
Masih flashback
Tiga minuman dingin yang telah di pesan oleh Reno sudah tersaji di atas meja. Duduk saling berhadapan, Lendra mulai mendengarkan apa yang akan di sampaikan sahabatnya itu.
"Kenalkan Lend, wanita yang tengah hamil 7 bulan ini bernama Linda. Dia istriku, wanita yang sesungguhnya aku cintai dan sayangi. Kami satu kampung. Selama kita berteman aku memang tidak pernah bercerita kepadamu kalau aku sedang dekat dengan wanita. Setelah lulus kuliah dan aku mendapatkan pekerjaan kami menikah.
"Lalu Hena?" tanya Lendra.
"Sebenarnya apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, semuanya tidak benar. Aku dan Hena tidak pernah menghianatimu, Lend. Apa yang di sampaikan Hena semuanya tidak benar. Yang sebenarnya adalah, Hena sangat mencintaimu."
"Percaya kepadaku Lend, aku bersumpah demi anak yang berada dalam kandungan istriku, kami tidak pernah menghianatimu. Hena tidak pernah meninggalkanmu. Dia wanita yang setia."
Wajah Lendra mulai sedikit berubah, tidak sedingin sebelumnya. Hatinya mulai melunak. Lendra masih terdiam, mendengarkan apa yang di sampaikan Reno. Pikirannya pun mulai mengingat beberapa tahun kebelakang. Lendra mengingat lagi semua ucapan Hena saat meminta untuk tidak melanjutkan hubungan. Hingga membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Sebelum berangkat ke sekolah, pagi hari saat kelulusan. Hena datang menemuiku dengan wajah sembab. Aku bisa menebak kalau telah terjadi sesuatu terhadapnya. Dengan berderai air mata, Hena menceritakan perjalanan hidupnya sedari bayi hingga ia bisa berada di rumah seorang pria kaya yang sudah menganggapnya anak."
"Seorang pria yang sudah memberikan tempat tinggal untuk Ibu dan dirinya. Pria itu juga yang sudah banyak membantu untuk biaya sekolahnya. Hingga, Hena harus di hadapkan dengan sebuah pilihan. Tepatnya sebuah permintaan yang tidak bisa di tolak." Reno terdiam beberapa sesaat.
"Permintaan apa? Siapa yang meminta?"
Lendra rasanya sudah tidak sabar untuk segera mendengar dan mengetahui segalanya.
"Nara.." ucap Reno
"Nara?" Lendra masih mengingat dengan jelas satu nama yang sampai hari ini masih mengejar dan menghubunginya. "Apa hubungannya dengan Nara?" tanya Lendra
"Maminya Nara menikah denga pria kaya yang sudah banyak membantu Hena. Kamu masih ingat gosip yang berkembang saat di sekolah. Bahwa Hena adalah anak dari seorang pembantu yang dapat melanjutkan pendidikan di sekolah ternama karena belas kasihan dari sang majikan."
"Naralah yang menyebarkan beritanya."
"Dan Nara pula-lah yang meminta Hena untuk meninggalkanmu sebagai jasa dan balas budi yang telah orangtua Nara berikan kepada Hena dan Ibunya. Memilihku hanyalah sebuah alasan Lend… dan aku yakin, sampai hari ini Hena belum bisa menghapus namamu dari dalam hatinya."
"Terakhir kabar yang aku dengar… saat ini Hena bekerja di sebuah rumah sakit terbesar di Jakarta."
°°°°°
Di rumah sakit keluarga sehat.
Melangkah pasti, Lendra berjalan mendekat ke arah dimana ketiga orang yang sedang duduk bercengkrama di taman. Dengan membawa satu bucket bunga lily yang ia sembunyikan di belakang tangannya. Lendra dapat mendengar jelas apa yang sedang ketiganya bicarakan sambil sesekali Burhan menyuapi potongan buah kepada wanita yang duduk di atas kursi roda.
"Om.." sapa Lendra.
Menengok kebelakang, Burhan tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Sesosok pria muda yang sangat di kenalnya. "Lend.."
Sedangkan Hena tampak terkejut tidak menyangka akan melihat pria yang sedang memenuhi pikirannya. Hatinya ikut bertanya, mengapa Lendra mengenal sang Ayah dan terlihat sudah sangat mengenal dan dekat.
"Tante.." Lendra mencium punggung telapak tangan Rindia sambil menyerahkan bucket bunga yang beraroma wangi setelah sebelumnya mencium tangan Burhan terlebih dahulu.
"Indah sekali bunganya, Nak… terimakasih, Tante sangat menyukai bunga lily." Rindia tersenyum ramah walaupun ia belum mengetahui siapa laki-laki tampan itu sebenarnya.
"Sepertinya bukan suatu kebetulan kita bertemu di taman rumah sakit ini Lend." ucap Burhan
Pria tua yang masih tampak gagah itu sangat mengerti dengan situasi yang terjadi antara putrinya dan Lendra. Tidak beda dengan Lendra, iapun mencari tahu masa-masa remaja Aya.
"Om Burhan adalah orang yang paling bisa di andalkan oleh Papa Cjokro. Tidak sulit juga buat Om untuk mengetahui semuanya." Lendra bicara seraya tersenyum simpul, dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku jaket kulitnya.
