
"Selamat datang Tuan, silahkan duduk."
Pria tinggi yang baru saja pulang berbulan madu itu tersenyum ramah, mengulurkan tangan menyambut kedatangan Lingga dengan bersahabat.
"Terimakasih atas waktunya dan kesediaan anda untuk bisa bertemu Pak Bayu." Lingga membalas jabatan tangan dari sosok pria, orang nomor dua dari perusahaan Wijaya Grup itu.
"Selamat atas pernikahannya, semoga selalu berbahagia. Maaf, saya tidak bia hadir karena.."
"Ya, saya sudah mendengar kabarnya. Maaf, saya turut prihatin." Bayu memutus ucapan Lingga, ia dapat melihat raut wajah Lingga yang berubah sendu.
Bertepatan dengan pernikahan Bayu. Bersamaan dengan di gelarnya sidang Steven untuk pertamakalinya dengan Alisa sebagai saksi.
Keduanya sama-sama duduk saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas. Dua orang pelayan datang dengan mendorong troly berisikan minuman dan makanan yang sudah di pesan Bayu sebelumnya. Menyajikannya di atas meja, dan menuangkan minuman beraroma melati ke dalam dua cangkir keramik di hadapan Lingga dan Bayu.
"Selamat menikmati tuan-tuan." Pelayan pria dengan seragam hitam putih itu sedikit membungkuk sebelum pergi.
"Saya sudah memesan makanan untuk anda, semoga anda menyukainya." Bayu mulai menyeruput, menikmati minuman sebelum ke menu utama.
"Pasti.. Saya selalu menyukai menu restoran di hotel ini, yang mengangkat menu dari berbagai daerah di Indonesia dan yang pastinya sudah terkenal akan kelezatannya." Lingga bicara setelah mencoba minuman dingin beraroma melati.
"Kita bisa bicara sambil makan Tuan Lingga, anda tau? Ahir-ahir ini nafsu makan saya sedang meningkat." Bayu bercerita dengan tertawa pelan.
"Mungkin istri anda sedang hamil, pak."
"Benarkah?" Bayu tampak antusias
"Artikel yang biasa saya baca seperti itu, jika terjadi keanehan pada suami yang baru pulang berbulan madu. Pasti telah menghasilkan sesuatu." Lingga sedikit berkelakar di sambut tawa renyah dari Bayu.
"Apa yang akan anda bicarakan, Tuan? Saya yakin kita bertemu bukan untuk membicarakan bisnis bukan? Apa lagi saat ini Tuan Dirga sedang berada di eropa." Bayu bertanya sambil menikmati soto betawi yang di pesannya.
Sebelum bicara, Lingga menghabiskan minuman di gelasnya dan meletakkan kembali cangkir keramik itu di atas meja. Pria itu mulai menjelaskan maksud dan tujuannya bertemu siang ini kepada Bayu. Pria itu mulai menjelaskan dengan rinci kronologi penangkapan Steven saat sedang bersama istrinya Alisa di salah satu kamar hotel di jakarta.
"Saya sangat membutuhkan rekaman itu Pak Bayu. Saya yakin anda memilikinya. Rekaman itu sangat berarti buat saya."
Bayu meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya. Dengan kedua siku di atas meja dan jemari yang bertautan untuk menyanggah dagu. Pria itu sejenak berpikir, masalah rumah tangga pria yang umurnya lebih muda darinya itu hampir sama dengan apa yang pernah di alami Dirga saat bersama dengan Ratna. Dan Bagu tampak serius mendengarkan semua yang di sampaikan Lingga.
"Apa anda yakin siap melihatnya? Jika rekaman ini berada di tangan yang salah, bukan hanya nama baik anda yang tercoreng. Tapi akan mempengaruhi perusahaan Kabar Grup. Terutama saham. Apa lagi kita sudah menjalin kerja sama."
"Sedikit banyaknya akan berpengaruh juga ke Wijaya Grup. Karena pria dalam rekaman itu membawa nama Tuan Dirga. Saya yakin, akan menjadi makanan empuk untuk media cetak dan elektronik lainnya. Anda pasti paham Tuan Lingga."
"Dan saya turut prihatin dengan masalah yang menimpa anda, Tuan. Baiklah, saya akan mengirimnya lewat email pribadi anda. Saya yakin anda mampu, anda juga memiliki orang-orang yang kuat. tapi Jika anda membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk membicarakannya, tidak perlu melalui Radit, anda bisa langsung menghubungi saya."
"Terimakasih, Pak Bayu.. Bantuan anda sangat berarti buat saya. Begitupun sebaliknya jika anda maupun Wjaya Grup membutuh sesuatu, saya akan siap membantu." Lingga membalasnya
Bayu sedikit membuka masalahnya dengan pria yang bernama Steven yang membuat Lingga akhirnya bisa menarik kesimpulan, seperti benang kusut ia sudah bisa menemukan ujungnya.
