TRUE LOVE For MAYA

TRUE LOVE For MAYA
VITAMIN ABANG



"Terimakasih May, kainnya sangat cantik. Kamu pintar memilih motif dan warna." Tante Rossa mengagumi kain tenun yang di berikan Maya sebagai oleh-oleh.


Sebagai perancang busana. Ia sudah sangat mengenal kain tenun yang di beli Maya. Kain tenun asli kepulauan Lombok dengan harga yang cukup mahal.


"Ya, Bun.. Maaf, Maya tidak banyak membeli oleh-oleh."


"Ini sudah cukup May.. Bunda suka sekali." Rossa meraba kain yang berada di tangannya.


"Bun, Maya berangkat sekarang ya.."


Maya meraih tangan Bunda Rossa untuk di ciumnya sebagai bentuk sopan santun dan etika terhadap orang tua.


"Kenapa tidak menginap disini malam Ini, May? Bunda sudah siapkan kamar untuk kalian." ucap Tante Rossa, ketika anak menantunya itu berpamitan, setelah yang lain lebih dulu kembali pulang selesai makan siang dan saling bercengkrama bersama. Harun dan Roby sudah kembali ke kantor. Lexsus dan Dina juga sudah lebih dulu ijin pulang.


Sedangkan Lendra kembali ke Ling’s Caffe, setelah mendapat telfon dari Rayan sahabatnya. Pria muda itu tidak lama lagi akan mulai bertugas di salah satu Lembaga Negara setelah wisuda yang akan di laksanankan sekitar seminggu lagi.


Lingga dan Maya pamit untuk kembali ke apartemen Lingga, sebelum mereka pindah ke rumah baru yang menjadi mahar untuk Maya..


"Maya terserah Abang Bun.. Maya ngikut saja.."


"Bang, tidur disini ya? Bunda masih kangen." Tante Rossa merayu putranya.


"Bun jangan hari ini ya.." Lingga memeluk sang Bunda. "Setiap ahir pekan kalau tidak ada halangan, kami akan berbuka puasa disini. Kami juga akan menginap. Hari ini banyak barang yang harus kami bereskan."


"Apa kalian akan pulang ke apartemen?" Cjokro bertanya.


"Ya, Pa.. Untuk sementara.. Setelah selesai, secepatnya kami akan pindah, rencananya Abang akan merenovasi dulu beberapa ruangan dan merubah kamar kami yang di lantai atas."


Sebuah perumahan elit di kawasan pantai indah kapuk. Sebuah hunian mewah yang menghadap langsung ke laut lepas. Rumah berharga fantastis itu Lingga siapkan untuk Maya. Pria itu membelinya satu hari sebelum berangkat menyusul Maya di Kota Magelang.


"Apa tidak baiknya menempati apartemen Papa saja Bang?" mengingat apartemen milik Lingga pernah di tempati oleh Alisa. Cjokro mengkhawatirkan sewaktu-waktu, Alisa akan datang dan menganggu ketenangan Lingga dan Maya. Dan Lingga sangat paham apa yang di pikirkan Papanya.


"Apartemen itu milik Abang Pa, barang-barang Alisa sudah Abang kirimkan ke rumah Mama Lusiana. Apartemen itu Abang beli sebelum menikah dengan Alisa. Dan tidak ada harta gono gini yang harus dia terima. Sebelum menikah Alisa sendiri yang menginginkan perjanjian pra nikah, dimana tertulis harta yang di dapat oleh kedua belah pihak akan di miliki masing-masing." Lingga menjelaskan yang belum di ketahui orangtuanya.


"Baiklah.. Tetaplah berhati-hati." Bunda Rossa ikut bicara.


Maya hanya mendengarkan pembicaraan ketiganya yang tengah membahas apartemen dan Alisa. Ia juga belum mengetahui dimana rumah yang Lingga berikan untuknya. Maya tidak begitu memikirkannya. Di berikan jodoh akan sosok Lingga saja , Maya sudah sangat bersyukur. Maya tidak silau akan harta, Ia tidak ingin tau seberapa banyak kekayaan yang di miliki oleh suaminya.


Baginya cukuplah Lingga selalu menyayangi dan mencintainya tanpa batas.


"Baiklah, ahir pekan Bunda tunggu, kita belum membahas mengenai resepsi kalian, secepatnya lebih, sebelum kandungan Maya membesar, supaya tidak kelelahan. Besok kalau Abang sudah mulai sibuk di kantor, antarkan Maya ke Butiq, Maya harus fitting kebaya dan gaun pegantin. Bunda sudah siapkan."


"Baik Bunda.. Kami pulang dulu."


