
Dina mewek kejer, setelah membaca surat dari Maya. Temannya itu berpamitan kepadanya dan menitipkan gold card agar ia mengembalikannya kepada sang pemiliknya. Tetapi, isi surat yang di tulisnya, Maya tidak menyebutkan dia akan kemana.
Baru berencana, sepulang kerja akan menemui Maya di kontrakannya, seorang pria berumur menggunakan jaket hijaunya memberikan amplop putih kepadanya.
Flashback.
Dari hari dimana Maya menitipkan surat kepada si Bapak, tiga hari kemudian si Bapak baru bisa mengantarkan surat titipan Maya. Tepatnya hari ini, sesuai alamat yang tertulis. Selain ada kerjaan yang tidak bisa di tinggal, sang istri kambuh sakitnya, sehingga ia tidak bisa meninggalkan bahkan tidak bisa bekerja.
Baru sore ini si Bapak menyempatkan, mengantarkan amanat dari wanita muda yang ia kenal bernama Maya.
Memperhatikan deretan ruko, si Bapak mencari plang bertuliskan Ros Butiq.
"Cari siapa Pak? petugas parkir yang tak lain adalah Kang Oleh bertanya.
"Cari Neng Dina, Kang.. Kerja di Ros Butiq." si Bapak menjelaskan sambil membaca keterangan alamat yang tertulis di bagian luar amplop.
"Ohh.. Neng Dina. Masuk saja ke dalam Pak. Orangnya paling lagi bengong di sofa."
Si bapak mengangguk mendengar ucapan Kang Oleh.
"Permisi.." si Bapak mendorong pintu kaca yang tergantung tulisan ' Buka '
"Mau cari pakaian Pak?" Dina beranjak dari sofa mendekati si Bapak.
"Bukan Neng, Bapak mau cari Neng Dina."
"Saya Dina, pak." Dina mengarahkan telunjuk ke dadanya.
"Alhamdulillah ketemu orangnya." si Bapak berucap syukur
"Ada perlu apa Pak?"
"Ini Neng, Bapak di titipin surat sama Neng Maya."
"Maya?!" Dina tampak senang mendengar si Bapak menyebut nama Maya.
"Mayanya dimana Pak?"
"Setau Bapak sih, Neng Maya pulang kampung. Ketemunya juga di jalan."
"Ketemu di jalan? Maksudnya bagaimana Pak?" Dina masih belum paham
Lantas, si Bapak menjelaskan urutan kejadiannya, sampai akhirnya Dina tau kalau ponsel Maya sudah berada di tangan si Bapak.
"Bapak cuma di mintai tolong buat nganterin surat buat Neng Dina."
"Surat?" Dina menerima amplop putih yang di sodorkan si Bapak.
"Sudah ya, Neng.. Bapak balik dulu."
"Ya, pak.. Terimakasih."
Tak sabar ingin segera mengetahui isinya, Dina langsung menyobek bagian ujung amplop dan kembali duduk di sofa. Tertulis rapih, beberapa baris kalimat, tulisan tinta hitam di atas kertas putih.
Untuk Dina
Hai.. Wanita cantik sejagad raya khusunya sepanjang jalan kenangan, idola para kaum adam.
Lagi jaga toko sendirian yaa.. hehe..
Semangat ya..
Saat kamu baca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di Jakarta, Din..
Jangan bertanya aku kemana, berdoa saja kita akan bertemu kembali.
Kalau Umi menghubungimu, bertanya keberadaanku.
Tolong sampaikan ke Umi, aku dalam keadaan sehat.
Jika waktunya sudah tiba. Aku akan pulang menemui Umi.
Din, terimakasih yaa.. Kamu selalu ada di setiap hari-hariku. Kamu selalu menguatkanku.
Tdak banyak yang bisa aku ungkapkan, tetapi satu hal yang kamu harus tau.
You are my best friend, forever
( kamu sahabat terbaikku, selamanya )
Oh, ya.. Tolong kamu kembalikan gold card ini ke Abang.
Jangan buat jajan cilok, karena di gerobaknya tidak menyediakan gesekan hehe..
Titip salam buat Kang Oleh.. Yang akur ya.. Jangan berantem mulu.
Bye Dina.
Dari sahabatmu Maya.
"Mayaaa..." hu hu hu..
"Neng.. Neng Dina kenapa menangis?"
Kang Oleh kaget, saat masuk ruangan melihat wanita yang biasanya ceria menangis tersedu.
"Maya, kang.."
"Neng Maya kenapa?" hati Kang Oleh ikut was-was mendengarnya, takut terjadi hal yang buruk menimpa Maya.
"Maya pergi kang.." Dina menjawab pertanyaan Kang Oleh masih dengan beruarai air mata.
"Maksudnya gimana Neng? Pergi kemana?" Kang Oleh masih bingung dengan ucapan Dina.
Kang Oleh mengambil selembar kertas dari tangan Dina lalu membacanya. Pria itu duduk di samping Dina setelah mengetahui isi surat yang di tulis Maya.
"Sudah Neng, jangan di tangisin. Berdoa saja semoga Neng Maya, selalu dalam keadaan sehat dan cepat kembali."
