TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
MAYA KAMU DIMANA



Sudah tiga hari Dina kehilangan kabar Maya. Sudah tiga hari juga Maya tidak masuk kerja. Uang gaji yang di serahkan Tante Rossa kemarin, saat ini ada di tangannya. Berulang kali mengirim pesan, berulang kali juga menghubungi tetapi nomor Maya masih belum juga aktif.


"Ada apa dengan kamu May? Tidak biasanya kamu seperti ini?"


"Wanita itu biasanya ceria, tapi hari ini wajahnya terlihat murung, tidak ada tawa yang lebar dari mulutnya. Bukan hanya Tante Rossa yang bertanya kabar Maya, tetapi Lingga, sudah puluhan kali pria itu menghubungi Dina untuk bertanya adakah kabar dari Maya.


Kang Oleh masuk ke dalam ruangan bertanya kabar tentang Maya, wanita cantik dan ramah yang selalu bersama Dina setiap harinya.


"Belum ada kabar dari Neng Maya?"


"Belum Kang." Dina menggelengkan kepalanya.


"Apa Neng Maya sakit ya?" Kang Oleh duduk di kursi baso rotan menghadap Dina yang tengah duduk di sofa.


"Kalau sakit biasanya selalu kasih kabar Kang. Tapi sekarang, jangankan kasih kabar, nomornya saja tidak aktif. Dina khawatir Kang, kalau terjadi sesuatu yang buruk sama Maya."


"Jangan punya pikiran gitu Neng, berdoa saja supaya Neng Maya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja."


"Kenapa gak Neng Maya datangin kontrakannya?"


"Rencananya sore nanti Kang."


"Neng Dina sudah tau alamat tempat tinggalnya?"


"Alamatnya tau Kang, tapi Dina belum pernah berkunjung ke kontrakannya."


"Kenapa tidak mintak antar si juned saja kebetulan dia shif pagi."


"Kak Jujun, kang Oleeehh.." tetep lebainya gak ilang


"Iya Kang Jujun." Kang Oleh gidek-gidek


"Gengsi donk Kang, masa cewek duluan yang ngajak jalan."


"Bukan jalan Neng, tapi nganter."


"Sama saja Kang."


"Ya, terserah Neng Dina lah."


"Tapi Dina, belum punya nomornya Kang Jujun, Kan belum pedekate."


"Iya, nanti Kang Oleh yang kirim pesan."


°°°°°


Lingga benar-benar di buat kalang kabut, saat tidak mendapatkan kabar dari Maya. Berulang kali ia menghubungi, tapi nomor kontaknya tidak aktif. Pesan yang di kirimnya pun hanya centang satu.


Dan, baru saja ia menghubungi Dina untuk yang kesekian kalinya, berharap Maya memberi kabar kepada Dina, tetapi jawabannya tetap sama, Dina pun tidak bisa menghubungi Maya dan tidak mengetahui kabarnya.


Ia sempat mendatangi gang mawar dan mencari tau rumah kontrakan Maya, tapi rumah itu dalam keadaan sepi. Tidak ada tanda-tanda penghuni di dalamnya


Tok.. Tok.. Tok..


Roby masuk ke dalam ruangan. Selain menyerahkan setumpuk laporan pekerjaan, sekertaris itu membawa kabar yang membuat Lingga dapat bernafas lega. Paling tidak di tengah hilangnya kabar Maya, ada kabar baik yang di terimanya.


"Jam makan siang nanti anda akan bertemu dengan Bapak Bayu Lesmana, Pak. Di restoran hotel xx."


"Saya akan berangkat sekarang Rob." Lingga melihat jam di arlojinya, baru menunjukkan pukul 10.


"Untuk laporan akan saya periksa nanti. Kalau Tuan Cjokro bertanya, katakan saya sedang ada urusan di luar."


"Baik, Pak.."


"Ohya, Pak. Saya sudah mengunjungi balai besar rehabilitasi kemarin. Mereka meminta Bapak yang hadir, sepertinya sangat penting pak. Saya bahkan tidak di ijinkan bertemu dengan ibu Alisa."


Lingga terdiam beberapa saat, saat ini konsentrasinya terpecah antara memikirkan Maya, dengan tanggung jawabnya kepada Alisa yang masih berstatus istrinya.


"Setelah pertemuan saya dengan Bayu, saya akan kesana. Tolong kamu handle pekerjaan hari ini Rob." Lingga meraih jaket dan kunci mobilnya.


"Baik, Pak.."


Melajukan kendaraan, Lingga mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.


"Kamu dimana Lend?"


Terdengar jawaban dari seberang.


"Abang tunggu di caffe."


