TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
PAYUNG HITAM



Mengambil kotak makanan yang sudah tiba di kirim dari restoran sebagai menu makan sahur. Dimana semuanya sedang berkumpul untuk makan bersama di sebuah ruangan yang telah tersedia sofa sebagai fasilitas yang di siapkan rumah sakit untuk keluarga Sutan Lingga.


"Makan ya, Bang.." Bunda Rossa menyuapi Lingga, agar mengisi perutnya, mengingat besok akan menjalani puasa pertama.


"Tiga suapan saja tidak apa-apa, Bang.. Abang tidak boleh sakit." Bunda Rossa membujuk agar putranya mau mengisi perutnya dengan nasi.


"Maya belum makan Bunda.." ucap Lingga lirih.


"Maya pasti akan bersedih kalau tau Abang seperti ini.. Fisik Abang harus sehat, supaya bisa menjaga Maya. Makan sedikit ya?" Bunda Rossa menyodorkan suapan nasi ke mulut Lingga.


Akhirnya Lingga membuka mulutnya, benar kata sang Bunda. Ia tidak boleh lemah, apa lagi sakit. Ia akan menjaga Maya 24 jam. fisiknya harus kuat dan sehat.


"Nanti kalau Maya sudah pulih, akan Bunda masakkan sayur asam, sambal terasi dan ikan asin jambal kesukaan Maya. Maya pasti akan makan banyak."


Bunda Rossa bicara dengan hati yang sebenarnya teramat pilu. Sebagai seorang Ibu, iapun sebenarnya terasa sulit untuk menelan nasi. Bahkan semua yang sedang berada disini, makan dalam keadaan di paksakan. Mereka semua harus menyimpan tenaga.


"Makan yang banyak Ri.." Daeng mengingatkan


"Sudah kenyang Daeng.." Dilihatnya Dina hanya menghabiskan nasi separuh.


"Kata Indo, nasinya akan menangis kalau tidak di habiskan.." Lexsus merayu, tersenyum manis, semanis gula. Hingga Dina tidak sanggup menatapnya, hatinya yang masih kesal di karenakan WA-nya yang tidak mendapat jawaban, takut meleleh tidak kuat di buatnya.


"Biarin nangis.. Suruh siapa cengeng." Dina bicara dengan cemberut.


"Ceeeileeehhh sedep bener dahh yang lagi kasmaran.. Rayu teruuuusss.. Ngambek, Neng?? Asik dah lihatnya.." Lendra yang duduk tak jauh dari pasangan itu menggoda. Pria itu berusaha mencairkan suasana..


"Berisik..!"


"Berisik..!"


Ucap Lexsus dan Dina bersamaan.. Disambut gelak tawa dari Lendra dan Roby yang baru tiba menjelang sahur.


Lexsus mengangkat telfon ketika anak buahnya yang menjemput Umi menghubunginya.


"Ya.." Lexsus mendengar apa yang di sampaikan.


"Naik ke lantai 5.." Pria itu menutup ponsel, memasukkan ke dalam sakunya.


"Pak, Umi sudah tiba.." Lexsus memberi laporan kepada Lingga.


Meneguk air putih. Lingga menyudahi makannya. Ia akan menyambut kedatangan Ibu mertua beserta kedua adiknya. Lingga sudah siap menerima, jika Umi Wanda marah dan kecewa kepadanya. Sebagai suami, ia sudah lalai menjaga Maya. Bunda Rossa mengusap punggung Lingga, Rossa sangat mengerti apa yang sedang di pikirkan putranya.


"Semua akan baik-baik saja, Bang.." Bunda Rossa memberikan senyuman damai kepada sang putra.


°°°°°


Umi menangis dalam rangkulan Lingga setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya. Wanita itu tidak berhenti mengucapkan Istiqhfar.. Ia tidak kuasa menahan tangisnya.. Tidak ada yang bisa di ucapkannya. Ia terpukul akan kondisi putrinya yang belum sadar dan kehilangan bayinya.


Firasatnya benar.. Maya dalam keadaan tidak baik-baik saja.. Maya dalam keadaan tak sadar dan terluka parah.


"Maafkan Lingga Umi.. Maafkan Lingga.. Lingga sudah lalai menjaga putri kesayangan Umi.." Lingga bicara dengan mendekap erat Umi Wanda sama seperti ia memeluk Bunda Rossa.


"Lingga siap mendapatkan hukuman dari Umi. Lingga siap.. Asalkan jangan meminta Lingga untuk meninggalkan Maya." suara Lingga terdengar pilu.


"Lingga sangat mencintai putrimu Umi..


