
Keesokan harinya tepat pukul 9 pagi.. Lingga dan Maya sudah berada di Bandara Internasional Lombok. Seminggu berada di pulau Lombok, cukup puas bagi keduanya mengunjungi banyak tempat indah dan romantis. Menikmati keindahan alam semesta ciptaan sang pencipta yang sungguh luar biasa menakjubkan mata.
Tak lupa, Maya membeli buah tangan khas Lombok berupa perhiasan mutiara, cemilan dan kain tenun untuk di berikan kepada teman, keluarga dan para orangtua yang di sayanginya.
Bandara hari ini tampak ramai oleh penumpang pesawat yang akan terbang, kembali ke berbagai kota. Dimana telah berakhirnya perhelatan balap motor di Mandalika yang selesai di selenggarakan. Lingga menyeret koper dengan kanan, dan tangan kirinya terus merangkul pundak Maya. Pria itu tak sejengkalpun membiarkan Maya jauh dari sisinya. Mereka masuk kedalam gedung untuk segera melakukan Check-in.
Lingga semakin merapatkan rengkuhannya, disaat menyadari ada paparazi yang tengah membuntutinya. Lingga acuh tak memperdulikannya, jepretan kamerapun ia biarkan. Sesekali ia bahkan mengecup pelipis Maya.
Setelah melakukan Check-in, masih tersisa waktu sekitar 2 jam menuju Boarding pass. Lingga mengajak Maya ke kedai yang meyediakan kopi dan ice cream. Kedai yang berada di dalam area Bandara.
Selain meminta Cilok, istrinya itu selalu minta di belikan ice cream. Selama di Lombok, Lingga minta di siapkan, di lemari pendinginnya berbagai macam ice cream kepada chef resto-nya. Keduanya sudah duduk berhadapan di dalam kedai, dengan segelas kopi hitam dan satu cup ice cream kombinasi rasa vanila dan coklat.
Sebelum menjabat pimpinan umum tertinggi di perusahaan Kabar Grup, Lingga sudah melewati banyak macam cara di lapangan sebagai jurnalis.
Tetapi ia tetap berada di jalur yang benar dan memakai kode etik sebagai acuan. Ia sudah sangat paham dengan gerak gerik para jurnalis yang diam-diam mengikutinya. Lingga sudah berpikir selangkah kedepan. Selagi tidak akan mengusik dan menganggu Maya, akan ia biarkan. Tetapi kalau sampai menganggu ketenangan dan membuat Maya tertekan, ia sudah akan segera mengambil tindakan.
"Bang, Maya ke toilet dulu ya.."
"Abang antar.." Lingga sudah akan beranjak dari duduknya.
"Abang tunggu disini saja.. Tuh.." Maya menunjuk arah toilet yang searah dan tak jauh dari kedai. Meletakkan tas dan ponsel di atas meja, Maya bergegas pergi menuju toilet wanita. Selesai membuang air kecil, dan mencuci tangan di wastafel di depan kaca besar. Secepatnya ia keluar, ia tidak ingin membuat Lingga khawatir.
"May." tiba-tiba, suara seorang pria mengentikan langkahnya. Pria itu menunggu di depan pintu toilet wanita.
Maya mengingat-ngingat siapa pria yang menyapanya.
"Masih ingat saya kan?" pria itu bertanya dengan mengingatkan Maya.
"Maaf, saya tidak kenal." permisi Mas.
Maya meminta agar pria itu tidak menghalangi jalannya.
"Saya Anton.. Kamu ingat? Temannya Haris. Saya pernah berkunjung ke rumah kalian di gang mawar." Pria itu mengingatkan lagi Maya.
"Maaf Mas, saya bener-bener lupa, dan saya tidak banyak mengenal teman Haris walaupun pernah berkunjung. Permisi, Mas.." Maya ingin segera pergi meninggalkan pria itu. Ia sudah tidak mau berurusan lagi dengan siapapun yang bersangkut paut dengan Haris. Dan ia memang benar-benar lupa dengan Anton.
"Haris mencarimu, May.." pria itu bicara lagi. "Haris tidak bisa kehilangan kamu, May. Saat itu Haris sedang tersulut emosi. Coblah untuk mengerti." Anton menyampaikan apa yang ia ketahui tentang Haris.
Degg... Langkah Maya seketika terhenti.
"Haris sangat membutuhkanmu, May.. Dia butuh suport dari kamu."
"Maaf, Mas …saya tidak mau membahasnya. Hubungan kami sudah berakhir." Maya segera pergi meninggalkan Anton dengan perasaan tak nyaman.
"Tapi masih bisa rujuk kembali, May.."
