
"Bagaimana kabarnya Bu Maya?" Dokter Arum sebagai Dokter kandungan yang menangani kesehatan rahim Maya menyambut ramah.
"Alhamduillah baik Dok." jawab Maya tersenyum ramah menyambut uluran tangan sang Dokter.
Setelah selesai melakukan cek-up dan berbincang dengan Dokter Hansel sebagai Dokter bedah yang menangani perkembangan kesehatan Maya, keduanya langsung menuju ruangan Dokter kandungan untuk memeriksakan rahim Maya.
Lingga cukup puas dan merasa lebih tenang saat Dokter Hansel menyatakan kondisi kesehatan Maya sudah pulih dan dalam keadaan sehat. Hanya saja masih ada beberapa pantangan yang masih harus di hindari. Selain makanan, Maya tidak boleh berpikir berat.
"Sejauh ini apa ada keluhan Bu Maya? Seperti kram di bagian bawah perut? Atau nyeri di bagian pinggul?" Dokter Arum bertanya saat ketiganya sudah duduk bersama saling berhadapan dengan meja kerja sebagai pembatas. Di dampingi seorang perawat sebagai asisten Dokter yang tengah mempersiapkan alat untuk mengecek rendah atau tingginya tensi darah Maya.
"Tidak ada Dokter, saya tidak merasakan gejala seperti yang Dokter katakan." Maya memandang Lingga seraya tersenyum saat pria itu meremas lembut tangannya. Sedari tadi Lingga tidak melepaskan genggaman tangannya.
Dan pemandangan itu tak lepas dari pantauan Dokter Arum. Selama dirinya bergelar Dokter Kandungan dengan menangani banyak pasien pasangan suami istri, Lingga dan Maya adalah pasangan kedua dari pasangan Dirga dan Anin yang menunjukkan kebucinannya.
"Katakan May, kalau ada yang sakit?" Lingga memastikan kalau pengakuan sang istri memang benar.
"Benar Bang… tidak ada yang sakit." Maya tersenyum mengusap lengan Lingga untuk meyakinkan.
"Baik Bu Maya, berbaring dulu ya.. Kita lihat kondisi rahimnya melalui USG." ucap Dokter Arum.
"Mari Bu Maya.." tanpa menunggu perintah, suster itu meminta Maya mengikutinya untuk melakukan tensi dan berbaring sebelum melakukan USG.
Dengan di dampingi Lingga yang setia berdiri di samping sisi brankar, Maya merasa lebih nyaman. Pria itu sesekali mengecup sayang punggung tangan Maya yang ia tempelkan di pipinya saat Dokter Arum mulai menggerakan stik monitor di atas perut Maya, setelah suster memberikan gel.
"Bagaimana Dok?" Lingga lebih dulu bertanya.
"Alhamdulillah Pak Lingga. Kondisi rahim Bu Maya dalam keadaan sehat dan bersih. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dan saya rasa tidak perlu melakukan program kehamilan. Saya sarankan berjalan dengan alami saja dulu Pak. Tidak perlu terburu-buru. Yang terpenting Bu Maya dalam keadaan sehat.
Makan makanan yang bergizi, bernutrisi. Sehat jasmani dan rohani, tidak stres, tidak tertekan dan yang pasti saat melakukan hubungan intim, Bapak dan Ibu dalam kondisi fit dan Happy.. Dokter Arum tersenyum menejelaskan dengan detail.
"Berarti nanti malam sudah bisakan Dokter?"
"Uppss…" reflek Maya menutup mulutnya saat menyadari pertanyaan-nya
Spontan pertanyan polos Maya membuat Dokter Arum tertawa.
"Kapan saja sudah bisa Bu Maya, jangan khawatir… tetapi staminanya tetap harus dijaga."
"Bukankah seperti itu Pak Lingga?" canda Dokter Arum di barengi tawa pelan yang membuat Maya tersenyum malu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Dengan di balas senyum simpul dari Lingga.
°°°°°
Keduanya meninggalkan ruangan Dokter Arum setelah selesai dengan banyak pertanyaan dan penjelasan. Lingga merasa lebih tenang akan kondisi Maya. Masih di koridor yang sama saat hendak melewati ruangan Dokter Hansel, Lingga menghentikan langkahnya saat melihat sosok pria yang sangat di kenalnya.
Burhan keluar dari dalam ruangan sambil mendorong kursi roda dimana seorang wanita yang seumuran dengan Bunda Rossa duduk di kursi roda. Di temani seorang perawat yang membawa infusan. Perawat muda yang pernah bertugas menjaga Maya saat dalam perawatan.
"Kenapa berhenti Bang?" tatapan Maya ikut melihat kemana arah mata suaminya melihat.
"Bukahkah itu Om Burhan? Asisten Papa Cjokro?" Maya bertanya. Dengan siapa Bang?" Maya masih bertanya.
"Kita hampiri ya Bang." Maya mengajak Lingga untuk menyusul ketiganya.
"Jangan May, biarkan.." Lingga memilih mengajak Maya untuk berbelok melewati koridor yang lain.
"Kenapa Abang tidak mau menyapa Om Burhan?" tanya Maya heran.
"Bukannya tidak mau menyapa, Honney… akan ada waktunya Om Burhan memperkenalkan siapa wanita yang bersamanya. Saat ini belum tepat waktunya. Biarkan Om Burhan fokus dengan urusannya dulu. Sudah, jangan di pikirkan. Sekarang kesayangan Abang mau makan di restoran mana?" Lingga mengalihkan pembicaraan.
