TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
DAENG TIDAK JANJI



"Silahkan Bu." sesampainya di depan pintu, Pak Edi membukakan pintu ruang kerja milik pimpinan tertinggi di perusahaan Kabar Group. Pria itu mempersilahkan istri dari Bosnya itu untuk masuk ke dalam ruangan bersuhu sejuk.


"Terimakasih Pak Edi." Maya tersenyum ramah dengan di balas anggukan penuh rasa hormat dari pekerja yang menjabat sebagai keamanan.


Melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan dimana tempat suaminya bekerja, mencurahkan banyak ide dan gagasan. Maya memperhatikan setiap sudut ruangan yang terlihat rapih. Matanya tak lepas mengitari seluruh sudut ruangan.


Berbagai macam buku tebal dan beberapa berkas tertata rapih di rak arsip. Begitupun dengan meja kerja yang terlihat elegan dan modern. Selain laptop dan peralatan kerja lainnya, terpajang indah dua figura berukuran 4 R dan 5 R. Terukir senyum di bibirnya saat melihat siapa wanita di dalam foto berbingkai figura kayu.


Satu foto pernikahan dan satu foto dirinya saat berada di pantai kawasan ancol ketika keduanya menginap di cotagge pribadi milik pria yang saat ini sudah berubah status menjadi suaminya.


"Kamu cantik, May." suara bariton khas laki-laki terdengar. Kedua tangan kokoh membelit pinggang di barengi kecupan lembut di kepala membuat Maya meletakan kembali figura di atas meja seraya menoleh kebelakang.


"Abang ngagetin.." mengurai belitan tangan, Maya berbalik menatap Lingga.


"Mayaku terlalu fokus mengagumi pria tampan yang ada di dalam foto itu sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Abang." Lingga bicara dengan tersenyum simpul.


"Iissshhh… ketampanan Abang itu terpancar keluar karena ada sosok Maya yang sangat mencintai Abang." Maya mencebikkan bibirnya, membuat Lingga terkekeh pelan.


"Ya, karena ada Mayaku di samping Abang. Mayaku yang mencintai Abang.." Lingga menyelipkan anak rambut Maya kebelakang telinga dengan satu tangan. Tidak pernah bosan, Lingga akan berlama lama memandang wajah yang selalu terlihat cantik dengan kepolosannya.


"Abang sudah selesai rapatnya?" Maya memastikan, sambil merasakan belaian tangan dengan ibu jempol yang terus bergerak mengusap pipi, menyentuh bibirnya.


"Sudah Honney.." Lingga semakin merapatkan rangkulan tangan kirinya. "Berikan Abang vitamin dulu, May.." ucap Lingga pelan


"Abang modus iih.." mengigit bibir dengan pipi merah merona. Entah kenapa, saat berdekatan dan berhadapan dengan Lingga. Pria itu selalu membuat hatinya berdebar tak karuan. Pria itu bahkan selalu membuatnya salah tingkah.


Apalagi siang ini, Lingga terlihat berkali kali lipat tampannya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya. Stelan kemeja hitam di balut Jas Blazer abu-abu dengan dasi yang berwarna senada. Mencetak dada bidang dengan tubuh tinggi tegap. Tak lupa sepatu pantofel casual berwarna hitam yang tampak mengkilat. Tak lupa jam tangan mahal sebagai aksesoris serta parfum yang di pakainya membuat Maya selalu jatuh cinta.


Sejenak Maya terpesona, sungguh ia sangat mengagumi sosok pria yang tanpa di sadarinya semakin merapatkan wajah menempelkan bibir. Menyentuh lembut bibir tebal Maya, mel*mat-nya dengan perlahan.


Maya baru tersadar saat daging kenyal itu menyentuh bibirnya, terasa hangat dengan aroma mint yang meyegarkan. Memejamkan mata, Maya menyambut dengan menggantungkan kedua tangan, membelit mesra, mengusap leher dan membuka sedikit mulutnya agar Lingga leluasa bermain, membelit lidah dan mensesap bibirnya.


Baru saja keduanya terbuai akan cumbuan, suara ketukan pintu yang terdengar keras sehingga menganggu konsentrasi Maya yang spontan melepaskan diri.


"May.." suara berat Lingga menandakan pria itu protes saat Maya menghentikan ciumannya.


"Ada yang datang Bang." Maya bicara sambil mengusap pipi Lingga agar pria itu mengerti.


"Ckkk…" Lingga berdecak kesal.


"Maaf Pak, Bu.." Robby muncul membuka pintu yang memang tidak terkunci. Sekertarisnya itu terkejut dan nampak sungkan saat mengetahui keberadaan Maya yang masih berada dalam rangkulan Bosnya.


"Menganggu saja.." gerutu Lingga.


"Maaf, pak.." sambil tersenyum meringis, Robby mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sadar sudah menganggu dan membuat Bosnya itu menjadi kesal.


"Dokter Hansel sudah menunggu, Pak.. Beliau tidak bisa menghubungi ponsel Bapak." Robby menyampaikan maksud kedatangannya.