Lingga menaruh kembali ponselnya ke saku kemejanya.


Dengan kecepatan penuh, Lingga mengendarai Audinya menuju jalan kenangan untuk bertemu Lendra. Di sepanjang perjalanan, sesekali ia menengok kesamping kirinya, dimana Maya tiga hari sebelumnya duduk di sampingnya. Menyandarkan kepala di bahunya dengan tangan yang saling menggenggam.


"Maya.. Maya.."


Mulutnya terus menyebut nama Maya dengan lirih.


Sekitar 20 menit, mobilnya telah sampai di parkiran Ling’s caffe bersamaan datangnya Lendra dengan motor sportnya. Pria muda itu membuka helmnya saat Lingga keluar dari mobilnya.


"Lu dari kantor bang?"


Keduanya berangkulan saling menepuk bahu khas pria.


"Iya.."


"Gak biasanya lo rapih? Dari mana?"


Lingga melihat penampilan Lendra yang berbeda.


"Ketemu pimpinan. Thank ya Bang, berkat bantuan lu, Papa ngijinin gua ambil jurusan kriminologi."


"Sukses buat lo brother. Abang bangga dengan karir yang lo pilih." saling merangkul pundak keduanya berjalan masuk ke dalam caffe.


"Nang, kopi 2." Lendra meminta pegawainya menyiapkan minuman untuknya dan juga Lingga


"Ada apa?" Lendra bertanya setelah sama-sama duduk di sofa.


"Maya.."


"Maya? Kenapa? Bukannya Abang baru pulang dari bulan madu?" Lendra tersenyum menggoda Lingga


"Ckk.. Bahaya memang kalau berurusan dengan calon detektif." Lingga melempar Lendra dengan rokok yang baru di keluarkan dari kotaknya.


Lendra tertawa dengan menangkap sebatang rokok yang terlempar dan menyulutnya.


"Ada apa?" Lendra bertanya lagi setelah mematik korek yang di sulutnya ke ujung sebatang rokok di mulutnya.


Sambil menghisap dan meniupkan lintingan tembakau, Lingga menceritakan dari terakhir ia bertemu Maya. Dan sudah tiga hari ini, wanita itu tidak bisa di hubungi. Bahkan rumahnya pun sepi.


"Lu fokus dengan urusan lu sam Alisa deh bang. Soal Maya.. Lu serahin sama gua. Secepatnya gua akan kasih kabar."


Sekitar satu jam mereka bicara, Lingga segera beranjak dari kursinya, satu jam lagi ia kan menemui Bayu di restoran hotel xx milik Wijaya Grup.


"Abang pergi dulu.."


"Bang.." Lendra memanggil sebelum Lingga pergi


"Mama Rossa sakit.. Lu gak pingin jenguk Bang?" Lendra memberanikan diri bicara kepada Lingga, walaupun ia tau Abangnya itu masih memendam rasa kecewa.


"Akan abang usahakan."


Tanpa ekspresi Lingga segera keluar meninggalkan Lendra.


"Gua tau lu gak pernah bisa membenci wanita itu Bang.." Lendra bicara dengan menatap kepergian Lingga.


Pria tampan berumur 32 tahun itu sudah berada di belakang kemudi. Pria dengan segala masalah dan beban rumah tangganya itu, tengah melajukan kendaraan di tengah jalan raya siang ini.


Hatinya hampa, hatinya kosong, pikiran entah kemana, terlalu rumit perjalanannya. Di tengah rasa kecewanya kepada orangtuanya yang ia pendam selama bertahun-tahun. Ia harus di hadapkan dengan kenyataan bahwa rumah tangganya tidak seindah dan semulus yang di harapkannya.


Di tengah kekosongan hatinya, Tuhan menghadirkan sosok Maya, sosok wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta, sosok wanita yang mampu memberikan ketenangan dan sebuah harapan baru.


Lingga menemukan harapan di hari-hari terkelamnya dan baru saja ia akan fokus pada hari-hari tercerah, tiba-tiba alam seakan mengmbilnya.


Aku tidak akan menyalahkanmu Tuhan..


Aku bahkan tidak akan menyalahkan alam..


Aku tidak meminta apapun kepadamu, tapi aku mohon jangan hilangkan dia dariku.


Di dirinya, aku menemukan cinta yang sebenarnya. Cinta yang sesungguhnya


Sebait ungkapan hati Lingga yang sesungguhnya. Hati yang sedang merapuh. Di balik ketegarannya sebagai pria, ia hanyalah manusia.


Setitik air mata terjatuh, dari kedua bola matanya yang memerah.


"Maya kamu dimana??"


****


Bersambung ❤️


Jangan lewatkan jempolnya ya