
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi menjelang siang. Dina masih tertidur lelap meringkuk dalam lembutnya selimut tebal. Tubuhnya terasa remuk redam. Menjelang pukul 2 malam, Lexsus kembali meminta, memesrainya lagi. Bahkan dengan durasi yang lebih lama dari sebelumnya.
Pria manis itu benar-benar tidak melepaskannya barang sejenak. Baru sekitar jam 4 pagi, Lexsus berhenti dan membiarkan Dina tidur dengan nyenyak dalam rengkuhannya.
Perlahan membuka mata, tangannya meraba tempat tidur di samping yang sudah kosong. Dina tidak melihat sosok pria yang mendekapnya hangat setelah bercinta. Terdiam beberapa saat, mengumpulkan nyawanya. Wanita dengan tubuh lunglai itu beranjak bangun dari tidurnya.
Menyingkap selimut yang membalut tubuh tel**jang-nya. Dina meraih segelas air putih di atas nakas, meneguknya hingga tandas. Dan ia ingin segera mandi membersihkan diri supaya segar. Pendingin ruangan kamar itu tidak bisa menghilangan aroma sisa-sisa percintaan semalam.
Tersenyum saat mengingat bagaimana liarnya ia semalam, Dina merasa bahagia bisa memberikan kepuasan dan melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Biarpun lelah, perih menderanya. Akan tetapi Dina merasakan kepuasan tersendiri di relung hatinya, saat ia bisa melayani sepenuhnya apa yang di inginkan Daeng Lexsus.
Sadar akan ada banyak wanita cantik di luaran sana, Dina harus memberikan pelayanan yang terbaik serta mengenyangkan rasa lapar makhluk kecil di bawah pusar sang suami yang sewaktu waktu berubah menjadi singkong bakar.
"Aww.." Dina mendesis lirih saat menurunkan kaki menginjak lantai, wanita itu harus menahan rasa kurang nyaman pada area sensitivnya. Suara bunyi pponsel menahan langkahnya menuju kamar mandi. Dina secepatnya mengangkat telfon saat tertera nama ‘ Daeng manisku ‘ menghubunginya.
"Anri sudah lama bangun?" suara berat Lexsus terdengar menyapa lebih dulu.
"Baru saja.. Daeng ada dimana? Kenapa tidak membangunkan Dina? Kenapa tidak mengajak Dina?" Dina membrondong banyak pertanyaan.
"Tidurmu nyenyak Anri.. Maaf, Daeng sudah membuatmu kelelahan.."
"He'em … tapi Andri suka.." tanpa pura-pura Dina jujur mengakuinya.
"Berarti kita masih bisa melanjutkannya?"
"Ishh..." Dina tak tau harus menjawab apa. Teapi terdengar suara tawa pelan dari pria dingin itu di ujung telfon.
"Apa masih terasa sakit?" Lexsus memastikan.
"Sedikit.." ucap Dina.
"Berendamlah dengan air hangat, pasti akan cepat membaik." saran Lexsus
"Daeng tidak mau menemani?"
"Jangan memancing Andri.."
"Daeng akan segera menyusul Anri.."
"Oh iya, Daeng ada dimana?" Dina teringat suaminya itu belum menjawab pertanyaannya.
"Di Coffe Shoop area gym. Daeng sedang bersama Pak Lingga."
"Bersama Maya juga?" Dina memastikan si Neng ada disana.
"Tidak Anri.. Bu Maya ada di kamarnya."
"Daeng akan menjemput Anri untuk sarapan. Sepuluh menit lagi Daeng akan kembali ke kamar. Segeralah mandi, kita akan makan bersama."
Menutup panggilan, jempolnya segera mencari kontak Maya di aplikasi pesan dan menekan panggilan.
"Halo, pengantin baru." terdengar suara serak baru bangun tidur.
"Dihhh … pengantin lama baru bangun.." cibir Dina dari balik telfon.
Terdengar suara tawa Maya dari seberang. "Ngantuk Dinaaaa… Gimana gimana? Gimana rasa singkong bakarnya? Enak gak?" Maya bertanya seraya cekikikan.
"Beeeehhhhhh.!! Neengg... Tau rasanya enak gini mahh dari dulu udah Kawin lagi.!" gesreknya Dina mulai beraksi.
"Untung ketemu Lexsus pria dingin si hitam manis. Coba kalau masih sama Kang Jujun! Dapetnya pasti bukan singkong bakar." goda Maya
"Terus dapetnya apa Neng?" Dina masih saja kosong otaknya kalau sudah berhadapan dengan Maya.
"Dapetnya pisang uli kukus." jawab Maya seraya tertawa terbahak.
"Neeeeenggg…!!" Dina berteriak merasa di kerjai.
"Terus kalau punya si Abang apa?"
"Kepoooo… Mau tau? Apa mau tau banget?" Maya balik mencibir.
Dua wanita yang baru saja melewati malam panjang dengan cara yang berbeda itu bergosip ria melalui sambungan telfon, hanya dinding tebal sebagai pembatas, karena suitte room mereka yang bersebelahan.
"Mau tau banget Neng." Kasih tau donk?"
Keasikan ngobrol, Dina sampai melupakan rasa kurang nyaman dan niat ingin membersihkan tubuhnya. Wanita itu kembali duduk di atas tempat tidur.