Mengurai pelukan, Maya tampak malu-malu melepaskan diri.


"Sampaikan, saya akan segera ke rumah sakit." Ucap Lingga seraya meraih tangan Maya agar tak menjauh darinya.


"Baik Pak.." Robby berbalik lagi sebelum langkah kakinya keluar meninggalkan ruangan. "Mau di pesankan room di restoran pak?"


"Tidak usah Rob, siang ini istriku yang akan memilih restoran untuk makan siang kami."


Berjalan bersisian menuju lantai dasar dengan kedua tangan yang mengengam bertautan. Keduanya menjadi sorotan. Banyak pasang mata yang menatap keduanya dengan tatapan penuh kagum. Gedung itu tampak ramai lalu lalang karyawan karena bersamaan jam istirahat.


Keduanya terlihat serasi, banyak dari mereka yang berbisik pelan mengagumi penampilan Maya yang tampak sederhana tapi tetap elegan dan berkelas. Melepaskan tautan jemari, Maya bergelayut merangkul lengan Lingga.


Mematikan rokok yang masih setengah, Oleh berdiri saat melihat Maya dan Lingga keluar dari lift. Lima belas menit sudah cukup untuk sang supir kesayangan Maya itu mendapatkan nomor kontak Ana. Wanita manis yang menjabat sebagai resepsionis. Hari pertama bekerja membawa keberuntungan untuknya.


Flashback


Kang Oleh memilih menunggu di ruang tunggu smoking area yang letaknya tidak jauh dari meja kerja Ana berada. Entah mendapatkan angin segar dari mana, Ana datang menemuinya dengan membawa secangkir kopi hitam. Usut punya usut, Ana bercerita kalau ia berasal dari jawa, tepatnya Kota Yogyakarta saat pria keren itu mengajaknya berkenalan. Dan tanpa berbasa basi, ibarat bak gayung bersambut, dengan cepat dan respon yang baik, Ana pun bersedia memberikan nomor kontaknya ketika Kang Oleh memintanya.


"Kang, lama ya?" Maya menegurnya ketika dua orang yang menjadi Bosnya itu mendekat.


"Tidak Bu Maya.." kang Oleh menjawab sopan.


Maya memanyunkan bibir saat Kang Oleh memanggilnya dengan panggilan Bu Maya. Sesuai perjanjian, Kang Oleh akan memanggilnya Neng Maya saat tidak ada Lingga bersama mereka.


Melangkahkan kaki berjalan di belakang menuju tempat parkiran, Kang Oleh dengan cepat dan sigap membukakan pintu untuk keduanya.


"Kang, kita ke rumah sakit keluarga sehat." ucap Lingga setelah duduk di kursi belakang.


"Siap, pak.." Kang Oleh menjawab dari belakang stir kemudi sebelum melajukan kendaraan keluar meninggalkan gedung Kabar Group.


°°°°°


Sedangkan di Makassar, Dina merengek meminta Daeng agar segera kembali pulang ke Jakarta. Jiwanya meronta ingin juga bertemu dengan pria yang sudah lama menjadi sahabatnya yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Senangnya bukan kepalang saat Maya menghubunginya dan tau siapa yang menjadi supir pribadi bestinya.


"Dua hari lagi Anri.." ucap Lexsus. "Besok Daeng masih harus kembali ke pelelangan ikan." Lexsus tersenyum menanggapi kemanjaan Dina yang terus bergelayut manja, memeluk, melingkarkan tangan di pinggang. Sesekali Dina mendusel, mengesekkan wajah di dada kekar pria manis itu.


"Kenapa tiba-tiba meminta pulang?" Lexsus balas memeluk Dina dengan hidung yang terus mengendus leher dan mengecupnya. Wanitanya itu belum mandi semenjak terbangun dari tidurnya. Pagi sekali, Lexsus meninggalkan Dina sebentar untuk mengontrol pelelangan ikan miliknya yang mengalami peningkatan dan membutuhkan banyak karyawan.


Masih menginap di hotel bintang lima, keduanya masih menghabiskan waktu berdua untuk terus berproduksi tanpa mendapatkan gangguan dari siapapun termasuk sang adik Laoka.


"Janji ya?" Dina menenggadahkan wajahnya menatap Lexsus.


"Ya, Daeng janji… tetapi sebelumnya, Daeng spertinya harus menemani Anri mandi dulu." Lexsus tersenyum manis penuh arti.


Dina menyadari apa yang di inginkan suaminya.


"Satu ronde ya.." dengan tersenyum manja seraya memainkan kedua alisnya.


"Daeng tidak janji.."


Tidak membutuhkan persetujuan sang istri, pria manis itu langsung mengangkat tubuh Dina bak karung beras seperti biasanya menuju kamar mandi.


Sedangkan Dina hanya pasrah menerima yang akan terjadi. Dan sepertinya, ia akan kehilangan banyak tenaga dan membutuhkan kursi roda untuk membantunya berjalan saat meninggalkan hotel..


Kembali pulang ke rumah sang mertua.


****


Bersambung ❤


Maaf.. Maaf baru UP teman-teman 🙏