Cucu Umi jagoan, dia sangat tampan Umi.." walaupun hanya selembar foto hitam putih dari hasil USG yang di lakukan Dokter Arum sebelum memberikan suntikan. Tetapi wajah sang putra sudah terukir jelas.


Mengurai pelukan dari Lingga.. Umi berbalik memeluk Rossa yang ikut terharu mengeluarkan airmata..


"Maafkan keluarga Kami Mbak.." ucap Rossa.


"Jangan meminta maaf, Dik Rossa.. Anggalah ini suatu musibah yang akan menjadikan keluarga kita menjadi lebih baik."


"Kapan akan di makamkan?" Mengurai pelukan, Umi bertanya.


"Pagi ini, sekitar jam 7. Pemakamannya sedang di persiapkan.." Bunda Rossa membimbing Umi Wanda agar duduk di sofa dengan memberikan segelas air putih.


"Maafkan Abang. Maka, Mada.." Lingga merangkul kedua remaja itu bersamaan.


"Kami juga minta maaf, Bang.. Kami sempat kecewa kepada Abang. Kami sempat marah kepada Abang.." Mada bicara dengan terisak, di ikuti Maka yang bicara. "Kami sangat merindukan Teh Maya.. Kami sangat menyangi Teh Maya."


"Ya.. Abang pun sangat merindukannya.. Sangat…."


°°°°°


Meninggalkan Maya di ruang pemulihan dengan penjagaan ketat. Lingga beserta keluarga dan orang-orang terdekat segera meluncur ke pemakaman selesai azan subuh berkumandang, selesai melakukan kewajiban.. Lingga akan melakukan tugas terakhirnya sebagai ayah. Memakamkan sang putra dengan layak.


Pagi ini cuaca tampak mendung.. Cakrawala itu turut berduka.. Sinar terang di pagi hari itu ikut meredup, tidak seterang dan secerah seperti biasanya.


Awan mendung meyelimuti alam semesta.. Seakan bersiap menjatuhkan air mata yang teramat deras.. Sebentuk ungkapan dari alam yang mewakilkan hati sesosok pria berpakaian hitam dengan hati bergelayut kesedihan.


Rintik kecil mengiringi kepergian putra tersayang.. Calon Sang buah hati yang di beri nama dan sudah tertulis di batu nisan SUTAN MAGADA HANUNGGARA.. Yang artinya laki-laki gagah pemberani.


Pria itu meletakkan jasad yang masih teramat kecil dengan bentuk yang sangat mungil, di tanah lembab.. Lingga mengazankan sesuai tata cara islam.


"Pergilah, Sayang.. Pergilah putraku.. Tempatmu lebih indah melebihi dunia.."


Hidup adalah serangkai perubahan alami dan spontan. Jangan melawan mereka – itu akan menciptakan kesedihan. Biarkan kenyataan menjadi kenyataan. Biarkan segala sesuatu mengalir secara alami kedepan dengan cara apapun yang Tuhan takdirkan.


Rangkullah dukamu karena disana jiwamu akan tumbuh. Tidak ada yang benar-benar mati, yang hilang akan selalu ada dalam hati.. Kematian adalah pengingat untuk hidup sepenuhnya.


Sedikit demi sedikit tanah itu mulai menutup lubang kecil. Tempat peristirahatan terakhir sang putra tersayang. Lingga sudah ikhlas melepaskan.. Melepasnya dengan senyuman dan untaian doa..


Ini yang terbaik… Lingga meyakini, Putranya akan kembali.. Tuhan akan mengirimkannya lagi di kelahiran selanjutnya.. Dan ia akan menunggunya..


Taburan bunga tersebar di atas gundukan tanah.. Penghormatan terakhir sudah selesai di laksanakan bersamaan dengan teriring doa..


Satu persatu, langkah kaki meninggalkan pemakaman.. Hanya Lingga seorang yang masih berjongkong.. Memandang batu nisan.. Dengan berucap pelan.


"Pipi akan kembali bersama Mimi untuk menjengukmu... Anakku.."


Payung hitam Lingga tancapkan di atas pusara.. Sebagai peneduh dari derasnya hujan yang jatuh membasahi tanah peristirahatan.. Berharap sang putra tidak akan kedinginan.. Juga kepanasan..


Merelakan pada awalnya sulit untuk di lakukan. Namun dengan pengertian semua akan lebih menenangkan.. Untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, kadang kita harus merelakan sebuah kenyamanan…


****


Bersambung ❤️


Kehilangan akan membuat kita menjadi kuat... Tapi aku tidak mau kehilangan jempol kalian 😁🙏


Up dr malam minggu br nongol minggu pagi.. Met Weekand