"Abang masih ada waktu? Abang tidak terburu-buru?" Maya bertanya karena keberadaan mereka di rumah sakit sudah lebih dari satu jam. Sudah melewati batas jam istirahat.
"Suamimu ini pemilik perusahaan, May.. Jam kerjanya bebas.. Untuk Mayaku, jangan waktu, hati Abang sepenuhnya pun dengan rela Abang berikan untuk Mayaku seorang." sambil berjalan keluar dari dalam gedung rumah sakit menuju parkiran. Dengan mesra Lingga selalu merangkul pundak Maya. Membuat banyak pasang Mata melihat dengan penuh kekaguman saat di suguhkan pemandangan kemesraan dua anak manusia.
"Bang.."
"Hemm.."
"Maya ingin menengok jagoan kita… Maya kangen.." tiba-tiba raut wajah Maya berubah sendu saat teringat akan bayinya..
"Heyy… jangan bersedih, Honney.. Weekand besok Abang akan membawamu mengunjunginya. Ok !!"
"Abang juga sangat merindukan Magada Hanunggara, putra kita May.. Sekarang berikan Abang senyummu May, semangat Abang akan luntur jika melihat Mayaku bersedih."
"Abang janji.." ucap Maya seraya menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji.." Lingga membalas menautkan kelingkingnya di jemari Maya seraya mengecup pelipis Maya dengan hati yang sebenarnya pilu. Namun tidak di tunjukkan oleh Lingga. Ia harus kuat demi Maya.
"Abang angkat telfon dulu ya.."
Keduanya masuk kedalam mobil setelah Kang Oleh membukakan pintu. Sang supir keren itu siap meluncur saat sudah duduk di belakang kemudi.
Lingga mengangkat telfon dan mendengarkan apa yang disampaikan Robby.
"Apa tidak bisa menunggu Rob?"
Lingga bertanya ketika sekertaris itu menyampaikan salah kalau salah satu client Lingga sudah tiba dan meminta untuk makan siang bersama sebelum rapat di lanjutkan.
"Saya sudah di perjalanan, sekitar 15 menit lagi saya akan sampai." ucap Lingga sebelum mematikan sambungan telfon. Lingga menatap Maya dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa Bang.. Maya mengerti, pekerjaan Abang tidak bisa di tinggalkan terlalu lama."
"Oh, Mayaku.. Lingga menarik tubuh Maya agar masuk ke dalam pelukannya. "Maafkan Abang." Lingga menghujani banyak ciuman di wajah Maya.
"Kembalilah ke kantor Bang.. Abang jangan khawatir. Nanti Maya akan makan siang dengan kang Oleh.. Bolehkan?" Maya meminta ijin.
"Abang pesankan tempat di restoran langganan Abang.."
"Tidak usah, Bang.. Maya mau makan di tempat yang lain. Boleh ya.." Maya merayu Lingga agar di ijinkan.
"Jangan makan makanan sembarangan May, jangan makan makanan yang tidak higienis. Ingat pesan Dokter Hansel." sederet pesan Lingga sampaikan saat pria itu akan turun dari BMW Maya ketika mobil sudah memasuki halaman gedung Kabar Group dan berhenti di depan lobi.
"Iya Abaaangg.... Maya janji. Abang juga jangan lupa makan siang ya."
"Bagaimana kalau Maya ikut menemani Abang makan siang bersama client Abang." Lingga seakan tidak rela membiarkan Maya makan siang sendirian.
"Lain kali saja Abang…, Maya ingin makan sesuatu siang ini." Maya segera mencium punggung tangan Lingga dengan takzim agar suaminya itu berhenti mengkhawatirkannya.
"Baiklah.. Cium abang dulu." Linga menyodorkan bibirnya.
Cup..
"Sudah Bang.. Lihatlah, sekertaris Abang sudah menunggu di teras." Maya memonyongkan bibir mengarahkan ke arah dimana Robby sudah berdiri menanti kedatangan Lingga.
"Kang hati-hati.. Selalu kabari saya." ucap Lingga dengan nada tegas.
"Siap, Pak..!" jawab Kang Oleh.
BMW berwarna putih tulang itu meluncur keluar meninggalkan area gedung menuju jalan raya.
"Beeehhh… !! Yang dapet gebetan baru." cibir Maya saat melihat Kang Oleh melirik ke dalam gedung.
"Pake jurus apa?" Maya mulai mengintrogasi dari kurai belakang.
Kang Oleh terkekeh mendapat teguran Maya..
"Usaha Neng… Usaha..!!" ucap Kang Oleh..
"Gimana? Lancar gak ?" Maya mulai menggoda Kang Oleh.
"Mau tau aja? Apa mau tau banget?" jawab Kang Oleh.
"Di larang keras main rahasia rahasiaan. Titik..!!"
"Harus ya Neng?"
"Harus.!" jawab Maya dengan tegas.
"Maya harus tau siapa wanita yang akan menjadi pendamping Kang Oleh. Maya dan Dina harus menguji kelayakannya. Menguji seberapa besar cinta dan ketulusannya." Maya sudah seperti emak-emak yang sedang menjaga putranya.
"Kaya tes driver aja Neng. Pake uji kelayakan.." Kang Oleh mengaruk kepala.
Alarm sudah berbunyi tanda-tanda kalau Kang Oleh harus siap dengan keposesifan dua wanita yang menjadi sahabat sekaligus Bosnya..
****
Bersambung ❤
Tinggalkan dukungannya yaa.. Maaf UP nya malam.. Dari pagi sampai sore saya harus menyelesaikan pekerjaan yang lain dulu 🙏