TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
JANGAN DI SESALI



Masih tiga hari sebelumnya saat kepergian Maya


"Maafkan Maya Umi." hanya kata maaf untuk sang ibu yang di ucapkan Maya dalam hati. Setelah Haris mengucapkan, menjatuhkan talak kalau mulai saat ini, detik ini, hari ini juga, wanita yang bernama Maya Mawanda bukan lagi sebagai istrinya, bukan lagi menjadi tanggung jawabnya.


Lima tahun mengarungi rumah tangga bersama dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaah sehat dan sakit, dalam keadaan tawa dan sedih, dengan segala rintangan dan cobaan yang mereka coba lewati berdua. Rumah tangga yang mereka bangun telah kandas dan hilang bersamaan jatuhnya talak yang keluar dari mulut Haris.


Memasukkan beberapa stel pakaian ke dalam tas, wanita itu sebentar lagi akan pergi meninggalkan kota jakarta. Kota impiannya selama ini, Kota yang di harapkan mampu merubah kehidupannya.


Pagi-pagi sekali di saat sebagian orang masih berada di dalam rumah, Maya bersiap-siap akan pergi membawa luka, meninggalkan kenangan, meninggalkan cerita hidupnya selama 5 tahun bersama Haris, meninggalkan kota besar untuk pergi menghilang. Menjauh, bersembunyi dari pria yang di cintainya. Sesuai janji yang sudah di ucapkannya.


Sebelum melangkah melewati pintu, wanita itu berbalik mengitari setiap sudut rumah sederhana yang menjadi tempat berteduhnya dari panas dan hujan selama lima tahun. Sejenak, ia menatap pria yang duduk tertunduk tanpa suara.


Maya berbalik mendekat, dan bicara untuk yang terakhir kalinya kepada pria yang beberapa jam sebelumnya masih sah menjadi suaminya.


"Aku pamit, Mas.. Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang sudah Mas berikan kepadaku. Maafkan aku, tidak bisa menjalani peranku sebagai istri yang baik untukmu. Maafkan aku telah


menjadi bebanmu selama ini.."


"Semoga Mas akan menemukan kebahagiaan dengan wanita lain."


"Aku sangat beruntung.. Di berikan kesempatan oleh Tuhan mendampingi Mas selama lima tahun, menjadi istri Mas, suatu kebanggaan buatku. Dan aku tidak pernah menyesalinya.


Semoga Mas Haris, secepatnya pulih dan sehat kembali seperti dulu saat pertama kali kita bertemu. Dan mampu mewujudkan keinginan dan harapan Mama Hani. Menjadi anak laki-laki tertua yang bisa di banggakan. Aku pasti ikut senang mendengarnya."


"Mas harus sukses, Mas harus bangkit, Maya yakin, Mas pasti bisa. Suatu hari nanti, saat Tuhan mempertemukan kita lagi, Maya harap sudah tidak ada kebencian di hati Mas. Karena sampai kapanpun, maya tidak pernah membenci Mas Haris. Mas akan selalu menjadi laki-laki yang sempurna untuk Maya."


Meraih tangan Haris. Maya mencium punggung tangannya dengan takzim, sebagai tanda baktinya untuk terakhir kali, dengan menitikkan airmata.


"Ambillah.." Haris menyerahkan ponsel milik Maya dan gold card milik Lingga


"Jaga dirimu baik-baik.. Semoga kehidupanmu juga berubah menjadi lebih baik." tiba-tiba Haris menarik Maya dan memeluknya. "Maafkan aku May, maafkan aku, aku memang egois. Tapi terlalu sakit buatku."


"Ya, Mas.. Jangan di sesali.. Semuanya sudah terjadi. Maya pergi Mas." Maya melepaskan diri dari pelukan Haris. Meraih tas, Maya keluar meninggalkan sosok pria yang pernah mengisi hatinya di dalam tangis dan tawanya.


Maya memakai kaos sweater lengan panjang dan celana jeans untuk menghalau rasa dingin yang menembus kulit, masuk ke pori-porinya. Menjinjing tas berukuran sedang, Maya berjalan keluar gang dan terus melangkah untuk sampai ke pertigaan depan.


"Neng Ojek." sesosok pria menggunakan jaket hijau menawari Maya yang sedang berjalan dan ternyata.


"Loh Neng Maya." pria itu menyapa dan mengenal wanita muda itu


Maya teringat wajah pria yang sudah dua kali mengantarnya ke apartemen Lingga.


"Mau kemana Neng?" si bapak itu bertanya dengan memperhatikan tangan Maya yang menjinjing tas.


"Emm.. Mau pulang pak."


"Neng Maya kenapa?" si Bapak bertanya lagi saat melihat wajah maya yang sembab dengan mata yang masih memerah karena banyak menangis.


"Neng Maya ada masalah?"


"Tidak Pak, tidak ada masalah." berpikir sejenak Maya memberanikan diri bicara.


"Bapak bisa tolong Maya gak?"


"Tolong apa Neng? Kalau bisa, pasti Bapak bantu."


