
Merangkak naik di atas tubuh Dina, Lexsus berbisik pelan. "Mau lagi? Rasanya akan berbeda, berkali-kali nikmat Anri."
"Malam ini milikmu."
"Anri bersihkan dulu Daeng." Dina akan beranjak bangkit dari tempat tidur.
"Tidak perlu. Daeng suka seperti ini.. Jangan di bersihkan."
Bertumpu dengan siku mengungkung Dina, keduanya saling menatap dengan sorot mata penuh cinta. "Jangan tinggalkan Daeng dalam keadaan senang dan juga dalam kondisi terpuruk Anri. Daeng sangat mencintai Anri. Tidak ada nama dan wanita lain dalam hati ini." penuh harap, Daeng membelai pipi Dina dengan rasa sayang yang membuncah.
"Anri akan selalu mendampingi Daeng dalam situasi dan dalam keadaan terpuruk sekalipun … baik buruknya Daeng akan tetap menjadi suami Anri. Karena Anri-pun sangat mencintai Daeng."
"Asalkan Daeng mau berjanji?" Dina balas meraup wajah Lexsus. Membelai rahang kokoh yang di penuhi rambut sebagai ciri khas pria hitam manis itu.
"Katakan.. Akan Daeng lakukan."
"Jangan pernah ada wanita lain." Dina berkata dengan sorot mata sendu.
"Tidak akan Anri. Daeng sudah bersumpah atas nama Tuhan. Janji itu tidak akan pernah Daeng ingkari. Kita akan bersama sampai masa tua. Sampai kita di panggil Dato dan Nene."
"Tanpa bersumpahpun.. Tidak akan ada wanita lain.. Daeng akan buktikan."
Dina tersenyum, jemarinya mengusap pelan bibir coklat Lexsus dan menarik tengkuk … memulai menciumnya. Keduanya kembali saling me**mat menumpahkan rasa cinta dan sayang yang teramat besar. saling membelitkan lidah bertukar saliva. Membuat suara cecapan itu terdengar memenuhi seisi ruangan.
Lexsus kembali mencumbu … mencium leher, menjilatinya. Tak sejengkalpun terlewati hingga sampai di puncak dada. Membenamkan wajah di belahan gunung kembar .. memberikan banyak stempel merah kepemilikan. Lenguhan berkali-kali Dina erangkan dengan meremat kepala Lexsus.
Bangun dari atas tubuh Dina, Lexsus melepaskan pakaian terakhir .. sebuah kain segitiga berwarna hitam yang melekat menutupi miliknya. Dan untuk kedua kalinya, Dina harus menelan ludah kembali saat melihat dengan nyata dan jelas singkong bakar milik suaminya yang sudah tegak berdiri bak tiang bendera..
Desiran halus mengalir lagi seperti aliran listrik bertegangan tinggi, saat telapak tangan Lexsus membelai, mengusap, meraba area sensitiv miliknya yang kembali basah.
"Anri siap?" Daeng bertanya dengan suara berat. Pria itu sudah sangat menginginkannya.
Dina mengangguk dengan mengigit bibir.. tak mau membohongi diri. Iapun sama menginginkannya.
"Ngghhhhhh……" Dina menahan rasa sesak bercampur rasa perih saat singkong bakar berukuran besar dan panjang itu melesak masuk menerobos tanpa berhenti.
Dina janda tanpa anak yang selama lima tahun tak tersentuh dengan umur pernikahan hanya satu tahun. Tentulah akan kembali seperti pertama kali ia melakukannya, walau sudah tidak ada selaput pe**wan. Rasa sakit itu kembali di rasakannya.
"Daeennggg.. Sshhhh…" Dina mendesisi lirih … merintih menahan desakan yang semakin menancap masuk kedalam.
Lexsus mencium bibir Dina … mencumbunya lagi, memeberikan rasa nyaman agar rasa sakiit itu berubah menjadi sebuah kenikmatan.
Perlahan, pinggul Lexsus mulai bergerak … pria itupun ikut mengerang merasakan nikmat luar biasa saat miliknya terbenam penuh … terasa terjepit kuat dan mengigit.
"Aggkkhhhhh… Anriii …!! Ooohhhh … nikmat sekali Andri … enak sekali." Lexsus mulai meracau.
"Aahhh…. Daeenngg… Akkhhhh…" saling menautkan jemari, Daeng mencengkram telapak tangan Dina. Menatapnya dari atas tubuh yang berkeringat … menikmati wajah dengan rona merah … wajah itu semakin terlihat cantik dan seksi saat merintih tak berdaya di bawah kuasanya. Dengan rambut berantakan, semakin membangkitkan gairah nafsu Lexsus untuk terus bergerak … mendayung cepat, menghantam habis menerjang gelombang.
"Nikmat Anriii.. Ooohhh nikmat sekali Anri.."
