
Tiga hari berlalu dari pemakaman sang putra.. Maya masih dalam keadaan koma, wanita itu belum bangun dari tidurnya. Ia masih tertidur dalam mimipi panjangnya.
Siang ini Lingga mendapatkan kabar kalau Tuan Dirgantara Damar Wijaya akan berkunjung. Lingga akan menyambut tamu istimewa. Suatu kehormatan baginya atas kedatangan Tuan Dirga beserta sang istri yang berkunjung ke rumah sakit. Sesosok pria yang menjadi panutan, sebagai tamu kehormatan, sebagai rekan bisnis, sahabat, dan tali persaudaraan.
Dirga dan Anin datang untuk menjenguk Maya dengan pengawalan ketat.
"Sayang, jangan menjauh.." Pria posesif itu tidak membiarkan sejengkal-pun Anin berjalan menjauh dari sisinya. Tangannya dengan cepat melingkar di pinggang Anindirra. Sepasang suami istri itu terlihat sangat romantis berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dengan tangan Dirga yang tidak lepas merangkul pinggang wanitanya.
Menggunakan kemeja light blue berlapis jas mahal, di imbangi oleh Anin yang menggunakan dress di bawah lutut dengan warna senada. Keduanya melangkah bersisian dengan gagah dan anggun. Pria berumur itu semakin tampan rupawan dengan segala kharismanya..
Begitupun dengan Anin. Ibu dua anak itu semakin cantik terawat, penampilannya memukau nan elegan.
"Mas, aku tidak akan keman-mana.. Bisa tidak? Sebentar saja, aku bebas jalan sendiri?" Anin sangat kewalahan dengan polah Dirga yang semakin berumur semakin pencemburu. Manjanya melebihi sang putra.
"Tidak bisa.. Jangan berharap aku mengijinkannya, Sayang.." Dirga semakin mengeratkan rengkuhan di pinggangnya. Tak sungkan-sungkan, Dirga mencium pipi Anin.
"Mas, aku sudah punya anak dua.. Dan aku tidak mungkin melirik pria lain.. Tidak ada yang lebih kaya dari suamiku.. Lagi pula siapa coba lelaki yang akan berani memandangku kalau keesokan harinya harus kehilangan biji matanya." Anin menggerutu dengan kelakuan suaminya.
Tetapi pria itu cuek masa bodoh, sambil terus berjalan menuju ruangan dimana Istri Lingga terbaring.
"Dasar pencemburu.. Dasar posesif.. Dasar Tuan pemaksa." Anin terus bicara, dan di tanggapi Dirga dengan gelak tawa.
"Kamu semakin menggoda, Sayang kalau terus manyun seperti itu." Cup Dirga mengecup pipi Anin.
Anin sengaja tidak membawa Boy yang sedang di masa aktif-aktifnya.. Alea juga masih berada disekolahnya.
"Maaf, saya baru kembali dari Singapore semalam.. Saya turut berduka cita."
Melepaskan rangkulan tangannya dari pinggang Anin. Dirga memeluk Lingga, menguatkan dengan menepuk bahunya. "Wijaya Grup akan selalu siap membantu." Ucap Dirga saat pelukannya terurai.
"Terimakasih Tuan.. Semuanya masih bisa teratasi. Kehadiran anda dan istri sesuatu yang lebih berharga, yang mampu menguatkan kami." balas Lingga
"Bagaimana perkembangannya?" Dirga bertanya. Ketiganya bicara dari luar, dari balik kaca.. Hanya dari kejauhan.. Anin dapat melihat wanita cantik yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Wanita yang di kenalnya dulu pada saat ia akan fitting kebaya pengantin. Wanita yang mengenalkan diri bernama Maya. Wanita sederhana yang memiliki wajah cantik nan teduh
Di tengah pembicaraannya membahas perkembangan Maya, Dokter Hendra datang bersama Dokter Hansel..
"Selamat datang Tuan Dirga." Dokter Hansel menyapa hormat kepada pria yang di kenalnya sebagai pengusaha sukses, pemilik 30% saham di rumah sakit ini. Berbeda dengan Dokter Hendra, Pria itu hanya tersenyum kepada sahabat pemaksanya itu.
"Apa Bayu belum kembali?" Dokter Hendra bertanya.
"Belum, dia masih berada di Singapore dan akan kembali minggu depan.." Dirga menyampaikan.
Seminggu yang lalu, keluarga Dirga terbang ke Negri Singa untuk menjenguk kondisi Alfred Hugo yang jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan di Moon Elizabeth Hospital.