Dua jam duduk bersama saling bicara dengan menyantap makan siang, seorang wanita datang menghampiri dengan senyum cerahnya menatap Bayu.
"Kamu sudah bangun Ste?" Bayu menyambut wanita manja yang masih mengenakan piyamanya agar duduk di sampingnya.
"Kamu meninggalkanku." dengan bergelayut manja Stella merangkul lengan dan mengecup rahang Bayu.
"Aww.. Sakit Stee.." Bayu mengusap perutnya saat mendapat cubitan dari Stella.
"Upss.. Maaf suamiku, sakit yaa.." Stella mengusap-usap perut Bayu.
"Kenapa tidak mengajakku makan?"
"Kamu masih tidur Stee. Aku tidak tega membangunkan putri tidur. Dan aku harus turun bertemu dengan tamu penting." Bayu bicara dengan mengusap pipi Stella
Lingga hanya tersenyum melihat interaksi pasangan pengantin baru di depannya, melihat Stella, mengingatkannya akan Maya.
"Kenalkan Tuan. Istriku Stella." Bayu mengenalkannya kepada Lingga
"Lingga." keduanya mengulurkan tangan.
Setelah beberapa menit, dari kedatangan Stella. Lingga segera pamit undur diri, melihat kemesraan keduanya membuatnya semakin.. Dan semakin.. Merindukan Maya
°°°°°
Dari restoran hotel xx. Lingga melajukan kendaraannya menuju balai besar rehabilitasi dimana Alisa berada. Ia akan mencari tau ada masalah apa sehingga pihak yayasan memintanya untuk datang.
Ting..
Suara notif pesan masuk ke dalam ponselnya. Masih dalam posisi mobil melaju di tengah jalan raya. Lingga membuka ponsel dengan tangan kirinya, menscrolnya ke bawah, ia berharap pesan yang masuk balasan pesan dari Maya, atau pesan dari Dina. Ternyata pemberitahuan email yang masuk.
Agar leluasa mengecek dan melihat isinya, pria itu menepikan mobilnya ke sisi jalan. Dengan mental yang sudah siap. Lingga ingin mengetahui apa isi dari rekaman itu. Saat di bukanya email pribadinya, bukan hanya satu rekaman yang di kirimkan Bayu, tetapi ada tiga rekaman dengan tanggal, waktu dan tempat yang berbeda.
Memasang headset satu telinga, Lingga mulai membuka satu rekaman saat Lisa berada di kamar hotel pada saat penangkapan. Menguatkan diri ia menyaksikan sampai selesai, bagaimana Alisa Mawardi, wanita yang masih berstatus istrinya baik secara hukum dan agama, melakukan hubungan dengan pria lain jauh sebelum ia mengenal Maya. Kejadian itu 4 bulan yang lalu.
Berpindah ke rekaman yang lainnya, saat Alisa berada di Singapura, meninggalkan indonesia dengan tujuan pekerjaan untuk konten yang sedang di garapnya. 6 bulan sebelumnya, seminggu setelah hari pernikahan. Rekaman itu terlihat jelas Alisa berada di pangkuan pria yang sama di dalam sebuah ruangan kantor.
Dan yang terakhir sesuai tanggal dan tempat, Alisa berada di eropa 8 bulan yang lalu, dua bulan sebelum hari pernikahan.
Tidak ada tangisan, tidak ada kesedihan. Tidak ada penysalan. Apa lagi rasa cemburu, seakan hilang semuanya. Tidak ada rasa yang bisa ia ungkapkan. Hatinya seakan sudah mati. Ia sudah cukup siap dengan kenyataan yang harus di terimanya. Ia hanya merutuki diri dan merasa menjadi pria bodoh selama ini.
Tetapi semua sudah terjadi, ia mencari bukti hanya untuk menguatkan akan keputusannya. Untuk meyakinkan bahwa apa yang di pikirkannya benar adanya.
"Alisa.. Ternyata sejauh itu kamu melangkah." Lingga bicara dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.
Lingga mengingat akan Mamanya Lusiana, wanita itu teramat menyayangi Lisa. Saat ia mengiyakan permintaan Mawardi Sanjaya Purba untuk segera menikahi putrinya Alisa, Lusiana lah yang sangat antusias. Wanita itu sangat mendukung hubungannya dengan Alisa.
Cukup lama ia berdiam diri, sebelum ahirnya ia kembali melajukan kendaraannya ke jalan raya menuju balai besar.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungannya selalu teman-teman.. Salam sayang seindah bulan untuk semuanya 😘