"Apa Neeengg?? Dina bertanya lagi Ketika Maya belum memberitahunya.
"Diihhh.. Maksa." ucap Maya.
"Bukan maksa Neng Mayaaa.. Tapi penasaran tingkat tinggi."
"Sama saja Nenng Dinaaa…"
"Kebalik Neng.. Ponselnya yang di tempelin ke kuping." Dina semakin geregetan di buatnya.
"Hahaha…" Maya semakin mengencangkan tawanya.
"Kalau punya Abang rudal panjang yang selalu siap bertempur." Maya berbisik di sisi ponsel.
"Rudal itu seperti apa Neng?" Dina masih meraba-raba ucapan Maya. Otaknya belum sepenuhnya menangkap ucapan sahabatnya.
"Tanya sana sama Daeng."
"Kenapa harus sama Daeng?" tanya Dina lagi
"Soalnya otak Anri Dina lagi lemot kebanyakan ronde." Maya terbahak-bahak seraya menutup telfon.
"Neng.. Neeengg.. Kebiasaan si Neng.. Belum selesai ngomong sudah di tutup."
°°°°°
Sedang asyik tertawa kencang, Maya langsung mematikan sambungan telfon saat lengan kokoh dan aroma tubuh yang sangat di kenalinya memeluk tubuhnya dari belakang. Wanita itu masih merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Abang.." Maya berbalik ke belakang.
"Kamu terlalu asyik bergosip May, Apa yang membuat bidadari Abang ini tertawa senang?" Lingga menyelipkan rambut Maya ke belakang telinga.
"Tidak ada Bang.." Maya melipat bibirnya menahan tawa. Senang sekali rasanya ia bisa menggoda sahabatnya itu.
"Kenapa kesayangan Abang ini suka sekali menggoda temannya?" Lingga memencet menggoyangkan hidung Maya.
"Mumpung ada kesempatan Bang. Kapan lagi coba?" ungkap Maya
"Kenapa milik Abang di samakan dengan rudal?" Lingga tersenyum simpul.
"Abang nguping ya?" wajah Maya tampak merona malu karena ketahuan membahas milik pribadi para suami.
"Tidak menguping Honney, hanya tidak sengaja terdengar."
"Issh.. Abang … sama saja tau." Maya berbalik memunggungi Lingga tersenyum menahan malu.
"Abang pastikan rudal milik Abang tak kalah nikmat rasanya dari singkong bakar, May.. Sampai membuat Mayaku merajuk menginginkan-nya lagi." menyangga kepala dengan satu tangan. Lingga berbisik pelan di telinga sang istri.
Membuat Maya menelusupkan wajahnya ke bawah bantal.
"Dan tidak akan lama lagi rudal itu akan segera di lepaskan dari tabungnya, May. Dia akan bertempur, melesat tinggi menuju bulan dan kembali lagi ke bumi untuk menghancurkan musuh sehingga habis terkapar tak berdaya."
"Bummm..!!"
Lingga mengangkat tangannya memperagakan bak pesawat tempur yang sedang terbang menukik tajam dan bersiap-siap melepaskan senjata. Pria itu senang sekali menggoda Maya yang belum mau menjauhkan bantal dari wajahnya.
"Dan sebelum rudal itu mendapatkan tugas, sang pemiliknya harus memandikan bidadari cantik ini dulu. Karena Mayaku harus segera sarapan dan menghabiskan obatnya. Agar Mayaku kuat untuk turun ke medan perang."
"Ayok, Honney.." Lingga menjauhkan bantal dari wajah Maya. "Kita akan turun ke bawah untuk sarapan bersama-sama. Bunda dan yang lainnya sudah menunggu."
"Gendong. Dengan manja Dina mengulurkan kedua tangannya setelah Lingga menjauhkan bantal dari wajahnya.
Beranjak bangun terlebih dahulu. Lingga duduk di tepi tempat tidur memunggungi Maya setelah ia menarik uluran tangan Maya. Pria tampan dengan postur tubuh tinggi tegap berisi itu meminta agar Mayanya melingkarkan kedua tangan di lehernya dan membelitkan kaki di pinggangnya.
"Siap..?? Kita akan terbang." Lingga memutarkan tubuhnya.
"Baaanggg…" Maya mengeratkan pelukannya seraya tertawa lepas. Pria itu tak hilang cara, selalu membuatnya tersanjung, tertawa bahagia.
"Cukup Bang.. Nanti jatuh.." Maya bicara masih dengan tertawa lepas.
"Abang tidak akan membiarkanmu jatuh , May.. Abang tidak akan membiarkanmu terluka." Lingga menghentikan aksinya.
"Maya berat ya Bang." Maya bertanya seraya mengeratkan rengkuhannya di pundak Lingga saat Pria itu melangkah-kan kaki ke kamar mandi. Maya sangat menyukai moment disaat Lingga menggendongnya dari belakang.
"Seberapa pun beratnya, Abang tetap kuat May."
Klek..
Membuka pintu kamar mandi, Lingga mendudukkan Maya di atas marmer dengan cermin besar.
"Tunggu … Abang akan siapkan dulu airnya.."
Maya tidak berhenti tersenyum memperhatikan gerak gerik pria yang selalu membawanya melayang ke angkasa lepas...
Menuju bulan yang menjadi saksi semalam.
****
Bersambung ❤