Keduanya tertawa penuh arti.
"Mas tidak mau mengenalkan siapa pria muda nan tampan ini?" tanya Rindia. Wanita itu memotong obrolan kedua pria itu. Sedangkan Hena masih terdiam tak bersuara dengan perasaan canggung dan hati berdebar
"Anak muda ini anak dari Sutan Hadid, adik dari Sutan Cjokro, Rin. Dan sepertinya kita harus segera kembali ke kamar. Sudah cukup lama kita berada di luar. Kamu harus istirahat." Burhan memberi kode kepada Rindia agar mengerti.
"Tante tinggal dulu, Nak … terimakasih untuk bunganya." ucap Rindia sebelum meninggalkan Lendra dan Hena.
Melangkah mendekat menghampiri Hena, wanita yang sedari tadi berdiri menunduk sambil memainkan ujung kemejanya. Rasa gemetar dengan dada berdebar tengah di rasakan wanita itu. Sedikitpun Hena tidak berani melihat apalagi menatap sorot mata Lendra yang berjalan mendekatinya.
"Apa ada yang kamu sembunyikan selama kita berpisah?" tanya Lendra seraya mengangkat dagu wanita itu agar menatapnya.
"Tidak ada.." ucap Hena pelan.
"Kamu yakin? Kamu sedang tidak berbohong?" cecar Lendra
"Tidak ada." Hena kembali mengelengkan kepalanya, mencoba menghindar tatapan mata Lendra.
"Tapi kenapa kekasihmu itu menikah dengan Linda?" tersenyum simpul Lendra sedikit menggoda Hena. Kalau boleh jujur, ingin rasanya Lendra langsung menarik wanita itu, membawa ke dal pelukannya.
"Apa?!" Re.. Reno?" Hena terkejut mendengarnya.
"Ya, kekasihmu yang bernama Reno. Bukankah kalian berencana ingin menikah muda dan menetap di kampung halaman?" Lendra kembali menarik dagu Hena agar menatapnya.
"Emmm… Emm.. itu ya… ituuu, kami sudah berpisah." Hena masih terus mencari alasan dengan bola mata yang terus bergerak.
"Berpisah? Kenapa berpisah?" Lendra berusaha menahan tawanya melihat tingkah Hena. "Apa karena kamu belum bisa melupakan seseorang?" tanya Lendra
"Tidak.." Hena masih mengelengkan kepala untuk kesekian kali. "Kami hanya tidak cocok." Elaknya.
"Tidak cocok? Bukankah kalian pasangan yang sangat serasi dan saling mencintai? Kenapa bisa tidak cocok? Bahkan kamu pernah berucap kalau di dalam hatimu hanya ada Reno seorang." Lendra terus membalikkan ucapan Hena.
"Kamu menyebalkan Lend.!!" tidak mampu mengelak lagi, Hena memukul dada Lendra dengan kepalan tangannya. Seketika tangis wanita itu pecah. Hena tak sanggup lagi menahan gejolak yang tengah di rasakannya. Rasa rindu, rasa penyesalan, rasa cinta bercampur menjadi satu menghantamnya.
Lendra membiarkan Hena menumpahkan isi hatinya, dengan cara memukul, menangis. Lendra membiarkan Hena meluapkan beban yang selama ini di pendamnya dan Lendra mendengarkan.
"Aku jahat Lend, aku berbohong, aku meninggalkanmu.." Hena mencengkram jaket kulit Lendra dengan tangisan yang semakin pilu terdengar. Kelopak matanya berair, tetapi Hena paksakan untuk mampu menatap mata Lendra.
"Tapi satu hal yang harus kamu tau Lend, aku tidak pernah berkhianat. Aku tidak pernah bisa membuang rasa cinta ini buat kamu."
"Aku mencintamu, Lend.. Aku mencintaimu.." dengan tergugu Hena berucap.
"Ucapkan lagi Hena.. Ucapkan lagi.." pinta Lendra.
"Aku tidak butuh penjelasanmu.. Aku hanya butuh ungkapan cintamu. Katakan Hena, katakan sebanyak mungkin." Lendra membawa tubuh kurus itu kedalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Lendra.. Aku mencintaimu.."
"Katakan juga kalau rasa cintamu buatku belum hilang. Kamu masih mencintaiku Lend."
Rasanya tidak perlu aku ucapkan, kamu sudah tau jawabannya Hena.. Aku baru menyadari, di balik rasa kecewaku selama ini. Ada rindu yang tak pernah-ku akui. Ada sosok wanita yang tidak bisa ku benci.." Lendra mengusap rambut Hena
"Aku mencintaimu Jalanaya Sidarta…"
"Aku mencintaimu."
"Mulai hari ini biarkan aku memanggilmu Aya.. Selain Ayah dan Ibumu. Akupun ingin menjadi orang yang paling berarti buatmu."
Dari kejauhan.. Burhan dan Rindia tersenyum bahagia menyaksikan sang putri mendapatkan lagi cinta sejatinya..
"Semoga hidupmu akan bahagia Aya.."
Ucap Rindia pelan.
****
Bersambung ❤
Terimakasih teman-teman masih setia menunggu Maya.. Mohon dukungannya yaa.. Maaf..
masih banyak kendala hingga blm bisa selalu UP setiap harinya 🙏