Kang Oleh bicara setelah terdiam beberapa saat. Sebenarnya iapun ikut merasa sedih. Selama 3 tahun berdampingan sebagai sesama pekerja, Maya terkenal akan kebaikan dan keramahannya.
Yang membuat Kang Oleh salut, banyak pria yang mencoba mendekatinya, bahkan mengirim salam melaluinya. Tapi Maya menanggapinya dengan biasa, wanita itu selalu menawarkan pertemanan sebagai jawaban.
Hanya Lingga, yang mampu membuka hati Maya, dan membuat wanita itu akhirnya terlena.
Teringat Lingga, Dina segera membuka ponsel untuk menghubunginya. Sudah lebih dari tiga kali panggilan, tetapi pria itu belum juga mengangkat panggilannya.
"Abang.. Ayok dong di angkat?"
Dina bicara sendiri sambil berjalan bolak-balik mirip setrikaan panas. Sampai akhirnya ia menyerah, memilih menunggu pria itu akan balik menghubunginya.
°°°°°
Di balai besar rehabilitasi.
Lingga sudah berada di dalam ruangan ketua yayasan. Wanita berkacamata, dengan di dampingi dua orang pria berseragam itu sedang menjelaskan, menyampaikan kalau Lisa, menggunakan lagi sesutu yang terlarang. Yang kemungkinan ia dapatkan dari seseorang, dan saat ini sedang dalam penyelidikan.
"Dari terakhir Bapak menjenguk Ibu Lisa, sempat datang dua orang pria, datang untuk menjenguknya. Malamnya petugas menemukan ibu Lisa sedang dalam keadaan sa*au. Petugas segera bertindak dengan menggeledah isi kamar, dan di temukan jarum suntik di dalam tasnya."
Lingga mendengarkan penjelasan yang di sampaikan. Ia meraup wajahnya dengan frustasi, sungguh wanita itu membuatnya kesal. Tetapi untuk saat ini, ia tidak bisa mengabaikannya.
"Kami akan memindahkan Ibu Alisa ke ruangan khusus. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang kami ijinkan bertemu untuk menjenguk Istri Bapak, sehingga kami membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga. Khususnya Pak Lingga sebagai suaminya."
Lingga menandatangi surat pernyataan, persetujuan bahwa hanya pihak keluarga yang di perbolehkan untuk bertemu, termasuk Roby sebagai perwakilannya.
"Dan, satu lagi Pak Lingga. Kami harus menyetop menu diet yang di konsumsi dari luar. Ibu Alisa harus makan dari makanan yang kami siapkan. Karena sudah sesuai standar giji dan kesehatan. Agar kami bisa memantau apa saja yang di konsumsi Ibu Alisa. Sebagai salah satu upaya pemulihan."
"Ya, saya akan mengikuti aturan yang ada. apapun keputusan pihak yayasan saya menyetujuinya. Lakukan apa saja yang menurut pihak yayasan baik untuk Lisa."
Setelah bicara panjang lebar, dan menyepakati kesepakatan. Lingga segera undur diri untuk meninggalkan ruangan.
"Apa Pak Lingga tidak ingin bertemu Ibu Lisa?" wanita berkacamata yang menjabat sebagai ketua yayasan itu bertanya.
"Tidak.." dengan tegas, Lingga menjawabnya.
"Baiklah, nanti akan saya sampaikan kalau Ibu Lisa bertanya. Terimakasih untuk waktunya Bapak Lingga."
Mereka saling berjabat tangan sebelum Lingga keluar dari dalam ruangan.
Melangkahkan kaki ke parkiran, Lingga sengaja tidak menutupi jati dirinya. Ia sudah tidak perduli jika ada pencari berita dari media lain melihatnya.
Bip..
Lingga menekan kunci mobinya dan terdengar suara pintu terbuka. Lingga masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudinya. Ia melihat ponselnya yang tergeletak tak di bawa yang ia taruh di dashboard kilometer.
Meraih ponsel, ia mengecek, berharap ada kabar dari Dina atau Lendra. Di lihatnya ada panggilan tidak terjawab lebih dari tiga panggilan dari nomor kontak Dina.
"Dina.." bibirnya tersenyum, berharap ada kabar baik yang akan di terimanya.
Tut.. Tut.. Tut..
Lingga balik menghubungi kontak Dina. Hingga panggilan berakhir, wanita itu belum juga mengangkatnya.
Lingga mencoba lagi, menekan panggilan kembali, sampai terdengar suara Dina bicara.
Lingga mendengarkan, apa yang di sampaikan Dina.
"Kamu sudah pulang Din?" Lingga bertanya sambil melihat jam di arlojinya, 10 menit lagi menunjukkan pukul 5.
"Kamu tunggu Abang di Ling’s caffe. Dua blok dari ruko tempatmu."
"Masuk. Temui Nanang. Tunggu di dalam."
"Abang menuju kesana."
****
Bersambung ❤️
Sabar yaa.. Gak lama kog.. Maya akan bertemu Lingga.. Aku juga gak sabar nulis ke uwu-an mereka 😁
Gak ada maksud berlete - lete.. Kebalik ya.. Hehehe...
Sebelum ketemu ikuti dulu alurnya ya