
Sudah di sepakati bersama oleh kedua keluarga, dan kedua mempelai. Kedua keluarga itu sudah memberikan restu dan ijin. Pernikahan Lingga dan Maya hanya akan di hadiri keluarga inti dan tetangga terdekat. Dengan kepala desa yang di minta oleh Handoko sebagai saksi.
Tepat pukul 3 sore nanti, Lingga dan Maya akan melangsungkan acara pernikahan.
Dalam waktu setengah hari Lexsus dan Daksa selesai mengurus surat-surat yang di butuhkan. Cepat, kilat. Dan instan..
Apa lagi saat kepala desa mengetahui kalau calon mempelai pria adalah pemilik dari Kabar pos yang menyorot, mengangkat dusun Dakawu sebagai desa terbaik penghasil bawang sekabupaten Magelang. Segalanya langsung di permudah saat Maya membutuhkan ijin menumpang menikah, sebagai syarat di karenakan Maya tidak terdaftar sebagai warga Dusun dakawu kecamatan pakis kabupaten Magelang.
Sesuai keinginan kedua calon pengantin. Mereka akan melangsungkan akad nikah dalam kesederhanaan dan keesokan hari Lingga akan membawa Maya honeymoon ke Lombok. Tetapi atas permintaan Tuan Cjokro dan Rossa, Lingga dan Maya akhirnya akan menggelar pesta pernikahan setelah sampai di jakarta.
Flashback
Mendapatkan kabar dari Lingga yang meminta restu kepada keduanya. Tanpa pikir panjang, Cjokro dan Rossa segera memesan tiket pesawat Frist Class sebagai transportasi untuk sampai di Kota Magelang. Mendapatkan penerbangan pagi sekitar jam 8 mereka mendarat di Bandara Adisutjipto kurang lebih sekitar pukul 10 dengan di jemput supir yang bekerja kepada Lingga.
Sebagai Ibu, Rossa menginginkan mendampingi putranya itu untuk melakukan akad nikah. Acara sakral yang akan mengikat dua anak manusia menjadi sebuah keluarga. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana saat ia di larang datang ke acara pernikahan Lingga dan Alisa. Hingga membuat hatinya hancur, sedih, sampai sakit.
Dan saat ini, ia tidak ingin melewati proses pernikahan Lngga untuk yang kedua kalinya. Ia ingin merasakan menjadi seorang Ibu seutuhnya. Dengan penuh suka cita, Rossa membawa kebaya hasil rancangannya yang baru selesai di kerjakan untuk ia pakaikan kepada Maya.
°°°°°
Disinilah sepasang suami istri itu sekarang. Di sebuah desa yang sejuk di bawah lereng gunung merbabu.
"Maafkan Maya Tante." Maya tertunduk, saat ini keduanya tengah berada di dalam kamar, kedua wanita itu sedang bicara dari hati ke hati sesama wanita. Sebagai menantu dan Ibu mertua.
"Tidak ada yang perlu di maafkan May." Rossa meraih tangan Maya untuk di genggamnya. "Mulai saat ini panggil Bunda May, sama seperti Lingga. Bunda tidak akan pernah menghalangi kebahagiaan kalian berdua."
"Siapapun wanita yang menjadi pilihan Lingga, membuat Lingga bahagia, Tante akan memberikan restu. Kebahagiaan seorang Ibu terletak di anak-anaknya. Jika anaknya bahagia kamipun selaku orangtua akan berbahagia."
"Bibit bebet bobot sebuah keluarga memang di perlukan, tapi untuk urusan harta, Bukanlah sebagai ukuran, jaminan seseorang akan berprilaku baik dan terhormat. Dan tidak bisa menjamin sebuah kebahagiaan."
"Jadikan pernikahan yang pertama kalian sebagai pelajaran, pemecut kalian agar lebih hati-hati dalam menjalani tali pernikahan. Pengingat kalian untuk bisa saling setia, saling menjaga, saling menyayangi sebagai pasangan suami istri. Apa lagi sudah ada cucu Bunda disini. Bunda sudah tidak sabar mengajaknya bermain, May." tangan Rossa mengelus perut Maya
"Selamat Maya.."
Tante Rossa, wanita yang menjadi Bos dimana tempatnya bekerja itu memeluknya. Maya di buat kaget untuk yang kesekian kalinya, saat kedatangan Tante Rossa di rumah Bibiknya. Ia tidak menyangka dan ternganga ketika mengetahui Bosnya itu Ibu kandung Lingga. Yang ia ketahui hanya, Tante Rossa adalah istri dari Sutan Cjokro pemilik Kabar Grup.
Sedangkan Lingga sedang berada di luar, bicara serius dengan Daksa.
"Bersiaplah Bang, dua jam lagi pernikahanmu akan akan segera di mulai. Aku titipkan Maya kepada Abang Sebagai Kakak laki-lakinya, aku berpesan dan meminta kepada Abang. Tolong, jangan sakiti Maya. Jaga dia seperti Abang menjaga nyawamu. Pulangkan dia ke rumah ini kalau sampai Abang berpaling darinya." Dengan tegas Daksa bicara kepada Lingga.