°°°°°
Sedangkan di tempat lain.. Seorang wanita cantik tengah duduk di atas tempat tidurnya dengan selang infusan yang tertanam di tangannya. Wanita itu mengunci mulutnya. Wanita itu menolak mengisi perut dan meminum obatnya.
Dia adalah Alisa. Wanita itu sedang marah.. Marah akan kondisi dan kehidupannya sekarang. Sesekali wanita itu berteriak menangis, mengumpat, mencaci, bahkan mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya.
Dengan menahan tangis, dan penuh kesabaran. Lusiana sedang berusaha menyuapi, merayu Alisa agar mau makan. Putrinya itu saat ini sangat bergantung kepadanya. Ia harus mengurus Alisa 24 jam setiap harinya.. Dari pagi hingga petang.. Dari mulai makan, mandi, berpakaian dan menyiapkan obat yang harus di minumnya agar tidak terjadi infeksi di luka jahitan tangannya.
Saat ini Lusiana harus mengganti waktu yang ia tingglkan selama 32 tahun lamanya, dengan mengurus Alisa seumur hidupnya. Waktu yang harus ia kembalikan. Perhatian yang harus ia berikan. Kasih sayang yang harus ia tunjukkan. Inilah karmanya..
Satu hari sebelumnya.
Sepulang Lusiana dari rumah sakit yang berakhir dengan perdebatannya dengan Rossa. Wanita itu memutuskan untuk kembali pulang. Ia masih menunggu kepulangan sang putri yang tidak di ketahui keberadaannya. Hingga keesokan hari sekitar jam 5 pagi. Pembantunya berteriak histeris sampai terdengar ke lantai atas. Lusiana segera turun ke bawah saat namanya di panggil dengan kencang. Ia segera turun untuk mencari tau apa yang terjadi.
Seketika tubuhnya lemas tak berdaya.. Airmata itu tumpah dengan tubuh yang gemetar saat melihat Alisa tergeletak di depan pintu rumah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.. Mengenaskan..
Alisa kehilangan dua tangannya. Bagian tubuh yang sangat berperan untuk menopang kesehariannya. Dua tangan yang menjadi aset karirnya saat mempromosikan cream pemutih ke semua pengikutnya.
Lusiana dapat membaca pesan, tulisan dengan hurup kapital di selembar kertas yang di kalungkan di leher Alisa.
Aku tidak memasukkan putrimu,
ke dalam jeruji besi dinginnya dinding penjara. Karena aku tidak akan memisahkan seorang Ibu dengan anaknya dalam waktu yang lama.
( Lusiana teringat saat ia memisahkan Lingga dengan Rossa )
"Aku juga tidak mengambil nyawa putrimu."
( Lusiana tersadar kalau Alisa telah menghilangkan nyawa putra Lingga )
Aku hanya mengambil kedua tangan yang telah mencelakai Mayaku. Dengan kedua tangan itu Mayaku terkapar tak berdaya. Dengan kedua tangan itu kebahagiaanku tereggut.."
Uang yang aku berikan kepadamu tidak ada harganya dengan senyuman Maya. Video yang aku sebar hanya sebagai pengingat segala tindakannya. Bukankah aku pernah mengingatkan? Jangan ganggu Mayaku.
Ambilah uang itu.. Sebagai rasa terimakasihku karena kamu sudah mengurusku. Aku tau, kamu menginginkan bertemu denganku hanya karena memerlukan uang untuk menyelesaikan masalahmu.
Setelah ini, hiduplah dengan baik..
Lingga
Di samping tubuh Lisa, tergeletak sekantung obat dan setumpuk uang didalam tas yang diberikan Lingga untuknya.
Sanjaya hanya terdiam, tanpa sanggup berkata-kata kala menyaksikan nasib putrinya. Pria itu menyesal. Segala perbuatan buruknya bersama Lusiana ternyata akan menghancurkan masa depan putrinya. Ia juga telah gagal dalam mendidik prilaku putri semata wayangnya.
Kayu sudah menjadi arang.. Arang sudah menjadi abu. Tidak juga bisa kembali ke masa lalu... Yang terjadi tak bisa di tolak.. Yang hilang tak bisa kembali pulang..
Saat ini hanya tinggal penyesalan.. Saat ini hanya ratapan akan hilangnya akal dan pikiran.
Semoga kedepannya Sanjaya, Lusiana juga Alisa dapat saling intropeksi diri.. Merenungi diri..
Karena di titik terendahnya seorang Lingga... Pria itu berbesar hati masih mau membantu..
****
Bersambung ❤️