
Selesai pembicaraan-nya dengan Lingga, Dina segera pamit tidak bisa berlama-lama karena Kang Jujunnya menunggu di luar.
"Janji ya Bang. Abang bakalan temuin Maya." ucap Dina setelah ia menenggak habis juice alpukat pesanannya. Untuk kedua kalinya ia meminta Lingga berjanji. Sebelum ia melangkah pergi.
Bersalipan dengan Lendra saat Dina melangkah keluar. Dina melihat pria muda itu masuk ke dalam caffe.
"Itukan Kang Ojek yang pernah nganter Maya." matanya terus memperhatikan Langkah pria muda itu yang mengarah ke meja Lingga.
"Temennya si Abang kali yah?"
Dina hanya bisa menduga, sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya keluar menuju parkiran dimana Kang Jujun tengah menunggunya.
"Sudah lama Bang?" Lendra bertanya dengan gerakan tubuhnya yang mendudukkan bokongnya di sofa, bekas Dina duduk sebelumnya.
"Kurang lebih satu jam."
Lingga menjawab setelah menyeruput kopinya
Lendra memberi kode kepada Nanang agar membuatkannya minuman juga.
"Apa ini Bang?"
Lendra meraih selembar kertas yang masih tergeletak di atas meja, surat yang memang sengaja Dina tinggalkan.
Tidak perlu menunggu persetujuan, Lendra ikut membaca isi tulisannya dan meletakkannya lagi setelah selesai.
"Haris sudah kembali Bang."
Lendra menceritakan secara rinci penemuannya dengan memperlihatkan gambar di dalam ponselnya kepada Lingga.
"Dan, hanya ada Haris di rumah orangtuanya." Lendra terus bicara.
Dengan Lingga yang mendengarkan sambil memperhatikan layar ponsel milik Lendra. Ia dapat melihat dengan jelas beberapa gambar yang memperlihatkan kondisi dalam rumah yang di tempati Maya.
"Temen gua lagi di perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai. Gua minta dia bantu ngecek perjalanan di bandara, terminal, juga stasiun. Dia punya akses di biro perjalanan."
"Abang tau? Ayahnya salah satu orang-orang Wijaya Grup." Lendra terus bicara menjelaskan.
"Biar otak Abang gak buntu."
Lendra melemparkan sebungkus rokok ke hadapan Lingga dengan tertawa setelah Lingga selesai dengan ponselnya. Ia dapat melihat tampang Abangnya yang teramat kusut.
Lingga mengambil satu batang dan di nyalakan. Pria itu beberapa kali menghisap dan menghembuskan gumpalan asap yang keluar dari mulutnya. Seakan bisa membantu, mengeluarkan beban yang ada di pikirannya.
"Calon pemimpin perusahaan besar kacau begini. Ckk.." Lendra berdecak, mengejek sang Abang. Pria muda itu bicara dengan membuka jaketnya.
"Abang harus menemui Haris." Lingga akhirnya bicara setelah lama terdiam
"Abang yakin?" Lendra menatap serius pria di hadapannya.
"Ya, bagaimanapun yang terjadi dengan Maya, karena Abang."
"Hebat.. Abang gua sukses jadi pebinor." Lendra tertawa keras di sambut dengan lemparan bungkus rokok dari Lingga.
"Tapi gua dukung lu Bang.. Kalau bukan lu yang ngerebut Maya dari suaminya, gua pastikan, gua yang akan bertindak." tanpa sadar Lendra mengungkapkan isi hatinya.
"Dan gua gak akan biarin itu terjadi."
Lingga menjawab ucapan Adiknya. Hingga keduanya sama-sama tertawa dengan hati yang lirih.
"Gimana dengan kasus Alisa?" Lendra mengalihkan bahasan. "Abang sudah dapat rekamannya?"
"Sudah.. Sebelum Abang kesini."
"Lalu?"
"Sesuai dengan yang Abang pikirkan." Lingga balik menceritakan kondisi Alisa saat ini.
"Ckk... Ckk.. Apesnya lu Bang."
Tidak lama, sesosok pria yang di tunggu Lendara datang.
"Hai.. Bro." Lendra berdiri menyambutnya.
"Sorry jalanan macet."
"No problem.. Santai bro."
"Kenalin Abang gua." Lendra memperkenalkan Lingga.
"Sutan Lingga."
Keduanya saling berjabat tangan.
"So? Apa yang di butuhkan?" Rayan langsung bertanya ke inti masalah.
Mewakili Lingga, Lendra menjelaskannya.
"Ok.. Besok gua kabarin Bang." Rayan bicara dengan Lingga, pria muda yang seumuran dengan Lendra itu sangat menghargai Lingga, secara umurnya lebih tua darinya, sedikit banyaknya ia mengetahui siapa Lingga sebenarnya.
