
"Oleh.." Mak Kom menegur sesosok pria yang di kenalnya sebagai keponakannya. Tengah berada di pemakaman
"Mak.." Pria itu juga tidak menyangka akan bertemu dengan Mak Kom di pemakaman
Setelah mendapatkan kabar dari Dina semalam, Kang Oleh bersama Kang Ncup segera meluncur ke pemakaman jam 6 pagi. Sebagai teman dekat dan sangat mengenal Maya, Kang Oleh turut prihatin. Iapun ikut terpukul, mengetahui kabar dan kondisi Maya dan kandungannya.
"Kenapa ada disini?" Mak Kom bertanya.
"Mak juga kenapa ada disini?" Kang Oleh balik bertanya
"Ini anak!" Mak Kom mengeplak tangan Kang Oleh. "Di tanya malah balik nanya?"
"Melayat, Mak.. Masak mau ke restoran cari sarapan! Kan puasa."
"Tuh mulut! Gak berubah-berubah! Paling demen ngegodain orang tua." Mak Kom kembali mengeplak bahu.
"Disayang kenapa Mak? Setiap ketemu nih badan pasti pada memar-memar." Kang Oleh bicara sambil mengusap-usap bahunya. "Neng Maya itu temennya Oleh, Mak.. Temen di tempat kerjaan.. Oleh juga kenal sama Tante Rossa." Kang Oleh menjelaskan.
"Yang benerrr??" bertolak pinggang, Mak Kom menatap Kang Oleh dengan serius, dan di jawab dengan anggukkan oleh pria bernama Solehudin.
"Yahh ampuunn… Leh, Leh." Mak Kom teringat obrolannya dengan Maya sebelum kabar dan kejadian buruk datang menimpanya.
"Dunia tak seluas daun pisang." ucap Mak Kom sambil mengeleng-gelengkan kepala.
"Daun kelor, Maaakkk…" Kang Oleh membenarkan.
Kang Ncup cekikikan melihat Oleh dan Mak Kom bicara
"Nah.. kalau si Ncup bin Udin?" Mak Kom juga bertanya kepada pria yang juga di kenalnya sebagai tetangga dekat, sekampung, se-erte, juga se-erwe..
"Sama, Mak.. Neng Maya juga temennya Ncup.."
"Sejak kapan luh Cup kerja di jakarta? Bukannya babeh luh nyuruh ngawinin anaknya Hj. Bahar?"
"Kucing kali di kawinin.. Nikahin Emakkk." Ncup membenarkan
"Iya, Iya.. Nikah.." Mak Kom tertawa.
"Ogah ah Mak.. Bisa ambruk ranjang pengantin, kalau Ncup nikah sama si Marimar."
"Gaya luhh.." Mak Kom menoyor kepala si Ncup. "Jangan mencela anak orang." Mak Kom mengingatkan.
"Fakta, Mak.. Faktaaa... Si Soleh saja kaburrr.. Apa lagi Ncup!"
Konon katanya, seorang wanita bertubuh tambun yang menjadi tetangga lima langkah di kampungnya. Patah hati karena cintanya di tolak sama Kang Oleh. Yang konon katanya juga, Kang Oleh sudah memiliki wanita incaran dan tidak mencintai Marimar.
Sakit hati, Marimar meminta sang babeh Bahar melamar Kang Ncup yang menjadi sahabat Oleh untuk menjadi suaminya. Akhirnya Kang Ncup ikut kabur ke Jakarta mencari keberadaan Kang Oleh dan ikut bekerja sebagai tukang parkir, sebelum keduanya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik untuk masa depan mereka.
Mereka berkumpul di bawah pohon rindang ketika para keluarga sedang menunggu Lingga yang masih berjongkok di depan pusara.
"Kaaanggg…" suara Dina, memekakkan telinga. "Kok Dina baru liat?" Dina datang ikut bergabung bersama Kang Oleh, Kang Encup, dan juga Mak Kom.
"Ini Neng Dina Mak.. Sohibnya Neng Maya, temannya Oleh juga." Kang Oleh menjelaskan.
"Iya, Emak sudah kenalan... Iya, kan Neng?" Mak Kom tersenyum kepada Dina.
"Iya, Mak.." Dina balas tersenyum nyengir.
Dina tidak sadar, interaksinya dengan Kang Oleh mendapat tatapan tajam dari Lexsus yang berdiri tidak jauh dari Lingga. Pria manise itu tampak tidak suka, melihat Dina yang terlihat menempel di samping Kang Oleh.
"Kang, Dina kangen tauu.." sudah menjadi kebiasaan, keduanya akan mengobrol dengan gaya dan bahasanya.
"Sama, Neng.. Kang Oleh juga kangen, Jalan kenangan sepi gak ada Neng Dina.. Gak ada yang teriak-teriak.."
"Ishhh.. Si Akang mah.. Kirain kangen beneran!" Dina tampak cemberut.
"Iyaa, Neng.. Kang Oleh juga kangen. Kangen Neng Dina, kangen Neng Maya.. Gak ada temen ngobrol. Gak ada tempat ngadem kalau ruko tutup.."