"Eem.." Maya sedikit ragu untuk mengutarakannya.


"Ngomong saja Neng, ada apa?"


"Bapak tolong beli handphone Maya ya? Maya butuh uang buat ongkos pulang."


Dengan tatapan iba, si Bapak memandang Maya. Sebagai orangtua, pria itu bisa merasakan kalau wanita muda di hadapannya saat ini sedang ada masalah.


"Di jual di counter juga pasti harganya turun pak, ini type lama, dan juga gak ada boxnya. Cuma ada charger. Gak apa-apa Pak, berapa saja. Yang penting ada buat ongkos. Counter juga kan bukanya siang."


"Bapak cuma ada uang 300 Neng."


"Gimana?"


"Cukup pak buat ongkos Maya pulang."


Maya menyerahkan ponselnya setelah melepas kartunya. Transaksi itu terjadi di pinggir jalan. Tetapi wanita itu terus bersyukur, di pertemukan dengan seorang pria yang di kenalnya dan mau menolongnya.


"Pak, Maya bisa mintak tolong satu lagi gak?" Maya memaksakan tersenyum


"Ya Neng.. Anggap saja buat tambahan bayaran handphone." si Bapak tertawa


Maya mengeluarkan amplop putih berisikan golg card milik lingga dan selembar kertas surat yang sempat di tulisnya di rumah. Maya tidak mungkin menggunakan kartu milik Lingga, kalau sampai ia lakukan, pria itu bisa melacak, mengetahui keberadaannya.


"Tolong berikan surat ini sama Neng Dina. Alamatnya sudah Maya tulis pak." Maya memperlihatkan tulisan di bagian luar amplop kepada si Bapak.


"Iya, Neng.. Akan Bapak sampaikan.Tapi tidak bisa hari ini ya Neng, jam 7 Bapak ada kerjaan lain. Tapi Bapak usahakan secepatnya."


"Ya, Pak.. Terimakasih."


"Ayok Neng Bapak anter sampai depan."


Menyetop angkutan umum dengan jurusan ke terminal besar yang ada di kota Jakarta. Wanita itu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah Uminya. Dia akan pergi ke kota, dimana salah satu adik dari almarhum ayahnya berada.


Selain uang 300 dari hasil menjual ponselnya, Maya menghitung sisa uang yang ada di dompetnya. Ia rapihkan lembaran kertas dua ribuan, lima ribuan dan sepuluh ribu yang berjumlah 65 ribu. Dan uang logam lima ratusan berjumalah tiga ribu.


"Alhamdulillah, cukup untuk ongkos selama perjalanan." menguatkan hati, Maya berusaha memasang senyuman di bibirnya. Menyambut menteri pagi.


°°°°°


Sampailah Maya di terminal besar. Terminal yang menyediakan bus ke berbagai daerah. Ia mulai mencari agen yang menjual tiket perjalanan resmi antar kota. Tapi sayangnya, Maya harus bersabar menunggu sampai jam 2 siang untuk waktu keberangkatan.


Sesuai rute perjalanan, Bus yang akan membawanya adalah bus malam yang akan mulai beroperasi di mulai dari siang. Mendapatkan harga tak lebih dari 150 ribu untuk satu tiket, Maya bisa sedikit tenang karena masih memiliki uang sisa buat pegangan makan.


Masih dalam kawasan terminal, Maya melihat satu Mushola yang bisa ia gunakan untuk beristirahat, sambil menunggu waktu sampai siang.


Tidak lupa, Maya membeli satu bungkus roti dan sebotol air mineral sebagai pengganjal perutnya pagi ini. Ia teringat terakhir ia makan nasi, saat bersama Lingga di restoran yang berada di bibir pantai. Sebenarnya Maya tak memiliki nafsu untuk mengunyah makanan, tetapi ia paksakan.Tubuhnya harus tetap kuat dan sehat.


Melepaskan alas kaki yang di kenakan, Maya melangkahkan kaki ke teras Mushola dengan lantai yang cukup bersih. Walaupun tempat ibadah itu bebas untuk umum, Maya tetap meminta ijin kepada seorang pria yang di tebaknya sebagai marbot, pengurus Mushola.


"Pak, saya numpang istirahat disini boleh ya?"


"Boleh, Neng.. Boleh.. Ini tempat ibadah, siapa saja boleh istirahat disini."


"Neng mau pulang kampung?" Pria yang sedang bersih-bersih itu menghentikan pekerjaannya melihat Maya.


"Iya Pak. Tapi busnya berangkat jam 2."


Maya duduk di lantai dengan bersandar di dinding Mushola. Ia akan kuat, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan terus melanjutkan hidupnya bagai manapun keadaannya.


Yang membuat ia rapuh dan tak kuasa menahan airmata, kala ia menginggat satu nama. Lingga


****


Bersambung ❤️


Terimakasih teman-teman untuk segala bentuk respon dan dukungannya.. Untuk cerita Maya like pavoritnya memang belum sesuai target.. Tapi akuhhh tetap semangat untuk kalian 💋 lopeee dah