Ucapan pria itu masih terdengar saat Maya terus melangkah pergi. Menarik nafas pajang lalu menghempaskan-nya kembali, Maya membuang rasa sedih dan berusaha menunjukkan raut wajah gembira saat beberapa langkah lagi mendekat ke arah Lingga yang sedang duduk menerima pangilan telfon. Dengan manja Maya merangkul Lingga dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di pundak dan leher Lingga.
"Kenapa tiba-tiba manja seperti ini? Hemm.." Lingga bicara setelah menutup panggilan.
"Sangat suka May. Abang ingin kamu seperti ini terus. Tidak untuk saat ini saja."
"Ada apa?" Lingga bertanya dengan lembut
"Bang, ayok ke ruang tunggu.." Maya merengek meminta untuk segera meninggalkan kedai kopi.
"Ice cream-nya tidak di habiskan?" Lingga bertanya dengan tangan berbalik kebelakang, mengusap rambut maya. perubahan sikap Maya dapat di rasakan Lingga. Wanita itu membenamkan wajahnya di ceruk lehernya, Lingga dapat menebak ada sesuatu yang sedang di sembunyikannya.
"Ayok.." Lingga mengurai belitan tangan Maya dan beranjak dari kursi. Membuka dompet mengambil selembar kertas merah untuk di tinggalkan sebagai bayaran.
Mereka melangkah masuk ke dalam gedung, masuk kedalam ruang tunggu untuk menunggu jam keberangkatan.
Maya lebih banyak diam dengan merangkul lengan Lingga seakan takut kehilangan. 20 menit menunggu akhirnya pemberitauan keberangan sudah di suarakan melalui intercom.
Menggunakan First Class, Lingga menyamankan Maya supaya bisa tertidur dengan nyaman meluruskan kakinya. Sedangkan wanita itu diam tidak bicara sepatah katapun.
Lingga meraih tangan Maya, mengenggamnya saat wanita itu memejamkan matanya. Lingga akan mencari tau sesampainya di Jakarta.
°°°°°
Haris baru saja menerima beberapa gambar yang di kirimkan oleh Anton kepadanya. Ia bisa melihat dengan jelas keberadaan Maya bersama Lingga yang tengah berada di pulau Lombok.
"Maafkan Mas, May.. Mas terlalu emosi dan termakan omongan Mama dan Herman.. Mas, menyesal May.. Mas masih mencintaimu.. Kesehatan Mas sudah mulai membaik semua karena kamu May, kamu memberikan semangat dan harapan yang besar agar Mas bangkit kembali. Mas ingin bertemu dengan kamu May.. Sangat ingin bertemu." Haris terus bermonolog sendiri dengan pandangan tak lepas dari layar ponselnya.
"Kamu bertambah cantik, May.. Wajah teduhmu selalu membuat Mas nyaman.. Mas kangen kamu, May.." Haris terus bicara dengan hati yang terasa remuk.
Ia mengingat kembali pertengkarannya dengan Maya yang berakhir dengan talak. Ia juga mengingat dengan jelas perdebatan Herman sang adik ipar dengan Tika adik kandungnya. Sebulan setelah kepergian Maya. pasangan suami istri itu bertengkar hebat di sebabkan oleh orang ketiga, Tika mengetahui kalau suaminya Herman sering jalan dengan wanita lain di luaran.
Yang lebih menyesakkan.
Herman juga mengakui kalau selama ini ia mengejar Maya. Bahkan sangat mencintai Maya. Dengan lantang juga, Herman mengakui kepada istrinya yang tengah hamil 7 bulan saat itu, bahwa ia yang mendekati Maya selama ini. Ia kagum akan ketegaran dan kesabaran Maya. ia menyukai kelembutan diri Maya. ia mengilai semua yang ada di diri Maya.
Pria itu akhirnya bicara dengan jujur apa adanya, kalau selama berumah tangga dengan Tika ia merasa tidak nyaman. Tika di anggap terlalu banyak menuntut dan membatasi kebebasannya.
Seperti sebuah karma, setelah ia mentalak Maya. Berujung dengan Herman yang juga mentalak Tika yang baru saja melahirkan. Seperti sebuah hukuman. Saat ini Tika kembali kerumah besar tanpa di antar oleh Herman.
Sudah 2 bulan, Haris bekerja sebagai Staf Sirkulasi di perusahaan Media elektronik di perusahaan tempat Anton bekerja. Atas bantuan Anton pulalah ia bisa di terima di perusahaan Berita Grup.
"Mas, ingin bertemu denganmu, May.. Salahkah jika Mas, berharap kita bisa bersama lagi?"
"Kita pernah saling mencintai, May.."
****
Bersambung ❤️