
Lingga meminta Sang Bunda dan Papanya untuk beristirahat di kamar yang sudah di pesan di lantai lima, sebelum berangkat ke pemakaman..
Keluarga Sutan masih menunggu kedatangan Umi Wanda yang sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Yang seharusnya perjalanan di tempuh selama 7 jam untuk sampai di pangandaran..
Dua orang anak buah Lexsus hanya membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai di tempat tinggal Maya dan langsung kembali ke Jakarta.
"Lend, bawa Bunda dan Papa untuk beristirahat dahulu." Lingga tidak ingin kedua orangtua itu lelah dan terganggu kesehatannya. Hari sudah larut malam, jarum jam sudah berada di angka 12.
Jika tidak mengalami kendala, operasi akan berjalan selama kurang lebih 5 jam. Kemungkinan sekitar pukul 2 malam baru akan selesai.
Kang Ujang yang baru datang menyusul, melaporkan kalau pemakaman sudah di persiapkan. Mengingat kandungan Maya yang sudah mendekati di bulan ke empat. Dokter Arum menjelaskan, Embrio yang ada di dalam rahim Maya sudan terbentuk dengan sempurna, 90 % gen-nya laki-laki. Sehingga Lingga meminta putranya di makamkan dengan layak di makam besar, di wilayah tempat tinggal sang Bunda.
"Tunggulah di kamar Ri.. Daeng akan menemani Pak, Lingga." Lexsus meminta Dina untuk beristirahat di kamar yang sudah di siapkan.
"Nanti kabari Dina kalau operasinya udah selesai, Daeng.. Dina akan menunggu kedatangan Umi." Dina menurut apa yang di minta Lexsus. Bersama Bunda Rossa dan Tuan Cjokro Dina melangkah ke arah Lift untuk naik ke lantai 5.
Setelah mengantar Papa Cjokro dan Bunda Rossa sampai di lantai 5 dimana kamar yang di pesan telah tersedia, Lendra kembali turun ke bawah untuk menemanai Lingga.
"Lend, kalau terjadi apa-apa kabari Bunda." Bunda Rossa berpesan sebelum Lendra berbalik untuk pergi.
"Ya, Bunda.." Lendra mengangguk.
Beristirahat di dalam kamar rumah sakit sekelas hotel bintang lima. Tak ada satupun, baik Cjokro, Bunda Rossa, dan Dina yang dapat memejamkan mata. Hanya tubuhnya saja yang di rebahkan. Cjokro meminta Rosa untuk lebih mendekatkan tubuhnya, merebahkan kepala di lengan Cjokro, sepasang pasangan senja itu saling menguatkan dengan saling memeluk.
"Ini semua berawal dari kesalahanku, Ros.." Cjokro mulai bicara. "Seandainya dulu aku tidak menikahi Lusiana hanya untuk menyelamatkan nama baik dan perusahaan. Kejadian saat ini mungkin tidak akan pernah terjadi.."
"Semua kesalahan dan dosa yang aku lakukan di masa lalu berimbas kepada putraku. Aku merasa telah gagal menjadi ayah dan suami yang baik untukmu dan juga Lingga."
"Maafkan aku Ros, aku sudah menyakiti dan mengecewakanmu dan Lingga." Pria yang tidak lama lagi akan mencapai kepala 6 itu bicara sambil menatap langit-langit kamar, dengan Bunda Rossa yang berbaring memeluknya dari samping.
"Yang lalu biarlah berlalu, Pa.. Tidak guna untuk di sesali, malah akan menyakiti hati. Kita tidak bisa merubah keadaan, tidak juga mampu menarik mundur sang waktu. Setiap anak mempunyai garis hidupnya sendiri, terlepas kita sebagai orang tua, berhasil atau gagal menjadi orangtua yang baik, yang sempurna untuk anak-anaknya."
"Aku sudah memaafkanmu, begitupun Lingga.. Putra kita sudah berbesar hati, menerima kebenaran yang kita tutupi selama puluhan tahun. Bahkan Lingga tak ikut campur saat Papa menceraikan Lusiana. Putra kita sangat bijak dalam menyingkapi masalah. Putra kita mempunyai pemikiran yang luas.."
"Di sisa umur kita, kita harus memberikan yang terbaik kepada Lingga. Dan saat ini, Lingga sangat membutuhkan kita, Dan kita akan selalu ada untuknya, untuk Maya, untuk cucu-cucu kita kelak.."
"Berhenti menyalahkan diri, Pa.. Semuanya sudah terjadi dan kita perbaiki yang tersisa saat ini. Aku yakin, Lusiana akan datang kemari. Ijinkan aku yang bicaranya dengannya jika dia sampai berani datang ke rumah sakit ini."
"Aku ijinkan dengan syarat akan ada pengawal yang mendampingimu, Ros." Cjokro mengecup kening Bunda Rossa.