Tante Rossa merangkul anak dan menantunya itu bergantian sebelum, keduanya masuk kedalam Audi-nya yang di kirim ke alamat rumah sang Bunda oleh Feri yang menjabat sebagai Meneger di Resort miliknya. Sedangkan Lande Rover yang ia gunakan untuk berangkat ke Magelang. Sudah tiba di apartemen, di kemudikan sang supir kembali ke Jakarta.


°°°°°


Berada di dalam mobil menuju apartemen, tanpa di ketahui Maya, Lingga mengirim pesan kepada Roby, agar di siapkan ponsel pintar keluaran terbaru, yang akan ia berikan kepada Maya.. Sang Istri tidak memiliki ponsel sejak terakhir Maya menjual ponselnya kepada Bapak Ojek untuk ongkos pulang ke Kota Magelang.


Maya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya. Di samping Lingga yang tengah mengemudi.


"Bang.."


"Hemm.. Ada apa, Honey?" Lingga menjawab, dengan pandangan fokus ke jalan raya.


"Maya belum menghubungi Umi."


"Ya, sesampainya di apartemen kita hubungi Umi." Lingga mengusap kepala Maya.


"Bang.."


"Ya, Mayaku.."


"Masih.."


"Apa, Mak Kom sudah tau kalau Abang menikah dengan Maya?"


"Mungkin sudah, mungkin juga belum."


"Kenapa begitu?" Maya tidak mengerti.


"Selama 3 bulan tinggal di Resort. Abang tidak komunikasi dengan siapapun selain Lexsus. Yang mengantarkan gaji untuk Mak Kom juga Lexsus tiap bulannya."


"Apa tidak menjadi masalah kalau.." Maya tidak melanjutkan ucapanya.


"Kenapa harus menjadi masalah May, dunia pun berhak tau siapa kamu. Kamu istri Abang."


"May, dengarkan Abang.. Apapun yang kamu dengar di media, tentang kita. Atau tentang Abang. Kamu harus siap. Kamu harus kuat mental, jangan pernah takut dengan siapapun. Abang akan melindungimu May.. Jika ada yang ingin kamu ketahui kebenarannya, kamu langsung tanya sama Abang. Dari semenjak Abang menjadikan kamu istri Abang. Kamu harus bisa mengenal dunia Abang yang akan tersorot kamera. Inilah pekerjaan Abang May.."


"Kamu paham?" Lingga mencoba menyampaikan …menjelaskan sedikit demi sedikit tentang dunia dan pekerjaan yang di gelutinya.


Maya mengangguk, walau belum semua ia pahami. Tetapi ia akan belajar untuk bisa memahami siapa suaminya. Bagaimana sepak terjangnya di dunia bisnisnya yang lebih banyak tersorot kamera


"Apa Maya akan menjadi batu sandungan Abang?"


"Tidak.. Tidak, May.. Jangan berpikir seperti itu. Tidak perlu terburu-buru.. Lambat laun, kamu pasti akan mengenal Abang.. Ok." Lingga mengecup punggung tangan Maya, yang ia raih dan di letakkan di atas perutnya.


"Yang kamu harus yakini, bahwa Abang sangat mencintaimu, May.. Kalian berdua yang akan sey menjadi prioritas hidup Abang."


"Kamu harus percaya sama Abang."


"Kita pernah melewati masa-masa sulit May. Kita pasti akan lebih kuat untuk kedepannya."


"Apa tidak masalah kalau Maya akan banyak bertanya?"


"Tanyakan saja, apapun itu May.. Abang tidak keberatan.. Asalakan ada gantinya."


"Gantinya?" Maya mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti.


"Ya, satu jawaban.. Kita akan bermain satu kali.. Kalau dua kali jawaban, kita akan main dua kali."


"Isshhh.. Abang cari-cari kesempatan. Itu namanya penipuan dan pembodohan ." otak Maya langsung bekerja cepat, ia paham apa yang di inginkan suaminya.


Lingga tertawa kencang mendengar ucapan Maya.


"Abang tidak menipu, May.. Abang itu jujur.. Semua yang Abang punya, milik kamu May.. Abang Cuma minta jatah. Itu saja. Dan tidak merugikan kan?"


"Bulan puasa Abaaannggg… Stop Dulu.. Para pembaca juga minta gak ada uwu-uwuan dulu."


"Puasa itu siang, May … kalau malam kan bebas, tidak puasa?"


"Enggak.. Pokoknya di tahan dulu.."


Maya menarik tangannya dan bersedekap dengan wajah yang di palingkan ke jendela menahan senyuman.


"Mana bisa, May.. Itu Vitamin Abang."


"Biar Abang kuat puasanya."


****


Bersambung ❤️