"Diihhhh.. Tetep aja, ujung-ujungnya, yang di cari tempatnya!"
"Enggak, Neng.. Yang di cari tetep Neng Dina sama Neng Maya."
"Tapi, Neng.. Gimana kondisi Neng Maya?" Kang Oleh teringat Maya
"Kapan Butiq buka Neng?" Kang Ncup bertanya, ketika Dina dan Oleh terdiam.
"Belum tau Kang.. Bunda masih berduka.. Dina juga di minta pulang ke rumah Bunda untuk membantu mempersiapkan acara kirim doa selama 7 hari."
"Kang Oleh datang ya?" Dina meminta
"InsyAllah, ya Neng.. Kang Oleh usahakan.."
"Anri.. Ayok.." Daeng menunjukkan wajah dingin super datarnya. Pria itu meminta Dina untuk mendekat kepadanya.
"Siapa Neng? Galak bener" Kang Ncup bicara dengan berbisik, menyempatkan bertanya sebelum Dina melangkah pergi.
Kang Oleh menginjak kaki si Ncup, sebagai kode agar temannya itu tidak asal bicara, hingga membuat pria itu berteriak mengaduh..
"Aawww. !! Sakit Oleehhh…" Kang Ncup mengusap kakinya.
"Dina tinggal ya Kang.."
Dina pergi dengan tertawa, melihat Kang Ncup kesakitan akibat injakan Kang Oleh. Sedangkan Mak Kom sudah pergi sedari tadi saat melihat keluarga yang hadir satu persatu sudah masuk ke dalam mobil.
"Ya, Neng.." Kang Oleh yang menjawab.
"Siapa tuh, laki-laki yang manggil Neng Dina Leh?" Ncup masih penasaran.
"Calon lakinya Neng Dina?"
"Yang benerrr?? Nemu dimana tuh Neng Dina? Lakinya kenapa mirip mafia yakkk...??" Kang Ncup bicara sambil melihat Dina yang di gengam tangannya oleh Lexsus.
"Mak Kom kedua." Kang Oleh ngeloyor pergi meninggalkan Ncup, ke tempat ia memarkirkan sepeda motornya.
"Leehhh... Tunggu.." Kang Ncup mengekor di belakang Solehudin.
°°°°°
Sedangkan di seberang jalan, seorang wanita tengah memperhatikan dari dalam mobil yang ia berhentikan di ujung jalan. Wanita itu adalah Lusiana, dia tidak berani mendekat ke area pemakaman.. Dia tidak berani walau hanya untuk sekedar mengucapkan belasungkawa atas kematian calon sang putra dari Lingga.
Tetapi Lusiana berencana akan menemui Lingga atau Cjokro, mantan suaminya.
Ia sedang mencari cara.. Bagaimana ia bisa menemui salah satu dari kedua pria itu? Lusiana juga sedang mencari tau kabar dan kondisi Maya saat ini.
Bunyi ponsel mengalihkan pandangannya dari area makam. Dilihatnya nama Alisa tengah memangil.
Mengangat panggilan, Lusiana mendengarkan teriakan dan tangisan putrinya dari seberang telfon. Wanita itu ia kunci dalam kamarnya.
"Hancur, Lisa Ma.!! Hancur.!! Ini semua pasti ulah Lingga.. Bagaimana dengan karir Lisa, Ma??" wanita itu panik dan kacau.. Suaranya gugup dan gemetar.. Sesekali ia beteriak histeris.. Terdengar suara bantingan barang pecah kelantai.
"Lisa.. Ada apa? Bicara yang benar.!! Mama tidak paham! Apanya yang hancur?" Lusiana tampak kaget mendengar Alisa menangis sambil berteriak..
"Jawab Mama Alisa? Ada apa?"
"Lingga Ma.. Lingga sudah membongkarnya! Dia mempermalukan Lisa Ma.! Lingga menghancurkan karir Lisa Ma!!"
"Karir? Karir apa Lisa? Jelaskan yang benar? Jangan membuat Mama bingung?"
"Buka ponsel Mama. Video itu tersebar, Ma.. Bagaimana Ini, Ma?? Beberapa produk kecantikan yang mengontrak Lisa sebagai brand ambassador sudah memutuskan kerja sama secara sepihak Ma.."
Lusiana tersadar saat Lisa menyebut soal video. Wanita itu segera membrowsing, membuka akun sosial media miliknya.. Ia membuka sebuah link yang tersebar dengan berbagai macam judul. Sebuah link yang tidak bisa di hapus.
Lusiana menutup mulutnya karena shok. Saat melihat, mengetahui isinya apa.
Tubuhnya lemas bersandar di kursi kemudi.. Perbuatan sang putri saat berhubungan dengan Steven sudah tersebar luas pagi hari ini.
Berbagai macam komentar pedas dan hujatan dari para netizen mewarnai kolom komentar.
"Alisaaa…" mulutnya terdengar lirih menyebut sang putri kesayangannya.
****
Bersambung ❤️
Obat sedih.. Kangen Kang Oleh