"Maya adalah nyawaku.. Hati kami telah menyatu, jika aku melukainya sama saja dengan aku membunuh diriku. Maya bukan barang yang jika bosan sewaktu-waktu bisa ku kembalikan. Tetapi Maya adalah hidupku.. Aku bisa bernafas karena memilikinya. Maya lebih berharga dari sebuah logam mulia." dengan tegas pula Lingga membalas ucapan Daksa
"Aku percaya kepada Abang. Maaf, aku sempat meragukan Abang." kedua pria dengan selisih usia 3 tahun itu saling berjabat tangan. 3 jam lagi, keduanya akan memulai menjadi keluarga.
Maya sudah selesai di rias oleh Tante Rossa, wanita itu semakin cantik, menggunakan kebaya modern rancangan Rossa. Riasan natural membuat aura kecantikannya semakin keluar. Wanita yang tengah berbadan dua itu selalu tersenyum kala sang adik dan adik sepupunya terus menggoda. Sedari tadi Maka dan Mada selalu menempel tidak ingin berjauhan dengan Maya. Begitupun dengan Dika dan Dania.
"Dania akan menjadi pengantin yang cantik seperti Teteh suatu hari nanti." gadis remaja yang masih duduk di bangku SMP itu bicara. Ia sangat mengagumi Maya.
"Anak kecil sudah ngomongin nikah! Belajar dulu yang bener.." Dika sang Kakak berkomentar dengan menoyor keningnya.
"Biarin ihh.. Sirik weekk.." mereka duduk bersama-sama di atas tempat tidur.
"Ada apa? Kalian tidak seperti biasanya?" Maya bertanya kepada kedua adik kembarnya. Wajah mereka terlihat berubah murung
"Kami sedih, Teh.. Kita lama tidak ketemu, saat sudah ketemu kita akan berpisah lagi. Teteh pasti akan di bawa Abang, Dan.." salah satu adik Maya merasa khawatir. Selama Maya menikah dengan Haris, Kakak perempuannya itu tidak pernah pulang ke kampung.
"Jangan bersedih Ka, Teteh tidak akan seperti dulu lagi. Kita akan sering ketemu. Teteh janji.. Maya bicara dengan mengusap lengan sang adik. "Bukankah Abang sudah meminta kalian untuk melanjutkan sekolah di Jakarta? Begitupun dengan Umi. Abang sudah meminta Umi untuk berhenti bekerja di restoran dan fokus mengurus kalian."
"Ada apa ini?" Umi bertanya saat melihat wajah kedua putranya di rundung kesedihan. Wanita itu masuk menyusul kedalam kamar.
"Maka takut teteh, pergi menjauh lagi Mi." Mada menjelaskan.
"Ka.., jangan buat teteh sedih, hari ini hari bahagianya Teh Maya."
"Iya, Mi.. Maafin Mada."
Seharusnya yang minta maaf itu Umi Da, Umi yang salah, Umi yang telat mengetahui keadaan Tetehmu. Sekarang kita sama-sama berdoa semoga perjalanan rumah tangga Teteh kalian berjalan Bahagia.. Dan, tidak akan lama lagi juga kalian akan segera mendapatkan ponakan."
"Selamat ya Teh.." Dika, Dania, Maka, Mada bersamaan memeluk Maya.
"Untungnya ada Abang Lingga. Penyelamat Teteh." Maka yang memiliki sifat lebih terbuka dan ceria menyeletuk bersuara.
"Eehhhh... sudah-sudah nanti riasan Teteh kalian rusak.." Umi bicara melerai, tetapi ia tetap membiarkan anak-anaknya saling berangkulan. Momen yang sangat menyejukkan hati untuknya sebagai seorang Ibu. Melihat kasih sayang di antara mereka.
Tak lama, Bik Hima masuk kedalam kamar. "Subhanallah… Cantiknya si Eneng. Manglingi pisan." wanita itu tampak terharu bahagia melihat Maya yang sudah siap dan cantik dengan pakaian pengantinnya. Ia tidak menyangka Jodoh Maya datang secepat kilat.
"Ceu Pak kepala desa, Pak penghulu sudah datang.. Tetangga terdekat juga sudah datang, sudah menunggu di ruang tamu.. Ayo Dania, Dika, Maka, Mada, bantuin Kak Daksa.. Menyambut tamu."
Sedangkan di kamar sebelah, Lingga sedang bicara kepada Cjokro dan Bundanya. Pria itu juga sudah rapih dengan setelan jasnya. Tidak sempat pergi mencari barbershop. Ia mengikat rapih rambutnya. Sedangkan Maya tidak mengijinkan siapapun bahkan Lingga sendiri untuk mencukur jambangnya."
"Papa, ingin kamu cepat kembali ke perusahaan Ling. Sekembalinya kamu dari honeymoon, Papa akan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab dan perusahaan itu kepadamu. Papa tidak mau kamu menolaknya. Putrku hanya kamu Ling.. Sudah waktunya Papa peniun menikmati hari tua."
****
Bersambung ❤️