°°°°°
Lingga terbangun di jam 6 pagi. Ia tidak tidur di dalam kamar. Malas masuk kamar, semalam sepulang dari caffe, ia tertidur di sofa. Dan pagi ini telinganya samar-samar mendengar aktifitas di dapur. Mendengar suara peralatan masak saling beradu.
Entah sadar atau tidak, serasa masih terbawa mimpi. Mungkin juga efek pikiran yang terlalu banyak di penuhi dengan Maya, sehingga apa yang di dengarnya pagi ini membuatnya terlonjak bangun dari sofa, berlari ke arah dapur dengan memanggil Maya
Di mimpinya, Maya datang dengan menggunakan apron, menguncir rambutnya dengan asal. Dan bersiap akan memasak. Dan, ia mengira sosok wanita yang sedang berdiri di depan kompor itu Maya.
"Bapak." suara Mak Kom, sedikit menyadarkannya.
"Maaf, Pak. Berisik yaa? Jadi mengganggu tidur Bapak." Mak Kom merasa tidak enak sudah mengganggu tidur Majikannya.
Lingga masih berdiri berpegangan di meja makan, ia mengurai kesadarannya yang sempat hilang agar kembali terkumpul. Matanya baru terbuka lebar, ia baru menyadari bahwa wanita itu bukanlah Maya, tetapi Mak Kom pembantunya.
"Mak kapan datang?"
"Semalam, Pak.. Mak datang, Bapak belum pulang."
Mengabiskan waktu di caffe bersama Lenda dan Rayan. Sekitar jam 11 malam, Lingga baru kembali pulang ke apartemennya.
"Bapak cari Neng Maya?"
Mak Kom mendengar dengan jelas Lingga meneriakkan nama pekerja yang bernama Maya.
"Neng Maya belum datang Pak."
Mak Kom belum mengetahui kalau Maya sudah beberapa hari tidak bekerja lagi.
"Iya.." Lingga menganggukkan kepalanya dengan pikiran kosong. Ia kembai berbalik untuk masuk kedalam kamarnya tanpa suara.
"Pak Lingga kenapa ya?"
Mak Kom menatap punggung majikannya yang melangkah naik ke kamar atas dengan bingung.
"Bik.." Lingga berbalik, berhenti saat langkah kakinya sampai di tengah undakan tangga.
"Ya, pak.." Mak Kom melangkah mendekat.
"Buatkan saya nasi goreng terasi pakai teri." dan Lingga kembali melanjutkan langkahnya.
"Tidak biasanya si Bapak minta di buatkan nasi goreng." Mak Kom yang berdiri di bawah tangga, di buat terheran-heran dengan permintaan Lingga yang biasanya hanya minta di buatkan kopi.
Sekitar jam 7 Lingga turun dari atas sudah dalam keadaan rapih. Menuruni anak tangga, pria itu menggulung lengan kemejanya sampai siku. Ia sangat jarang menggunakan jas dan dasi kalau bukan untuk bertemu dengan client atau acara penting. Penampilannya yang selalu santai membuatnya tetap tampil berbeda.
Duduk di kursi meja makan, Lingga menyeruput kopi hitam dulu sebelum mencicipi nasi goreng terasi pakai teri sesuai requestnya. Ia dapat merasakan rasa kopi yang berbeda dari yang pernah di buat Maya.
Berpindah ke nasi goreng, pelan-pelan ia mulai mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya, dan rasanya pun tetap berbeda. Hasil olahan tangan Maya sunguh telah menghipnotisnya.
"Abang pasti akan menemukanmu May." ucapnya lirih dengan meletakkan kembali sendok di atas piring, ia tidak melanjutkan makannya.
"Bik.."
"Ya, Pak.." Mak Kom datang dari arah tempat cucian.
"Nanti, mintak bantuan sama petugas kebersihan atau security. Turunkan dan pindahkan foto yang ada di dinding kamar."
"Maksud Bapak, foto pernikahan?"
"Iya. Taruh di kamar kosong. Dan pindahkan semua barang-barang Alisa ke bawah. Masukkan saja ke dalam kardus besar dan koper. Jangan tertinggal satu pun barang miliknya di dalam kamar saya."
"Iya Pak."
Tidak bertanya dan membantah, Mak Kom menurut apa yang di perintahkan majikannya. Sebagai pekerja, ia sudah sangat paham apa yang telah terjadi di dalam rumah tangga Lingga dan Alisa selama ini. Mak Kom juga sebenarnya sangat prihatin, ia sangat memaklumi akan sikap Lingga yang memintanya memindahkan barang-barang Alisa.
"Nanti berikan kepada yang membantu Mak." Lingga menyerahkan lembaran merah kepada Mak Kom sebelum ia keluar. Meninggalkan apartemen untuk memulai harinya hari ini.
Salah satu agendanya adalah menemui Haris di kediamannya.
****
Bersambung ❤️