"Jangan lupa memesan makanan untuk makan sahur nanti." Cjokro mengingatkan.
"Sudah, Pa.. Bunda sedah memesan dari restoran 24 jam tidak jauh dari rumah sakit.. Jam 3 nanti akan di antar."
°°°°°
Sedangkan di kamar sebelah, Dina masih tidak bisa memejamkan matanya. Wanita itu membuka ponsel dan mengirim pesan kepada Kang Oleh. Pria baik, yang menjadi temannya dan juga Maya dalam keseharian di tempat kerja.
Dina mengabari kondisi Maya dan Bayinya yang akan di makamkan nanti pagi sekitar jam 7 di pemakaman besar di jalan merdeka.
Tring..
Pesan masuk, disaat Dina sedang berkirim pesan. Ternyata dari Lexsus.
[ Ri, kenapa belum tidur ?
Lexsus mengecek aplikasi pesan Dina sedang online.
[ Tidak bisa tidur, Daeng..
[ Sedang berkirim pesan dengan siapa?
Tanda-tanda cemburu mulai tampak
Dina menjawab apa adanya.
[ Siapa Kang Oleh?
Lexsus bertanya lagi
[ Teman Dina dan Maya, penjaga parkiran di area ruko butig.
Tidak ada balasan lagi dari Lexsus. Tetapi nomornya masih aktif dan online. Dina kembali mengirim pesan.
[ Daeng sedang berkirim pesan dengan siapa?
Rasa cemburu juga di rasakan Dina.
Status Lexsus masih online. Pesan yang di kirim pun sudah centang dua, tetapi belum di baca juga.
"Ishhh.." Dina keluar dari obrolan dan menutup ponselnya. Walau sulit Dina memaksakan memejamkan matanya.
°°°°°
Sekitar jam 2 lewat 23 menit operasi selesai di lakukan. Para tim Dokter terbaik, berupaya sebaik dan semaksimal mungkin dalam melakukan tugas, tanggung jawab dan kewajibannya sebagai Dokter.
Sebelumnya, Dokter Hendra sebagai kepala rumah sakit menyempatkan datang bertemu dengan Lingga dan Tuan Cjokro untuk menyampaikan rasa simpatinya kepada keluarga Sutan.
Dokter Hendra adalah Dokter Spesialis jantung yang pernah menangani Alea, anak dari sahabatnya Tuan Dirga.
Selain permintaan Lingga, atas perintah Dokter Hendra jugalah, pihak rumah sakit menunjuk tim Dokter terbaik untuk mendampingi dengan di pimpin oleh Dokter Hansel sebagai Dokter bedah yang memiliki jam terbang tinggi dan sudah berpengalaman.
Beranjak dari kursi, Lingga sudah tidak sabar menunggu Dokter Hansel dan Dokter Arum keluar. Ia ingin segera mendapatkan kejelasan kabar Maya. Pria itu berjalan ke depan pintu kamar dengan menempelkan keningnya di daun pintu ruang operasi. Berusaha tenang tapi kecemasan itu tidak bisa di tutupinya.
Lendra, Lexsus, Burhan dan Kang Ujang yang setia mendampinginya, ikut berdiri dari duduknya.
Tidak lama terdengar pintu bergerak terbuka, Lingga menjauhkan kepalanya dari daun pintu. Sesuai keinginannya, Dokter Hansel dan Dokter Arum bersamaan keluar.
Kedua Dokter itu memberikan senyum positif agar Lingga, suami dari pasiennya bisa tenang.
"Bagaimana?" Lingga bertanya dengan wajah tegang.
"Bersyukur lah Pak, Alhamdulillah... Operasi berjalan dengan baik. Tetapi kami masih terus memantau selama Bu Maya berada di ruang pemulihan. Kita harus bersabar menunggu Bu Maya sadar."
"Jangan khawatir, Pak Lingga.. Pasca operasi selesai. Setiap pasien akan mengalami koma sesaat." Dokter Arum ikut menjelaskan.
"Berapa lama Dok?" Lingga memastikan.
"Tidak bisa di pastikan, Pak.." Dokter Hansel kembali bicara.
"Mengingat cidera di jaringan otak yang di alami Bu Maya sangat fatal. Tetapi kami akan terus mengusahakan agar tingkat kesadaran Bu Maya segera berangsur pulih, dengan menstabilkan fungsi tubuh Bu Maya berjalan dengan baik. Berdoa saja tidak ada efek samping setelahnya. Walaupun Bu Maya sudah melewati masa kritisnya.."
"24 jam kami para tim Dokter akan siaga memantau kondisi Bu Maya.
"Berpikir posistif Bang."
Lendra mengusap punggung Lingga
****
Bersambung ❤️
Jempolnya jangan lupa yaa..