Keduanya saling memuja … saling memuji dalam setiap erangan. Dina semakin berteriak melenguh men*sah saat singkong bakar asia itu semakin menekan kuat dengan mulut melahap pucuk di atas gunung yang bergoyang.. ingin rasanya Dina menjambak kepala plontos Lexsus, tetapi tangannya tidak berdaya dalam cengkraman pria buas yang mengungkungnya.
"Berbaliklah Anri." Lexsus melepaskan miliknya menginginkan berubah posisi.
Dina mencengkram kuat sprei putih bertabur bunga mawar merah dengan kuat saat singkong bakar itu kembali melesak masuk . berpegangan pinggul sang wanita, pria itu kembali bergerak dengan ritme cepat. Keduanya kembali lupa.
"Anriiiiii …… Aaaaggkkkhhhhh….!!"
Daeng berteriak bersamaan dengan Dina juga berteriak memanggil namanya.
"Daaaeeeeenggggg……..!!"
°°°°°
Laoka uring-uringan saat bangun di pagi hari. Ia tidak menemukan sang Kakak ipar yang di sayanginya. Dari semalam sepulang dari masjid, Kakak iparnya itu di bawa pergi oleh Daeng dan belum juga kembali pulang. Dengan waktu yang singkat, remaja itu sudah sangat dekat dengan Dina. Keberadaan wanita yang menjadi kakak iparnya itu membuat ia tidak kesepian.
Keduanya cocok saat mengobrol, membahas tentang apa saja. Bagi Laoka, Dina bisa menjadi teman dan juga kakak.. Tempat mencirahkan isi hatinya.. Tempat curhat yang asik dan bisa membuatnya berekspresi. Membuat hubungan keduanya sebagai adik dan kakak ipar menjadi dekat dan hangat.
"Mau apa kau mencari Daengmu?" Indo bertanya saat melihat wajah kusam Laoka. Bertiga bersama duduk di karpet menikmati menu makan pagi dan teh hangat.
"Oka mencari Kakak Dina! Bukan Daeng." Jawabnya
"Sama saja Okaaa… Dimana ada Kakak Dina disitu pasti ada Daengmu-lah.." Indo kembali menyantap nasi goreng di piringnya.
"Apa Ambo tahu kemana Daeng dan Kakak Dina pergi?" Laoka menengok menatap bertanya kepada sang ayah.
"Mana Ambo tahu.. Ambo baru pulang dari rumah Amang." Pria tua itu asik menyeruput kopi hitam buatan Indo Senna yang rasanya membuat Ambo Werang semakin jatuh cinta.
"Ambo dan Indo tidak asik sekali … pakai rahasia-rahasiaan.." Laoka menghentikan makannya.
"Kalau kau kuberitahu, semakin lama Indomu ini mendapatkan cucu Oka.. Apa kau tidak ingin segera bermain bersama keponakanmu?"
"Apa hubungannya Kakak Dina dengan cucu dan keponakan?" Laoka tampak kesal
"Ya adalah Laokaaa…" Indo Senna menoyor kepala putra bungsunya. "Kalau ada kau di antara mereka. Kapan Daengmu akan beroperasi?"
"Ah … semakin tidak jelas saja ucapan Indo. Tentulah Oka sangat menginginkan keponakan. Tapi Oka juga butuh ada kakak Dina disini."
"Paling juga kau mau curhat soal wanita kampung sebelah itu." vibir Indo.
"Indo itu punya mata berapa? Kenapa selalu tahu urusan anak muda."
"Karean Indo ini yang melahirkanmu. Ke lubang semut pun kau bersembunyi Indo akan tahu. Yang harus kau ingat! Indo berhak tahu apa saja yang kau lakukan di luar sana." Indo memberi teguran keras kepada Laoka
"Fokus dulu dengan sekolahmu Laoka." Ambo Werang bersuara. "Jangan kau kecewakan Daengmu. Ingat perjuangannya. Jangan sampai kau gagal menjadi adik kebanggaannya."
"Iya Ambo.. Laoka janji tak akan macam-macam. Sekolah akan tetap menjadi nomor satu. Daeng sudah berjanji jika Oka lulus dengan nilai terbaik, Daeng akan mengijinkan Oka melanjutkan sekolah di Jakarta. Nanti Oka akan satu sekolah bersama Maka dan Mada."
"Makanya jangan perempuan saja yang kau pikirkan." Jawab Indo
"Beginilah resikonya kalau punya putra yang teramat manis dan tampan. Ambo dan Indo harus sadar itu." dengan bangga Laoka membusungkan dada.
Werang dan Senna mengelengkan kepala dengan bibir terukir senyumam mendengar ucapan putra keduanya yang memiliki sifat sangat jauh berbeda dengan Lexsus. Kalau Daeng pendiam tak banyak bicara, Laoka kebalikannya. Remaja itu selalu ceria dan banyak bicara.
****
Bersambung ❤
Kalau ada yang lebih hott lolos.. Berarti keberuntungan ada di pihaknya bestieee.... Dan aku kurang beruntung hehehe... Met malam minggu yaaa...