku ini..